
Dengan jantung yang bedebar kencang Emma duduk di hadapan wakil CEO wijaya group disebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan Emma. Tidak banyak membantah Emma lebih memilih untuk tunduk dan sangat menyesali perbutaannya, ini benar-benar masalah sepele kenapa bisa jadi masalah besar.
Pak Miko menunjukan sebuah e-mail yang berisi tentang presentasi ulang program yang akan di jalankan itu. Salah satu client dan
investor ingin mengadakan presentasi itu setelah berbincang dengan Erik beberapa hari yang lalu itu, dengan itu Emma tidak ingin mengecewakan semuanya dengan teliti ia akan membenarkan materi presentasinya dan beberapa contoh program yang akan di buat oleh Wijaya Group.
Pak Miko sangat berharap besar kepada Emma jika semua ini bisa berjalan dengan lancar perusahaan mereka akan menjadi perusahaan terbaik di tahun itu karena selalu menciptakan program yang luar biasa dan menjadi langganan perusahaan lain maupun pemerintah di kota itu. Emma bersemangat untuk menebus semua kesalahannya dan kembali ke mejanya.
“Hari ini kamu tidak membelikan aku susu kemasan ya” ujar Emma yang baru masuk di ruangannya dan melihat Erik masih asih dengan game di ponselnya
“Tadi pagi kan kamu sudah ngopi sama Exel di kantin”
“Ahaha iyaa aku cuma bercanda” Emma duduk di kursinya dan membuka komputernya ia mulai bekerja, sementara ponsel Emma lebih baik di silent terlebih dahulu untuk mendapatkan kesempaatakan kedua Emma harus memberikan terbaik.
Erik menaruh sebuah flashdisk diatas meja Emma tanpa menjelaskan apa maksud dari itu.
“Apa ini Rik?” Emma mengambil flashdisk sambil melihat dengan teliti apa ini sebuah materi tambahan atau ada pekerjaan baru untuk Emma
“Buka aja cuma ada satu file kok”
...
Deni sedang memeriksa hasil pekerjaan Gilang yang ia kebut semalam dan di sela itu sedang mendapat belaian manja dari kekasihnya. Gilang harap untuk program yang ini bisa segera selesai dan ia akan mengerjakan yang lain, Gilang sangat tidak betah duduk diruangan Deni begitu lama yang setelah itu disusul datangnya Fio.
Mungkin sifat manusia yang selalu saja tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapat sekarang dan itu terjadi kepada Deni. Ia
mengembalikan laptop Gilang dan harus merevisi halaman-halaman program itu dan
masih banyak lagi. Jika memang ia yang tahu tentang keinginannya kenapa bukan
ia saja yang harus membenarkan segala kesalahan itu. Memang Deni ingin membuat
Gilang selalu geram.
“Nanti siang makan bareng yuk” Fio yang tidak melihat kondisi ia tetap merayu Gilang di ruangan Deni.
“Ide bagus, sekalian kamu bisa ngajari Fio tentang pemograman” sahut Deni dengan mudahnya
“Kenapa bukan Papanya sendiri yang mengajari anaknya? Aku nggk bisa banyak kerjaan padahal tidak perlu dikerjakan” Gilang keluar dari ruangan penuh emosi.
Fio menggerutu saat menyaksikan tingkah Gilang yang seperti itu selalu menolak selalu menghindar padahal yang ada di fikiran Fio saat malam itu ia masuk tiba-tiba ke kamar Gilang itu sudah cukup untuk membuat hubungan Gilang hancur dan akan datang kepada Fio. Kesal harus dengan cara apa ia merayu Gilang.
Begitu juga dengan Deni yang geram dengan Gilang, jika terus-terusan begitu pelajaran untuk Gilang dan keluarganya akan makin dibuat susah oleh Deni. Manusia juga akan butuh dengan uang dan menganggap semua harus di dasari dengan uang, Deni selalu mengharapakan bantuan itu kembali lagi
kepadanya dengan uang yang lebih dan itu belum terwujud hingga sekarang.
Menatap layar laptop dan merevisi semua sesuai permintaan Deni, terlihat beberapa karyawan disana begitu santai seolah pekerjaan seorang IT begitu mudah. Jelas sama mudah semuanya di limpahkan kepada Gilang hanya ada beberapa orang accounting yang berebut kalkulator.
“Perusahaan banyak uang beli kalkulator cuma satu dasar pelit” batin Gilang sambil menatap karyawan accounting dengan tajam. Segera menyelesaikan dan bertemu dengan Didin.
__ADS_1
...
Emma masih tercengang dengan isi folder yang ada di flasdisk. Wajah Erik tampak sangat tenang dan melanjutkan pekerjaannya untuk deadline program yang berikutnya. Emma sudah berutang budi dengan Erik
pandangan ia tentang Erik ternyata salah besar hati rekan kerjanya ini benar-benar seperti malaikat.
Dengan teliti dan cermat Emma membaca ulang materi presentasi itu dan sedikit menambahkan contoh program yang akan dibuat. Sesekali Emma memandagi Erik bersama muka seriusnya itu
“Makan siang di luar yuk sesekali, mau nggak?” Erik tiba-tiba mengajak Emma berbicara
“Ahh boleh bosan juga dikantin, kata anak-anak kantor di depan ada nasi sambel enak”
“Boleh, kerjain dulu deh jangan sampai salah lagi”
“Siap...” Emma tersenyum bahagia dan tampak lebih tenang
PESAN BARU
“Gilang plissss” batin Emma, berharap pesan itu dari Gilang
“Emm, lusa bisa datang kan ke acara ulang tahun ku di restaurant...” Pesan dari Nabila, teman dekat Emm semasa SMA. Kapan hari digrup angkatan Emma, Nabila sudah pernah membahas hal ini itung-itung sekalian reuni
tapi Nabila sempat pesimis banyak yang tidak hadir di acaranya dan sekarang satu persatu
Nabila memberi pesan sekaligus undangan untuk Emma.
teman-teman sekolahnya mungkin akan lebih menyenangkan.
...
Sesuai perkataan Didin tadi pagi, ia sedang menunggu anaknya di depot belakang kantor Deni sambil menyantap makan siangnya. Gilang masih kesusahan untuk keluar kantor sebab Deni masih terus mengawasi para karyawan accountingnya. Gilang meminta tolong kepada Papanya untuk bersabar sebentar menunggu kedatangan Gilang.
Sebelum akan dibicarakan dengan panjang lebar, Didin sudah memberi tahu inti dari maksud kerja sama yang tadi mereka obrolkan di meja makan, Gilang akan membuat sebuah website dan teman-temannya. Selama ini Didin juga merasa tertekan istrinya selalu terbayang-bayang
dengan Deni dan Didin sempat curiga kepada Nita jika mereka pernah mempunyai
masalalu yang belum terselesaikan.
Gilang tidak lepas pandangan dari Deni pergerak yang terjadi walaupun hanya sedikit bisa membuatnya cepat menemui Didin di depot belakang. Sempat mendengar obrolan Fio bersama admin kantor yang katanya mau memesan beberapa box makan siang untuk di makan bersama ya itu sebabnya Gilang susah
untuk keluar kantor.
Sudah hampir habis segelas es teh yang Didin pesan di depot itu dan Gilang masih belum terlihat juga. Kerja sama ini harus bisa di
laksanakan karena Didin tidak rela melihat anak laki-lakinya harus seperti itu tersiksa dan terus merasa tidak nyaman. Saat dirumah sakit ketika Deni menjenguk Wanda, Didin melihat perdebatan antara anaknya dan Deni seketika hati seorang Ayah teriris dan ingin menghajar Deni. Setidaknya kerja sama ini bisa di membantu masalah keluarga Didin.
Segera menutup laptopnya mengambil jaket dan memasukan dompet ke saku celana belakang dan dengan gesit Gilang meninggalkan ruangan.
...
__ADS_1
“Jadi kamu LDR sama pacar kamu?”
“Uhuukk... uhukk...” Emma meneguk segelas es jeruk yang berada di sisi kanannya. Terkejut kenapa Erik bisa mengetahui tentang
hubungannya. “Kamu tahu dari mana Rik?” sambil mengusap sisa makanan yang ada
di pinggir mulut
“Itu sebabnya kamu jadi kurang fokus?” Erik terus memastikan tentang status hububungan Emma.
“Sepertinya aku tidak usah menjelaskan lagi”
“Kenapa kamu mau LDR, percaya banget sama gituan?” masih dengan sikap tenangnya Erik menyantap nasi sambel yang katanya enak itu, memang enak sebab Erik makannya bersama Emma.
“Jadi urusan kamu banget? Kayaknya kamu nggk berhak tahu deh” Emma mulai ketus dengan Erik
“Kenapa si setiap aku singgung masalah kamu terlebih masalah hubungan kamu selalu menghindar”
“Bukan urusan kamu aja Rik kita hanya sekedar rekan kerja” Tiba-tiba Emma mengingat masalah hubungannya dengan Gilang bagaimana seorang Fio yang sedang berusaha merusak hubungannya yang dari awal sudah bisa memikat hati Nita dengan paras cantiknya. Selalu marah dengan Fio cemburu dengan Fio semua tentang Fio apakah memang Fio yang menjadi alasan utama Gilang pulang ke kotanya.
Emma mengakhiri makan siangnya dengan meninggalkan Erik di depot nasi sambel dan membiarkan pikirannya selalu penuh tentang Fio. Berulang kali ia memaafkan dirinya sendiri untuk tidak mempermasalahkan Fio terus menerus. Perkataan Erik yang tadi tiba-tiba mengetuk hati Emma dan logika Emma.
“Percaya banget sama gituan?”
Emma berjalan sendirian kembali ke kantor di penuhi dengan lamunan dan berlinangnya air mata hingga Emma...
BRUGH!
“Lihat jalan kok jangan nge..lamun...” Emma menabrak Exel yang sedang jalan keluar kantor bersama rekan kerjanya dan Exel melihat Emma sedang menitihkan air matanya.
“Sory Xel aku keburu-buru”
“Kamu baik-baik ajaa Emm?”
“Iyaa tadi kena debu kok jadi mataku berair” Dengan segala pengelakan Emma meninggalkan Exel dan berlari ke toilet perempuan. Kenapa ini semua jadi rumit semua menjadi beban fikiran Emma, atau memang seharusnya Emma mengakhiri hubungannya ini ia lelah jika terus-terusan seperti ini.
Di toilet ia membuka ponselnya dan berusaha menghubungi Gilang, ia ingin mengetahui posisi Gilang sekarang Emma bingung kenapa ini bisa terjadi kembali.
PANGGILAN YANG ANDA TUJU SEDANG BERADA DI LUAR JANGKUAN
Emma memukul wastafel yang ada di depannya dengan keras dan mengakibatkan tangannya memar merah dan air matanya terus turun. Di pikirannya ia masih membayangkan Gilang sedang makan siang bersama Fio mereka sedang saling berpegangan tangan saling bermesrahan. Emma sedang overthinking.
Dengan meneguk air putih yang ada di meja salah satu upaya Emma untuk menenangkan dirinya dan untuk sementara ia tidak menghiraukan omongan Erik yang menyangkut tentang kepribadian. Salah satu dari sekian banyak alasan Emma tentang hubungannya yang tidak ingin di ketahui orang lain adalah ini, mereka orang baru yang tidak satu fikiran dengan Emma.
Emma menarik kurisnya lebih dekat dan menyelesaikan revisi presentasinya. Emma membuat suatu sistem untuk dirinya yaitu kerja cepat kerja pintar. Ia lakukan ini semasa kuliah saat semua harus selesai dalam satu malam Emma dan Gilang menerapkan sistem ini.
Erik tiba di mejanya lalu melirik kearah Emma dan melihat jari-jari Emma merah berserta memar. Hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya lagi, Erik tidak memulai perkataan dengan Emma ia lebih memilih untuk diam dan mengirimkan pertanyaan melalui e-mail, cara yang mudah untuk tidak mendapatkan tamparan maut dari Emma
***
__ADS_1