Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 20


__ADS_3

Suasana stasiun yang tidak pernah berubah masih mengingatkan


Emma saat terakhir ia mengantar kekasihnya untuk melakukan hubungan yang beda


ini. Emma diantar Erik sampai ke peron stasiun, tidak usah kaget, Emma memang


ingin membenahi hubungan dengan Erik yang lebih baik lagi dan ia juga butuh


masukan yang positif dari Erik.


Sampai di posisi yang seperti itu aja Erik masih merasa


senang karena bisa membuat nyaman Emma dan bisa merubah sikap Emma yang tidak


bisa di beri paksaan. Saat malam terakhir di taman kota, Erik mengeluarkan


segala hal yang ia punya dan itu berhasil membuat Emma tersenyum sampai mau


diantar oleh Erik untuk menyusul pacar Emma.


Sangat tidak sabar, Emma menuliskan sebuah ungkapan rasa


tidak sabarnya di sebuah jurnal yang mulai hari ini ia buat. Sempat memiliki


perasaan takut dan membayangkan hal yang selama ini membuat hubungannya dengan


Gilang menjadi renggang, tapi Erik. Erik memegang tangan Emma dan terus


menenangkan rekannya itu.


“Sekali lagi aku minta maaf ya Rik kalau selama ini aku


sudah jahat sama kamu” Emma memasang wajah melas di hadapan Erik


“Aku juga minta maaf Emma sudah sering memaksa kamu dan


membuat kamu tidak nyaman.


Membahas sedikit tentang pekerjaan, Emma sedang mengucap


janji kepada Erik untuk selalu menyelakan notifikasi e-mail di ponselnya


kalaupun sangat penting sekali terpaksa Erik harus menelfon Emma. Semoga nanti


Gilang nggak lebih curiga


Hari ini anak magang itu masuk dan Erik izin telat sama Pak


Miko, Pak Miko begitu pengertian beliau tahu kalau Erik sedang mengantarkan


perempuan kesayangannya ini pergi meninggalkan kota kenangan.


Masih belum ada kabar yang lebih lanjut antara Gilang dan


Emma, sepertinya Gilang masih sibuk dengan keponakannya yang masih di rawat di


rumah sakit. Emma juga tidak mau mengabari Gilang ingin membuat Gilang merasa


bersyukur saat melihat ku ada di hadapannya, belum tahu juga si rencana Emma


nantinya seperti apa.


“Aku berangkat dulu ya, makasih buat semuanya” Emma


menjinjing tasnya dan menatap Erik sejenak. Saat itu Emma tiba-tiba tersadar


tatapan mata Erik kepada Emma mengartikan sebuah sesuatu. Emma


menggeleng-gelengan kepalanya seolah hal yang ada di pikirannya itu tidak boleh


terjadi.


Pamit...


Emma berangkat memperjuangkan cintanya dan mengembalikan


semua arti dari hubungan yang berbeda.


...


Keadaan kantor Gilang sangat berbeda terlihat pagi hari


karyawan lainnya sedang kalang kabut mengerjakan deadline yang sudah dikerjakan


Gilang tapi tidak sepenuhnya. Karyawan lain sedang di balut emosi satu sama


lain karena sebelum mereka datang ke kantor, Deni megirimkan pesan yang sangat


memaksa karyawannya untuk segera menyelesaikan.


Bukan salah karyawan Deni juga jika mereka juga saling


melemparkan emosi, Deni juga tidak bisa menjadi pemimpin yang baik dan hanya


bisa mencari kesalahan orang. Anak sulung Deni sudah tiba di kantor dan


langsung menuju ke meja Gilang untuk memberikan sarapan kepada Gilang


“Hari ini Gilang tidak masuk?” Fio meletakan sarapan itu di


meja Gilang sambil bertanya kepada karyawan yang duduk di sebelah Gilang


“Gilang resign Kak” jawab karyawan itu dengan sebutan yang


biasa mereka sebut untuk Fio.


“Kok dibolehin sama Papa?” Fio tanya balik seakan heran dan

__ADS_1


sambil membuka ponselnya.


“Kurang tahu Kak, mereka kemarin debat disini dan semua


berakhir mungkin” sambil mengangkat bahunya.


Fio menelfon Deni yang sudah berangkat meeting dengan


investor dan rekan kerja lainnya. Ia beranjak pergi dan membawa kembali sarapan


untuk Gilang itu pergi. Karyawan lainnya hanya melempar pandangan dan seakan


ingin menggunjingkan Gilang beserta bos dan anaknya itu.


Mereka sudah merasa aneh diantara Gilang, Pak Deni dan Fio.


Sempat mereka membicarakan Gilang dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh


Fio sampai di bawakan kemeja beserta sepatunya dan membuat karyawan lain meresa


di anak tirikian.


Sebelum adanya Gilang di kantor itu, Deni dan Fio terasa


aman dan damai bahkan Deni lebih menjengkelkan saat ada kehadiran Gilang.


Karyawan lainnya tidak mau saling menyalahkan mereka juga masih pusing dengan


pekerjaan yang kalang kabut seperti ini .


...


Anak Wanda masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Sudah dua


hari keponakan lucunya Gilang harus di rawat. Ia juga membantu Wanda untu


mondar mandir, tidak menjadi masalah karena Bu Yarin orang yang lumayan santai


tidak seperti Deni. Jangan, jangan membahas tentang Deni lagi kepada Gilang ia


sudah begitu muak dengan nama itu.


Sekarang Gilang berada dirumah sakit untuk menemani Wanda


dan sebentar lagi teman kesayangan Nita juga datang. Orang tua Gilang sudah


tahu tentang keluarnya Gilang dari tempat Deni dan Nita yang menitihkan air


mata ia merasa sangat bersalah dengan Gilang, dan Didin sebagai suami terus


menguatkan Nita serta membantu untuk segera melunasi hutang-hutangnya.


Gilang tidak mau orang tua nya terus memikirkan hal itu,


tolong! Gilang hanya minta tolong kepada mereka supaya lebih fokus kepada


cucunya itu.


mampir kerumah Bu Yarin untuk memberikan beberapa pekerjaan yang sudah setengah


jadi dan menyelesaikan data inventori kafe dua hari lalu. Gilang sekarang sudah


mulai menguasai pekerjaan yang ada di kafe jadi sekarang ia semua bisa ia


lakukan.


...


Canggung bingung dan tidak mengenal orang sama sekali


membuat Cornelia harus menunggu Pak Miko di ruang tunggu yang tidak jauh dari


ruang kantor karyawan lain.


Conelia, mahasiswa magang dari salah satu Universitas


terkenal di kota itu. Cornelia datang seorang diri dan sedang menunggu


pengarahan dari Pak Miko. Cornelia datang dengan penampilan yang sangat rapi


membuat beberapa karyawan lainnya terpana seakan mengira Cornelia adalah


karyawan baru.


“Cornelia Dominica?”


“Iya Pak...”


“Tunggu diruangan aja sama saya dari pada disini sendirian”


“Ohh iyaa”


Erik baru saja tiba di kantor dan langsung menemui Cornelia


di ruang tunggu. Begitu gagahnya Erik menghampiri anak magang baru dan


memberikan fasilitas yang lebih nyaman diruangannya. Pak Miko sebentar lagi


akan tiba dan meminta tolong kepada Erik untuk mengamankan Cornelia.


Mereka saling izin datang terlambat. Ya namanya dunia


pekerjaan.


“Udah dateng dari tadi?” Erik memulai pembicaraan kepada


Cornelia

__ADS_1


“Nggak terlalu lama kok Pak”


“Nggak usah manggil Pak, Mas Erik aja aku nggk tua-tua


banget kok” Erik membuka pintu ruangannya dan mempersihlakan Cornelia duduk di


tempat Emma.


Meja Emma sudah bersih tidak tersisa satupun foto Gilang


yang ada disana begitu juga dengan  susu


kemasan yang biasa Erik berikan untuk Emma. Cornelia sedang menyesuaikan dengan


siatuasi dan keadaan di ruangan sana. Ada beberapa karyawan lainnya yang sibuk


dengan ponsel dan laptopnya.


Erik membenakan posisi duduknya dan memandangi anak magang


barunya itu. Cantik... Tapi masih cantikan Emma yang nggk pernah bosan jika


Erik memandanginya. Erik menyodorkan susu kemasan kepada Cornelia.


“Mungkin belum sarapan bisa di minum dulu sambil nunggu Pak


Miko” ujar Erik yang masih menatap Cornelia lebih dalam


“Hehehe, terima kasih Mas tadi saya sudah sarapan kok”


Cornelia masih malu-malu kucing untuk menerima susu kemasan itu. Suasana


ruangan mulai ramai karena semakin siang karyawan lainnya sibuk sendiri dan


suka marah dengan dirinya sendiri.


Erik melemparkan beberapa pertanyaan kepada Cornelia tentang


dirinya dan sedikit membuat percakapan kepada Cornelia. Erik belum mengatakan


kepada anak magang baru itu jika yang sedang ia duduki adalah kursi yang akan


ia duduki selama satu bulan.


Cornelia anak yang tanggap, ada beberapa karyawan yang


sedang kesusahan dalam pembuatan program lalu Cornelia mencoba untuk


membantunya. Berbeda jauh dengan Emma yang hanya patuh dan nurut pada perintah,


Cornelia?


“Cornelia?” panggil Pak Miko dari pinggir pintu


“Iya sayaa..”


“Yuk bicara sebantar diruangan saya”


“Ohh baik Pak”


Erik berbisik kepada Cornelia saat mengambil tasnya di meja


tadi, Erik mengatakan itu adalah Pak Miko yang sudah kamu tunggu dari tadi,


berbuat baiklah pada beliau supaya kamu bisa mendapat kepercayaan lebih


darinya.


Senyum Cornelia begitu menawan dan hampir saja mengalahkan


senyum Emma. Erik menggelengkan kepalanya bertanya dalam hatinya apa yang


sedang terjadi pada Erik sampai semua perempuan yang duduk di hadapannya di


jadikan sasaran pengalaman perjalanan cintanya.


Menarik kursi lebih dekat ia melanjutkan pekerjaannya


kembali dan nanti akan ada meeting bersama investor ia juga sedang menyiapkan


beberapa file tentang keperluan dan keuangan untuk membuat semua program itu


jadi.


...


“Do you miss me?”


Perjalanan yang sekarang di alami Emma begitu membosankan


lagu yang ia putar haya itu-itu saja. Perlahan Emma mulai mengirim pesan


singkat kepada Gilang sebagai awal dari rencananya itu. Sedikit berubah dari


yang Emma rencakan awal, ia mulai mengabari Gilang. Emma menatap jendela yang penuh


dengan pemukiman berlalu lalang. Jurnal Emma juga sudah mulai penuh dengan


coretan tulisan nggak jelas.


Salah tidak jika Emma menyusul dan menuntaskan semuanya ini


sendirian lalu membiarkan rencananya berjalan satu demi satu juga dengan


sendiri.


Beberapa dari kami berpihak padamu Emma, cinta pantas untuk

__ADS_1


di perjuangkan.


***


__ADS_2