
Suasana stasiun yang tidak pernah berubah masih mengingatkan
Emma saat terakhir ia mengantar kekasihnya untuk melakukan hubungan yang beda
ini. Emma diantar Erik sampai ke peron stasiun, tidak usah kaget, Emma memang
ingin membenahi hubungan dengan Erik yang lebih baik lagi dan ia juga butuh
masukan yang positif dari Erik.
Sampai di posisi yang seperti itu aja Erik masih merasa
senang karena bisa membuat nyaman Emma dan bisa merubah sikap Emma yang tidak
bisa di beri paksaan. Saat malam terakhir di taman kota, Erik mengeluarkan
segala hal yang ia punya dan itu berhasil membuat Emma tersenyum sampai mau
diantar oleh Erik untuk menyusul pacar Emma.
Sangat tidak sabar, Emma menuliskan sebuah ungkapan rasa
tidak sabarnya di sebuah jurnal yang mulai hari ini ia buat. Sempat memiliki
perasaan takut dan membayangkan hal yang selama ini membuat hubungannya dengan
Gilang menjadi renggang, tapi Erik. Erik memegang tangan Emma dan terus
menenangkan rekannya itu.
“Sekali lagi aku minta maaf ya Rik kalau selama ini aku
sudah jahat sama kamu” Emma memasang wajah melas di hadapan Erik
“Aku juga minta maaf Emma sudah sering memaksa kamu dan
membuat kamu tidak nyaman.
Membahas sedikit tentang pekerjaan, Emma sedang mengucap
janji kepada Erik untuk selalu menyelakan notifikasi e-mail di ponselnya
kalaupun sangat penting sekali terpaksa Erik harus menelfon Emma. Semoga nanti
Gilang nggak lebih curiga
Hari ini anak magang itu masuk dan Erik izin telat sama Pak
Miko, Pak Miko begitu pengertian beliau tahu kalau Erik sedang mengantarkan
perempuan kesayangannya ini pergi meninggalkan kota kenangan.
Masih belum ada kabar yang lebih lanjut antara Gilang dan
Emma, sepertinya Gilang masih sibuk dengan keponakannya yang masih di rawat di
rumah sakit. Emma juga tidak mau mengabari Gilang ingin membuat Gilang merasa
bersyukur saat melihat ku ada di hadapannya, belum tahu juga si rencana Emma
nantinya seperti apa.
“Aku berangkat dulu ya, makasih buat semuanya” Emma
menjinjing tasnya dan menatap Erik sejenak. Saat itu Emma tiba-tiba tersadar
tatapan mata Erik kepada Emma mengartikan sebuah sesuatu. Emma
menggeleng-gelengan kepalanya seolah hal yang ada di pikirannya itu tidak boleh
terjadi.
Pamit...
Emma berangkat memperjuangkan cintanya dan mengembalikan
semua arti dari hubungan yang berbeda.
...
Keadaan kantor Gilang sangat berbeda terlihat pagi hari
karyawan lainnya sedang kalang kabut mengerjakan deadline yang sudah dikerjakan
Gilang tapi tidak sepenuhnya. Karyawan lain sedang di balut emosi satu sama
lain karena sebelum mereka datang ke kantor, Deni megirimkan pesan yang sangat
memaksa karyawannya untuk segera menyelesaikan.
Bukan salah karyawan Deni juga jika mereka juga saling
melemparkan emosi, Deni juga tidak bisa menjadi pemimpin yang baik dan hanya
bisa mencari kesalahan orang. Anak sulung Deni sudah tiba di kantor dan
langsung menuju ke meja Gilang untuk memberikan sarapan kepada Gilang
“Hari ini Gilang tidak masuk?” Fio meletakan sarapan itu di
meja Gilang sambil bertanya kepada karyawan yang duduk di sebelah Gilang
“Gilang resign Kak” jawab karyawan itu dengan sebutan yang
biasa mereka sebut untuk Fio.
“Kok dibolehin sama Papa?” Fio tanya balik seakan heran dan
__ADS_1
sambil membuka ponselnya.
“Kurang tahu Kak, mereka kemarin debat disini dan semua
berakhir mungkin” sambil mengangkat bahunya.
Fio menelfon Deni yang sudah berangkat meeting dengan
investor dan rekan kerja lainnya. Ia beranjak pergi dan membawa kembali sarapan
untuk Gilang itu pergi. Karyawan lainnya hanya melempar pandangan dan seakan
ingin menggunjingkan Gilang beserta bos dan anaknya itu.
Mereka sudah merasa aneh diantara Gilang, Pak Deni dan Fio.
Sempat mereka membicarakan Gilang dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh
Fio sampai di bawakan kemeja beserta sepatunya dan membuat karyawan lain meresa
di anak tirikian.
Sebelum adanya Gilang di kantor itu, Deni dan Fio terasa
aman dan damai bahkan Deni lebih menjengkelkan saat ada kehadiran Gilang.
Karyawan lainnya tidak mau saling menyalahkan mereka juga masih pusing dengan
pekerjaan yang kalang kabut seperti ini .
...
Anak Wanda masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Sudah dua
hari keponakan lucunya Gilang harus di rawat. Ia juga membantu Wanda untu
mondar mandir, tidak menjadi masalah karena Bu Yarin orang yang lumayan santai
tidak seperti Deni. Jangan, jangan membahas tentang Deni lagi kepada Gilang ia
sudah begitu muak dengan nama itu.
Sekarang Gilang berada dirumah sakit untuk menemani Wanda
dan sebentar lagi teman kesayangan Nita juga datang. Orang tua Gilang sudah
tahu tentang keluarnya Gilang dari tempat Deni dan Nita yang menitihkan air
mata ia merasa sangat bersalah dengan Gilang, dan Didin sebagai suami terus
menguatkan Nita serta membantu untuk segera melunasi hutang-hutangnya.
Gilang tidak mau orang tua nya terus memikirkan hal itu,
tolong! Gilang hanya minta tolong kepada mereka supaya lebih fokus kepada
cucunya itu.
mampir kerumah Bu Yarin untuk memberikan beberapa pekerjaan yang sudah setengah
jadi dan menyelesaikan data inventori kafe dua hari lalu. Gilang sekarang sudah
mulai menguasai pekerjaan yang ada di kafe jadi sekarang ia semua bisa ia
lakukan.
...
Canggung bingung dan tidak mengenal orang sama sekali
membuat Cornelia harus menunggu Pak Miko di ruang tunggu yang tidak jauh dari
ruang kantor karyawan lain.
Conelia, mahasiswa magang dari salah satu Universitas
terkenal di kota itu. Cornelia datang seorang diri dan sedang menunggu
pengarahan dari Pak Miko. Cornelia datang dengan penampilan yang sangat rapi
membuat beberapa karyawan lainnya terpana seakan mengira Cornelia adalah
karyawan baru.
“Cornelia Dominica?”
“Iya Pak...”
“Tunggu diruangan aja sama saya dari pada disini sendirian”
“Ohh iyaa”
Erik baru saja tiba di kantor dan langsung menemui Cornelia
di ruang tunggu. Begitu gagahnya Erik menghampiri anak magang baru dan
memberikan fasilitas yang lebih nyaman diruangannya. Pak Miko sebentar lagi
akan tiba dan meminta tolong kepada Erik untuk mengamankan Cornelia.
Mereka saling izin datang terlambat. Ya namanya dunia
pekerjaan.
“Udah dateng dari tadi?” Erik memulai pembicaraan kepada
Cornelia
__ADS_1
“Nggak terlalu lama kok Pak”
“Nggak usah manggil Pak, Mas Erik aja aku nggk tua-tua
banget kok” Erik membuka pintu ruangannya dan mempersihlakan Cornelia duduk di
tempat Emma.
Meja Emma sudah bersih tidak tersisa satupun foto Gilang
yang ada disana begitu juga dengan susu
kemasan yang biasa Erik berikan untuk Emma. Cornelia sedang menyesuaikan dengan
siatuasi dan keadaan di ruangan sana. Ada beberapa karyawan lainnya yang sibuk
dengan ponsel dan laptopnya.
Erik membenakan posisi duduknya dan memandangi anak magang
barunya itu. Cantik... Tapi masih cantikan Emma yang nggk pernah bosan jika
Erik memandanginya. Erik menyodorkan susu kemasan kepada Cornelia.
“Mungkin belum sarapan bisa di minum dulu sambil nunggu Pak
Miko” ujar Erik yang masih menatap Cornelia lebih dalam
“Hehehe, terima kasih Mas tadi saya sudah sarapan kok”
Cornelia masih malu-malu kucing untuk menerima susu kemasan itu. Suasana
ruangan mulai ramai karena semakin siang karyawan lainnya sibuk sendiri dan
suka marah dengan dirinya sendiri.
Erik melemparkan beberapa pertanyaan kepada Cornelia tentang
dirinya dan sedikit membuat percakapan kepada Cornelia. Erik belum mengatakan
kepada anak magang baru itu jika yang sedang ia duduki adalah kursi yang akan
ia duduki selama satu bulan.
Cornelia anak yang tanggap, ada beberapa karyawan yang
sedang kesusahan dalam pembuatan program lalu Cornelia mencoba untuk
membantunya. Berbeda jauh dengan Emma yang hanya patuh dan nurut pada perintah,
Cornelia?
“Cornelia?” panggil Pak Miko dari pinggir pintu
“Iya sayaa..”
“Yuk bicara sebantar diruangan saya”
“Ohh baik Pak”
Erik berbisik kepada Cornelia saat mengambil tasnya di meja
tadi, Erik mengatakan itu adalah Pak Miko yang sudah kamu tunggu dari tadi,
berbuat baiklah pada beliau supaya kamu bisa mendapat kepercayaan lebih
darinya.
Senyum Cornelia begitu menawan dan hampir saja mengalahkan
senyum Emma. Erik menggelengkan kepalanya bertanya dalam hatinya apa yang
sedang terjadi pada Erik sampai semua perempuan yang duduk di hadapannya di
jadikan sasaran pengalaman perjalanan cintanya.
Menarik kursi lebih dekat ia melanjutkan pekerjaannya
kembali dan nanti akan ada meeting bersama investor ia juga sedang menyiapkan
beberapa file tentang keperluan dan keuangan untuk membuat semua program itu
jadi.
...
“Do you miss me?”
Perjalanan yang sekarang di alami Emma begitu membosankan
lagu yang ia putar haya itu-itu saja. Perlahan Emma mulai mengirim pesan
singkat kepada Gilang sebagai awal dari rencananya itu. Sedikit berubah dari
yang Emma rencakan awal, ia mulai mengabari Gilang. Emma menatap jendela yang penuh
dengan pemukiman berlalu lalang. Jurnal Emma juga sudah mulai penuh dengan
coretan tulisan nggak jelas.
Salah tidak jika Emma menyusul dan menuntaskan semuanya ini
sendirian lalu membiarkan rencananya berjalan satu demi satu juga dengan
sendiri.
Beberapa dari kami berpihak padamu Emma, cinta pantas untuk
__ADS_1
di perjuangkan.
***