
Sudah hampir larut malam dan Gilang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kafe. Kebiasaan yang di lakukan karyawan kafe disana adalah istirahat sejenak sambil menunggu Bu Yarin memberi evaluasi untuk hari ini.
Memperhatikan wajah Emma di ponselnya membuat rasa rindu itu sedikit terbayar, Gilang juga masih belum tahu dengan dirinya sampai kapan dan mulai kapan ia akan menghubungi Emma. Hebatnya Gilang ia tidak ada sedikit pun fikiran tentang Emma yang akan mendua, percaya dan sampai kapanpun Gilang percaya dengan kekasihnya itu.
“Guys, kata Bu Yarin evaluasinya besok aja Ibu Yarin terhormat ditunggu suaminya” celetuk salah satu karyawan yang baru saja tiba di kerumuman karyawan kafe lainnya.
“Yaudah deh masih males pulang, Lang sini benar aja lo kamu jarang banget kumpul-kumpul sama kami” pinta karyawan lainnya kepada Gilang. Tanpa menunggu paksaan lagi Gilang tetap di tempat sambil memantaui tabnya.
Lingkungan kerja yang benar-benar Gilang rasakan dengan nyaman dan aman. Terasa sekali kekeluargaan yang ada di sana, menceritakan bagaimana mereka menjalani sebuah hubungan bagaimana mereka menghadapi orang tua yang cerewet, tidak ada satupun yang terlewatkan disana.
“Yaah temen-temenku datang cuma aku doang yang nggk dateng” ungkapan sedih dari Reza saat asik bermain social medianya.
“Dateng apa Za?” Gilang yang merasa terpancing ingin tahu dengan apa yang membuat Reza menyesal dan sedih
“Ulang tahunnya rekan kerja ku dulu, tapi semenjak aku pindah disini jadi jarang kumpul sama mereka” jawab Reza yang masih serius dengan ponselnya. “Ehh Ini Erik? Serius?”
Gilang merasa ada yang aneh dengan nama Erik yang di sebut rekan kerjanya itu. Gilang meletakan tabnya dan bergeser lebih dekat kearah Reza. “Erik siapa Za?”
“Ini rekan kerja ku dulu sekarang dia sudah berani gandeng cewek cantik Lang, gak nyangka aja si sama Erik” Gilang merebut paksa ponsel Reza untuk melihat yang namanya Erik lebih jelas.
“Kayaknya ini rekan kerjanya Erik yang baru deh soalnya aku jarang banget liat perempuan ini” Reza terus menceritakan kepada Gilang walaupun Gilang tidak seberapa peduli dengan latar belakang rekan kerjanya dulu itu.
“Kamu dapet foto itu dari mana Za?” Gilang mulai terpancing dengan foto yang di lihatnya itu
“Ini dari EO yang ngejalanin event ultahnya Nabila”
Gilang terdiam lemas dan tidak berkata apa-apa, ia juga
langsung berkemas lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kafe
tanpa berkata apapun kepada teman-temannya. Semua karyawan yang ada disana
saling bertatapan dan menyalahkan Reza, semua terjadi setelah Gilang meminjam
ponsel Reza.
“Ya aku kan cuma kasih tahu aja orang Gilang juga pengen
tahu kok” tidak lama karyawan lainnya juga mengikuti jejak Gilang untuk kembali
kerumahnya masing-masing dan besok akan kembali ke kafe untuk laporan kepada Bu
Yarin.
...
TULISAN DARI EMMA
Selalu mempercayai semua perkataanmu tentang hubungan yang
beda ini
Selalu membunuh waktu dengan kesibukanku agar aku tidak
membuatmu jengkel
Aku sadar Lang, aku sudah membuat hubungan ini makin beda
Kita terasa makin jauh
Kita terasa tidak saling memiliki
Kita terasa sedang menjalani hidup dengan diri masing-masing
__ADS_1
Kedatangan ku ke kota mu untuk mengambalikan maksud
“hubungan beda” yang selama ini kamu tenamankan untuk aku yang kamu tanamkan
untuk kita.
Maaf Gilang, hanya maaf yang bisa ku ungkapkan untuk saat ini
Sambutlah aku dengan mimik yang wajahnya gembira, jika aku
harus bersujud kepadamu aku lakukan Gilang.
Aku sayang kamu
...
Dengan jelas Gilang melihat pertama kalinya orang yang
bernama Erik. Dia yang selama ini ada untuk Emma di manapun itu, posisi Gilang
sekarang sudah berhasil di gantikan oleh Erik dan teririsnya hati Gilang
melihat foto itu.
Emma makin cantik tapi badannya terlihat lebih kurus
sedikit. Gilang sekarang sudah merasa bebas besok sore ia akan datang ke
stasiun untuk memesan tiket kereta dan pulang untuk menyusul Emma.
Gilang nggk sanggup melihat perempuan yang ia sayangi harus
bergandengan tangan dengan lelaki lain walaupun itu rekan kerjanya tapi hati
keadaan yang setengah marah. Ini hari buruk bagi Gilang harus diperlihatkan
kekasihnya itu sudah berani jalan bersama laki-laki lain.
Gilang menelfon Exel untuk meminta penjelasan atas perginya
Emma di pesta ulang tahun itu. Ia ingin marah kepada Exel kenapa bukan dia atau
Gebby saja yang menemani Emma datang ke pesta itu.
Duduk di meja kerjanya dengan keadaan masih setengah marah
membuka laptopnya dan mencari tahu akun EO yang berhasil mengabadikan foto Emma
bersama Erik
“Hari ulang tahun Nabila sama dengan saat aku datang keacara
makan malam itu bersama Fio dan seharusnya Emma juga sudah membaca pesanku”
Suara tangisan keponakan Gilang terdengar begitu kencang,
tidak biasanya anak Wanda menangis tengah malam seperti ini. Diruang tamu juga
terdengar Nita yang mencoba menangkan cucunya sambil mengayun-ayunkan badannya
supaya cucunya bisa lebih tenang.
Wanda juga sedang berusah menelfon dokter untuk bisa datang
__ADS_1
kerumah, suami Wanda masih berada di luar kota dan tidak bisa siaga untuk
anaknya dari kejauhan Rio juga berusaha menenangkan anaknya dengan melakukan
panggilan video.
Gilang tidak fokus untuk mencari tahu tentang Erik, ia keluar kamar dan melihat kedaan yang sebenarnya terjadi. Wajah mungil
keponakannya itu sudah mulai berubah menjadi merah dan suhu badannya sudah
begitu tinggi.
“Kok gak langsung bawa ke UGD si kak” Gilang menada tinggi kepada kakaknya, ia kembali ke kamar mengambil jaket dan kunci motornya. Gilang meminta Wanda berganti pakaian dan Nita menyiapkan kebutuhan si kecil lalu Gilang membawa paksa keponakannya ke UGD menggunakan motor.
Angin malam begitu menusuk, Gilang sedang berada di posisi yang sangat bimbang memikirkan Emma melihat keadaan keponakannya seperti ini.
“Arrgghhhh, kenapa sii kenapaaaaaaa”
Wanda terkejut dan hampir meneteskan air mata. Wanda sedang merasakan yang dirasakan adiknya, gugup perasaan bingung dan tidak tahu harus bagaimana.
“Aku butuh kamu Emma, aku tidak pernah semarah ini sama diriku sendiri. Maaf jika aku salah, salah menyuruhmu untuk mempercayai
hubungan yang beda ini. Aku janji lusa aku bisa pulang Emm, semoga hati kamu
masih terbuka untuk aku” kata Gilang yang terus ia ungkapkan dalam hatinya sambil
melaju mengantarkan Wanda.
Menunggu di depan rungan UGD sambil menundukan kepala dan
merasakan penyesalan yang begitu dalam. Gilang pulang untuk menyelesaikan
masalah keluarga tapi nyatanya dia malah mendapat beribu masalah baru dengan
orang-orang terdekatnya.
Gilang hanya diam melamun sambil menunggu kabar dari Wanda.
“Maaf kalau aku membuat kamu menjadi marah” Wanda duduk di
samping Adiknya yang sedang termenung ini
“Enggak Kak aku lagi capek aja kok jadi emosiku nggk bisa di
kontrol, gimana Adek udah mendingan?”
“Masih di pasang infus sama suster, dia alergi obat”
“Hmm habis ini aku balik ya Kak”
“Aku yakin bukan karena capek aja kamu sampek teriak di jalan tadi” Gilang terdiam dan merasa ketahuan oleh Wanda atas emosinya itu. “Emma bagaimana Lang?” dijawab dengan helaan nafas pajang. Gilang menceritakan yang sesungguhnya kepada Wanda. Selama ini Wanda merasa memang ada yang ganjal dari Adiknya ini, ia lebih pendiam dan selalu fokus dengan kerjaannya.
“Lalu menurut Kakak gimana kalau aku balik nyusul Emma?”
“Balik aja nanti aku kasih pinjam kamu buat sangu disana” Wanda menebar kebahagian untuk Adiknya dengan memberi jalan untuk menyusul Emma. Wanda sangat mengerti posisi yang seperti ini, semua serba terhalang dan waktu yang kurang.
Gilang kembali kerumah untuk merebahkan badan dan kini ia merasa lebih tenang setelah emosinya diredakan oleh Wanda. Ia membuka ponselnya untuk memandangi wajah Emma yang selalu ingin ada di hadapannya.
Lumayan lama mereka tidak melakukan panggilan video, Gilang juga membuka beberapa foto yang ada di galeri. Rindu juga dengan danau, mungkin saat pertengkaran itu Emma berkunjung ke danau ya untuk mengatakan jika Gilang jahat kepadanya. Gilang sedang membayangkan Emma mengadu kapada danau.
Selamat istirahat Gilang, siapkan dirimu untuk mendapatkan kejutan yang lebih dari hari-harimu
***
__ADS_1