Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 24


__ADS_3

Kantor Deni sekarang sedikit berantakan semenjak tidak ada


Gilang, bagaimana tidak semua pekerjaan di kerjakan oleh Gilang dan karyawan


lainnya bisa mengerjakan lainnya. Kantor Deni banyak client dan banyak investor


juga karyawan disana bisa dibilang cukup sedikit.


Saat rapat bulanan salah satu karyawan Deni juga meminta


untuk penambahan karyawan karena tidak bisa jika selalu seperti ini, fikiran


penuh dan bawaannya setiap hari ingin marah. Deni menolaknya dengan


mentah-mentah, ia malah terus memberi masukan dan pengarahan kepada karyawannya


untuk bisa membagi waktu dalam pengerjaan program dan lain-lain. Karyawan hanya


menggelengkan kepala sambil menghela nafas yang panjang, mereka banyak terdiam


dan mengikuti rapat dengan serius.


Anak sulung Deni sudah duduk manis di kursi Papanya yang


sudah menunggu dari tadi. Fio sudah ingin marah dengan Papanya atas keluarnya


Gilang dari kantor ini. Usaha yang sedang Fio lakukan belum cukup dan Gilang


masih belum bisa ia dapatkan. Deni hanya terdiam sambil meletakan kunci mobil


dan jaket yang ada di belakang Fio.


“Papa ini juga kenapa si masih mikirin uang uang uang” Fio


kesal kepada Papanya


“Kalau Papa nggak mikirin uang kamu tidak akan bisa seperti


sekarang” jawab Deni yang sedang membenarkan kera bajunya sambil menghadap


cermin.


Fio beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Deni yang


sudah puas dengan amplop yang ia terima dari keluarga Gilang. Fio masih


bersikeras untuk mendapatkan Gilang dan Fio sedang memikirkan hal itu sambil


mencari tempat yang tenang.


Tidak ada yang Deni pikirkan lagi selain uang dan kelancaran


perusahaannya, dulu yang katanya sedang ada masalah dengan keuangan perusahaan


sekarang sudah mulai membaik semenjak ia hadir di acara makan malam rekannya


itu disana banyak yang tertarik dengan perusahaan Deni dan karena ada Gilang


juga yang bisa mengimbanginya, semoga ini akan berjalan selamanya tidak karena


ada Gilang saja.


...


Pagi yang cerah sudah dirasakan setiap manusia yang ada di


dunia ini, termasuk pasangan yang sedang naik daun ini. Pagi itu Emma sudah


bangun duluan dan ia sibuk dengan ponselnya yang dari tadi mencoba menghubungi


Erik tidak ada jawaban, Emma tidak lupa ia masih ingat jika hari libur seperti


ini biasanya Erik masih mau membalas pesan.


Posisi tidur yang tidak terarah dan terkejut saat Emma sudah


tidak ada di samping Gilang. Awalnya mereka tidur di tempat tidur yang terpisah


tapi entah kenapa semalam Gilang jadi pindah tempat tidur dan memeluk Emma dari


belakang lalu saat membuka mata di pagi hari Emma sudah beranjak, nakal Gilang


mau memberikan pagi yang hangat untuk Emma tapi Emma sudah gelisah dengan


kesibukannya.


“Pagi sayangg...” ucap Gilang sambil meluruskan semua urat


dan ototnya.


“Pagi juga sayang... kamu nakal ya tiba-tiba pindah tempat


tidur lagi” jawab Emma yang sedang berjalan menuju tempat tidur


“Cari guling nggak ada yaudah peluk kamu aja” Gilang merayu


Emma dan berhasil membuat pipi Emma merona. Emma membuatkan teh hangat untuk


kekasihnya itu sedangkan Gilang sibuk dengan ponselnya yang penuh dengan pesan


dari rekan kerjanya. Diam-diam Gilang meminta izin kepada Bu Yarin untuk tidak


masuk kerja hari ini karena ada urusan mendadak, Bu Yarin tidak pernah


mempermasalahkan karena Bu Yarin tidak akan pernah memaksa seseorang memang


nikmat mempunyai bos seperti Bu Yarin. Bu Yarin juga mengatakan kepada Gilang


jika uang bayarannya sudah ia kirim di rekening Didin dan setengahnya sudah Bu


Yarin kirim di rekening Gilang. Jelas gembira jelas senang Gilang bisa membawa


Emma keliling kotanya.


Berdiri di balkon dengan sinar matahari yang sudah lumayan


terik Gilang membisikan ditelinga Emma jika hari ini Gilang akan ajak Emma


pulang dan bertemu dengan keponakan Gilang yang paling tampan tapi tujuan


utamanya adalah bertemu dengan Nita dan Didin.


Emma setuju tapi sebelum itu ia harus menyelesaikan


pekerjaan dalam waktu sepuluh sampai lima belas menit kedepan. Baik, kecupan di


pipi Emma menandakan semuanya setuju dan Gilang langsung bergegas untuk mandi


dan menemani Emma bekerja. Gilang lebih tenang dengan pengungkapan diantara dia


dan kekasihnya, jarak yang menghalangi tidak semua orang bisa terima tapi

__ADS_1


Gilang selalu janji untuk secepatnya menyelesaikan ini.


Emma masih gelisah Erik tidak membalas pesannya dan ia belum


puas dengan jawaban Cornelia yang mengatakan semua baik-baik saja. Emma


menitipkan pesan kepada Cornelia untuk Erik dan berharap Erik bisa cepat


membalasnya. Erik tidak peduli ia lawan itu dengan terus fokus dengan pekerjaan


dan keadaan bersama Cornelia yang sekarang.


Yap...


Gilang berdiri di depan cermin


Emma berdiri di samping Gilang


Dan...


“Kirim fotonya ya sayang” pinta Gilang sambil membernarkan


jambul rambutnya


“Jelek akunya, sekali lagi dong” Emma memegang ponselnya dan


bergaya lagi


Moment yang tidak pernah palsu dan yang akan selamanya abadi


adalah foto, banyak sekali Emma mengambil gambar dan sudah terpasang menjadi


walpapper ponsel mereka berdua. Sudah siap untuk bertemu Ibu mertua Gilang dan


Emma meninggalkan penginapan.


Banyak yang berbeda dari kota ini jelasnya dengan siapa Emma


ada di kota ini. Diatas motor kesayangan Gilang, Emma memeluk erat kekasihnya


dan mengulang moment yang sama saat mereka masih dalam satu kota, Emma tidak


ingin melepas pelukan itu sebelum tiba dirumah Gilang. Diperjalanan Gilang


memberi tahu dimana ia bekerja dulu, hanya lewat di depan kantor Deni ekspresi


Emma sudah berbubah lagi.


“Aku cuma mau kamu tahu aja sayang, dulu disini aku berjuang


keras untuk kamu” kata Gilang sambil membelai lembut jari-jari Emma yang


melingkar di perut Gilang.


“Aku nggk mau tahu pokoknya kamu nggk boleh ketemu lagi sama


Fio” Emma egois ia tidak ingin dirusak lagi dengan wanita yang tidak tahu malu.


“Sayang banget si sama aku?”


“Trus aku disuruh berhenti sampai sini?” Gilang


memberhentikan motornya di pinggir jalan


“Yaudah turun gih”


“Gilaaaaanggggggg, resek banget si.....” Emma memukul pundak


Melanjutkan perjalanan sampai tiba dirumah Gilang.


“Aku kok jadi deg-degan ya Lang” ungkap Emma yang turun dari


motor Gilang sambil melepas helmnya.


“Wajar si kan kamu lama nggak ketemu sama mereka” jawab


Gilang yang menaruh helm di kaca spion motornya. Rumah Gilang tampak sepi tidak


ada tanda keramaian dari keponakannya ataupun Mama Papa Gilang.


Pertama kalinya Emma menginjakan kaki dirumah Gilang yang


sebenarnya, asing sekali dan sedikit merasa malu untuk duduk di ruang tamu


rumah Gilang. Tidak begitu besar tapi bisa membuat Gilang nyaman dan alasan


utama Gilang untuk bisa pulang.


Duduk dengan perlahan menamati sekeliling rumah Gilang membayangkan


Emma akan tinggal disini dan setiap paginya beraktivitas disini.


Kamar Gilang...


Emma penasaran dimana kamar kekasihnya itu kenapa Fio bisa


sampai bisa masuk, tapi nanti dulu suara Wanda dan Nita sudah semakin mendekat


Emma cepat-cepat kembali duduk di sofa yang menghadap pintu utama rumah Gilang.


Luar biasa sambutan yang tidak pernah di duga oleh Emma,


keluarga Gilang begitu antusias dengan kedatangan Emma yang sangat mendadak


ini. Keluarga Gilang tidak ada yang tahu permasalahannya hanya saja waktu itu


Wanda menerka perasaan Adiknya yang sedang tidak karuan.


Nita menyusul kehadiran Emma di ruang tamu sambil menggendong


cucunya. Kata Emma keponakan Gilang memang benar-benar ganteng tapi di tangannya


masih ada beberapa bekas plaster bekas suntikan dan jarum infus.


“Baru aja tadi Om sama Tante ngomongin kamu ehh kamu sudah


ada disini”


“Iya Ma tadi Emma baru kabari Gilang kalau dia disini” jawab


Gilang sambil melirik ke arah Emma untuk memberi pernyataan iya padahal


sebanarnya tidak begitu


Diarahkan untuk duduk di depan televisi, Nita membuatkan


hidangan kecil dan minuman untuk Emma dan Didin mengajak Gilang untuk berbicara


sebentar di teras rumah sepertinya ada hal yang serius untuk mereka bicarakan.


Tentunya Emma tidak tinggal diam ia juga ikut serta

__ADS_1


membuatkan hidangan kecil itu di dapur bersama calon ibu mertuanya. Nita


memberi beberapa pertanyaan tentang kehidupan Emma dan pekerjaan Emma dengan


jelas Emma menjelaskan semua bagaimana keadaan Emma ikut lega Nita mendengar


hal tersebut. Wanda sudah menunggu kehadiran Mamanya dan Emma di depan televisi


sambil menidurkan anaknya. Tidak lama dari Emma datang Rio sudah berangkat


untuk mencari nafkah.


“Emma, kalau kamu sama Gilang sudah siap nggak usah


lama-lama ya” ucap Nita saat perlahan duduk di sofa depan televisi


“Nggak usah lama-lama gimana Tante?” Emma belum faham dengan


maksud Nita


“Ya jika kalian sudah benar – benar siap langsung saja Tante


ini diberi cucu kedua dari kalian”


“Semua juga doa dari Tante kami yang menjalani juga sambil


berdoa” jawab Emma sambil menepuk lutut Nita yang sudah menatap Emma dengan


banyak harapan. Emma kaget mendengar Nita berkata seperti itu, hal yang membuat


Emma dan Gilang berdebat dan sampai tidak berkomunikasi adalah ucapan Nita yang


mengatakan jika Gilang cocok dengan Fio itu masih terngiang di kepada Emma.


Emma mengabaikannya dan menganggap itu hanya omong kosong Nita yang sedang


tergila dengan...


“Emm aku keluar sebentar ya sama Papa, Ma Kak mau titip apa?”


“Nggak mau titip apa-apa, cepat kamu pergi kasihan Emma


sudah kelaparan” Emma diperlakukan seperti ratu yang harus menyantap makanannya


kala itu juga. Emma hanya mengangguk dan tersenyum kepada Gilang.


Tidak pernah menyangka perjuangan Emma untuk datang ke kota


Gilang akan di sambut baik seperti ini bahkan keluarga Gilang menyambut Emma


dengan begitu baik dan Emma bisa mendapatkan masukan baru dari Nita dan Wanda.


Sambil menunggu Gilang, Emma habiskan waktunya dengan Wanda dan bayinya. Banyak


lah Emma benar-benar tidak bisa menyangka ini akan berjalan sebaik ini dan ia


juga sudah bersumpah akan lebih berjuang mati-matian untuk hubungannya


lebih-lebih untuk membatasi Gilang dan Fio.


...


“Pesan dari Mbak Emma nggak kamu balas Mas?” tanya Cornelia


yang sedang mengoreksi laporan magangnya


“Emang dia bilang apa?” Erik enggan memperdulikan pesan  Emma


“Ya makanya dibuka lah biar tahu” Cornelia menjawab lumayan


ketus karena hatinya sedang tidak enak


“Aku nggak buka pesannya Emma itu aku lagi jaga perasaan


seseorang” jawab Erik dengan santainya


“Perasaan siapa?” Cornelia mulai bertanya apa itu


perasaannya yang sedang Erik jaga? Baru diberi kode sedikit ketus Erik sudah


enggan untuk membahas Emma. Erik menutup laptopnya dan ingin menikmati hari


liburnya dengan anak magangnya, tenang tidak ada pelanggaran kok kalau mengajak


anak magang jalan berdua. Cornelia sudah selesai dengan laporannya dan


pekerjaannya juga sudah di selesaikan oleh Erik.


Cornelia senang bukan main, berkat usaha nekatnya ia mampu


membuat Erik untuk mengajaknya keliling kota di hari libur. Di dalam mobil


mereka membuat dunia baru, memutar lagu yang sedang naik daun lalu bernyanyi


bersama dengan penuh keceriaan dan dan kebahagiaan yang mereka saling berikan.


Secara tidak langsung Cornelia bisa melepaskan sedikit beban yang ada di


fikiran Erik, kejenuhan menatap laptop memikirkan bagaimana membuat program


yang terbaik semua terbayar lunas oleh hari libur di dalam mobil.


“Udah lama banget aku nggak kayak gini” ungkap Erik sambil


fokus dengan kanan kirinya


“Sama Mas hehe, terakhir ya beberapa bulan yang lalu sama


temen-temen kuliah”


“Lanjut yukk sambil cari jagung bakar” ajak Erik supaya


lebih seru hari libur mereka


“Aku nggak ganggu nih?” Cornelia sedang meyakinkan senior


magangnya


“Besok udah kembali kerja jadi kita puas-puasin hari ini”


jawab Erik sambil merubah kopling mobilnya.


Cornelia tersenyum bahagia senang dan sulit untuk di


jelaskan saat itu dan ia hanya mengangguk untuk mengiyakan ajakan seniornya itu


semoga ini awal dari semuanya. Dari tadi bilang berawal dari semuanya. Iya,


secara mereka baru baru mengenal baru ada pendekatan di luar jam kerja. Semoga


Erik tidak mengecewakanmu.

__ADS_1


***


__ADS_2