
Kantor Deni sekarang sedikit berantakan semenjak tidak ada
Gilang, bagaimana tidak semua pekerjaan di kerjakan oleh Gilang dan karyawan
lainnya bisa mengerjakan lainnya. Kantor Deni banyak client dan banyak investor
juga karyawan disana bisa dibilang cukup sedikit.
Saat rapat bulanan salah satu karyawan Deni juga meminta
untuk penambahan karyawan karena tidak bisa jika selalu seperti ini, fikiran
penuh dan bawaannya setiap hari ingin marah. Deni menolaknya dengan
mentah-mentah, ia malah terus memberi masukan dan pengarahan kepada karyawannya
untuk bisa membagi waktu dalam pengerjaan program dan lain-lain. Karyawan hanya
menggelengkan kepala sambil menghela nafas yang panjang, mereka banyak terdiam
dan mengikuti rapat dengan serius.
Anak sulung Deni sudah duduk manis di kursi Papanya yang
sudah menunggu dari tadi. Fio sudah ingin marah dengan Papanya atas keluarnya
Gilang dari kantor ini. Usaha yang sedang Fio lakukan belum cukup dan Gilang
masih belum bisa ia dapatkan. Deni hanya terdiam sambil meletakan kunci mobil
dan jaket yang ada di belakang Fio.
“Papa ini juga kenapa si masih mikirin uang uang uang” Fio
kesal kepada Papanya
“Kalau Papa nggak mikirin uang kamu tidak akan bisa seperti
sekarang” jawab Deni yang sedang membenarkan kera bajunya sambil menghadap
cermin.
Fio beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Deni yang
sudah puas dengan amplop yang ia terima dari keluarga Gilang. Fio masih
bersikeras untuk mendapatkan Gilang dan Fio sedang memikirkan hal itu sambil
mencari tempat yang tenang.
Tidak ada yang Deni pikirkan lagi selain uang dan kelancaran
perusahaannya, dulu yang katanya sedang ada masalah dengan keuangan perusahaan
sekarang sudah mulai membaik semenjak ia hadir di acara makan malam rekannya
itu disana banyak yang tertarik dengan perusahaan Deni dan karena ada Gilang
juga yang bisa mengimbanginya, semoga ini akan berjalan selamanya tidak karena
ada Gilang saja.
...
Pagi yang cerah sudah dirasakan setiap manusia yang ada di
dunia ini, termasuk pasangan yang sedang naik daun ini. Pagi itu Emma sudah
bangun duluan dan ia sibuk dengan ponselnya yang dari tadi mencoba menghubungi
Erik tidak ada jawaban, Emma tidak lupa ia masih ingat jika hari libur seperti
ini biasanya Erik masih mau membalas pesan.
Posisi tidur yang tidak terarah dan terkejut saat Emma sudah
tidak ada di samping Gilang. Awalnya mereka tidur di tempat tidur yang terpisah
tapi entah kenapa semalam Gilang jadi pindah tempat tidur dan memeluk Emma dari
belakang lalu saat membuka mata di pagi hari Emma sudah beranjak, nakal Gilang
mau memberikan pagi yang hangat untuk Emma tapi Emma sudah gelisah dengan
kesibukannya.
“Pagi sayangg...” ucap Gilang sambil meluruskan semua urat
dan ototnya.
“Pagi juga sayang... kamu nakal ya tiba-tiba pindah tempat
tidur lagi” jawab Emma yang sedang berjalan menuju tempat tidur
“Cari guling nggak ada yaudah peluk kamu aja” Gilang merayu
Emma dan berhasil membuat pipi Emma merona. Emma membuatkan teh hangat untuk
kekasihnya itu sedangkan Gilang sibuk dengan ponselnya yang penuh dengan pesan
dari rekan kerjanya. Diam-diam Gilang meminta izin kepada Bu Yarin untuk tidak
masuk kerja hari ini karena ada urusan mendadak, Bu Yarin tidak pernah
mempermasalahkan karena Bu Yarin tidak akan pernah memaksa seseorang memang
nikmat mempunyai bos seperti Bu Yarin. Bu Yarin juga mengatakan kepada Gilang
jika uang bayarannya sudah ia kirim di rekening Didin dan setengahnya sudah Bu
Yarin kirim di rekening Gilang. Jelas gembira jelas senang Gilang bisa membawa
Emma keliling kotanya.
Berdiri di balkon dengan sinar matahari yang sudah lumayan
terik Gilang membisikan ditelinga Emma jika hari ini Gilang akan ajak Emma
pulang dan bertemu dengan keponakan Gilang yang paling tampan tapi tujuan
utamanya adalah bertemu dengan Nita dan Didin.
Emma setuju tapi sebelum itu ia harus menyelesaikan
pekerjaan dalam waktu sepuluh sampai lima belas menit kedepan. Baik, kecupan di
pipi Emma menandakan semuanya setuju dan Gilang langsung bergegas untuk mandi
dan menemani Emma bekerja. Gilang lebih tenang dengan pengungkapan diantara dia
dan kekasihnya, jarak yang menghalangi tidak semua orang bisa terima tapi
__ADS_1
Gilang selalu janji untuk secepatnya menyelesaikan ini.
Emma masih gelisah Erik tidak membalas pesannya dan ia belum
puas dengan jawaban Cornelia yang mengatakan semua baik-baik saja. Emma
menitipkan pesan kepada Cornelia untuk Erik dan berharap Erik bisa cepat
membalasnya. Erik tidak peduli ia lawan itu dengan terus fokus dengan pekerjaan
dan keadaan bersama Cornelia yang sekarang.
Yap...
Gilang berdiri di depan cermin
Emma berdiri di samping Gilang
Dan...
“Kirim fotonya ya sayang” pinta Gilang sambil membernarkan
jambul rambutnya
“Jelek akunya, sekali lagi dong” Emma memegang ponselnya dan
bergaya lagi
Moment yang tidak pernah palsu dan yang akan selamanya abadi
adalah foto, banyak sekali Emma mengambil gambar dan sudah terpasang menjadi
walpapper ponsel mereka berdua. Sudah siap untuk bertemu Ibu mertua Gilang dan
Emma meninggalkan penginapan.
Banyak yang berbeda dari kota ini jelasnya dengan siapa Emma
ada di kota ini. Diatas motor kesayangan Gilang, Emma memeluk erat kekasihnya
dan mengulang moment yang sama saat mereka masih dalam satu kota, Emma tidak
ingin melepas pelukan itu sebelum tiba dirumah Gilang. Diperjalanan Gilang
memberi tahu dimana ia bekerja dulu, hanya lewat di depan kantor Deni ekspresi
Emma sudah berbubah lagi.
“Aku cuma mau kamu tahu aja sayang, dulu disini aku berjuang
keras untuk kamu” kata Gilang sambil membelai lembut jari-jari Emma yang
melingkar di perut Gilang.
“Aku nggk mau tahu pokoknya kamu nggk boleh ketemu lagi sama
Fio” Emma egois ia tidak ingin dirusak lagi dengan wanita yang tidak tahu malu.
“Sayang banget si sama aku?”
“Trus aku disuruh berhenti sampai sini?” Gilang
memberhentikan motornya di pinggir jalan
“Yaudah turun gih”
“Gilaaaaanggggggg, resek banget si.....” Emma memukul pundak
Melanjutkan perjalanan sampai tiba dirumah Gilang.
“Aku kok jadi deg-degan ya Lang” ungkap Emma yang turun dari
motor Gilang sambil melepas helmnya.
“Wajar si kan kamu lama nggak ketemu sama mereka” jawab
Gilang yang menaruh helm di kaca spion motornya. Rumah Gilang tampak sepi tidak
ada tanda keramaian dari keponakannya ataupun Mama Papa Gilang.
Pertama kalinya Emma menginjakan kaki dirumah Gilang yang
sebenarnya, asing sekali dan sedikit merasa malu untuk duduk di ruang tamu
rumah Gilang. Tidak begitu besar tapi bisa membuat Gilang nyaman dan alasan
utama Gilang untuk bisa pulang.
Duduk dengan perlahan menamati sekeliling rumah Gilang membayangkan
Emma akan tinggal disini dan setiap paginya beraktivitas disini.
Kamar Gilang...
Emma penasaran dimana kamar kekasihnya itu kenapa Fio bisa
sampai bisa masuk, tapi nanti dulu suara Wanda dan Nita sudah semakin mendekat
Emma cepat-cepat kembali duduk di sofa yang menghadap pintu utama rumah Gilang.
Luar biasa sambutan yang tidak pernah di duga oleh Emma,
keluarga Gilang begitu antusias dengan kedatangan Emma yang sangat mendadak
ini. Keluarga Gilang tidak ada yang tahu permasalahannya hanya saja waktu itu
Wanda menerka perasaan Adiknya yang sedang tidak karuan.
Nita menyusul kehadiran Emma di ruang tamu sambil menggendong
cucunya. Kata Emma keponakan Gilang memang benar-benar ganteng tapi di tangannya
masih ada beberapa bekas plaster bekas suntikan dan jarum infus.
“Baru aja tadi Om sama Tante ngomongin kamu ehh kamu sudah
ada disini”
“Iya Ma tadi Emma baru kabari Gilang kalau dia disini” jawab
Gilang sambil melirik ke arah Emma untuk memberi pernyataan iya padahal
sebanarnya tidak begitu
Diarahkan untuk duduk di depan televisi, Nita membuatkan
hidangan kecil dan minuman untuk Emma dan Didin mengajak Gilang untuk berbicara
sebentar di teras rumah sepertinya ada hal yang serius untuk mereka bicarakan.
Tentunya Emma tidak tinggal diam ia juga ikut serta
__ADS_1
membuatkan hidangan kecil itu di dapur bersama calon ibu mertuanya. Nita
memberi beberapa pertanyaan tentang kehidupan Emma dan pekerjaan Emma dengan
jelas Emma menjelaskan semua bagaimana keadaan Emma ikut lega Nita mendengar
hal tersebut. Wanda sudah menunggu kehadiran Mamanya dan Emma di depan televisi
sambil menidurkan anaknya. Tidak lama dari Emma datang Rio sudah berangkat
untuk mencari nafkah.
“Emma, kalau kamu sama Gilang sudah siap nggak usah
lama-lama ya” ucap Nita saat perlahan duduk di sofa depan televisi
“Nggak usah lama-lama gimana Tante?” Emma belum faham dengan
maksud Nita
“Ya jika kalian sudah benar – benar siap langsung saja Tante
ini diberi cucu kedua dari kalian”
“Semua juga doa dari Tante kami yang menjalani juga sambil
berdoa” jawab Emma sambil menepuk lutut Nita yang sudah menatap Emma dengan
banyak harapan. Emma kaget mendengar Nita berkata seperti itu, hal yang membuat
Emma dan Gilang berdebat dan sampai tidak berkomunikasi adalah ucapan Nita yang
mengatakan jika Gilang cocok dengan Fio itu masih terngiang di kepada Emma.
Emma mengabaikannya dan menganggap itu hanya omong kosong Nita yang sedang
tergila dengan...
“Emm aku keluar sebentar ya sama Papa, Ma Kak mau titip apa?”
“Nggak mau titip apa-apa, cepat kamu pergi kasihan Emma
sudah kelaparan” Emma diperlakukan seperti ratu yang harus menyantap makanannya
kala itu juga. Emma hanya mengangguk dan tersenyum kepada Gilang.
Tidak pernah menyangka perjuangan Emma untuk datang ke kota
Gilang akan di sambut baik seperti ini bahkan keluarga Gilang menyambut Emma
dengan begitu baik dan Emma bisa mendapatkan masukan baru dari Nita dan Wanda.
Sambil menunggu Gilang, Emma habiskan waktunya dengan Wanda dan bayinya. Banyak
lah Emma benar-benar tidak bisa menyangka ini akan berjalan sebaik ini dan ia
juga sudah bersumpah akan lebih berjuang mati-matian untuk hubungannya
lebih-lebih untuk membatasi Gilang dan Fio.
...
“Pesan dari Mbak Emma nggak kamu balas Mas?” tanya Cornelia
yang sedang mengoreksi laporan magangnya
“Emang dia bilang apa?” Erik enggan memperdulikan pesan Emma
“Ya makanya dibuka lah biar tahu” Cornelia menjawab lumayan
ketus karena hatinya sedang tidak enak
“Aku nggak buka pesannya Emma itu aku lagi jaga perasaan
seseorang” jawab Erik dengan santainya
“Perasaan siapa?” Cornelia mulai bertanya apa itu
perasaannya yang sedang Erik jaga? Baru diberi kode sedikit ketus Erik sudah
enggan untuk membahas Emma. Erik menutup laptopnya dan ingin menikmati hari
liburnya dengan anak magangnya, tenang tidak ada pelanggaran kok kalau mengajak
anak magang jalan berdua. Cornelia sudah selesai dengan laporannya dan
pekerjaannya juga sudah di selesaikan oleh Erik.
Cornelia senang bukan main, berkat usaha nekatnya ia mampu
membuat Erik untuk mengajaknya keliling kota di hari libur. Di dalam mobil
mereka membuat dunia baru, memutar lagu yang sedang naik daun lalu bernyanyi
bersama dengan penuh keceriaan dan dan kebahagiaan yang mereka saling berikan.
Secara tidak langsung Cornelia bisa melepaskan sedikit beban yang ada di
fikiran Erik, kejenuhan menatap laptop memikirkan bagaimana membuat program
yang terbaik semua terbayar lunas oleh hari libur di dalam mobil.
“Udah lama banget aku nggak kayak gini” ungkap Erik sambil
fokus dengan kanan kirinya
“Sama Mas hehe, terakhir ya beberapa bulan yang lalu sama
temen-temen kuliah”
“Lanjut yukk sambil cari jagung bakar” ajak Erik supaya
lebih seru hari libur mereka
“Aku nggak ganggu nih?” Cornelia sedang meyakinkan senior
magangnya
“Besok udah kembali kerja jadi kita puas-puasin hari ini”
jawab Erik sambil merubah kopling mobilnya.
Cornelia tersenyum bahagia senang dan sulit untuk di
jelaskan saat itu dan ia hanya mengangguk untuk mengiyakan ajakan seniornya itu
semoga ini awal dari semuanya. Dari tadi bilang berawal dari semuanya. Iya,
secara mereka baru baru mengenal baru ada pendekatan di luar jam kerja. Semoga
Erik tidak mengecewakanmu.
__ADS_1
***