
Kebahagian yang tidak bisa di pungkiri terdapat diwajah Gilang, ia begitu senang melihat keponakannya lahir di dunia ia akan
menjadikannya seorang lelaki yang bisa menyelesaikan semua masalah tanpa harus
membebankan orang lain.
Pekerjaan Gilang di kafe belum terselesaikan karena ingin cepat-cepat melihat keponakan gantengnya, Gilang izin kerja setengah hari dan mungkin ia akan menggantinya di kemudian hari. Lumayan hari ini Gilang sudah belajar beberapa cara inventori dan melayani beberapa pelanggan yang ingin membeli minuman dan makanan.
“Kamu nggk kasih tau Emma Lang?” tany Wanda yang masih terbaring lemas di tempat tidur
“Sudah habis ini aku mau telfon sama dia”
“Kalau bisa kamu jaga Emma sungguh-sungguh, menjalani hubungan yang seperti ini susah-susah gampang lang apalagi aku dengar kapan hari Fio sempat masuk ke dalam kamar kamu”
“Iya Kak itu sekarang menjadi permasalahan”
PANGGILAN MASUK
Emma sudah tidak sabar ingin melihat anaknya Wanda juga tanpa menunggu Gilang yang menelfon Emma inisiatif menelfon pacarnya duluan. Tampak senang juga Emma melihat Bayi Wanda yang berbaring di ranjang kecilnya. Emma juga menyapa Wanda dengan bahagia ucapan selamat dan doa juga Emma sampaikan untuk Wanda.
Gilang meminta waktu sebentar kepada Wanda untuk berbicara kepada kekasihnya itu. Gilang sudah sangat gemas melihat wajah cantik kekasihnya, Gilang langsung mengambil posisi duduk nyaman di depan kamar Wanda.
“Sudah di makan?”
“Sudah habis malah”
“Emm...” dengan sedikit merendah Gilang ingin memohon maaf kepada kekasihnya
“Nggak usah dibahas lagi deh Lang”
“Fio memang ganjen sama aku semenjak aku datang ke kota ini”
“Ya enakan kamu punya dua cewek dan harusnya aku tidak usah mengetahui itu” Emma masih butuh perhatian lebih terhadap kekasihnya.
“Emma cantik, jangan kayak gitu dong kamu ngomong apa si sayang inget dong tujuan awal kita itu apa?”
“Ya kan sekuatnya kita merencana tapi kalau tuhan tidak bekendak gimana?”
“Setidaknya kita ada usaha sayang tuhan juga bakal tahu hal itu”
Perlahan Emma luluh dengan permintaan maaf Gilang dan mereka tidak bisa melakukan panggilan video ini terlalu lama. Emma juga harus memikirkan pembetulan presentasinya ia juga terbebani dengan besok bagaimana ia habis dihajar omongan sama para atasan.
Gilang meminta untuk memperbaiki presentasi itu bersama Exel walaupun tidak satu divisi setidaknya Exel bisa membantu, batin Gilang juga sedang berkata ia masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan Gilang mengeluskan dahinya sambil menatap Emma dengan wajah capek. Selalu berharap semua ini bisa dilewati dengan segera Gilang sudah makin tidak betah dengan kelakuan Fio.
Kembali ke kamar Wanda Gilang melihat disana ada kedua orang tuanya dan keluarga Deni, selalu mereka ada di setiap moment dikeluarga Gilang ditambah melihat Fio yang makin membuat Gilang ilang feeling. Gilang berdiri di samping Nita yang sedang menggendong cucu pertamanya
“Gilang kapan mau kayak kakaknya?” celetuk Deni yang sangat garing hanya untuk mencairkan suasana yang lumayan dingin itu.
“Hahaha biarkan Gilang bekerja dulu sampai sukses baru kasih Mamanya cucu” jawab Nita yang masih menciumi cucunya itu
Deni memandangi Gilang begitu serius dan ia juga memberikan isyarat kepada Gilang untuk berbicara sebentar dengannya hanya empat mata.
__ADS_1
Gilang sudah menebak Deni akan lebih mengancam Gilang jika ia tidak melakukan pekerjaan dengan benar. Tidak peduli jika perlu secepatnya Gilang akan keluar dari perusahaan Deni.
“Kemarin saya lihat kamu keluar dari kantor saat siang hari”
“Saya ada urusan” jawab Gilang sedikit ketus
“Tidak lupa dengan projeknya? Jangan main-main dengan waktu”
“Seharusnya Bapak duduk manis saja diruangan dan tinggal menunggu hasil dari karyawannya”
“Ingat hutang Mama kamu masih banyak kamu jangan macam-macam sama saya”
“Secepatnya saya akan membayar hutang Mama saya” Gilang meninggalkan Deni yang masih penuh dengan emosi di depan kamar Wanda. Gilang begitu muak dengan kata-kata Deni yang tidak pernah lupa terhadap hutang Nita.
Gilang ingin ke danau ingin menenangkan semua ini bersama Emma. Harus ada cara lain untuk mendapatkan uang lebih supaya semua bisa segera tebayar. Setibanya nanti Gilang dirumah ia harus bekerja dengan giat dan
membuat sesuatu untuk bisa menyelesaikan semua masalahnya ini.
...
Mengawali hari pertama kerja setelah sehari libur dengan berdandan lebih rapi di depan cermin memakai baju yang lebih terlihat semangat dan tidak lupa dengan lipstik yang mencolok. Tidak heran kenapa Emma terlihat
seperti ini, ia makin sadar jika ia terus-terusan memikirkan kehadiran Fio dikamar Gilang semua akan berantakan sedangkan Gilang terus mempercayai jika ia ingin mewujudkan impiannya dan membuktikan hubungan yang beda ini
Hari pertama kerja disambut dengan kemacetan jalanan dan suara klakson dimana-mana. Penat merasakan hal ini tapi Emma tidak boleh terlalu terbawa suasanya bisa-bisa nanti ia makin gagal lagi dalam urusan pekerjaannya. Di dalam mobil ia mengecek beberpa e-mail yang masuk semalam belum sempat ia melakukannya, tadi malam Gilang membutuhkan Emma butuh manja-manjaan bersama Emma setelah mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Sensasi dari pasangan yang sedang hubungan jarak jauh adalah
bagaimana mereka saling merasakan suara lembut dari pasangan mereka
panggilan video dan suara kecupan virtual yang makin membuat mereka gemas tidak
puas jika hanya virtual.
Masalah Emma dan Gilang sudah berangsur membaik semalam Gilang juga sudah menceritakan tentang Fio dan bagaimana Deni mengejar Gilang supaya hutang Nita segera terbayar. Emma merasa iba dengan Gilang jika ia terus membebani pikiran Gilang dengan Emma yang sikapnya kurang mengerti. Saling menguatkan adalah kunci utama dalam menjalani sebuah hubungan, Emma mulai berjanji ia tidak akan menyusahkan Gilang dan akan selalu ada di samping Gilang. Semoga saja disaat datang bulan nanti Emma tidak berubah moodnya.
Di depan halaman kantor Emma menenangkan dirinya dan berusaha tersenyum dengan setiap karyawan yang lewat walaupun ia tahu ada kesalahan terbesar yang terjaadi kepada Emma. Sampai di depan ruangan HRD Emma tetap tersenyum untuk memulai hari yang bersemangat itu.
Erik belum datang, biasanya ia sudah duduk manis di kursinya itu dan meletakan susu kemasan di meja Emma. Emma jadi kepikiran dengan Erik.
“Em.. mau ngopi sebentar nggak dikantin?” ajak Exel yang bediri di depan pintu ruangan Emma.
“Yuk”
Mungkin segelas kopi di pagi hari bisa membuat pekerjaan Emma lebih mudah dan tidak gagal fokus lagi. Kantin kantor menjadi tempat Exel mengintrogasi temannya itu kenapa semenjak Gilang tidak bersamanya ia selalu banyak masalah sampai Gilang harus mengirimkan sepaket makanan untuk Emma. Bagi Emma memang ini hubungan yang harus beda harus ada sesuatu yang perlu lebih diperjuangkan harus ada perasaan yang lebih untuk kesabaran. Dengan lapang hati
Exel mengerti perasaan temannya ini dan Exel berusaha ada untuk mereka berdua.
Pandangan Emma teralihkan dengan Erik yang berjalan menuju smooking area sambil membawa laptop yang ada di tangan Erik, sepertinya ada sesuatu yang harus ia kerjakan.
“Xel, gimana ya masalah presentasi itu”
__ADS_1
“Coba kamu chek lagi aja trus serahkan sama adminnya”
“Jadi pikiran lagi deh”
“Nanti kalo nggk bisa coba kasih tau aku nanti aku bantu”
“Nanti aku coba konsul dulu sama admin”
...
Setelah lahiran, untuk sementara waktu Wanda tinggal dirumah Nita sampai nanti si bayi Wanda berumur satu tahun dan Rio juga ikutan tinggal dirumah mertuanya itu. Pagi itu Nita sedang menyiapkan kamar untuk cucu
pertamanya yang sekarang masih dirumah sakit Wanda masih membutuhkan perawatan
mungkin besok kalau tidak lusa Wanda akan pulang bersama bayinya.
Sedikit tenang karena Nita tidak banyak bicara tentang Deni dan tidak banyak bicara juga tentang hutang-hutang Deni jadi Gilang bisa sarapan dengan tenang. Dimeja makan hanya ada Didin dan Gilang mereka saling
bertatap mata seolah akan ada yang mereka bicarakan.
“Kamu betah bekerja dengan Deni?”
“Ini baru beberapa minggu Pa aku di kantornya si Deni aku tidak betah”
“Kamu mau kerja sama tidak dengan Papa?”
“Kerja sama maksudnya?”
“Nanti jam istirahat kamu temui Papa di depot belakang kantor Deni ya disini nggk aman untuk membicarakan hal ini”
“Okey”
Setelah menyelesaikab sarapannya, Gilang mengambil jaket dan langsung tancap gas menuju kantor. Sepertinya hari ini Gilang kedapatan shift malam hanya untuk inventori semoga Emma tidak curiga.
Jika dari awal bekerja sudah dibolehkan untuk bekerja dirumah mungkin Gilang akan melakukan itu supaya ia tidak harus bertemu Fio dengan segala keganjenannya. Gilang heran apa si yang disukai dari Gilang ia
tidak begitu tampan seperti artis ternama ia juga lelaki biasa yang dandannya selalu simple hanya saja waktu itu berpakaian rapi untuk awal masuk kerja.
PESAN BARU
“Semangat kerja sayang semoga kamu dapet semangat kerja juga dari Fio hehehe”
Tidak ada yang harus di rubah hari ini semua berjalan dengan procedur biasa lagian semalam Gilang juga sudah kerjakan jadi mungkin hari ini tinggal konsultasi sama Deni srigala.
...
Hubungan jarak jauh yang selama ini di ragukan oleh semua orang dan mungkin selamanya akan di pandang sebelah mata oleh pasangan yang nantinya akan lebih kurang dengan masalah waktu. Jika di perhatikan masalah waktu itu sama saja saat kita berdekatan dengan pasangan kita hanya saja raga yang berada di tempat kejauhan.
Bagi Emma sendiri rasanya ingin menuntut waktu yang lebih supaya raga Gilang makin terasa disisinya apa lagi dengan adanya masalah Fio masuk kamar Gilang akan menjadi permasalahan permanen bagi mereka yang nantinya sedikit-sedikit akan menjadi pembahasan.
Kepercayaan dan kejujuran, ini bukan hanya beda kota yang bisa ditempuh beberapa jam kota Gilang dengan Emma bisa ditempuh seharian jika mereka tidak mengandalkan kepercayaan dan kejujuran hubungan mereka akan selalu dihantui dengan pertengkaran.
__ADS_1
Semakin pintar Gilang menyembunyikan tentang ia bekerja paruh waktu semakin tercium kebohongan itu. Wanita mana yang tidak mudah rindu dengan pasangannya apa lagi selama kuliah mereka selalu bersama mereka tahu dimana tempat tinggal mereka juga tahu kebiasan masing-masing.
Semua akan ada masanya dimana pasangan akan selalu bersama tiap waktu dan dimana ia akan terpisahkan oleh jarak. Jangan pernah membenci jarak ia hanya ingin membuat pelajaran dari seorang pasangan yang akan lebih menghargai waktu, waktu yang bagi mereka berbeda.