
Wanda dan Emma sudah berdiri di dalam kamar Gilang dengan
keadaan yang sunyi dan hening, Emma menamati suasana di sekeliling kamar Gilang
berjalan dari ujung ke ujung mengingat kembali kejadian yang membuatnya takut
dengan hubungan yang beda itu. Wanda sengaja mengajak ke kamar Gilang karena
menurut Wanda kekasih Gilang memang berhak tahu tentang isi kamar Gilang.
“Kamu bagaimana dengan Gilang” Wanda mendekat kearah Emma
yang sedang duduk di pinggir tempat tidur
“Seperti yang Kakak lihat, kami baik-baik saja” Emma tersenyum
menghadap Wanda
“Sebelum kamu datang, Gilang seperti orang yang ingin marah
tapi tertahan”
“Lalu apa yang dia lakukan lagi kak?” Emma bertanya lebih
kepada Wanda untuk memulai bercerita tentang keadaan Gilang disini. Wanda
berkata apa adanya dan yang Emma harapkan itu Wanda tidak bisa menjelaskan
karena pada saat Fio datang dan masuk kedalam kamar Gilang, Wanda berada
dirumahnya.
Wanda sedang mempercayai Emma bahwa Gilang sudah terlalu
cinta mati dengannya, Gilang selalu diberi nasehat oleh Wanda agar jangan
sekalipun menyakiti hati perempuan yang sudah mau sayang denganmu dan mungkin
itu yang tertanam di dalam otak Gilang.
Emma terdiam masih berusaha menggambar kejadian saat itu.
Seharus masalah ini sudah selesai semenjak Gilang datang di penginapan tapi bagi
Emma ini masih tersisa dan tidak semuanya hilang. Wanda memberikan sebuah buku
kepada Emma tentang bagaimana menjadi seorang perempuan yang bisa tahan banting
dan mempersiapkan kedepannya. Buku itu sudah di baca Wanda semasa ia hamil
karena ibu hamil cenderung harus mendapatkan hal-hal yang positif, Wanda pikir
Emma sudah butuh untuk pengertian tentang wanita dan bagaimana saja cara
menjadi wanita yang baik.
“Terima kasih ya Kak ini bakal berguna banget buat aku” Emma
tersenyum kepada Wanda, tampak beruntung sekali Emma bisa mendepatakan calon
kakak ipar seperti Wanda jika begini tidak ada yang perlu ia khawatirkan
tentang Gilang dan Fio.
Gilang memanggil Emma untuk segera kembali ke meja makan
karena saat pagi menjelang siang itu Emma akan makan bersama dengan keluarga
Gilang. Rasa bahagia dan canggung pasti ada ketika Emma sudah duduk di kursi
yang sejajar dengan Gilang ia sudah sangat merasakan keluarga yang hangat
bersama calon suaminya.
“Sayangnya kurang Rio ya ma” ucap Wanda yang sedang
menikmati makan siang mereka
“Lain waktu kita datang kesana berkunjung ke rumah Emma”
jawab Nita yang memperhatikan Emma begitu dalam. Disana Nita merasa bersalah
atas ucapannya yang mengatakan jika Fio cocok dengan Gilang. Nita menatap Emma
sambil berfikir betapa besarnya perjuangan Emma untuk bisa datang ke kota ini
demi kekasihnya.
“Emma jika tidak keberatan menginap disini saja” ujar Didin
yang sangat memberikan lampu hijau terang kepada Emma. Didin bangga kepada anak
__ADS_1
laki-lakinya yang sudah mau berkorban dan berjuang keras untuk keluarga, saat
keluar membeli makanan tadi Didin berkata kepada Gilang tentang kedatangan Deni
kerumah dan tentang hasil kerjanya selama Gilang kerja dengan Yarin, Didin
meminta tolong untuk tetap membantu menyelesaikan masalah keluarganya sampai
benar-benar selesai dan berkat itu Didin memberi lampu hijau yang lebih untuk
hubungan anaknya itu.
Emma menolak dengan halus ia tidak ingin membuat keluarga
Gilang menjadi repot dan Emma mengatakan Emma juga harus menyelesaikan banyak
pekerjaan disini dan lebih baik ia tetap di penginapan. Tidak sampai satu bulan
Emma di kota Gilang, entah Emma belum mengatakannya kapan ia kembali pulang.
Hari yang penuh kebahagian dan jawaban yang puas tentang ke
khawatiran Emma selama ini dan lebihnya ia di sambut hangat oleh keluarga
Gilang. Setelah makan siang Nita Didin serta Wanda dan anaknya akan berpergian
untuk belanja bulanan serta membeli beberapa keperluan untuk anak Wanda, Emma
dan Gilang memilih untuk dirumah karena mereka butuh untuk waktu berdua.
Kedua kalinya Emma masuk ke kamar Gilang
“Nggak akan terjadi apa-apa masuk aja” ajak Gilang yang
melihat Emma seperti takut masuk kedalam kamar Gilang lagi
“Bukan itu kok...” Emma masuk dengan kekuatan hatinya
“Fio lagi?” tanya Gilang sambil menutup pintu kamarnya
“Aku sudah masuk kekamar kamu sama Kak Wanda dan masih ada
si bayangan itu” Emma berdiri di dekat jendela kamar Gilang.
“Apa lagi yang kamu takutkan.. Kamu sudah lihat sendiri
bagaimana keluarga aku sama kamu” Gilang memeluk Emma dari belakang, jurus
andalan Gilang untuk membuat Emma sedikit luluh
Emma tersenyum sambil membelai punggu tangan kekasihnya yang mendarat di perut
mungilnya Emma.
Melihat kearah jendela yang lumayan terik Emma berkata
kepada Gilang untuk setelah ini ia mau fokus bekerja dan Emma juga mengatakan
kepada Gilang jika lusa ia akan meninggalkan kota Gilang.
Gilang membantahnya Gilang tidak terima dengan pernyataan
Emma yang seperti itu karena Gilang merasa tidak ada keadilan untuknya. Setelah
makan malam nanti Gilang berencana untuk menghubungi orang tua Emma untuk
meminta Emma tinggal beberapa hari disini. Emma juga tidak bisa mengelak dan
mereka akhirnya larut dalam pelukan yang hangat. Kegiatan pasangan yang sedang
di hadang jarak jauh mungkin seperti ini berpelukan membuat moment yang abadi
dan menganggap dunia ini milik mereka berdua.
TOKTOK...
“Mereka sudah pulang Lang” sela Emma saat Gilang masih
nyaman mencium aroma tubuh Emma
“Bukan, jika mereka sudah datang tidak mungkin mengetuk
pintu rumah pasti mereka langsung masuk”
“Lalu itu siapa?”
Gilang menggeretu saat jalan menuju pintu utama rumahnya ia
merasa hari ini di ganggu dengan hal yang tidak penting salah satunya adalah
orang yang di depan rumahnya ini. Gilang berulang kali melihat ke arah kamarnya
__ADS_1
dan sempat berfikir untuk tidak membukakan pintu tapi jika ini adalah hal yang
penting ia juga akan merasa bersalah.
Ini kejutan untuk Gilang
“Kamu pergi tanpa pamitan Lang” Fio dengan percaya dirinya
berdiri di depan rumah Gilang
“Buat apa? Semua juga jelas, Papa kamu yang bikin aku enek”
jawab Gilang yang begitu ketus.
“Aku tamu disini lebih baik disuruh masuk dulu berbicara
dengan tenang sambil menikmati teh bikinan kamu” usaha Fio tidak pernah pudar
untuk mendapatkan hati Gilang. Gilang berusaha menghadang langkah Fio yang
sembarangan ingin masuk kerumahnya, ia juga takut Emma tahu adanya Fio disini.
“Kamu aneh Lang, aku hanya ingin bicara denganmu” ucap Fio
lagi sambil menatap Gilang.
“Kamu pergi aja dari sini, ternyata kamu sama aja ya seperti
Papa kamu yang tidak tahu diri”
Langkah kaki seseorang mulai terdengar dan Gilang makin
merasa gugup jika Emma harus mengetahui keberadaan Fio disini.
Dugaan Gilang benar
“Itu siapa Lang?” Emma berjalan menghampiri Gilang dan sudah
terlihat di mata Emma perempuan sebayanya berdiri di depan pintu rumah Gilang
“Dia alasannya kenapa aku tidak boleh masuk kedalam? celetuk
Fio saat Fio dan Emma bertatapan
“Ini dia..”
“Aku Fio”
Emma diam seribu bahasa dan perlahan tangannya meraih lengan
Gilang seakan manandakan Gilang adalah miliknya selamanya. Emma berusaha tegar
dan tidak mau kalah dengan perempuan yang bisanya merebut kebahagian orang
lain.
“Kalian sedang ada keperluan pekerjaan?”
“Tidak Emma, aku dan Papanya sudah menyelesaikan kontrak
kerja dan tidak ada yang perlu di bicarakan lagi”
“Lalu ada apa perempuan ini datang kemari?” pertanyaan Emma
yang di tujukan kepada Fio begitu menyentuh ke perasaan Fio dan akhirnya
membuat Fio pergi dengan rasa geram kepada mereka. Fio masuk kedalam mobilnya
dengan sedikit membanting pintu mobilnya. Gilang berhasil menghadang Fio.
“Begitu sering dia datang kesini” tanya Emma yang
pandangannya masih belum lepas dari Fio
“Tidak, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ia kesini”
Emma bertemu dengan Fio dengan perasaan yang belum puas,
tanpa Gilang menjelaskan dari awal raut wajah Fio sudah terlihat begitu
ambisinya Fio untuk mendapatkan Gilang dan hal ini tidak bisa dibiarkan.
Perasaan buruk Emma hampir muncul dan Emma tidak ingin memperlihatkan hal itu
di depan Gilang dengan cara ia ingin meninggalkan rumah Gilang dan kembali ke
penginapan.
Gilang memahami ini keadaan yang mendadak dan sangat belum
siapnya Emma untuk bertemu dengan anak Deni itu. Mereka berkemas dan
__ADS_1
mengantarkan Emma kembali ke penginapan.
***