Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 25


__ADS_3

Wanda dan Emma sudah berdiri di dalam kamar Gilang dengan


keadaan yang sunyi dan hening, Emma menamati suasana di sekeliling kamar Gilang


berjalan dari ujung ke ujung mengingat kembali kejadian yang membuatnya takut


dengan hubungan yang beda itu. Wanda sengaja mengajak ke kamar Gilang karena


menurut Wanda kekasih Gilang memang berhak tahu tentang isi kamar Gilang.


“Kamu bagaimana dengan Gilang” Wanda mendekat kearah Emma


yang sedang duduk di pinggir tempat tidur


“Seperti yang Kakak lihat, kami baik-baik saja” Emma tersenyum


menghadap Wanda


“Sebelum kamu datang, Gilang seperti orang yang ingin marah


tapi tertahan”


“Lalu apa yang dia lakukan lagi kak?” Emma bertanya lebih


kepada Wanda untuk memulai bercerita tentang keadaan Gilang disini. Wanda


berkata apa adanya dan yang Emma harapkan itu Wanda tidak bisa menjelaskan


karena pada saat Fio datang dan masuk kedalam kamar Gilang, Wanda berada


dirumahnya.


Wanda sedang mempercayai Emma bahwa Gilang sudah terlalu


cinta mati dengannya, Gilang selalu diberi nasehat oleh Wanda agar jangan


sekalipun menyakiti hati perempuan yang sudah mau sayang denganmu dan mungkin


itu yang tertanam di dalam otak Gilang.


Emma terdiam masih berusaha menggambar kejadian saat itu.


Seharus masalah ini sudah selesai semenjak Gilang datang di penginapan tapi bagi


Emma ini masih tersisa dan tidak semuanya hilang. Wanda memberikan sebuah buku


kepada Emma tentang bagaimana menjadi seorang perempuan yang bisa tahan banting


dan mempersiapkan kedepannya. Buku itu sudah di baca Wanda semasa ia hamil


karena ibu hamil cenderung harus mendapatkan hal-hal yang positif, Wanda pikir


Emma sudah butuh untuk pengertian tentang wanita dan bagaimana saja cara


menjadi wanita yang baik.


“Terima kasih ya Kak ini bakal berguna banget buat aku” Emma


tersenyum kepada Wanda, tampak beruntung sekali Emma bisa mendepatakan calon


kakak ipar seperti Wanda jika begini tidak ada yang perlu ia khawatirkan


tentang Gilang dan Fio.


Gilang memanggil Emma untuk segera kembali ke meja makan


karena saat pagi menjelang siang itu Emma akan makan bersama dengan keluarga


Gilang. Rasa bahagia dan canggung pasti ada ketika Emma sudah duduk di kursi


yang sejajar dengan Gilang ia sudah sangat merasakan keluarga yang hangat


bersama calon suaminya.


“Sayangnya kurang Rio ya ma” ucap Wanda yang sedang


menikmati makan siang mereka


“Lain waktu kita datang kesana berkunjung ke rumah Emma”


jawab Nita yang memperhatikan Emma begitu dalam. Disana Nita merasa bersalah


atas ucapannya yang mengatakan jika Fio cocok dengan Gilang. Nita menatap Emma


sambil berfikir betapa besarnya perjuangan Emma untuk bisa datang ke kota ini


demi kekasihnya.


“Emma jika tidak keberatan menginap disini saja” ujar Didin


yang sangat memberikan lampu hijau terang kepada Emma. Didin bangga kepada anak

__ADS_1


laki-lakinya yang sudah mau berkorban dan berjuang keras untuk keluarga, saat


keluar membeli makanan tadi Didin berkata kepada Gilang tentang kedatangan Deni


kerumah dan tentang hasil kerjanya selama Gilang kerja dengan Yarin, Didin


meminta tolong untuk tetap membantu menyelesaikan masalah keluarganya sampai


benar-benar selesai dan berkat itu Didin memberi lampu hijau yang lebih untuk


hubungan anaknya itu.


Emma menolak dengan halus ia tidak ingin membuat keluarga


Gilang menjadi repot dan Emma mengatakan Emma juga harus menyelesaikan banyak


pekerjaan disini dan lebih baik ia tetap di penginapan. Tidak sampai satu bulan


Emma di kota Gilang, entah Emma belum mengatakannya kapan ia kembali pulang.


Hari yang penuh kebahagian dan jawaban yang puas tentang ke


khawatiran Emma selama ini dan lebihnya ia di sambut hangat oleh keluarga


Gilang. Setelah makan siang Nita Didin serta Wanda dan anaknya akan berpergian


untuk belanja bulanan serta membeli beberapa keperluan untuk anak Wanda, Emma


dan Gilang memilih untuk dirumah karena mereka butuh untuk waktu berdua.


Kedua kalinya Emma masuk ke kamar Gilang


“Nggak akan terjadi apa-apa masuk aja” ajak Gilang yang


melihat Emma seperti takut masuk kedalam kamar Gilang lagi


“Bukan itu kok...” Emma masuk dengan kekuatan hatinya


“Fio lagi?” tanya Gilang sambil menutup pintu kamarnya


“Aku sudah masuk kekamar kamu sama Kak Wanda dan masih ada


si bayangan itu” Emma berdiri di dekat jendela kamar Gilang.


“Apa lagi yang kamu takutkan.. Kamu sudah lihat sendiri


bagaimana keluarga aku sama kamu” Gilang memeluk Emma dari belakang, jurus


andalan Gilang untuk membuat Emma sedikit luluh


Emma tersenyum sambil membelai punggu tangan kekasihnya yang mendarat di perut


mungilnya Emma.


Melihat kearah jendela yang lumayan terik Emma berkata


kepada Gilang untuk setelah ini ia mau fokus bekerja dan Emma juga mengatakan


kepada Gilang jika lusa ia akan meninggalkan kota Gilang.


Gilang membantahnya Gilang tidak terima dengan pernyataan


Emma yang seperti itu karena Gilang merasa tidak ada keadilan untuknya. Setelah


makan malam nanti Gilang berencana untuk menghubungi orang tua Emma untuk


meminta Emma tinggal beberapa hari disini. Emma juga tidak bisa mengelak dan


mereka akhirnya larut dalam pelukan yang hangat. Kegiatan pasangan yang sedang


di hadang jarak jauh mungkin seperti ini berpelukan membuat moment yang abadi


dan menganggap dunia ini milik mereka berdua.


TOKTOK...


“Mereka sudah pulang Lang” sela Emma saat Gilang masih


nyaman mencium aroma tubuh Emma


“Bukan, jika mereka sudah datang tidak mungkin mengetuk


pintu rumah pasti mereka langsung masuk”


“Lalu itu siapa?”


Gilang menggeretu saat jalan menuju pintu utama rumahnya ia


merasa hari ini di ganggu dengan hal yang tidak penting salah satunya adalah


orang yang di depan rumahnya ini. Gilang berulang kali melihat ke arah kamarnya

__ADS_1


dan sempat berfikir untuk tidak membukakan pintu tapi jika ini adalah hal yang


penting ia juga akan merasa bersalah.


Ini kejutan untuk Gilang


“Kamu pergi tanpa pamitan Lang” Fio dengan percaya dirinya


berdiri di depan rumah Gilang


“Buat apa? Semua juga jelas, Papa kamu yang bikin aku enek”


jawab Gilang yang begitu ketus.


“Aku tamu disini lebih baik disuruh masuk dulu berbicara


dengan tenang sambil menikmati teh bikinan kamu” usaha Fio tidak pernah pudar


untuk mendapatkan hati Gilang. Gilang berusaha menghadang langkah Fio yang


sembarangan ingin masuk kerumahnya, ia juga takut Emma tahu adanya Fio disini.


“Kamu aneh Lang, aku hanya ingin bicara denganmu” ucap Fio


lagi sambil menatap Gilang.


“Kamu pergi aja dari sini, ternyata kamu sama aja ya seperti


Papa kamu yang tidak tahu diri”


Langkah kaki seseorang mulai terdengar dan Gilang makin


merasa gugup jika Emma harus mengetahui keberadaan Fio disini.


Dugaan Gilang benar


“Itu siapa Lang?” Emma berjalan menghampiri Gilang dan sudah


terlihat di mata Emma perempuan  sebayanya berdiri di depan pintu rumah Gilang


“Dia alasannya kenapa aku tidak boleh masuk kedalam? celetuk


Fio saat Fio dan Emma bertatapan


“Ini dia..”


“Aku Fio”


Emma diam seribu bahasa dan perlahan tangannya meraih lengan


Gilang seakan manandakan Gilang adalah miliknya selamanya. Emma berusaha tegar


dan tidak mau kalah dengan perempuan yang bisanya merebut kebahagian orang


lain.


“Kalian sedang ada keperluan pekerjaan?”


“Tidak Emma, aku dan Papanya sudah menyelesaikan kontrak


kerja dan tidak ada yang perlu di bicarakan lagi”


“Lalu ada apa perempuan ini datang kemari?” pertanyaan Emma


yang di tujukan kepada Fio begitu menyentuh ke perasaan Fio dan akhirnya


membuat Fio pergi dengan rasa geram kepada mereka. Fio masuk kedalam mobilnya


dengan sedikit membanting pintu mobilnya. Gilang berhasil menghadang Fio.


“Begitu sering dia datang kesini” tanya Emma yang


pandangannya masih belum lepas dari Fio


“Tidak, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ia kesini”


Emma bertemu dengan Fio dengan perasaan yang belum puas,


tanpa Gilang menjelaskan dari awal raut wajah Fio sudah terlihat begitu


ambisinya Fio untuk mendapatkan Gilang dan hal ini tidak bisa dibiarkan.


Perasaan buruk Emma hampir muncul dan Emma tidak ingin memperlihatkan hal itu


di depan Gilang dengan cara ia ingin meninggalkan rumah Gilang dan kembali ke


penginapan.


Gilang memahami ini keadaan yang mendadak dan sangat belum


siapnya Emma untuk bertemu dengan anak Deni itu. Mereka berkemas dan

__ADS_1


mengantarkan Emma kembali ke penginapan.


***


__ADS_2