Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 18


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Emma masih belum memberanikan diri untuk menghubungi Gilang karena fikiran negatifnya tentang semua yang terjadi masih sering datang menghantuinya. Hari-hari Emma di lakukan dengan normal bekerja, mengerjakan deadline dan begitu seterusnya. Terkadang ia juga menyempatkan setiap paginya untuk berolahraga kecil di area komplek perumahannya.


Sama, Gilang juga tidak menghubunginya tapi Gilang selalu menayakan keadaan kekasihnya itu melalui Exel dan diminta untuk tidak memberitahunya. Kenapa sama mereka? Gilang juga sedang berusaha mengerjakan


deadline dari Bu Yarin dan bekerja di kafe itu. Hari ini akan ada meeting di kantor Deni dan Gilang sudah mempersiapkan sesuatu


Erik tidak mau banyak berbicara dengan Emma sesuai perjanjian pertama berbicara melalui e-mail jika lebih penting lagi harus


dibicarakan langsung. Setiap pagi Erik tidak pernah absen membelikan susu kemasan


dan sekarang menjadi koleksi di meja kerja Emma, tidak satupun Emma minum malah


menjadikan susu kemasan itu tempat untuk dipajangnya foto Gilang dengan berbagai pose.


“Em, di panggil Pak Miko” ujar Exel dari pinggir pintu


“Oke” Emma berdiri dari kursinya dan menatap Erik sejenak, dalam hati Emma Pak Miko memanggilnya untuk mendapat evaluasi dari investor dan clientnya. Berjalan dengan tenang Emma keruangan Pak Miko dan sedikit membenarkan bajunya saat di depan ruangan Pak Miko.


“Ohh Em, duduk Em” Pak Miko mempersihlakan Emma duduk sambil


memegang beberapa berkas di tangannya.


“Ada yang bisa Emma bantu Pak?”


“Semua berkat kerjaa keras kamu Em, kamu itungannya disini baru satu bulan ya?”


“Emma rasa begitu Pak”


“Dari hasil presentasi kamu beberapa minggu lalu dan beserta contohnya, si investor dan client kita sangat menyukai hasil kerja kamu”


Emma tersenyum lega mendengar pernyataan dari Pak Miko


“Syukur Pak kalau begitu saya bisa membalas semua rasa salah saya atas presentasi pertama itu”


“Ini..” Pak Miko menyodorkan sebuah amplop yang berisi surat.


“Apa ini Pak?” perasaan Emma langsung berubah takut dan perlahan mulai keringat dingin.


“Di divisi kamu akan kedatangan anak magang yang nantinya akan melanjutkan program yang kamu buat nanti, utuk sementara waktu kami beri kamu cuti selama satu bulan dan kamu akan mengoreksi beberapa pekerjaan yang dikerjakan anak magang”


“Berati saya seperti Mbak Nova waktu itu ya Pak?”


“Ya betul kerjaannya santai kok kan cuma koreksi malah kamu akan mendapatkan bonus setelah ini” jelas Pak Miko. Dalam fikiran Emma pertama adalah ia bisa berkunjung ke kota Gilang menemui kekasihnya dan keadaan akan kembali seperti semula.


“Terima kasih banyak Pak Miko, saya senang sekali”


“Surat ini bukti tertulis saja kenyataannya kamu sudah paham kan?”


“Paham kok Pak” Emma membuka surat itu dan mencari kapan di mulai cutinya ini.


“Wahh besok kita sudah tidak bertemu Pak, hehe”


“Semoga harimu selalu menyenangkan ya Emma”


“Terima kasih Pak, kalau begitu Emma balik keruangan yaa”


“Ya, selamat libur Emma”


Senang bukan main Emma gembira Emma langsung mengecek ponselnya dan mencari tiket kereta yang tersedia hari ini paling tidak besok. Erik memandangi amplop yang sedang di pegang oleh Emma dan Erik cepat-cepat


mengirim e-mail kepada Emma.


...

__ADS_1


Ruang meeting sudah dipenuhi dengan karyawan Deni lainnya termasuk Gilang. Mereka sedang membahas program yang sudah dikerjakan oleh Gilang dan akan mengevaluasi semuanya. Gilang sudah merasa tidak peduli dengan hal ini, saat diruangan meeting Gilang fokus mengerjakan projeknya bersama Bu Yarin.


Deni mencoba mencari kesalahan Gilang yang jelas-jelas sudah bisa ada yang perlu di salahkan lagi. Deni sampai sekarang masih heran dengan Gilang kenapa ia tidak begitu kepancing dengan semua ulah yang ia buat.


“Lang coba kamu jelaskan kenapa halaman program ini kamu bisa buat dengan sangat mudah seperti ini?” Deni melempar pertanyaan kepada Gilang


“Lah kan anda yang minta di buat mudah katanya permintaan dari clientnya” karyawan lainnya haya saling melempar tatapan satu sama lain, terkejut dengan apa yang Gilang lontarkan kepada bos mereka.


“Tapi apakah harus se mudah ini? Kalau begini aja client kita nggak akan mempercayai kita untuk membuat program ini?” Gilang merubah posisi duduknya dan meletakan tabnya di atas meja dengan cara membantingnya.


“Pak, sampai kapan Bapak Deni yang terhormat ini selalu menyudutkan saya?”


“Saya bertanya buka menyudutkan kamu”


“Gini deh buat temen-temen tahu aja saya disini digaji separuh sama bos kalian ini lalu semua kerjaan yang harusnya di kerjakan


bersama semua di limpahkan kepada saya. Dan sekarang bos kalian mempertanyakan hal sepele yang jelas-jelas itu atas kemauan Bapak dan client” karyawan lainnya mulai gaduh dengan suara berbisiknya mereka.


“Loh Lang, berati selama ini yang kita kerjakan itu tiba-tiba selesai dari kamu?” Gilang hanya menjawab pertanyaan rekan kerjanya dengan menaikan pundak dan alisnya.


“Nih!” Gilang melemparkan surat diatas meja yang disaksikan oleh karyawan lainnya. “Jangan pernah cari saya dan keluarga saya lagi, bulan depan saya cicil hutang Mama saya”


Gilang melemparkan surat resign yang sudah tertulis rapi oleh Gilang, disana ia juga menulis untuk segera mengirim nomer rekening Deni agar perlahan Gilang bisa segera melunasi hutang keluargnya.


Kembalinya Gilang ke meja kerja untuk mengemasi semua barang-barangnya yang ada di kantor Deni, Gilang tidak meninggalkan jejak satupun di kantor itu ia juga sudah memblokir akses manapun yang bisa menghubungkan ke dirinya, kecuali ponsel Deni.


Wajah merah Deni sudah terlihat jelas di hadapan Gilang seakan Gilang adalah sasaran empuk Deni untuk menjawab semua yang sudah di bahas Gilang di ruang meeting tadi.


“Saya sudah nggak tahan Pak”


“Kamu emang anak yang nggak tahu diri ya!”


“Bapak yang nggak tahu diri, intinya cukup sampai sini Pak saya usahakan lunas semua kok hutang Mama. Itu kan yang Bapak mau?” Gilang menyenggol bahu Deni lalu meninggalkan kantor ini. Deni masih geram dengan kelakuan anaknya Nita itu. Deni harus merencanakan sesuatu yang baru dan lebih bisa mengambil hati Gilang.


akhir dari semua ini selesai. Gilang rindu banget sama kamu Emma, maafin Gilang


tapi Gilang janji kok secepatnya akan menghubungi Emma.


Suara hati Gilang yang sedang ia bicarakan saat di perjalanan. Gilang mulai rindu tapi ia belum bisa untuk menghubungi kekasihnya,


masih takut semua akan kacau tapi setidaknya Gilang sudah melepaskan salah satu hal yang membuat Emma selama ini merasa terbebani.


...


Mengulang moment kembali di depot nasi sambel depan kantor. Dengan kecanggungan Erik dan Emma situasi begitu sangat dingin dan sunyi mereka hanya fokus dengan ponselnya masing-masing.


Makan siang di depot nasi sambel itu adalah sebuah permintaan maaf dan terima kasihnya Emma kepada rekannya ini. Selalu membantu


dan benar-benar bisa menjadi malaikat untuk Emma. Sayang, hati Emma masih untuk


Gilang.


“Besok kita sudah nggak ketemu ya Em” Erik memulai pembicaraan di tengah kesunyian situasi mereka


“Kok kamu bisa tahu Rik?”


“Tahu lah, tadi nggak sengaja baca surat mu waktu kamu ke toilet”


“Berati kamu tahu kenapa aku ajak kamu makan siang disini?”


“Kamu kangen aku mungkin?”


“Ahahaha kangen keanehanmu si Rik”

__ADS_1


“Kamu pasti mau nyusul pacar kamu ya?”


“Ya bukan Erik namanya kalau nggak tahu segalanya tentang aku”


“Semoga masalah kamu cepet selesai si Em biar kamu bisa kembali jadi Emma yang pertama aku kenal”


“Ehmm.. makasih ya Rik” Emma mengucapkan banyak terima kasih


kepada Erik yang sudah berperan banyak dalam pekerjaannya dan menyelamatkan


Emma saat di acara Nabila. Dengan kelapangan hati Erik ia membalasnya dengan


ucapan yang sama ia hanya berniat untuk membantu bukan ada maksud lain, tapi


beda lagi dari hatinya yang paling dalam.


Makan siang yang damai dan tenang, Emma juga sudah merasa aman dengan Erik dan ia juga sudah meminta rekan kerjanya ini untuk tidak berkomunikasi lagi melalui e-mail. Senang bukan main, perlahan Erik bisa


menaklukan kembali rekan kerjanya ini perlahan pun Emma juga menceritakan


bagaimana keadaannya sekarang dengan Gilang. Sudah berminggu-minggu tidak


berkomunikasi semenjak Emma menyudutkan Gilang bahwa ia sedang makan siang


bersama Fio


Erik sangat perngertian dengan Emma, ia memberi masukan kepada rekan kerjanya ini untuk menurunkan egoisnya yang sampai sekarang masih berda di posisi teratas. Erik perlahan menceritakan juga tentang kisah cintanya dengan masalalu Erik yang pada akhirnya mereka juga harus sadar, ego itu harus di turunkan dengan secara perlahan.


Hanya mengangguk sambil meneguk es teh yang ada di depannya, Emma mencermati perkataan Erik yang sudah memberi pencerah untuk hubungannya.


“Sesekali nggak papa Em kamu minta di manja tapi kalau selamanya kamu mengintimidasi pacar kamu kayak gitu, lama-lama ia juga enggan sesayangnya dia sama kamu loh ya” penjelasan Erik lebih mendalam, tersadar lagi Emma melakukan hal yang sama overthingking dan ingin di manja yang berlebihan.


Sepulang mereka kerja Emma mengajak Erik untuk menikmati malam yang bisa menjadi malam terakhirnya ia di kotanya itu. Duduk di taman kota sambil menikmati jajan pinggir jalan rasanya cukup untuk waktu mereka


berdua.


Tidak pernah di sangka juga oleh Erik, Emma akan seperti ini jika terus diberi kelembutan kasih sayang dan waktu yang cukup untuk dirinya sendiri. Tidak ada penolakan dari Erik, ia juga segera menyelesaikan pekerjaannya untuk melakukan perpisahan dengan Emma.


“Emm katanya kamu...” Exel bertemu Emma di depan toilet dan memberhentikan langkahnya Emma


“Besok aku cari tiket kereta Xel, jangan bilang Gilang ya” Emma menatap dalam temannya itu seakan manaruh harapan besar kepadanya


“Kamu sudah yakin?”


“Trus hubunganku ini mau dibawa kemana Xel? Kamu tahu sendiri sudah berapa minggu aku nggak komuniskasi telfon apapun itu... kamu kalau jadi aku pasti kangen sama Gebby kan?”


“Aku cuma tanya aja kok Emm takutnya kamu nanti kenapa-kenapa”


“Baik-baik ya di kantor, hehehe”


“Besok aku anter ya ke stasiun” pinta Exel supaya bisa menemani Emma


“Besok aku kabari ya”


“Trus sekarang kamu mau kemana?” wajah Exel tampak bingung melihat Emma yang begitu rapi


“Mau jalan sama Erik”


“Pulangnya sama Erik aja, nanti tiba-tiba telfon minta di jemput” Exel memasang wajah yang jutek


“Hahaha, iya ganteng tenang ajaa” Emma meninggalkan Exel di depan toilet sambil memasang wajah yang tenang dengan senang. Entah Emma lebih merasa tenang saat Erik memberi masukan tentang hubungannya tentang apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi situasi yang seperti ini. Semoga ini semua bisa memperbaiki hubungan mereka, Gilang... Emma datang.


***

__ADS_1


__ADS_2