
Sebelum menghubungi orangtuanya, Rania membereskan rumah kos milik saudara sepupunya. Selesai beberes rumah, Rania membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kerja. Sebelum berangkat kerja, Rania menyempatkan diri menghubungi orangtuanya dikampung. Meskipun baru beberapa hari jauh dari orangtua, Rania sudah sangat merindukan mereka. Merindukan adik-adiknya dan semua kegiatan yang Rania lakukan sewaktu dirumah dulu.
"Tapi, bagaimana mau telpon ibu? Kan dirumah ga da yang punya handphone?" Kata Rania pada dirinya sendiri.
Rania hendak menghubungi saudara sepupunya untuk menanyakan nomor telepon tantenya, ibunya Nana. Tapi secepat kilat Rania mengurungkan niatkan karena dia tidak ingin mengganggu waktu kerja saudara sepupunya hanya untuk menanyakan hal yang tidak mendadak. Dia kemudian memilih mengirim pesan kepada saudara sepupunya itu.
"Na, aku boleh minta nomor telepon om sama tante nggak? Bapak sama ibu kan nggak punya handphone, jadi aku mau minta tolong sama om atau tante." Tulis Rania dalam pesan yang dia kirimkan untuk Nana.
Nana tidak langsung membalas pesan Rania karena dia sedang ada meeting dengan atasannya. Bahkan Nana tidak tahu saudara sepupunya, Rania mengirim pesan untuknya.
Rania memutuskan untuk segera berangkat ke tempat kerjanya. Meskipun dia tahu masih terlalu awal untuknya berangkat. Dia juga tidak ingin terlambat sampai ke tempat kerja mengingat supervisornya sangat tidak bersahabat. Sudah berangkat awal saja masih saja disalahkan, apalagi kalau sampai terlambat. Kemarin, Rania tidak sengaja melihat Aning, supervisornya memarahi salah satu teman kerjanya sampai teman kerjanya menangis. Entah kesalahan apa yang telah diperbuat oleh Susi, teman sejawatnya itu. Karena setahu Rania, Susi tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Tapi Aning masih memarahinya sampai Susi menangis.
Rania melambaikan tangannya ketika dia melihat ada taksi dikejauhan. Dia tidak ingin membuang banyak waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting. Dia hanya ingin fokus bekerja demi keluarganya.
"Rumah makan jaya makmur ya pak." Kata Rania pada sopir taksi setelah berada didalam taksi.
"Baik, mbak." Jawab sang sopir singkat.
Selama perjalanan, Rania diam membisu. Hanya sesekali berbicara bila dia ditanya oleh pak sopir taksi.
Taksi yang Rania naiki berhenti tepat didepan warung makan yang nampaknya masih tutup. Rania membayar ongkos taksi sebelum keluar dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pak sopir. Rania berjalan menuju warung makan dimana dia bekerja. Tapi ketika hendak masuk, Rania bertabrakan dengan seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya.
"M-maafkan saya pak. Saya tidak sengaja menabrak anda." Kata Rania buru-buru.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Seharusnya saya yang minta maaf, karena saya sedang buru-buru jadi nggak lihat ada kamu disini." Jawab pria tampan ini.
"Kalau begitu saya permisi pak." Pamit Rania.
"Tunggu sebentar, kamu kerja disini?" Tanya pria tampan itu lagi.
"Iya, pak. Saya kerja disini. Tapi saya masih baru disini, baru kemarin saya mulai kerja." Terang Rania dengan polosnya.
Sang pria tampan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis menanggapi penuturan Rania. Rania pun pamit dan berlalu meninggalkan pria tampan ini yang tak lain adalah atasannya sendiri, Pak Soni Wijaya. Akan tetapi Rania tidak mengetahui hal tersebut. Rania memang tahu nama atasannya, tapi dia belum pernah bertemu dengan orangnya. Lebih tepatnya, Rania tidak tahu bahwa pria yang dia menabraknya sampai dua kali adalah atasannya, Pak Soni Wijaya.
Tanpa Rania ketahui, percakapannya dengan Pak Soni Wijaya diperhatikan oleh seseorang. Seseorang yang terlihat sangat marah melihat kedekatan Rania dengan Pak Soni Wijaya. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya melihat keintiman mereka. Dia berfikir bahwa Rania adalah wanita ****** yang sedang menggoda atasannya. Dia sangat geram dan sangat ingin menjambak rambut Rania dan mencakar wajahnya supaya dia tidak bisa menggoda atasannya, Pak Soni Wijaya. Wanita ini segera pergi ke rumah makan dimana Rania bekerja. Dia berencana membuat perhitungan dengannya karena sudah berani menggoda Pak Soni Wijaya.
Rania tengah bersiap untuk membersihkan dan menata meja kursi ketika lengannya tiba-tiba ditarik paksa oleh seseorang yang tak lain adalah Aning, supervisornya.
Aning terus menarik lengan Rania menuju halaman belakang rumah makan ini. Aning bahkan tidak peduli dengan rengekkan Rania yang terus mengaduh kesakitan. Sesampainya dihalaman belakang, Aning mendorong Rania hingga tersungkur. Rania berusaha bangkit berdiri, tapi secepat kilat, tangan Aning meraih rambut Rania dan menariknya kebelakang.
"Aw sakit kak. Lepaskan saya, saya mohon kak." Kata Rania sambil memegangi rambutnya yang ditarik oleh Aning.
"Lepaskan kamu bilang? Ini hukuman untuk kamu karena kamu telah berani menggoda Pak Soni." Jelas Aning.
"Tapi saya tidak menggoda Pak Soni kak. Aduh sakit sekali kak, saya mohon lepaskan saya." Kata Rania sambil menahan tangis.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu hah. Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepala aku sendiri kamu menggoda Pak Soni. Tapi kamu masih menyangkalnya. Besar juga nyalimu berani menggodaa atasan. Kamu pikir kamu siapa hah?" Kata Aning panjang lebar.
__ADS_1
Rania terus memberontak berusaha melepaskan diri. Tapi, Aning terus menyiksanya seperti orang kerasukan. Rania hanya bisa menangis diperlakukan sangat buruk seperti ini. Bahkan Aning tidak segan-segan memukulinya. Rania tidak habis pikir, kenapa supervisornya bisa semarah itu padanya. Padahal seingatnya, Rania tidak melakukan kesalahan apapun sejak tadi. Kenapa Aning menyiksanya tanpa ampun sekarang?
"Untuk hari ini kamu beruntung bisa lepas dariku. Tapi lain kali, aku pastikan kamu akan menyesal telah menggoda Pak Soni Wijaya." Kata aning mengancam.
Rania terduduk lesu, dia tidak mengerti maksud dari perkataan Aning padanya. Rania tidak menggoda siapapun hari ini, dan dia juga tidak bertemu dengan Pak Soni Wijaya. Kenapa Aning terus menerus mengatakan bahwa dia telah menggoda Pak Soni Wijaya. Air matanya terus mengalir deras, pikirannya terus memikirkan maksud dari ucapan supervisornya.
"Rania!" Teriak salah satu teman kerjanya, Susi.
Rania masih terus merenungi diri sehingga dia tidak mendengar temannya memanggilnya. Melihat Rania tidak merespon panggilannya, Susi buru-buru menghampirinya.
"Rania. Kamu nggak apa-apa?" Tanya Susi sambil memegang bahu Rania.
Rania terkejut karena sentuhan temannya. Rania berpikir bahwa yang menyentuhnya tadi adalah Aning, supervisornya yang jahat. Mengetahui teman kerjanya yang datang, Rania berusaha menyembunyikan semuanya. Dia buru-buru mengelap pipinya yang basah.
"Rania, kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang menjahatimu, Rania?" Tanya Susi layaknya seorang detektif.
"Aku nggak apa-apa, Sus." Jawab Rania memaksa tersenyum.
"Kamu nggak bisa membohongi aku, Rania. Tadi aku melihat mbak Aning dari sini. Pasti kamu habis dijahatin sama mbak Aning kan?" Kata Susi.
"Aku juga pernah ada diposisi kamu, Ran. Dijahatin sama mbak Aning, bahkan lebih parah dari yang kamu alami." Sambung Susi yang matanya mulai memerah menahan tangis.
Rania tidak menyangka kalau Aning, supervisornya bisa berubah menjadi kejam seperti itu. Rania dan Susi berpelukan menguatkan satu sama lain. Setelah hatinya tenang, Rania membetulkan pakaiannya dan kembali ke dalam rumah makan untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sebelum melanjutkan pekerjaan, mereka berdua pergi ke toilet untuk membersihkan muka supaya tidak terlalu kentara baru saja menangis. Rania tidak ingin teman-temannya bertanya kenapa dan kenapa. Cukup Susi yang tahu tentang kejadian dihalaman belakang. Biar tidak ada teman yang akan menjadi sasaran kekejaman supervisornya karena perhatian pada Rania.
__ADS_1