Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 11


__ADS_3

Helaan nafas panjang itu masih terdengar oleh Erik yang sedang berusaha menenangkan Emma di kafe malam itu. Wajah Emma juga masih terlihat panik dan sekarang malah terlihat seperti orang linglung, masih teringat jelas di fikiran Emma bagaimana semua client dan investor meninggalkan ruangan meeting dengan wajah yang kecewa belum lagi di ruangan HRD Emma di hajar habis-habisan dengan omongan pedas dari atasan Wijaya Group. Ini moment yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


“Namanya kerja Em pasti ngelakukan salah lah” sembari meneguk minuman Erik menguatkan Emma lagi


“Entahlah Rik malu banget aku”


“Emang bener kamu nggak baca pesan grup yang semalam?”


“Tidak, aku semalam sibuk yang lain”


Waiters datang sambil membawa ice chocolate untuk menenangkan


Emma yang wajahnya masih terbalut dengan kecemasan. Sekarang Erik merasa guntur


yang akan datang lebih bahagia melihat Emma seperti ini kekuatan senyum Emma


sedang melemah.


“Besok kan libur kita jalan yuk, mau?”


“Nggak usah deh Rik aku mau dirumah aja capek banget lagian dirumah aku juga masih ada keperluan”


Erik mulai yakin, masalah yang ada di diri Emma bukan hanya dari masalah kantor ia sedang ada masalah lain sehingga menjadi beban fikiran Emma. Untuk lebih mencairkan suasana Erik memesan makan dan mengajak rekan kerjanya itu menghilangkan segala kepenatan dikantor.


...


“Terima kasih Gilang, sampai bertemu besok”


Mulai siang tadi hingga hampir larut malam Gilang sudah bekerja di kafe tersebut ia pulang dengan hati yang senang ternyata begitu rasanya bekerja dengan hati yang senang semua tidak terasa dan teman-teman di kafe juga tidak terlalu menyusahkan untuk Gilang.


Gilang sedang merasakan hal yang aneh kenapa dari tadi Emma tidak mengirimkan pesan. Gilang bergegas pulang dan segera menghubungi kekasihnya. Lelah yang Gilang rasakan hari ini rasanya ingin di bayar dengan menatap wajah cantik Emma dan ngambeknya Emma.


...


Emma tidak mau malam itu pulang diantar oleh Erik ia lebih memilih menelfon Exel untuk menjemputnya. Di halaman kafe Exel sudah menunggu di dalam mobil dengan muka yang kesal, baru saja ia merebahkan tubuhnya dikasur sudah diminta untuk menjemput temannya itu.


Tidak bisa memaksa Emma juga, Erik hanya melihat Emma hingga masuk mobil dan menghela nafas panjang. Susah-susah gampang untuk segera mendapatkan Emma dengan kondisi yang seperti ini Emma tidak mudah luluh dengan lelaki yang berusaha ada untuknya. Erik masih tabah dan tidak akan memutuskan perjuangannya untuk mendapatkan Emma.


“Aku kangen Gilang Xel..” suara tangisan itu sudah terdengar dari mobil Exel


“Lah bukannya selama ini kalian itu melakukan panggilan video ya?”


“Beda Xel rasanya beda, hiks...hikss. Aku mau peluk Gilang aku gak bisa gini terus”


“Gilang akan selalu membuat hubungan ini beda Em” sesi curhat di dalam mobil sedang di mulai


“Apa aku pindah juga ya nyusul Gilang?”


“Nggak usah buat masalah baru, Gilang sedang berjuang buat kamu jangan nyusahin”


“Loh justru aku bakal bantu Gilang aku bakal bisa peluk dia disaat kayak gini, aku kangen Gilang”


“Sabar dulu, fokus aja sama kerjaan biar bisa cepet dapet cuti”


Air mata Emma masih tumpah di pipinya. Terkadang kenyataan dengan virtual itu jauh berbeda apalagi Emma terbiasa dengan adanya Gilang disisinya, saat-saat seperti ini memang sangat butuh seseorang yang bisa


dijadikan untuk melepas semua beban dikantor. Emma membuka ponselnya dan menatap kontak Gilang.


“Aku kangen banget sama kamu, aku butuh kamu Lang...”

__ADS_1


Exel hanya bisa terdiam melihat temannya ini sedih ia juga membayangkan bagaimana jika ia sedang berada di posisi ini harus berjauhan dengan Gebby. Sedekat apapun Exel dengan Emma bahkan dengan Gilang tidak akan pernah bisa merasakan sesungguhnya yang di rasakan temannya ini.


“Thanks Xel, maaf udah ngerepotin salam buat Gebby ya”


“Istirahat deh besok libur kerja jangan kemana-mana”


“Pesen tiket aja mau nyamperin Gilang”


“Serah lah Emm”


“Hahaha, aku masuk ya” Emma menghibur dirinya supaya rasa rindunya bisa terbayar dengan lunas.


...


Perasaan Gilang mengatakan tidak enak ia melihat mobil Deni di halaman rumahnya. Akan ada drama apa lagi ini.


Tentu tidak sendiri Deni datang kerumah Gilang ia datang bersama Fio. Gilang sudah merasa enggan sekali melihat Fio dan yang sedang di fikiran Gilang ada pasti Fio sudah berkata yang macam-macam kepada Deni maka dari itu mereka datang kesini. Sudah lah Gilang lelah, saat Nita memanggilnya


untuk berbicara sebentar dengan Deni Gilang tidak menghiraukan itu. Wajah Fio


tampak kesal kenapa Gilang tidak ada takut-takutnya dengan dia.


PANGGILAN MASUK


“Sayangg...”


“Halo cantik”


“Kok pulang malam?”


“Iyaa lembur aku, kamu gimana presentasinya?”


“Coba ambil baju aku lalu kamu peluk atau tidak kamu pakai baju itu”


“Semoga ini bisa mengurangi rasa rindu aku ya Lang”


Gilang mengela nafas panjang ia tak sanggup mendengar rintihan rindu kekasihnya seperti ini, yang ada di fikiran Gilang bagaimana caranya supaya bisa dapat penghasilan banyak dan menyegerakan itu semua


“Bau parfum kamu Lang, hiksss..hikss...”


“Kamu tidak kuat dengan hubungan yang aku buat beda ini?”


“Aku hanya tidak kuat dengan rindunya Lang”


“Banyak orang diluaran sana sedang menahan rindu dengan orang lain yang sudah tidak ada di dunia tapi mereka mampu Em, begitu juga dengan kamu”


“Hiks..Hikss..”


“Sabar sebentar ya Em, hubungan yang beda ini tidak akan terjalin lama kok”


“Kamu tidak rindu dengan ku?”


“Ahahaha, mikir apa si kamu itu. Kalau aku rindu lalu ikutan nangis kasihan kamunya”


“Ahahaha iya yaaa”


Tiba-tiba...


Seseorang membuka pintu kamar Gilang tanpa mengetukanya terlebih dahulu. Bukan kebiasan keluargnya Gilang si yang seperti ini, keluarga Gilang lebih sopan sebelum masuk ke kamar.

__ADS_1


“Lang... kamu kok nggak mau nemuin aku si”


Ada perempuan lain yang masuk kedalam kamar Gilang saat Gilang sedang melakukan panggilan bersama Emma. Suara itu terdengar sampai di ponsel Emma


“Itu suara siapa Lang?”


Gilang panik Fio telah merusak suasana dan menambah beban fikiran Emma saat tau ada suara perempuan lain


“Itu Kak Wanda Lang?”


“Kok Kak Wanda si aku Fio” sahut Fio yang berjalan mendekat kearah Gilang


Suara Emma tidak terdengar lagi dan Gilang berusaha menyuruh Fio untuk keluar dari kamarnya. Perdebatan pun tidak bisa di hentikan ditambah omongan Fio yang selalu ngena di hati setiap orang. Gilang begitu geram dengan dengan Fio saat itu semua rusak semua kacau karena Fio.


PANGGILAN BERAKHIR


“Hiks..Hiks.. bukannya Fio itu anaknya Pak Deni kok dia bisa masuk Gilang seenaknya?” Dari pada Emma harus mendengar semuanya dan menjadi saksi Gilang bermain belakang dengan Fio, Emma memilih untuk mengakhiri


panggilan itu.


Emma hanya menangis dan tiba-tiba mulai marah membuang baju Gilang yang sedang ada di dekapannya ia menganggap ini semua hanya cara Gilang untuk membuatnya hancur dengan segala omongan Gilang tentang hubungan yang beda. Masih teriris sekali hati Emma saat mendengar suara Fio.


“Fio kamu itu apa-apan si kenapa masuk kamar aku sembarangan?”


“Kamu yang kenapa kok nggk mau nemuin aku di ruang tamu?”


“Fioo astaga” Gilang berusaha menahan emosinya “Itu bukan urusan kamu okey, sekarang kamu keluar dan pulang sama Papa kamu” Gilang mendorong paksa Fio untuk keluar dari kamarnya dan


BRUGH!! Gilang juga membanting pintu kamarnya dan terdengar juga ia mengunci pintunya. Semua sudah terlambat Emma sudah mendengar semuanya. Gilang mencoba menghubungi Emma kembali berulang kali ia juga mengirimkan pesan


dan semua tidak ada jawabannya. Ini tidak bisa bila terjadi seperti ini terus menerus ini akan menimbulkan hubungan yang berada di ujung tanduk.


...


Setelah presentasi tadi pagi di ruangan meeting sekarang materinya ada di Erik ia mencoba menjadi malaikat untuk Emma ia merubah segala isi materi presentasi dengan sesuai yang program yang akan di buat. Erik


seorang lelaki single yang sedang mencari nafkah di kota lain ia hidup seorang diri di kota ini semenjak di PHK dua bulan lalu Erik lebih sering membuat suatu program dan itu membuat ia makin mahir dalam bidang IT


tapi selama ini hanya ia simpan saja dan untuk dirinya sendiri untuk perhargaan


dirinya sendiri.


Materi dalam presentasi banyak sekali yang salah, jelas saja karena semua tidak ada hubungannya dengan program yang akan di serahkan kepada pemerintah perekonomian. Mungkin akan selamanya Erik menjadi malaikat untuk rekan kerjanya itu ya sampai Emma mau membuka hati untuk Erik. Sedikit gagal fokus dan teringat kejadian memasang dasi tadi itu yang membuat wajah Emma


masih bersarang di bayang-bayang Erik hingga detik ini.


Disela-sela membenarkan materi presentasi Erik tidak sengaja membuka akun social medianya yang sudah lama tidak ia buka, begitu banyak permintaan teman banyak juga yang menyukai foto Erik yang ia sedang traveling.


“Emma Aghata Blinda”


Foto profil yang terpajang dengan sangat cantik sepertinya itu bukan foto lama yang Emma pasang di social medianya. Tawa yang menunjukan gigi rapinya begitu memikat Erik dan makin memaksa Erik untuk mencari tahu


lebih banyak tentang Emma.


Tidak banyak yang Emma tampilkan dalam profil social medianya hanya beberapa status yang ia posting disana beberapa darinya


kata-kata pujian dan terima kasih untuk Gilang


“Ohh Emma sudah punya pacar” batin Erik sambil terus melihat informasi tentang Emma.

__ADS_1


***


__ADS_2