Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 23


__ADS_3

Mengawali hari dengan begitu cerah semua orang akan


tersenyum jika melihat matahari menyinari kota mereka masing-masing dengan arti


yang berbeda-beda. Setelah pulang dari rumah sakit, anak Wanda sekarang sedang


berjemur di teras rumah bersama neneknya sambil bersenandung untuk cucu


tersayangnya. Semalam Gilang berpamitan tidur dirumah temannya karena badan


yang sudah lelah ia tidak sanggup untuk pulang. Iya, Gilang berbohong ia tidak


mau membuat masalah baru di keluarganya.


Wanda tampak begitu lelah yang baru saja menjalani perannya


sebagai ibu dan Rio yang harus berangkat ke luar kota demi tuntutan pekerjaan.


Sebelum Rio pergi mencari nafkah ia ingin meluangkan waktu berdua bersama


istrinya walau sekedar membeli popok dan susu untuk anak mereka. Jangan khawatir,


Nita mempersihlakan anak dan menantunya pergi karena ia bisa menghabiskan waktu


lebih banyak dengan cucu tercintanya. Menciumnya berulang kali sampai cucunya


melengkungkan senyum yang menawan.


Wanda dan Rio meninggalkan rumah, Didin sudah fokus di depan


laptop ia tidak pernah pantang menyerah untuk membayar semua hutang keluarga


kepada Deni dan sedikit membantu untuk mengganti uang Gilang. Anak laki-laki


yang ia banggakan dan ia sayang layak untuk mendapat ganti dari beban


keluarganya.


Nita sedang tertuju kepada sebuah mobil yang berhenti di


depan rumahnya dan membuat cucunya terkena dari asap mobil tersebut. Sepertinya


tidak asing dengan mobil yang berhenti di depan rumahnya itu. Ia memanggil


Didin untuk mengamankan cucunya ini karena keadaan diluar sangat tidak


memungkinkan untuk cucunya.


BRUGH...


Dari cara menutup pintu saja sudah berbeda seakan sedang


menggunakan emosi yang membara dan akan mengacak-acak rumah Nita.


Seperti dugaan Nita, teman kuliahnya yang sudah membuat


keluarganya menjadi berantakan dengan segala ancaman hutang yang terus


menghantuinya. Deni datang di pagi hari itu dan merusak segala situasi dirumah


Nita. Sama, sepertinya Nita juga ingin meluapkan emosinya dan mengakhiri segala


pertikaian drama perhutangan ini.


Deni berdiri di hadapan Nita dengan mata yang memerah dan


nafas yang susah di atur. Kedatangan Deni kerumah mantan kekasihnya itu untuk


meminta kejelasan kenapa anak bungsu yang mereka anggap tampan itu bisa


seberani dan langsung mengundurkan diri seenaknya sendiri.


Tidak, Deni datang dengan seorang diri dan akan menuntut


segala janji atas bekerjanya Gilang di perusahaan Deni. Nita sudah tidak


memperdulikan siapa Deni seberapa tinggai derajat Deni sekarang dan Nita sudah


menganggap ini akan selesai dengan mengangsur segala hutangnya.


“Aku sudah tidak takut dengan derajatmu sekarang”


“Kapan hutang itu bisa lunas?” tanya Deni terus menantang


mantan kekasihnya itu.


Didin keluar sambil menggendong cucunya dan melemparkan


setumpukan amplop coklat tebal yang berisikan sejumlah uang. Deni kaget dan


mengambil amplop itu yang jatuh tepat di hadapannya. Nita terkejut dengan aksi

__ADS_1


suaminya itu, tidak pakai lama Nita berpindah posisi dan sekarang sudah sejajar


dengan suami dan cucunya itu.


“Masih kurang ini aku anggap sebagai cicilan pertama kalian,


aku tunggu sisanya” Deni menghitung uang yang ada di amplopnya sambil berjalan


menuju mobilnya. Deni tampak tak lebih dari seorang rentenir bahkan manusia


yang sangat gila dengan harta.


Nita bersandar di pundak suaminya sambil menitihkan air


mata. Banyak sekali keluarganya yang sudah baik dengan Nita, kenapa ia masih


saja tertutup dengan kehormataan yang harus ia berikan kepada Deni. Didin suami


yang tidak pantas untuk Nita sakiti bahkan harus menghormati Deni demi sebuah


balas budi. Didin mengusap air mata istri tercintanya dan langsung mengajak


masuk ke dalam rumah. Suasananya mulai tenang lagi ketika Nita membuatkan kopi


untuk suami tercintanya.


Impian sebagian dari orang tua yang sudah mulai menua. Hanya


bermain dengan cucu dan menikmati masa tuanya di rumah sambil disuguhkan


pemandangan keluarga yang harmonis. Terlepas dari masalah Deni, Nita


menyinggung masalah Gilang yang memang sepertinya sudah pantas untuk menyusul


Kakaknya.


“Biarkan dia menikmati masa mudanya dulu kan saat muda dan


sudah menikah itu sudah berbeda dari segi tanggung jawab aja sudah beda”


“Sepertinya aku salah sudah mengira Gilang akan cocok dengan


Fio” Nita meletakan kopi di meja lalu memandang suaminya dengan tatapan yang


sedih.


“Tidak perlu ada yang di sesali, bukannya Gilang sedang


“Entahlah nanti ku tanyakan”


“Sudah, perlahan kami semua akan membatu untuk menyelesaikan


masalah ini Tuhan pasti beri kami jalan yang mudah. Doakan saja keluargamu ini”


Didin terus memberi petuah kepada istrinya dan lagi-lagi Nita bersandar di


pundak suaminya itu.


Untung saja Gilang tidak ada di tempat saat Deni tiba


dirumahnya. Semua makin mebara dan tidak bisa tertahan lagi. Masalah uang yang


berada di amplop coklat itu adalah uang sebagian dari kerja Gilang bersama Bu


Yarin dan dari hasil kerja Didin sendiri.


Mungkin ini akan segera berakhir dengan dijanjikannya Deni


tentang periode pembayaran hutangnya.


...


Hari libur telah tiba. Selama dua hari tidak ada Emma di


kantor Wijaya Group Erik merasa sepi dan hanya berusaha mengenal Cornelia lebih


dalam dan ternyata Cornelia memang anak yang cekatan dan tanggap ya walaupun


masih masa pembelajaran tapi sejauh ia bekerja ia sudah bisa menghadapi client.


Erik tidak mendapatkan kabar apapun dari Emma, mana bisa dan


mana sempat Emma sedang menghabiskan malam yang hangat dan hari yang cerah


bersama Gilang. Memang tidak seharusnya Erik mengaggu Emma tapi, ahhh perasaan


Erik sangat tidak tenang ia mencari nama Emma di kontak ponselnya dan..


PANGGILAN MASUK


CORNELIA ANAK MAGANG

__ADS_1


“Ganggu ya aku?” tanpa salam Cornelia membuat Erik terkejut


“Salam kek” Sedikit kesal dan masih ada sisa terkejutnya


“Selamat pagi Mas Erik” suara manja Cornelia tiba-tiba


membuat hati Erik terenyuh seakan perasaan gemas terhadap anak magang ini tidak


bisa di tahan lagi. Erik yang suka labil setelah di tinggal Emma.


“Ada apa?”


“Mau bantuin aku ngerjakan laporan nggak?”


“Belum ada satu bulan Cornelia kamu magang udah buru-buru


aja ngerjakan laporan”


“Laporan aku beda Mas”


Erik terdiam untuk mementukan jawaban.


“Nggak papa kalau nggak bisa aku minta bantuan sama Mas Exel


sama Mbak Gebby aja” Gebby sudah mengenal Cornelia saat mereka bertemu di


minimarket dekat kantor.


“Yaudah buruan ganti baju aku jemput” nada yang kesal tapi


Erik tidak ingin Cornelia mengerjakan bersama Exel.


“Mas Erik jemput? Yakin?” memang sulit dipercaya untuk Cornelia


antara tidur dan mimpi saat mendengar hal itu


“Dari pada kamu ganggu Exel sama Gebby mending sama aku aja


sekalian kita ngerjakan program bareng”


“Aku nggak ganggu hari libur kamu Rik?”


“Sopan lah, Mas!”


“Yaudah aku tunggu ya habis ini aku share lokasi rumah aku


nanti kita ngerjakan deket rumah kalau nggak deket kantor” nada bicara Cornelia


sudah sangat berbeda, menahan senyum tawa dan bahagia itu memang sangat


terlihat.


Pikir Erik dari pada harus mengganggu kebahagiaan orang lain


kenapa ia tidak ciptakan kebahagiaan sendiri dengan anak magang yang ngeselin


tapi Erik tidak rela ia mengerjakan bersama rekannya. Erik... Erik... susah


banget kamu di tebak.


Lemari dibuka lebar mencari pakaian yang pas dan tidak


terlihat sedang merasakan perasaan lain di hadapan Cornelia. Ponsel Erik


tergeletak di atas kasur dan disana terdapat pesan masuk dari Emma yang sedang


menanyakan bagaimana keadaan Erik dan dikantor.


Mana sempat, Erik sibuk mempersiapkan diri di hadapan


cerminnya memamaki pelicin rambut tidak lupa dengan satu sampai beberapa kali


semprotan parfum di tubuh dan bajunya. Berjalan kearah meja yang dekat di kamar


mandi ia menyiapkan berkas dan laptop yang akan di bawa.


Erik mengabaikan pesan Emma dan menamati hasil lokasi yang


dikirim oleh Cornelia, sekali lagi memantaskan diri di depan cermin lalu ia


tersenyum. Sepertinya ia sudah ingin menutup portal hatinya untuk Emma.


Hari libur yang menyenangkan bagi Erik, melihat perempuan


lain yang duduk di samping kirinya dan hari itu Erik mulai dengan melengkungkan


senyumnya dan berbuat manis kepada Cornelia. Anggap saja ini sebagai awal untuk


membuat paragraf baru di kehidupan Erik.


***

__ADS_1


__ADS_2