
Mengawali hari dengan begitu cerah semua orang akan
tersenyum jika melihat matahari menyinari kota mereka masing-masing dengan arti
yang berbeda-beda. Setelah pulang dari rumah sakit, anak Wanda sekarang sedang
berjemur di teras rumah bersama neneknya sambil bersenandung untuk cucu
tersayangnya. Semalam Gilang berpamitan tidur dirumah temannya karena badan
yang sudah lelah ia tidak sanggup untuk pulang. Iya, Gilang berbohong ia tidak
mau membuat masalah baru di keluarganya.
Wanda tampak begitu lelah yang baru saja menjalani perannya
sebagai ibu dan Rio yang harus berangkat ke luar kota demi tuntutan pekerjaan.
Sebelum Rio pergi mencari nafkah ia ingin meluangkan waktu berdua bersama
istrinya walau sekedar membeli popok dan susu untuk anak mereka. Jangan khawatir,
Nita mempersihlakan anak dan menantunya pergi karena ia bisa menghabiskan waktu
lebih banyak dengan cucu tercintanya. Menciumnya berulang kali sampai cucunya
melengkungkan senyum yang menawan.
Wanda dan Rio meninggalkan rumah, Didin sudah fokus di depan
laptop ia tidak pernah pantang menyerah untuk membayar semua hutang keluarga
kepada Deni dan sedikit membantu untuk mengganti uang Gilang. Anak laki-laki
yang ia banggakan dan ia sayang layak untuk mendapat ganti dari beban
keluarganya.
Nita sedang tertuju kepada sebuah mobil yang berhenti di
depan rumahnya dan membuat cucunya terkena dari asap mobil tersebut. Sepertinya
tidak asing dengan mobil yang berhenti di depan rumahnya itu. Ia memanggil
Didin untuk mengamankan cucunya ini karena keadaan diluar sangat tidak
memungkinkan untuk cucunya.
BRUGH...
Dari cara menutup pintu saja sudah berbeda seakan sedang
menggunakan emosi yang membara dan akan mengacak-acak rumah Nita.
Seperti dugaan Nita, teman kuliahnya yang sudah membuat
keluarganya menjadi berantakan dengan segala ancaman hutang yang terus
menghantuinya. Deni datang di pagi hari itu dan merusak segala situasi dirumah
Nita. Sama, sepertinya Nita juga ingin meluapkan emosinya dan mengakhiri segala
pertikaian drama perhutangan ini.
Deni berdiri di hadapan Nita dengan mata yang memerah dan
nafas yang susah di atur. Kedatangan Deni kerumah mantan kekasihnya itu untuk
meminta kejelasan kenapa anak bungsu yang mereka anggap tampan itu bisa
seberani dan langsung mengundurkan diri seenaknya sendiri.
Tidak, Deni datang dengan seorang diri dan akan menuntut
segala janji atas bekerjanya Gilang di perusahaan Deni. Nita sudah tidak
memperdulikan siapa Deni seberapa tinggai derajat Deni sekarang dan Nita sudah
menganggap ini akan selesai dengan mengangsur segala hutangnya.
“Aku sudah tidak takut dengan derajatmu sekarang”
“Kapan hutang itu bisa lunas?” tanya Deni terus menantang
mantan kekasihnya itu.
Didin keluar sambil menggendong cucunya dan melemparkan
setumpukan amplop coklat tebal yang berisikan sejumlah uang. Deni kaget dan
mengambil amplop itu yang jatuh tepat di hadapannya. Nita terkejut dengan aksi
__ADS_1
suaminya itu, tidak pakai lama Nita berpindah posisi dan sekarang sudah sejajar
dengan suami dan cucunya itu.
“Masih kurang ini aku anggap sebagai cicilan pertama kalian,
aku tunggu sisanya” Deni menghitung uang yang ada di amplopnya sambil berjalan
menuju mobilnya. Deni tampak tak lebih dari seorang rentenir bahkan manusia
yang sangat gila dengan harta.
Nita bersandar di pundak suaminya sambil menitihkan air
mata. Banyak sekali keluarganya yang sudah baik dengan Nita, kenapa ia masih
saja tertutup dengan kehormataan yang harus ia berikan kepada Deni. Didin suami
yang tidak pantas untuk Nita sakiti bahkan harus menghormati Deni demi sebuah
balas budi. Didin mengusap air mata istri tercintanya dan langsung mengajak
masuk ke dalam rumah. Suasananya mulai tenang lagi ketika Nita membuatkan kopi
untuk suami tercintanya.
Impian sebagian dari orang tua yang sudah mulai menua. Hanya
bermain dengan cucu dan menikmati masa tuanya di rumah sambil disuguhkan
pemandangan keluarga yang harmonis. Terlepas dari masalah Deni, Nita
menyinggung masalah Gilang yang memang sepertinya sudah pantas untuk menyusul
Kakaknya.
“Biarkan dia menikmati masa mudanya dulu kan saat muda dan
sudah menikah itu sudah berbeda dari segi tanggung jawab aja sudah beda”
“Sepertinya aku salah sudah mengira Gilang akan cocok dengan
Fio” Nita meletakan kopi di meja lalu memandang suaminya dengan tatapan yang
sedih.
“Tidak perlu ada yang di sesali, bukannya Gilang sedang
“Entahlah nanti ku tanyakan”
“Sudah, perlahan kami semua akan membatu untuk menyelesaikan
masalah ini Tuhan pasti beri kami jalan yang mudah. Doakan saja keluargamu ini”
Didin terus memberi petuah kepada istrinya dan lagi-lagi Nita bersandar di
pundak suaminya itu.
Untung saja Gilang tidak ada di tempat saat Deni tiba
dirumahnya. Semua makin mebara dan tidak bisa tertahan lagi. Masalah uang yang
berada di amplop coklat itu adalah uang sebagian dari kerja Gilang bersama Bu
Yarin dan dari hasil kerja Didin sendiri.
Mungkin ini akan segera berakhir dengan dijanjikannya Deni
tentang periode pembayaran hutangnya.
...
Hari libur telah tiba. Selama dua hari tidak ada Emma di
kantor Wijaya Group Erik merasa sepi dan hanya berusaha mengenal Cornelia lebih
dalam dan ternyata Cornelia memang anak yang cekatan dan tanggap ya walaupun
masih masa pembelajaran tapi sejauh ia bekerja ia sudah bisa menghadapi client.
Erik tidak mendapatkan kabar apapun dari Emma, mana bisa dan
mana sempat Emma sedang menghabiskan malam yang hangat dan hari yang cerah
bersama Gilang. Memang tidak seharusnya Erik mengaggu Emma tapi, ahhh perasaan
Erik sangat tidak tenang ia mencari nama Emma di kontak ponselnya dan..
PANGGILAN MASUK
CORNELIA ANAK MAGANG
__ADS_1
“Ganggu ya aku?” tanpa salam Cornelia membuat Erik terkejut
“Salam kek” Sedikit kesal dan masih ada sisa terkejutnya
“Selamat pagi Mas Erik” suara manja Cornelia tiba-tiba
membuat hati Erik terenyuh seakan perasaan gemas terhadap anak magang ini tidak
bisa di tahan lagi. Erik yang suka labil setelah di tinggal Emma.
“Ada apa?”
“Mau bantuin aku ngerjakan laporan nggak?”
“Belum ada satu bulan Cornelia kamu magang udah buru-buru
aja ngerjakan laporan”
“Laporan aku beda Mas”
Erik terdiam untuk mementukan jawaban.
“Nggak papa kalau nggak bisa aku minta bantuan sama Mas Exel
sama Mbak Gebby aja” Gebby sudah mengenal Cornelia saat mereka bertemu di
minimarket dekat kantor.
“Yaudah buruan ganti baju aku jemput” nada yang kesal tapi
Erik tidak ingin Cornelia mengerjakan bersama Exel.
“Mas Erik jemput? Yakin?” memang sulit dipercaya untuk Cornelia
antara tidur dan mimpi saat mendengar hal itu
“Dari pada kamu ganggu Exel sama Gebby mending sama aku aja
sekalian kita ngerjakan program bareng”
“Aku nggak ganggu hari libur kamu Rik?”
“Sopan lah, Mas!”
“Yaudah aku tunggu ya habis ini aku share lokasi rumah aku
nanti kita ngerjakan deket rumah kalau nggak deket kantor” nada bicara Cornelia
sudah sangat berbeda, menahan senyum tawa dan bahagia itu memang sangat
terlihat.
Pikir Erik dari pada harus mengganggu kebahagiaan orang lain
kenapa ia tidak ciptakan kebahagiaan sendiri dengan anak magang yang ngeselin
tapi Erik tidak rela ia mengerjakan bersama rekannya. Erik... Erik... susah
banget kamu di tebak.
Lemari dibuka lebar mencari pakaian yang pas dan tidak
terlihat sedang merasakan perasaan lain di hadapan Cornelia. Ponsel Erik
tergeletak di atas kasur dan disana terdapat pesan masuk dari Emma yang sedang
menanyakan bagaimana keadaan Erik dan dikantor.
Mana sempat, Erik sibuk mempersiapkan diri di hadapan
cerminnya memamaki pelicin rambut tidak lupa dengan satu sampai beberapa kali
semprotan parfum di tubuh dan bajunya. Berjalan kearah meja yang dekat di kamar
mandi ia menyiapkan berkas dan laptop yang akan di bawa.
Erik mengabaikan pesan Emma dan menamati hasil lokasi yang
dikirim oleh Cornelia, sekali lagi memantaskan diri di depan cermin lalu ia
tersenyum. Sepertinya ia sudah ingin menutup portal hatinya untuk Emma.
Hari libur yang menyenangkan bagi Erik, melihat perempuan
lain yang duduk di samping kirinya dan hari itu Erik mulai dengan melengkungkan
senyumnya dan berbuat manis kepada Cornelia. Anggap saja ini sebagai awal untuk
membuat paragraf baru di kehidupan Erik.
***
__ADS_1