Long Distance Relationship

Long Distance Relationship
Part 21


__ADS_3

Gilang tidak membalas pesan yang Emma kirimkan sampai Emma tiba di kota Gilang. Bagi Emma suasananya begitu berbeda ketika ia turun dari kereta dan menghirup udara segar di area stasiun. Orang yang berlalu lalang di hadapannya melihat kesemua penjuru berharap Gilang sedang menunggunya di pintu keluar stasiun. Hanya sebuah harapan.


“Mbak, taxi Mbak...”


“Penginapan murah ada air panasnya ada wi-fi nya”


Orang-orang disana juga begitu ramai sedang menawarkan taxi berserta penginapan tapi Emma tetap fokus untuk mencari wajah Gilang yang sudah ia tunggu selama perjalanan ini.


“Ke penginapan Sinar Mas berapa Pak?”


“Lima puluh ribu Mbak”


“Yaudah deh bisa anter saya kesana Pak?”


Emma masuk kedalam sebuah taxi yang bersedia mengantarnya ke penginapan yang sudah ia pesan kemarin. Begini kota Gilang, pantas saja Gilang nyaman disini ia betah sampai tidak mengabari Emma beberapa minggu. Emma terbayang lagi kejadian itu mendengar suara Fio mendengar omongan Nita yang mengatakan Gilang cocok dengan Fio.


Jika hari pertamanya ia disini langsung bertemu dengan Fio, Emma akan membanggakan dirinya berkata di hadapan Fio jika ia yang pantas untuk berada di sisi Gilang, bukan seorang anak manja seperti Fio yang memanfaatkan uang Papanya.


Heran, Gilang tidak membalas pesannya apa memang dia sudah terlalu sibuk dengan Fio ia sudah asik bekerja bersama anak bos dan mendapatkan segalanya.


Stop Emma, sampai kapan kamu overthinking seperti ini. Gilang sedang berjuang untuk kamu Gilang sudah keluar dari kantor itu demi kamu.


“Serius kamu Xel?” Emma menerima telfon dari Exel yang memberikan informasi terhangat


“Barusan aja dia telfon aku Emm dia mau memperbaiki hubungan sama kamu tapi....”


TUT...TUT...


Ada satu informasi yang paling hangat untuk Emma tetapi itu tidak bisa langsung Exel ungkapkan karena ponsel Emma habis baterai. Menghela nafas, senang mendengarnya kalau Gilang sudah tidak bekerja disana tapi kenapa ia masih tidak mau membalas pesannya.


Emma tiba di penginapan ia masuk kedalam kamarnya dan segera merebahkan badan. Setelah menata beberapa baju dan merefresh semuanya Emma akan terus menghubungi Gilang dan sambil memulai pekerjaanya dari semalam Erik sudah bercerita jika anak magang itu sudah mulai magang hari itu.


...


Sedikit tenang, Gilang bisa melakukan pekerjaannya dengan satu tempat dan lebih banyak menghabiskan waktu di kafe. Keponakan lucunya hari ini sudah bisa pulang dan yang mengurus semua adalah Rio jadi Gilang bisa kerja lembur di kafe.


Ia hanya memandangi pesan Emma yang sangat singkat itu. Bingung kapan ia bisa memulai memperbaiki hubungannya ini rencana ia bakal pulang untuk menyusul Emma sepertinya batal. Bu Yarin akhir-akhir ini sangat membutuhkan banyak tenaga karyawan dan sedang tidak membuka lowongan pekerjaan paruh waktu.


Lagi-lagi menghela nafas di depan laptop kantor kafe. Ia juga sedang rindu dengan Emma rindu ingin berpelukan rindu dengan air mata Emma yang tiba-tiba jatuh di pipinya dan dengan sigap Gilang usap dengan jemarinya yang menurut Emma itu lembut.


“Lang kamu baik-baik aja kan?” Reza berdiri dihadapan Gilang yang sedang mengelus dahinya


“Iya nggak papa kok Za habis ini aku kedepan kok”


“Maaf ya Lang masalah foto itu kayak kamu marah banget ya” Reza memasang wajah melasnya


“Hahaha kenapa si Za geli banget aku liat muka kamu kayak gitu” Gilang tertawa untuk menahan kesedihannya


“Soalnya setelah kamu melihat foto itu kamu jadi kayak suka stress gitu”


“Ya kamu juga tahu kerjaan ku double ya mana mungkin aku nggak stress” akhirnya karyawan lain tahu kerjaan Gilang double dan ternyata itu tidak menjadi masalah untuk mereka, ya itu udah rezeki kamu aja Lang.


“Emang bersangkutan banget ya fotonya Erik sama cewek itu?” Reza yang makin penasaran ada apa si sebenarnya dengan Gilang


“Perempuan itu pacarku Za, kami LDR dan sudah lama kami nggak komunikasi ya aku kaget aja”

__ADS_1


“Seriusan Lang? Waahhh aku nanti bilang deh sama Erik untuk nggk usah deket-deket sama perempuan itu. Dasar Erik emang nggak tahu diri ya” Reza sedikit menggebrak mejanya


“Tidak usah, habis ini aku bakal selesain kok sama pacar aku, Erik nggk salah apa-apa” Gilang berusaha tegar di hadapan Reza supaya masalahnya tidak di campur tangan banyak orang.


Reza menepuk pundak Gilang memberi sebuah semangat ala-ala lelaki maco seperti itu. Reza kembali ke paintry dan Gilang melanjutkan programnya sebentar lagi jadi dan akan di serahkan kepada Bu Yarin.


...


Emma menikmati setiap air yang turun dari shower, memejamkan mata sambil membayangkan ia di peluk erat oleh Gilang di bawanya didunia Gilang yang baru di banggakannya Emma kepada dunia Gilang yang baru. Dalam hati Emma ia berkata yang ditujukan kepada Gilang agar Gilang bisa membalas pesannya dan melangsungkan pertemuannya.


PANGGILAN MASUK


GILANG...


Air shower itu menghalangi suara ponsel Emma yang berbunyi tanda panggilan masuk dari Gilang. Kalian masih terlewatkan oleh waktu, Gilang juga mencoba menelfonnya beberapa kali tapi masih tidak ada jawaban dari Emma.


Air shower menenangkan bagi Emma, ia nyaman di bawahnya dan merasakan setiar air yang turun. Lelah, hilang lah Emma butuh semangat baru untuk sebuah perjuangan. Lelah, datang lah lagi nanti jika aku sudah merasa di ujung tandukku.


...


Suara keyboard itu terdengar kencang, Cornelia sudah menempati tempat kerjanya dan semangat bekerja di hari magangnya yang kedua. Jika di bandingkan dengan Emma, Cornelia tidak terlalu menonjol dalam soal dandanan Cornelia datang dengan apa adanya yang penting pekerjaannya selesai.


Ditemani dengan segelas kopi Cornelia sambil membuka beberapa file hasil kerja Emma. Kemarin Cornelia sudah diberi arahan kepada Pak Miko tentang peraturan diperusahaan tentang standar bekerja juga dan hari ini Cornelia menerapkan itu semua. Dan hari ini sepertinya Cornelia bakal banyak berhubungan dengan Emma.


Tidak sengaja Exel melihat ke arah jendela dan menamatkan pandangannya di meja Emma yang sekarang di tempati anak magang. Exel sedikit kagum perempuan magang itu memancarkan auranya itu membuat Exel selalu gagal fokus.


“Kamu anak magang baru?” Exel yang nyelenong masuk ke ruangan itu tanpa ketukan pintu


“I..Iyaaa Pak” Cornelia menjawabnya dengan gugup karena ia bener-bener terkejut


“Ohh disini masih banyak orang-orang muda ya hehe” Canda Cornelia untuk mencairkan suasana. Dari arah belakang Erik datang dengan parfum yang wangi rapi dan tampil lebih beda dari biasanya. Erik dan Exel saling bertatapan dengan wajah yang aneh


“Ngapain Xel?” Erik tanya kebingungan


“Ada anak magang baru belum kenalan”


“Heleh, kalau mau kenalan ajak makan siang nanti” Celetuk Erik yang sudah duduk di kursi kebesarannya sambil meletakan tas.


“Sirik aja kamu Rik” Exel meninggalkan ruangan sambil dengan wajah yang tertekuk cemberut. Tidak ada Emma Exel tidak ada teman untuk ngopi di pagi hari, mau ngajak Cornelia sudah telanjur malu dengan Erik.


Cornelia menyodorkan segelas ice kopi yang sudah Cornelia siapkan untuk rekan kerjanya itu. Erik kebingungan kenapa Cornelia jadi begini, Erik mengeyampingkan pikiran itu dengan berfikir kemarin ia sudah menyodorkan susu kemasan padanya dan hari ini dibalas dengan ice kopi.


“Dolce ice?” Celetuk Erik setelah menenguknya sambil menatap Cornelia


“Nggak suka ya?”


“Ini menu favorit aku” Erik melemparkan senyuman untuk Cornelia. Cornelia tersipu malu atas senyuman Erik, tercatat! Satu menu favorit Erik sudah Cornelia simpan untuk dijadikan bahan omongan lebih lanjut.


“Nanti ikut aku ya biar kamu bisa belajar lebih banyak” tambah Erik sambil meletakkan ice dolce di sisi kirinya dan sambil mengambilkan berkas untuk di berikan kepada Cornelia.


Selamat datang di Wijaya Group Cornelia, semoga hari kamu menyenangkan dan semoga bisa dapat hatinya Erik, hihi.


...


Tidak dapat di hubungi kembali, setelah selesai mandi dan semua terlihat cantik Emma meninggalkan penginapan sejenak untuk menjadi lebih tenang. Gilang masih susah untuk di hubungi dan e-mail Emma sudah mulai penuh dengan pesan dari Cornelia.

__ADS_1


Hari ini hari pertama Emma dan Cornelia berkenalan melalui via online, mereka saling bertatap muka melalui panggilan video. Cornelia senang bisa bertemu dengan senior lainnya dan karyawan di Wijaya Group begitu ramah dan sabar mau mengajari Cornelia.


Sambil menunggu kabar dari Gilang, Emma berjalan di sekitaran penginapan sambil mencari tempat yang enak untuk melakukan beberapa pengecekan pekerjaan Cornelia.


Terik matahari sudah hampir berada di atas kepala Emma dan kringat Emma juga sudah mulai bercucuran. Disisi kanannya terlihat kafe yang pikirnya bisa ia pakai untuk pengecekan sejenak.


Pintu masuk kafe itu berbunyi seperti bel rumah dan mendapatkan sapaan manis dari pegawai kafe disana. Tidak begitu ramai keadaannya tenang dingin dan Emma juga bisa mendapatkan suasana ini untuk melanjutkan mengisi jurnalnya selama di kota Gilang.


Berjalan menuju meja kasir dan sekalian untuk memesan minuman berserta cemilan untuk menemani harinya ini. Ice chocolatenya mungkin bisa Emma coba akan menjadi lebih baik Emma di kota ini.


“Sih..la...kan...” ucap barista yang gugup saat mempersihlakan Emma memasan menu di kafe itu.


Terdiam, habis dimakan lamunan. Emma tercengang bingung dan belum mau mengatakan apapun untuk pemenasanannya.


Gilang sudah ada di hadapanmu Emm, apa yang kamu rencanakan kemarin lakukan. Peluk dia Emma katakan kapadanya kalau kamu rindu dengannya kamu boleh Emma melakukan apapun itu Gilang masih sah menjadi pacar kamu.


“Mau pesan apa” barista itu adalah Gilang dan Gilang menanyakan kepada pelanggannya itu.


“Ice chocolate” Emma menjawabnya dan masih memandangi Gilang


“Atas nama siapa?” Gilang melakukan standart operasinal procedur sebagai barista.


“Atas nama rindu. Atas nama rindu aku datang ke kota ini”


Gilang kembali menatap Emma lebih dalam dan ia juga sudah tidak tahan lagi ingin melakukan hal yang sama kepada kekasihnya itu. Peluk dan cium. Lalu Gilang bergegas membuatkan pesanan ice chocolate untuk Emma, ice chocolate yang spesial untuk Emma yang sudah berkunjung ke kotanya.


Menunggu di sudut kafe dengan mengeluarkan tabnya dan ia menyimpan sejuta pertanyaan mengapa Gilang bisa bekerja di kafe seperti ini, Emma juga mempunyai pikiran jika Gilang bekerja bersama Fio.


Jantung Emma berdetak dengan kencang air mata yang sudah hampir turun tapi ia tahan dengan cepat-cepat mengecek pekerjaan Cornelia. Ia juga menyimpan harapan Gilang akan menghampirinya.


“Aku masih nggak percaya kamu ada disini” Gilang datang sambil meletakan ice chocolate pesanan kekasihnya


“Beginilah bentuk perjuangan cintaku sama kamu”


“Selesai aku kerja kita bisa bicara di tempat lain ya, ponsel kamu jangan di matikan” pinta Gilang dengan wajah yang penuh rindu


“Penginapanku tidak jauh dari ini mungkin kita bisa bicara disana” jawab Emma yang sudah tidak sabar.


Canggung, Emma dan Gilang membunuh waktu yang hanya beberapa menit dengan saling bertatapan. Gilang kembali bekerja dan begitu juga Emma. Sudah di tunggu Cornelia yang dari tadi mencoba menghubungi seniornya melalui pesan singkat.


...


TULISAN DARI EMMA


Kamu disini ternyata Lang, tuhan memberikan jalan yang mudah untuk aku bertemu kamu.


Meneguk segelas ice chocolate buatkan kamu, aku kaget kamu bisa buat ice chocolate seenak ini


Aku mendadak bisa menulis jurnal sepandai ini Lang, semua berkat kamu yang selalu memaksa aku untuk membunuh waktu kita dengan menuliskan semuanya disini.


Tidak sabar Gilang aku ingin segera memeluk kamu, bawa lagi ice chocolatenya untuk di penginapan. Sudah banyak pertanyaan yang segera ingin ku tanyakan kepadamu.


Hai Gilang, aku ada di hadapanmu sekarang menemani mu bekerja dan sudah siap dipandangi oleh teman-teman kerja mu yang mengetahui jika aku ini kekasihmu.


***

__ADS_1


__ADS_2