
..."Aku sadar bahwa semua ini hanyalah permainan. Dan pada akhirnya mencintaimu adalah sebuah kekalahan."...
...- Dasha Adhara...
........ ...
Setelah menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya, Dasha segera keluar dari rumahnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi gadis itu lebih memilih pergi keluar untuk membeli mie instan di minimarket terdekat.
Malam yang begitu dingin, semilir anginnya bahkan berhasil menusuk setiap pori-pori Dasha. Di tambah lagi, ia tidak mengenakan celana panjang, hanya rok yang menutupi sampai lututnya.
Saat melewati gang sempit yang sepi, Dasha lantas menghela napas panjangnya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Dasha sendirian, di dalam gang sempit itu. Bulu kuduknya mulai berdiri karena merasakan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
Krek! drap drap!
"Hm?" Dasha menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang.
Ada seseorang yang sedang mengikutinya! Dasha yakin sekali, karena di dalam gang sempit yang sepi dan senyap ini terdengar derap langkah orang lain selain dirinya.
Setiap Dasha semakin cepat berjalan, derap langkah kaki itu juga semakin cepat mengikutinya.
Dasha lantas meneguk salivanya, jantungnya berdegup kencang. Ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh gang sempit itu, dan berharap semoga saja feeling-nya itu salah.
"Hantu ...?" gumam Dasha tegang.
Tidak ingin terlalu memperdulikannya, Dasha kembali melangkahkan kakinya. Dan lagi-lagi suara derap langkah yang mengikutinya kembali terdengar, lantas membuat Dasha semakin tergesa-gesa.
Karena penasaran, Dasha kembali menoleh ke belakang. Dan benar saja! ada seseorang yang mengikutinya. Lantas membuat Dasha syok, kini ia mulai berlari dan penguntit itu semakin cepat melangkahkan kakinya.
"Apa-apaan ini! siapa?! mantan kekasih mama? atau orang yang benci mama dan malah mau balas dendam ke gue?!"
Dasha semakin kalang kabut, ia tidak bisa berpikir jernih. Situasi sekarang pernah ia rasakan dulu saat masih kecil, saat mantan kekasih mamanya marah besar dan ingin melampiaskan amarahnya kepada Dasha. Saat itu Dasha juga di kejar-kejar seperti ini, tapi untungnya Dasha berhasil lolos.
Dan sekarang? apa ia juga akan berhasil lolos? namun saat Dasha kembali menoleh, penguntit itu tidak membawa pisau ataupun balok kayu, ia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya. Tapi tetap saja! kita 'kan tidak tahu apa yang penguntit itu sembunyikan di sakunya.
"Jalan raya! jalan raya!" gumam Dasha, ia lantas tersenyum sumringah saat melihat terangnya cahaya lampu yang menyorot ke sepanjang jalan.
Dan saat Dasha kembali menoleh ke belakang, Dasha terlonjak kaget karena penguntit itu sudah berada tepat di belakangnya. Saking kaget dan syok, Dasha malah tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur ke tanah.
BRUUKKK!
"ARRRRGGHH!"
Dasha spontan berteriak kencang saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi, karena saking takutnya penguntit itu akan mencelakainya.
"Dasha!"
Deg!
Mendengar suara yang familiar, Dasha lantas mendongak dan tercengang menatap sosok Satya sudah berada di depannya.
"Satya, Lo----" Dasha mendadak bungkam, ia sempat berpikir bahwa orang yang mengikutinya barusan ialah Satya.
Tidak. Bukan Satya. Cowok itu sekarang mengenakan sweater berwarna mocca, sedangkan orang yang mengikuti Dasha barusan mengenakan hoodie berwarna hitam. Penguntit itu bahkan sengaja menutupi kepalanya dengan topi dan juga masker hitam, membuat Dasha tidak bisa mengenali wajahnya.
Tapi yang pasti, orang itu bukanlah Satya. Bahkan sekarang, cowok itu terlihat khawatir dengan keadaannya sekarang.
"Lo kenapa? tiba-tiba keluar dari gang sempit gini sambil duduk dipinggir jalan gitu. Mau ngapain? ngemis? nih gue kasih duit receh."
Dasha berdecak kesal, "gue habis jatuh, sialan!" teriaknya gemas.
Satya lantas tertawa sembari berjongkok di hadapan Dasha. "Jatuh kenapa? wajah Lo juga kenapa kayak ketakutan gitu, emangnya habis di kejar hantu?"
Mendengar perkataan Satya, Dasha spontan menoleh ke belakang. Tidak berkedip memandangi sepanjang jalan di gang sempit itu, dan tidak ada siapapun. Penguntit itu pasti sudah kabur duluan setelah melihat Satya mendekatinya.
Melihat gadis itu menghela napas panjangnya, Satya mengernyit heran.
"Lo kenapa? mau kemana?" tanya Satya penasaran.
Dasha mendongak, "gue mau ke minimarket. Mau beli mie instan." jawabnya.
"Yaudah, gue temenin."
"Nggak jadi, tiba-tiba gue mau pulang aja."
Satya mengangguk paham, ia ingin segera berdiri kemudian pergi. Namun tangan Dasha yang terulur meraih tangannya, lantas membuat Satya tidak berkutik menatapnya.
Melihat ekspresi gadis itu yang terlihat malu-malu, membuat perasaan Satya tidak keruan. Ada apa dengan gadis itu? apakah sekarang waktu yang tepat untuk menyatakan cinta kepadanya? seorang Dasha?!
"Satya, anterin gue pulang."
"Hah?" harapan Satya hancur, ia tersenyum kecut menatap Dasha yang salah tingkah.
"Anterin gue pulang!"
"Nggak mau." jawab Satya cepat.
__ADS_1
Dasha terperangah dengan jawaban cowok itu, "nanti gue traktir bakso di sekolah." lanjutnya.
"Oke." angguk Satya cepat.
Dengan senyuman kecutnya, rasanya Dasha ingin segera menghajar wajah Satya sekarang juga.
"Yaudah, buruan berdiri." desak Satya, ia mendengus kesal memandangi Dasha yang belum kunjung berdiri.
Dasha menggigit bibir dalamnya, ia tidak bisa berdiri. Kakinya terasa sakit karena terkilir, bahkan salah satu lututnya pun berdarah.
Melihat kondisi gadis itu, Satya lantas menghela napasnya kemudian kembali berjongkok dengan memunggungi gadis itu.
Melihat Satya yang menawarkan punggungnya, Dasha mengernyit heran.
"Lo ngapain?" tanya Dasha bingung.
"Naik kampret ke punggung gue, biar gue gendong."
"Kenapa gue harus naik ke punggung Lo?"
Satya mendelik kesal, "kaki Lo 'kan luka! nggak bisa jalan, 'kan? yaudah naik aja, jangan banyak bacot, buruan!" desak Satya, ia sudah gemas dengan Dasha.
Setelah terdiam beberapa saat, Dasha akhirnya menurut. Ia lantas naik ke atas punggung Satya seraya melingkarkan kedua tangannya di leher cowok itu.
Satya dapat mendengarkan deru napas gadis itu, lantas membuat perasaan Satya kembali tidak keruan.
Kalau bukan karena cinta, Satya tidak akan melakukan ini. EH BUKAN! kalau bukan karena traktiran bakso, Satya tidak akan melakukan semua ini!
"Gue mikir apa sih!" celutuk Satya tiba-tiba.
Dasha mengernyit heran, "mikir apaan?" tanyanya saat Satya mulai melangkahkan kakinya.
"Nggak papa." jawabnya dengan judes.
Dasha mendengus kesal. Satya sangat temperamental, tapi meskipun begitu, Satya adalah teman yang baik dan selalu mengkhawatirkannya meskipun selalu marah-marah.
"Ngomong-ngomong, Lo kenapa bisa jatuh? beneran di kejar sama hantu, ya?" tanya Satya penasaran.
Namun Dasha tidak langsung menjawabnya, ia terdiam sesaat dengan menyenderkan kepalanya di bahu Satya sambil memikirkan kejadian barusan.
"Nggak ada yang ngejar kok, gue cuma kesandung batu aja makanya jatuh." jawab Dasha. Ia tidak ingin menceritakan kejadian itu pada Satya, lebih baik ia pendam saja.
"Oh, oke."
...••••••...
Dasha menyayangkan hal ini, meskipun sudah diurut oleh tukang pijat, Dasha masih tidak diperbolehkan untuk berlari. Ini sangat membosankan, apalagi koridor yang sepi semakin membuat Dasha kesepian.
Ia lantas menghela napas panjangnya seraya menunduk murung. "Daren ..." lirihnya.
"Kenapa, hm?" tanpa Dasha sadari, cowok itu sudah berjongkok di hadapannya.
"Daren!" panggil Dasha terperangah dengan kehadiran cowok itu yang tiba-tiba.
Daren terkekeh pelan seraya meraih tangan kanan Dasha kemudian meletakkannya di atas kepalanya, meminta gadis itu untuk mengusap-usap rambutnya.
Melihat tingkah Daren yang kembali bersikap kekanak-kanakan, Dasha lantas tersenyum dan mengacak rambut cowok itu dengan gemas.
"Dari mana aja?" tanya Dasha senang.
"Sibuk ngurusin dokumen di ruang OSIS." jawab Daren, tangannya perlahan mengusap lembut pipi Dasha.
Dasha mendengus, ketua OSIS memang selalu sibuk, batinnya. "Bosan." ucap Dasha cemberut.
"Maaf, ya. Oh iya, kaki kamu masih sakit?" tanya Daren dengan ekspresinya yang berubah khawatir.
Setelah gadis itu mengabari bahwa kakinya terkilir, Daren ingin langsung berlari untuk menemuinya. Namun Dasha berkata bahwa semua baik-baik saja dan menyuruh Daren untuk fokus pada tugasnya sebagai ketua OSIS, meskipun begitu tetap saja Daren selalu mengkhawatirkan gadis itu.
"Kenapa bisa jatuh sih ... kamu kalau lapar pas malam, jangan keluar. Telpon aku aja, nanti aku antar makanannya ke rumah kamu." kata Daren seraya mendongak dan memasang ekspresi murungnya.
Dasha terkekeh kecil, "gimana kalau aku lapar pas tengah malam, emangnya kamu mau aku telpon saat kamu lagi enak-enak tidur?" tanya Dasha, cowok itu lantas mengangguk cepat.
"Nggak papa, kok! mau tengah malam atau dini hari, kalau kamu lapar dan pengen makan, telpon aku aja. Nanti aku bawain makanan yang enak, jadi jangan keluar rumah lagi saat malam. Oke?"
Melihat ekspresi memelas Daren yang sangat khawatir pada keadaannya, Dasha spontan saja tertawa sambil menyentuh wajah cowok itu.
"Sejak kapan kamu udah bersikap dewasa kayak gini, sih? aku berasa udah besarin anak. Dasar bayi gede!" mendengar perkataan Dasha, Daren langsung cemberut sambil buang muka dengan polosnya.
"Aku pacar kamu, bukan anak kamu!"
"Iya deh iya." sahut Dasha tersenyum manis sambil kembali mengusap rambut Daren.
Tidak sengaja ekor mata Dasha menangkap sosok yang ia kenal. Lena dan Tara, kedua temannya itu sedang memandanginya dari arah lapangan. Melihat tatapan serius dari mereka berdua, senyum Dasha memudar.
Tiba-tiba ia kembali teringat dengan permainan yang masih ia mainkan, bersama Lena dan Tara. Permainan cinta ini, dan semua sandiwara tentang perasaannya dan hubungan ini.
__ADS_1
Tapi kenapa? melihat wajah Daren ... perasaan yang awalnya hanya kebohongan kenapa menjadi sungguhan? mungkin memang benar awalnya Dasha menjalani hubungan ini karena sebuah permainan, dan mencintai Daren hanya kepura-puraan.
Tapi sekarang, Dasha akui bahwa perasaannya tidak lagi sebuah kebohongan. Ini perasaannya yang sebenarnya, dan Dasha menyukai cowok itu. Sangat-sangat menyukainya sampai Dasha tidak rela untuk mengakhiri semuanya.
Apa yang harus ... Dasha lakukan ...?
"Daren." panggil Dasha lirih memandangi Daren yang tidak bosan memegangi tangannya.
"Hm? kenapa?"
"Antar aku ke UKS, tolong."
Daren mengangguk seraya berdiri dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Dasha.
"Bisa jalan sendiri?" tanya Daren tersenyum simpul.
Dasha menggeleng lesu, "tolong gendong aku." pintanya.
Mendengarkan permintaan pacarnya itu, Daren lantas tersenyum sambil mengangguk. Daren segera mengangkat tubuh Dasha, dengan satu tangannya yang melingkar di punggung Dasha, dan lengannya yang lain berada di belakang lutut gadis itu.
Saat Daren menggendongnya, Dasha segera melingkarkan tangannya di bahu Daren yang lantas membuat cowok itu tersenyum manis.
Daren lantas segera melangkahkan kakinya, melenggang pergi menuju UKS. Mereka berdua melewati koridor sekolah, dan Daren tidak peduli dengan banyaknya perhatian-perhatian yang tertuju kepadanya.
Daren bahkan samar-samar mendengar bisik-bisik para siswi yang membicarakannya, mereka kebingungan siapa gadis yang sedang Daren gendong itu.
Tidak masalah mereka semua membicarakan dirinya, lagipula semua orang harus tahu bahwa gadis yang sedang ia gendong ini adalah pacarnya.
"Da----sha?" panggil Daren pelan, ia terperangah saat menatap Dasha yang sudah memejamkan matanya.
"Kamu tidur?" tanya Daren bingung.
Tanpa membuka matanya, gadis itu lantas menyahut dengan suara pelannya. "Pura-pura tidur, anggap aja aku pingsan." jawab Dasha. Sebenarnya ia merasa malu dan merasa terbebani dengan siswa dan siswi yang tidak berhenti memperhatikannya.
Mendengar jawaban gadis itu, Daren terkekeh pelan seraya mengangguk.
"Ternyata semakin dekat dengan kamu, aku semakin suka kamu."
Perkataan Daren yang tiba-tiba itu sontak saja membuat kedua mata Dasha terbelalak, ia lantas mendongak menatap Daren yang juga tidak berhenti memperhatikannya dengan senyuman manisnya.
"Haaahh ..." Dasha menghela napasnya, kemudian tersenyum untuk menutupi perasaan sedihnya. "Dasar cowok polos."
.
.
.
.
Sesampainya di UKS. Daren segera mendudukkan Dasha di ranjang UKS. Kemudian berdiri tegak di hadapan gadis itu.
"Oke, sekarang kamu boleh pergi." titah Dasha dengan tampang polosnya.
"Hah? kenapa ngusir aku? aku 'kan mau tetap sama kamu." protes Daren tidak terima, dengan ekspresi kecewanya.
Dasha tertawa kecil, kemudian mendengus. "Kamu, 'kan banyak pekerjaan di ruang OSIS. Sana kerjakan, jangan bucin mulu."
Memang benar Daren banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan di ruang OSIS, tapi masa dia harus meninggalkan gadis itu di UKS sendirian? Daren merasa kecewa, padahal ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu lagi bersama gadis itu.
"Kenapa diam aja? kamu nggak mau? mau lepas tanggung jawab jadi ketua OSIS, hah?" pertanyaan Dasha yang skakmat membuat Daren tidak bisa mengelak.
Pasrah, ia lantas mengangguk sambil berekspresi murung. Melihat cowok itu yang enggan untuk meninggalkannya, membuat Dasha tidak bisa berhenti mengukir senyumnya.
"Masih ada hari esok, kamu bisa lebih banyak menghabiskan waktu lagi dengan aku. Jadi jangan sedih, oke?" meskipun Dasha tidak yakin dengan perkataannya sendiri, karena sisa permainan cinta ini tinggal tiga hari lagi.
Tiga hari ... bukan waktu yang lama, waktu berjalan dengan singkat. Semakin hari, semakin Dasha merasa berat hati untuk mengakhiri semuanya. Tidak! Dasha tidak ingin mengakhirinya, akan Dasha lakukan apapun agar Lena dan Tara mengerti tentang perasaan tulusnya pada cowok itu.
"Besok, besoknya lagi, dan seterusnya. Kamu harus selalu bersama aku. Janji?" Daren mengulurkan jari kelingkingnya pada Dasha yang terhenyak menatapnya.
"Oke." sahut Dasha tersenyum manis.
Akhirnya setelah menautkan jari kelingking mereka untuk mengukir janji. Daren lantas melenggang pergi meninggalkan UKS. Membuat Dasha tidak bisa mengalihkan tatapannya dari punggung cowok itu yang mulai menghilang dari pandangannya.
Dasha menghela napas panjangnya seraya mencengkram kerah seragamnya, merasakan sesak di dadanya. Semua ini terasa menyakitkan. Pada akhirnya, cepat atau lambat ia pasti juga akan menyakiti perasaan cowok itu ketika mengetahui semua kebohongannya.
"Dasha."
Deg!
Mendengar suara familiar yang memanggil namanya, Dasha spontan menoleh mendapati Lena dan Tara yang memasuki UKS. Kedua gadis itu berjalan menghampirinya dengan ekspresi yang serius.
"Lena ... Tara ...."
Lena menghela napasnya, kemudian melipat kedua tangannya didepan dada seraya menatap serius pada Dasha.
__ADS_1
"Dasha, ada yang pengen kami bicarakan."
...•••••••...