Love, Then Lost

Love, Then Lost
22- Stay With Me


__ADS_3

...Saat hati terluka, mungkin susah untuk diungkapkan dengan kata. Yang wanita tahu, ialah air mata yang menetes dan dada yang sesak serta fisik yang mendesak untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun....


...Air mata itu bukanlah tanda kelemahan seseorang. Air mata adalah perwujudan dari besarnya rasa sakit yang dirasakan....


...•••••...


Kedua kaki mungil itu dengan lincahnya berjalan menaiki anak tangga. Satu persatu anak tangga ia lewati hingga saat tangga terakhir, ia tersenyum manis karena telah berhasil melewati rintangannya.


Setelah teringat tujuannya, gadis kecil itu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar kakaknya. Melihat pintu kamar yang tidak terkunci lantas membuat gadis itu kebingungan.


"Kak Sha?" panggil Emma berjalan masuk ke dalam kamar Dasha.


Emma tersenyum lebar sambil mendekati Dasha yang berbaring di atas kasur.


"Kak Sha! Emma beli banyak es krim, ayok kita makan sama-sama!" ajak Emma antusias.


Biasanya Dasha akan meladeninya dengan semangat, namun entah kenapa Kakaknya itu malah tidak menyahutnya sedikitpun.


Dasha hanya terdiam dengan telapak tangan kanannya yang berada di atas kedua matanya. Emma sadar bahwa Dasha sedang tidak tidur, tapi kenapa Dasha hanya diam saja?


"Kak Sha! ayo makan es krim! Kak Sha!" panggil Emma berulang kali, ia bahkan menarik-narik baju Dasha namun tidak kunjung mendapatkan respon dari Dasha.


Emma terdiam menatap Dasha dengan heran. Emma bahkan menyadari bahwa Kakaknya itu berulang kali meneguk salivanya, seperti menahan sesuatu.


"Emma."


Gadis kecil sang pemilik nama itu lantas menoleh ke arah pintu, mendapati Mamanya yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa Emma?" tanya Sonya heran melihat Emma yang kelihatan gelisah.


"Mama! Kak Sha kenapa?" tanya Emma balik sambil menunjuk ke arah Dasha.


Mendengar pertanyaan Emma membuat Sonya kebingungan. Ia lantas berjalan menghampiri Dasha kemudian duduk dipinggir ranjangnya sambil berbicara pada Dasha dengan nada pelan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sonya sama bingungnya saat melihat Dasha.


Sonya tidak tahu apa yang terjadi, karena meskipun berulang kali memanggilnya, gadis itu tidak kunjung menyahut.


Dasha masih diam dengan telapak tangan kanannya yang menutupi matanya, sambil sesekali ia meneguk salivanya.


Karena kebingungan Sonya lantas menarik tangan Dasha yang menutupinya matanya. Dan betapa terkejutnya Sonya saat melihat air mata bercucuran membasahi pipi gadis itu.


Ternyata sejak tadi Dasha sedang menangis dalam diam. Melihat Sonya yang memergokinya, tangis Dasha lantas pecah seketika.


Dasha semakin terisak, meskipun berusaha ia tahan namun air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Tangan kanannya yang gemetar perlahan kembali menutupi matanya, Dasha merasa malu karena tangisnya masih belum kunjung berhenti.


"Dasha, bangun sayang." titah Sonya lembut.


Dengan hati-hati Sonya membantu Dasha untuk duduk. Kemudian kedua tangannya perlahan mengusap air mata Dasha. Sonya tidak tahu kenapa anaknya itu menangis, namun satu hal yang pasti, Dasha butuh pelukan.


"Nangis aja, sayang. Entah apapun yang mengganjal di hati kamu, keluarin aja, lampiaskan dengan tangisan." bisik Sonya dan mendekap tubuh Dasha dengan erat.


Mendengar perkataan Sonya yang terdengar lembut di telinganya, isak tangis Dasha semakin menjadi.


Setelah mendengar perkataan Dirga saat itu tentang keadaan Daren membuat tangis Dasha tidak tertahankan. Meskipun berusaha menahannya, nyatanya Dasha tidak bisa.


Ia tidak tahu bahwa Daren sudah menahan rasa sakitnya selama ini tanpa memberitahukannya. Jika Dasha tahu bahwa waktu cowok itu sudah tidak banyak lagi, harusnya sejak awal Dasha menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk Daren.


Bagaimana bisa cowok itu tidak memberitahukannya sejak awal. Dan lagi, kenapa ia harus mendengarkan kenyataan pahit itu dari Dirga?


Padahal Dasha sudah terbiasa untuk berpura-pura tertawa setiap kali ada hal yang membuatnya bersedih. Namun untuk kali ini, Dasha tidak bisa berhenti menangis karena memikirkan bagaimana keadaan cowok itu sekarang.


.


.


.


.


Sesuai permintaan Daren. Setiap hari Dirga diam-diam menaruh buket bunga Camelia di depan gerbang rumah Dasha.


Dan sekarang, ia juga akan melakukan permintaan yang entah sejak kapan sudah menjadi rutinitasnya itu.


"Tumben hari ini bukan Camelia putih." gumam Dirga memandangi buket bunga di tangannya.


Setiap bunga melambangkan sesuatu, dan setiap warna punya maknanya selalu. Jika bunga Camelia putih memiliki arti aku menyukaimu, maka Camelia pink memiliki arti aku merindukanmu.


"Kira-kira gimana reaksi Dasha pas tahu tentang penyakit Daren, apa dia bakal ninggalin Daren?" Dirga mulai berbicara sendiri sembari menaruh buket bunga itu.


Saking fokusnya dengan pemikirannya sekarang, Dirga sampai tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya.

__ADS_1


"Ternyata Dokter, ya."


Deg!


Dirga terlonjak kaget mendengar suara itu. Saat ia mendongak, Dasha sudah berada di hadapannya.


"Ha-halo." sapa Dirga dengan tampang tidak berdosa.


Dirga melempar senyum manisnya pada Dasha kemudian menyodorkan bunga itu pada Dasha. Saat menerimanya lantas membuat Dasha menyunggingkan senyumnya.


"Kali ini Camelia pink, ya ..." gumam Dasha masih tersenyum.


Melihat gadis itu membuat Dirga terdiam. Meskipun berusaha tersenyum namun sorot mata yang sedih itu tidak bisa disembunyikan. Pasti gadis itu menangis semalaman.


"Mulai sekarang nggak perlu lagi ngirim bunga ke rumah saya, tolong sampaikan itu pada Daren." kata Dasha berhasil membuat Dirga tercengang.


Manik mereka saling berpandangan cukup lama, hingga menciptakan keheningan sesaat.


"Apa itu artinya kamu???" tanya Dirga menggantungkan ucapannya.


Dasha lantas menggeleng kemudian kembali tersenyum, "saya nggak akan ninggalin dia." sahut Dasha.


Dirga sempat terdiam sesaat, detik selanjutnya ia mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Baiklah, itu pilihan kamu. Tapi saya cuma mau bilang satu hal."


"Iya?" sahut Dasha setelah mendengar kalimat terakhir Dirga.


"Terima kasih sudah hadir di hidup Daren. Saya merasa senang karena melihat Daren lebih banyak tersenyum saat bersama kamu, karena sejak kecil Daren itu anak yang pemalu dan juga pemurung. Bahkan saat dia didiagnosis menderita sakit parah, dia hampir menyerah. Tapi sejak kedatangan kamu, saya rasa kamu sudah menjadi alasannya untuk bertahan hidup selama ini."


Haa ... mendengar semua itu rasanya Dasha ingin kembali menangis. Dan entah kenapa ia sangat ingin mendengarkan semua tentang cowok itu, bahkan masa lalunya sekalipun. Dasha ingin mendengarkan semuanya.


"Dokter Dirga, saya ingin bertemu Daren."


...•••••...


20%


Daren mendengus saat memandangi sisa baterai handphone-nya. Daren selalu memasang ekspresi murungnya setiap kali melihat handphone-nya. Mungkin jika diartikan, sisa baterai handphone-nya itu sama seperti sisa hidupnya.


Hanya tersisa sedikit lagi.


"Maaf Sha, jangankan hubungin kamu, aku bahkan terlalu malu buat ketemu sama kamu. Aku nggak tau ekspresi apa yang bakal kamu tunjukkan saat kamu tahu semua kenyataannya. Aku takut, Sha." kata Daren pelan.


Dan jika hatinya sudah siap, maka ia akan mengatakan semuanya pada Dasha. Apapun jawaban dari gadis itu, Daren akan menerimanya. Meskipun jika Dasha sudah tidak menginginkan untuk bersamanya.


Eh?


Daren tersentak saat hembusan angin menerobos masuk melalui jendela yang terbuka. Karena merasa kedinginan, Daren lantas turun dari ranjang dan berjalan untuk menutup jendelanya.


Namun saat melihat ke arah luar, lebih tepatnya menuju parkiran rumah sakit. Ekspresi Daren terlihat syok saat mendapati sosok yang ia kenal.


"Dasha!?"


Gadis itu tidak sendiri, ada Dirga disebelahnya. Melihat Dasha yang sedang masuk ke dalam gedung rumah sakit ini lantas membuat Daren menggertakkan giginya.


"Kakak bodoh!" umpat Daren karena merasa yakin bahwa Dirga sudah lebih dulu mengatakan semuanya pada Dasha.


Sial!


.


.


.


.


Akhirnya Dasha berpisah bersama Dirga, karena ada keadaan darurat yang membuat Dirga harus melayani salah seorang pasiennya.


Dirga juga sempat memberitahukan ruangan tempat Daren dirawat. Dan sekarang Dasha berjalan sendirian di sepanjang lorong rumah sakit, dengan keadaan tidak keruan untuk menemui cowok itu.


"Ah, ini dia ruangannya." Dasha terperangah.


Saat ingin membuka pintu ruangan itu, Dasha tersentak kaget karena pintu itu sudah lebih dahulu terbuka dari dalam. Namun yang keluar dari ruangan itu bukan Daren, melainkan seorang perawat dengan wajahnya yang terlihat panik dan gelisah.


Perawat itu menghampiri salah seorang perawat lainnya.


"Kamu ngelihat pasien di ruangan ini nggak?"


"Oh, adiknya dokter Dirga? tadi saya lihat dia pergi ke arah sana."


"Kenapa kamu nggak cegat dia!"

__ADS_1


"Saya kira dia mau ketemu dokter Dirga."


Dasha tidak berkedip setelah mendengarkan pembicaraan kedua perawat itu. Itu artinya Daren kabur dari ruangannya! pasti cowok itu sudah tahu bahwa Dasha akan datang menemuinya, makanya dia melarikan diri begitu saja.


"Dasar bodoh!" kesal Dasha segera berlari ke arah yang perawat itu katakan barusan.


Dasha mengelilingi setiap lorong sambil sesekali bertanya pada salah seorang perawat yang lewat, namun entah kenapa sepertinya Daren sangat terkenal di rumah sakit ini sampai-sampai semua perawat dan dokter tahu siapa dirinya.


"Dokter, anda tahu nggak adiknya dokter Dirga?" tanya Dasha pada salah seorang Dokter di hadapannya.


"Oh, Daren ya? adiknya pemilik rumah sakit ini."


Dasha mengangguk, "iya pemilik rumah sakit ini."


EHHH?! PEMILIK RUMAH SAKIT INI?! ADIKNYA?! ITU BERARTI RUMAH SAKIT INI PUNYA DOKTER DIRGA?!


"HAH?!" sentak Dasha sangat syok saat mendengarnya. Detik selanjutnya ia segera menepis pemikirannya itu.


"Anda lihat nggak?" tanya Dasha lagi.


"Tadi dia ke arah tangga darurat." sahut Dokter itu.


Setelah berterima kasih tentang keberadaan Daren dari Dokter itu, Dasha lantas segera melenggang pergi.


Ia berjalan menaiki setiap anak tangga. Dan benar saja, cowok itu memang ada disana.


Daren sedang duduk di salah satu anak tangga itu, dengan menundukkan wajahnya dan kedua tangannya yang menutupi telinganya.


Perlahan Dasha berjalan menghampiri cowok itu yang sepertinya masih belum sadar dengan kehadirannya. Dan dapat Dasha sadari bahwa tubuh Daren terlihat gemetar, seperti ketakutan.


"Kamu bisa ninggalin aku, Sha."


DEG!


Langkah kaki Dasha spontan berhenti setelah mendengarkan perkataan cowok itu. Dasha Salah, ternyata cowok itu sudah menyadari kehadirannya.


"Kamu nggak perlu mempertahankan seseorang yang sebentar lagi bakal tiada."


Dasha lantas menggigit bibir dalamnya. Ia lantas mengambil duduk di samping Daren, dan perlahan kedua tangannya menyentuh wajah Daren untuk membuat cowok itu mendongak menatapnya.


"Gimana kamu bisa bicara begitu kalau kamu nangis begini." kata Dasha setelah mata mereka akhirnya saling bertatapan.


Mendengar ucapan Dasha spontan membuat air mata Daren semakin mengalir, dengan wajah sedihnya ia tidak berkedip menatap Dasha yang tersenyum meskipun kedua mata gadis itu memerah.


"Jangan menyerah Daren. Aku akan tetap berada di samping kamu, aku nggak akan ninggalin kamu."


Daren tercengang mendengar perkataan Dasha, ia bahkan tidak berkedip hingga membuat air matanya semakin mengalir.


"Dasha, aku suka kamu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersama kamu, aku ingin membuat banyak kenangan mulai hari ini bersama kamu." lirih Daren mengungkapkan isi hatinya.


Dasha lantas mengangguk sambil mengusap air mata cowok itu. Kemudian melemparkan senyum manisnya pada Daren.


"Iya, Daren." jawab Dasha sambil memeluk cowok itu dengan erat.


Tubuh Daren masih gemetar, ia juga masih menangis. Dan Dasha akan terus memeluk cowok itu sampai perasaannya kembali tenang.


Akhirnya setelah beberapa saat, Daren melepaskan pelukannya. Ia melempar senyumnya pada Dasha, sembari perlahan saling menautkan jari jemarinya pada Dasha.


"Sha, kamu pernah mimpi buruk?" tanya Daren tiba-tiba.


Dasha lantas mengangguk sambil berdehem, "heem, pernah."


Mendengar jawaban gadis itu, Daren kembali murung sambil menyenderkan kepalanya di pundak Dasha.


"Setiap malam aku selalu mimpi buruk. Aku mimpi terjatuh dalam kegelapan tanpa batas, saking takutnya setiap kali aku bangun rasanya tenggorokanku tercekat."


Dasha terperangah mendengar mimpi yang cowok itu ceritakan, bahkan Dasha dapat merasakan tangan Daren yang gemetar dalam genggamannya.


"Tapi sejak ada kamu, rasanya mimpi itu udah nggak menakutkan. Aku ngerasa tenang ... setiap kali ... ada didekat kamu ... sampai rasanya ... aku ... bisa ... tidur ... kapanpun aku mau ...."


Setelah kalimat terakhir dari ucapan cowok itu, kini terjadi keheningan diantara mereka. Saat Dasha melirik, rupanya Daren sudah tertidur dengan bersandar pada pundaknya dan masih menggenggam tangan kirinya.


Melihat wajah damai cowok itu lantas membuat bibir Dasha bergetar. Dasha spontan membekap mulutnya dengan tangan kanannya, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar dan membangunkan cowok itu.


Dan kini, giliran Dasha yang menangis dalam diamnya setelah mendengarkan mimpi buruk dari cowok itu.


Dasha lantas mendongak, menyingkirkan tangannya dari mulutnya. Dasha lantas menggigit bibir dalamnya dan membiarkan air mata mengalir membasahi pipinya.


Daren, bisakah aku meminta akhir yang bahagia untuk cerita kita? 


Akan lebih baik kalau aku bisa ....


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2