
..."Lebih bergantunglah kepadaku, aku ingin membuatmu bahagia. Sampai permainan ini berakhir dengan seharusnya."...
...-Daren Aldevaro...
.......
.......
.......
...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...
...••••••...
60%
Daren menghela napas panjangnya, kemudian terduduk lemas pada sebuah kursi panjang yang ada di koridor sekolah.
Sudah beberapa hari ia tidak bertemu Dasha, kalaupun bertemu Daren merasa tidak sanggup untuk melihat wajah gadis itu. Setelah tahu apa yang selama ini Dasha alami, Daren ikut merasa simpati.
"Daren!"
Terdengar suara yang memanggilnya lantas membuat Daren menoleh, ia kebingungan mendapati Ayara yang berlari tergesa-gesa menghampirinya. Napas gadis itu tersengal-sengal, ekspresinya bahkan terlihat panik.
"Kak, ada apa?" tanya Daren spontan berdiri mendekati Ayara yang sedang berusaha mengatur pernapasannya.
Setelah dirasa cukup tenang, Ayara spontan mendongak kemudian mencengkram lengan Daren dan menatapnya dengan lekat.
"Dasha diculik!"
"Hah?!"
Beberapa saat sebelumnya ....
Padahal bel masuk sudah lama berbunyi, tapi Dasha belum kunjung datang. Tentu saja hal itu membuat Ayara kebingungan, pasalnya Dasha sangat jarang absen tanpa keterangan saat tidak hadir ke sekolah.
"Tara, ada keterangan kenapa Dasha nggak hadir?" tanyanya serius, Tara lantas menggeleng.
"Nggak ada tuh, biasanya sih kalau dia nggak datang ke sekolah pasti selalu chat gue."
"Emangnya kenapa? bisa aja 'kan, Dasha nggak mau ke sekolah karena rumor tentang dia itu. Apalagi semua orang kayak benci banget sama dia, terutama para adik kelas." Lena ikut menimpali, perkataannya ada benarnya juga.
Tapi entah kenapa hati Ayara terasa mengganjal, seperti ada sesuatu yang sangat ia khawatirkan tentang gadis itu.
"Oh, yaudah. Makasih." ujar Ayara sambil berlalu keluar kelas.
Ayara terus berpikir kenapa Dasha mendadak tidak hadir ke sekolah tanpa keterangan, padahal gadis itu tidak biasanya bersikap seperti ini. Membuatnya semakin khawatir jikalau terjadi sesuatu pada gadis itu.
Namun fokus Ayara buyar saat sebuah pesan masuk ke handphone-nya, lantas membuat Ayara mengernyit heran karena pesan itu dari nomor yang tidak dikenal.
Unknown :
Btw, teman Lo itu gue culik.
"HAH?! APA-APAAN NIH!" Ayara memekik tertahan, tidak percaya dengan pesan yang dikirimkan padanya itu.
Ayara sempat berpikir, mungkin saja itu hanya pesan tidak jelas dari seseorang yang mencoba mengerjainya. Namun detik selanjutnya karena rasa penasaran Ayara yang memuncak, ia lantas segera menelpon nomor tidak dikenal itu.
"Woi! maksud Lo apa, jangan bercanda!" sambar Ayara saat seseorang dari seberang sana mengangkat panggilannya.
"Nggak bercanda tuh. Namanya Dasha, dan sekarang dia lagi terkurung di suatu tempat."
Ayara tercengang, mendengar nada suara orang itu membuat Ayara meneguk salivanya. Dia berkata serius.
Terdengar suara cekikikan dari seberang sana, "tolong aku~ selamatkan aku ... pangeran Daren ...." kini ia mulai berbicara dengan nada yang mengejek, spontan membuat Ayara melotot kaget apalagi saat orang itu menyebut nama Daren di akhir kalimatnya.
Tuttt ... tutt ....
Panggilannya terputus, membuat Ayara tidak berkedip, ia mendadak syok.
"Sialan!" Ayara menggeram kesal, kemudian tanpa berpikir panjang ia langsung berlari pergi.
Untuk mencari Daren, dan berharap cowok itu mau membantunya.
"Tolong!" sentak Ayara setelah menceritakan semuanya pada Daren.
Ekspresi Daren terlihat syok, tidak percaya dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
"Ayo, kita segera cari Dasha!" ajak Daren tanpa pikir panjang, namun Ayara malah mencegat tangannya.
"Tunggu dulu," ujarnya membuat Daren spontan menatapnya, "kita nggak punya petunjuk, gimana mau nyari Dasha!"
Daren meneguk salivanya, berusaha mencari jalan keluar dalam permasalahan ini.
"Nomornya?" tanya Daren, Ayara terperangah.
"Eh, tapi kayaknya dia pake nomor palsu! terus suaranya juga agak disamarkan gitu." kata Ayara gusar.
"Apa mungkin pelakunya orang yang sama? yang udah nyebar rumor hal buruk tentang Dasha." kata Daren menunduk murung.
Ayara terhenyak sesaat, "kalau begitu ... berarti pelakunya ada di sekolah ini dong!?" sentaknya, merasa sangat yakin dengan ucapannya.
Daren mengangguk setuju, ingin menyahut perkataan Ayara namun kedatangan seseorang mengagetkannya.
"Woi!"
Mereka berdua kompak menoleh. Ayara mengernyit heran saat seorang cowok tiba-tiba merangkul Daren dengan akrabnya.
"Apa?" tanya Daren, karena merasa risih ia lantas menjauhkan tangan Azka dari pundaknya.
"Lo dipanggil sama Pak Edi, katanya ada yang mau diomongin." kata Azka memberitahu.
Daren sempat terdiam sesaat kemudian lekas mengangguk, "oke." jawabnya.
Azka nyengir kuda sambil mengangguk, "siap-siap aja dimarahin sama Pak Edi!" canda Azka, namun Daren tidak menghiraukannya.
"Aku nggak salah, kenapa harus dimarahin?"
"Kali aja, 'kan." sahut Azka yang masih tertawa sambil berlalu pergi melewati Ayara.
Daren mendengus memandangi punggung cowok itu. Namun tanpa berbalik, Azka melambaikan tangannya pada Daren.
"Semoga beruntung, Pangeran Daren."
"Eh?" Ayara spontan menoleh, tidak berkedip memandangi punggung Azka yang semakin menghilang dari jangkauannya.
__ADS_1
"Kak, saya mau ke ruang BK dulu. Dan masalah tadi, tolong tunggu saya sebentar. Setelah itu kita cari sama-sama petunjuk tentang Dasha."
Perkataan Daren spontan membuyarkan lamunan Ayara tentang Azka barusan. Ayara lantas mendongak, kemudian mengangguk paham.
"Iya." sahutnya.
Daren mengangguk sambil pamit untuk pergi, "kalau gitu saya permisi dulu." katanya dengan nada sopan.
Sepeninggal Daren, Ayara kembali melamun. Kembali berkecamuk dalam pikirannya.
...••••••...
Seribu penderitaan sedikit kebahagiaan. Semua itu telah Dasha rasakan sejak kecil, ketika ia berumur 5 tahun.
Anak sekecil itu meringkuk dalam kegelapan sambil menutup kedua telinganya, dan berharap semoga ia tuli untuk sementara saja daripada harus mendengarkan orang tuanya yang sedang berdebat.
"Tolong jangan lakukan ini, Selena! aku capek ngelihat kamu gini terus!"
"AKU JUGA CAPEK! KAMU KIRA CUMA KAMU YANG BISA SELINGKUH?! AKU JUGA BISA!"
"Aku nggak selingkuh!"
"Roland, selain brengsek kamu juga pembohong, ya!"
PRAANGG! BRAAANG!
Gadis kecil itu semakin menekan kedua telinganya, tubuhnya bahkan gemetar hebat saat mendengar satu persatu suara barang-barang yang dihancurkan oleh Selena.
Tidak hanya itu, Selena bahkan berteriak histeris. Teriakan pilu itu menggema di seluruh ruangan, yang semakin membuat gadis kecil itu terisak.
"*SELENA! HENTIKAN*!"
"PERGI KAMU! DASAR BRENGSEK! KURANG AJAR! PEMBOHONG! PENGHIANAT!"
"SELENA!"
Drap. Drap. Drap.
Tubuh mungil itu spontan terperanjat kaget saat mendengar suara derap langkah berjalan menuju kamarnya. Sebelum ketahuan, gadis kecil itu segera berdiri kemudian berlari dengan langkah kecilnya menuju lemari besar kemudian bersembunyi di dalam sana.
Dadanya terasa sakit sekali, sampai bernapas pun rasanya tidak bisa.
"Dasha?"
Namun tiba-tiba Roland memanggilnya, sepertinya Ayahnya itu tahu bahwa Dasha tengah bersembunyi di lemari.
"Da-Dasha nggak dengar apa-apa! Da-Dasha cuman mimpi buruk, makanya sembunyi di dalam lemari!"
Mendengar suara bergetar dari sang anak membuat hati Roland jadi sakit, semakin merasa bersalah pada anak sekecil itu yang harus merasakan penderitaan seperti ini di masa kecilnya.
Roland memberikan mimpi buruk pada Dasha, namun anaknya itu selalu bertingkah seakan semua baik-baik saja.
"Keluar, Sayang. Ayah akan memeluk kamu, jadi jangan takut. Hm?"
Suara Roland terdengar lembut di telinga Dasha, membuatnya perlahan mulai membuka pintu lemari itu kemudian berjalan mendekati Ayahnya.
Detik selanjutnya Roland segera memeluk putri kecilnya begitu erat, ia terus mengusap lembut kepala Dasha untuk menenangkannya.
"Ayah mau pergi kerja, kamu nggak papa 'kan kalau Ayah tinggal sebentar?" tanya Roland lirih.
Dasha lantas tersenyum sambil melepaskan pelukannya dari Roland, kemudian berdiri tegak di hadapan Roland sambil memegangi jari jemari Ayahnya yang lebih besar dari miliknya.
"Tuhan ... tolong jaga Ayah, tolong lindungi Ayah." Roland terperangah, matanya berkaca-kaca mendengar perkataan putri kecilnya.
"Dan matahari, tolong selalu bersinar untuk menyinari Ayah. Karena Ayah adalah kebahagiaan di dalam hidupku." kata Dasha lagi, kemudian melempar senyum manisnya pada Roland.
Air mata Roland berlinang, segera ia kembali memeluk Dasha begitu erat. Bahkan kata maaf berulang kali keluar dari mulut Roland, seakan sebanyak apapun ia meminta maaf semua itu tidak akan bisa mengembalikan kebahagiaan putri kecilnya.
"Ayah akan kembali, jadi tolong tunggu sebentar. Ayah janji, Sayang."
Dasha mengangguk, tangisan yang sedari tadi coba ia tahan kini meledak. Gadis kecil itu menangis kencang, dengan kedua tangannya yang semakin mencengkram kuat baju Roland.
"Ayah!!!"
.
.
.
.
Saat Dasha membuka mata, air mata sudah terjun bebas dan mengalir membasahi pipinya. Barusan ia bermimpi tentang masa kecilnya, padahal Dasha sudah berusaha untuk melupakan semua itu.
"EH?!"
Dasha terperangah memandangi langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Spontan Dasha bangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
"Ini dimana?!" sentak Dasha, kini jantungnya berdegup kencang saat ia melirik ke arah dinding kayu itu yang terdapat banyak sekali foto-fotonya yang tertempel.
Karena syok, Dasha langsung membekap mulutnya. Ia diculik! dan lagi, sepertinya sekarang ia sedang disekap di sebuah tempat yang bangunannya terbuat dari kayu.
"Handphone gue hilang!" Dasha baru menyadarinya saat tas dan benda pipih itu tidak ada bersamanya.
Siapa yang menculiknya? pikir Dasha berkecamuk. Segera Dasha turun dari kasur kemudian berlari menuju jendela, ia mengintip dari celah jendela terkunci itu untuk memeriksa keadaan.
Pupil mata Dasha bergetar, tubuhnya sontak mematung ditempat saat mengetahui ada dimana dirinya sekarang.
"Bohong ...'kan?" lirih Dasha tidak ingin mempercayainya.
Seseorang yang menculiknya, kini menyekapnya di sebuah rumah yang ada ditengah hutan.
...••••••...
Ayara semakin gusar, ia sangat khawatir memikirkan bagaimana keadaan Dasha sekarang. Ayara bahkan berulang kali mencoba menelepon nomor tidak dikenal itu, namun tidak kunjung aktif!
Semua ini membuat Ayara frustasi. Karena terlalu berkecamuk dalam pikirannya, Ayara bahkan tidak menyadari bahwa dirinya tengah berjalan di sepanjang lorong sekolah yang sepi.
Langkah kakinya spontan berhenti saat Ayara samar-samar mendengar pembicaraan seseorang.
"Gimana?"
"Tenang aja, gue udah berhasil nyulik dia. Sekarang dia udah ada dalam genggaman kita."
Pembicaraan yang sangat mencurigakan itu membuat Ayara penasaran. Lantas dengan langkah pelan, Ayara diam-diam menguping pembicaraan itu dengan bersembunyi dari balik pilar dinding.
__ADS_1
"Baguslah. Lo anjing yang pintar dan penurut, ya."
"Itu hinaan atau pujian?"
"Bhaks! tapi gue sangat berterimakasih atas semua yang telah Lo lakuin, rasanya gue pengen cepat-cepat balas dendam sama cewek sialan itu."
Ayara terkejut mendengar pembicaraan dua orang itu, kemudian ia terperangah dan mulai berpikir apakah orang yang mereka culik itu adalah Dasha?!
"Iya! iya! sekarang Lo mau gue ngelakuin apa lagi, Nasreen?"
Nasreen tersenyum miring sembari mengeluarkan sesuatu dari sakunya, kemudian memberikannya pada cowok dihadapannya.
"Ayo bakar sampah itu, malam ini. Azka."
Azka terbelalak kaget saat Nasreen menyodorkan korek api kepadanya, lantas membuatnya mengangguk karena mengerti apa yang diinginkan gadis ini.
"Hah?!" Ayara spontan membekap mulutnya, setelah tahu mereka siapa dan apa pembicaraan mereka itu.
Karena syok, Ayara lantas berjalan mundur dan bermaksud untuk segera pergi. Namun sialnya! Ayara malah tidak sengaja menyenggol tong sampah yang ada di belakangnya.
BRAK!
"Ah!" Ayara spontan memekik tertahan.
Mendengar suara itu lantas membuat Nasreen dan Azka kompak menoleh ke sumber suara, kemudian saling berpandangan dengan serius.
"Siapa tuh?" tanya Nasreen, mengangkat dagunya dan memerintahkan Azka untuk memeriksanya.
Azka mengangguk sambil berjalan mendekat. Mendengar suara derap langkah itu membuat Ayara semakin panik.
"Ehhmmmh!" Ayara terperanjat kaget saat seseorang membekap mulutnya, dan menyeret tubuhnya untuk pergi.
Ayara tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi yang pasti orang itu telah menyelamatkannya untuk melarikan diri.
"Siapa?" tanya Nasreen serius sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Azka sempat terdiam sesaat dengan ekspresi datarnya, namun detik selanjutnya ia lantas menggeleng sambil melempar senyum manisnya pada Nasreen.
"Kucing nggak sengaja senggol tong sampah."
.
.
.
.
"Pyuuh, hampir aja ketahuan!"
Cowok itu bernapas lega setelah berhasil membawa Ayara untuk bersembunyi dibalik semak-semak. Terlambat sedikit saja mereka berdua pasti akan tertangkap basah oleh Azka dan Nasreen.
"Satya!?" Ayara tercengang saat tahu siapa yang telah menyelamatkannya.
Satya mengangguk, "sama-sama." sahutnya padahal Ayara tidak mengatakan terima kasih kepadanya.
Ayara mulai menatap Satya sengit, padahal ia masih marah pada cowok itu namun sekarang ia malah selamat berkat cowok itu.
"Makasih," kata Ayara akhirnya sambil mendengus pasrah.
Satya mengangguk, "gue udah tahu kok, apa yang terjadi sama Dasha. Nggak gue sangka mereka berdua pelakunya, benar-benar nggak bisa dimaafin." ujar Satya sambil mengepalkan kedua tangannya, menahan amarahnya.
"Darimana Lo tahu?" tanya Ayara penasaran.
Satya nyengir kuda sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, "se-sebenarnya gue diam-diam ngikutin Lo sejak Lo keluar dari kelas setelah bicara sama Lena dan Tara. Gue juga nguping pembicaraan Lo sama Daren, terus ngikutin Lo deh sampai sini." ceritanya sambil diselingi kekehan diakhir kalimatnya.
"Stalker!" cerca Ayara serius.
"Maaf!" sentak Satya menatap Ayara lekat, kemudian menunduk murung. "Maaf, gue minta maaf atas perlakuan sembrono gue tempo hari. Mungkin minta maaf nggak bakal cukup, karena itu gue bakal ikut kerjasama sama kalian berdua buat nyari Dasha."
Ayara terperangah, tidak berkutik saat Satya mengatakan penyesalannya dengan tulus.
"Setelah itu gue akan berhenti," Satya menjeda ucapannya, membuat Ayara heran. "Gue akan berhenti dan menyerah tentang perasaan gue sama Dasha. Karena seperti yang Lo bilang, mungkin Dasha benar-benar menyukai cowok itu, meskipun awalnya perasaan Dasha waktu itu cuman kebohongan." lanjutnya lagi menjelaskan semuanya.
Ayara tersenyum dan cukup puas dengan perkataan Satya. Karena pada akhirnya Dasha sudah memilih pemilik hatinya, dan Satya tidak berhak untuk memaksakan perasaannya pada Dasha.
"Kalau gitu, ayo kita selamatkan Dasha hari ini." Ayara segera berdiri sambil bertolak sebelah pinggang dengan ekspresi seriusnya.
Diikuti Satya, cowok itu mengangguk. Karena setelah mendengar pembicaraan kedua orang itu barusan, dapat dipastikan bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Dasha.
"Ayo kita cari Daren," titah Ayara sambil melenggang pergi duluan.
Mereka berdua berjalan tergesa-gesa disepanjang koridor sekolah, untuk mencari keberadaan Daren.
"Itu dia." tunjuk Satya.
Mereka berdua terperangah mendapati Daren, cowok itu sedang bersandar pada dinding sambil sesekali meringis seperti sedang kesakitan.
Ayara mengernyit heran saat berdiri disamping cowok itu, "Daren?" panggilnya.
Daren terperanjat kaget, dan spontan menoleh ke samping. Mendapati kehadiran Satya yang berdiri disamping Ayara, lantas membuat Daren berekspresi serius.
"Gue minta maaf atas perlakuan gue tempo hari," Satya menyadari raut wajah Daren, karena itu ia ingin meminta maaf padanya.
Daren mengalihkan pandangannya, ia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya pada Satya.
"Lo boleh kok nggak memaafkan gue, lagipula Lo juga berhak buat marah. Tapi gue harap Lo nggak marah lagi sama Dasha, karena sepertinya Dasha benar-benar suka dan sayang sama Lo. Perasaan dia tulus, Lo juga pasti menyadarinya 'kan? selama satu bulan ini." mendengar perkataan Satya, Daren lantas menunduk murung.
Selama mereka bersama selama satu bulan ini, mereka saling tertawa bahagia. Jika Dasha benar-benar bohong tentang perasaannya, lantas kenapa setiap senyum dan tawa gadis itu terlihat sangat tulus kepadanya?
59% - 58% - 57% - 56% - 55%
Daren menggigit bibir dalamnya sebentar kemudian mendongak dan menatap Satya sambil melempar senyumnya, mungkin yang Satya katakan memang benar.
Tidak hanya itu, Daren juga salah karena banyak yang tidak ia ketahui tentang gadis itu.
"Kami udah tahu siapa pelaku yang menculik Dasha." ungkap Ayara memecahkan keheningan sesaat diantara mereka.
"Dan juga yang udah nyebar semua foto dan rumor buruk tentang Dasha." timpal Satya ikut mengangguk.
Daren terperangah kaget, "siapa?" tanyanya.
"Nasreen dan Azka."
Hah?
__ADS_1
...••••••...