Love, Then Lost

Love, Then Lost
18- War is Over


__ADS_3

..."Kamu tahu Sha, kenapa merpati disebut hewan yang paling setia? Karena mau sejauh apapun sang jantan pergi, pada akhirnya dia akan kembali pada satu-satunya pasangan yang dia miliki....


...Mungkin itulah yang melambangkan kita sekarang, mau sejauh apapun aku pergi pada akhirnya aku akan tetap kembali ...


...pada kamu." -Daren Aldevaro....


.......


.......


.......


...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...


...••••••...


Berulang kali Dasha menghela napas panjangnya, merasa bosan karena masih harus tetap berada di rumah sakit ini untuk beberapa hari lagi.


Padahal Dasha ingin segera pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya, tapi pemikiran itu langsung membuat Dasha menjadi murung.


Memangnya siapa yang ingin bertemu dengannya? mereka semua 'kan membenci dirinya, mana mungkin Dasha bisa diterima kembali dalam lingkup pertemanan itu. Apalagi Dasha sempat membentak Ayara, pasti gadis itu masih marah kepadanya.


"Ayo cepat kembali, Daren!" gerutu Dasha dengan ekspresi cemberutnya, saking bosannya Dasha bahkan terus berdiri di depan jendela sambil memandangi pemandangan sekitar.


Dasha tidak ingin terus-menerus berada di atas tempat tidur, bisa-bisa tulangnya akan kaku semua saat bangun nanti. Karena itu Dasha memilih untuk berjalan kesana kemari meskipun hanya di dalam kamar ini saja.


Namun dari luar jendela, tidak sengaja Dasha memandangi seorang anak kecil yang sedang bermain bersama kedua orang tuanya. Sepertinya anak kecil itu juga sedang sakit, dan kedua orang tuanya berusaha untuk menghiburnya agar tetap terus bahagia tanpa memikirkan keadaannya.


Melihat mereka lantas membuat Dasha mengulum senyum, keluarga kecil yang sangat bahagia meskipun Dasha tahu bahwa mereka pasti sangat sedih saat memikirkan anaknya.


Ceklek!


Wajah Dasha berubah sumringah saat mendengar seseorang sedang membuka pintu, ia pikir itu adalah Daren. Namun saat mengetahui siapa yang datang untuk menjenguknya, lantas membuat senyum Dasha perlahan memudar.


Dasha tidak berkedip menatap pria di hadapannya yang tidak lain ialah Ayahnya, ternyata Roland sudah mengetahui tentang keadaannya sekarang.


"Dasha." panggil Roland mendekat.


Tubuh Dasha mematung ditempat, tidak berkutik saat Roland sudah berdiri tegak di hadapannya. Dan sejenak membuat Dasha terpikirkan tentang masa kecilnya saat bersama Roland dulu.


Roland memang seorang Ayah yang hangat dan juga penyayang, sebelum dia meninggalkan semuanya membuat Dasha mulai memandangnya sebagai seorang pengkhianat.


Dasha kira Roland memang akan kembali, dan mereka bisa bersama lagi. Tapi siapa sangka Ayahnya itu malah menikah dengan orang lain dan tidak pernah kembali. Padahal sejak kecil Dasha sudah menunggunya, sesuai janji Ayahnya itu kepadanya.


"Apa yang terjadi? Ayah sangat mengkhawatirkan kamu, Nak!" kata Roland dengan sungguh-sungguh.


Namun sepertinya kesungguhannya itu belum bisa untuk menggerakkan hati Dasha.


"Kenapa baru sekarang?"


"Hah?" Roland terperangah karena tidak mengerti dengan maksud Dasha barusan.


"Kenapa baru sekarang kembali?! kenapa nggak dari dulu? kalau aja Ayah lebih cepat kembalinya, aku nggak akan jadi begini! aku nggak akan menderita kayak gini!" teriak Dasha akhirnya mengutarakan isi hatinya.


Mendengar perkataan Dasha membuat hati Roland sakit. Dasha benar, kalau saja Roland kembali lebih cepat dan menjemput Dasha, gadis itu pada akhirnya tidak akan menderita. Tidak! kalau saja sejak awal Roland membawa Dasha bersamanya, putri kecilnya itu tidak akan pernah menderita!


Dasha benar, dan pada akhirnya Roland salah dan kini ia sangat menyesal!


"Aku gadis yang baik ...'kan?" tanya Dasha menatap Roland dengan nada lirih, "tapi kenapa mama nggak pernah mencintai aku? padahal aku udah berusaha jadi anak yang baik, tapi kenapa mama nggak pernah sayang sama aku? kenapa mama selalu nyiksa aku? emangnya aku salah? padahal aku sudah jadi anak yang baik, 'kan ...."


Dasha mulai terisak, untuk pertama kalinya ia bisa mengutarakan isi hatinya kepada Ayahnya. Perasaan yang selama ini ia pendam, Dasha sudah tidak dapat menahannya lagi.


Dasha hanya ingin dicintai, ia juga ingin bahagia. Tapi kenapa tidak bisa? kenapa semesta seakan menyukai keputusasaan yang Dasha rasakan?


"Ayah nggak memaksa kamu untuk memaafkan kesalahan Ayah. Tapi tolong, beri Ayah satu kesempatan lagi. Ayah ingin memperbaiki segalanya dan memulainya kembali dari awal. Ayah akan menepati janji Ayah dulu."


Tangis Dasha terhenti, ia lantas mendongak menatap Roland dengan tajam.


"A-apa?" tanya Dasha tidak mengerti perkataan Roland barusan.


"Ayo tinggal bersama Ayah, dan bersama keluarga baru kamu. Ijinkan Ayah untuk membahagiakan kamu dan menyayangi kamu, Ayah akan menjemput kamu seperti janji kita dulu." senyuman tulus yang Roland berikan membuat Dasha tidak berkutik.


Keluarga baru? bagaimana bisa Roland semudah itu mengajaknya untuk tinggal bersama keluarga barunya. Namun melihat tangan Roland yang terulur padanya, Dasha ingin menyambutnya! Dasha ingin ikut dengannya!


Tapi bagaimana bisa?! bagaimana orang asing sepertinya tiba-tiba muncul ditengah kebahagiaan keluarga itu! bagaimana jika istri Ayahnya itu tidak menyukainya dan tidak ingin menerimanya? itu sama saja seperti Dasha tidak mempunyai tempat lagi untuk pulang!


"Nggak papa kalau kamu nggak bisa jawab sekarang, Ayah akan menunggu sampai kamu mau." kata Roland kembali melemparkan senyum hangatnya pada Dasha.


Roland ingin mengusap rambut Dasha, namun anaknya itu malah menepis tangannya.


Menyadari perbuatannya barusan, Dasha spontan menggigit bibir dalamnya sambil mengalihkan pandangannya dari Roland. Dasha enggan untuk menatap Roland, namun Ayahnya itu malah tersenyum tanpa perasaan tersinggung sedikitpun.


"Ayah pergi dulu, ya. Nanti Ayah akan datang lagi." kata Roland pamit.


Roland membalikkan badannya kemudian melangkah pergi, namun saat menoleh sebentar, Dasha masih enggan untuk menatapnya.


Putri kecilnya kini sudah besar, namun sisi ceria dari gadis itu seakan sudah menghilang. Roland ingin menebus kesalahannya, Roland ingin mengembalikan kebahagiannya.


Penderitaan yang selama ini Dasha rasakan, Roland ingin memberikannya dengan seribu kebahagiaan setiap harinya. Karena itu, Roland tidak akan menyerah untuk membuat Dasha kembali padanya.


"Haaah ...."


Sepeninggal Roland barusan, Dasha lantas menghela napas panjangnya. Kedua lututnya terasa lemas hingga membuat Dasha terduduk di lantai.


Buk!


Dasha mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengontrol emosinya. Namun tetap saja, perasaan sedih ini semakin meminta untuk diledakkan.


"AAAARRRRGGGGHHH!!!"


Pertahanan Dasha runtuh meskipun sudah berusaha untuk menahannya. Tangisnya pecah dan menggema di seluruh ruangan, tangisan pilu yang siapapun mendengarnya pasti juga akan ikut merasakan kesedihannya.


Dasha spontan menutup wajahnya, juga menggigit bibir dalamnya dan berusaha menahan isak tangisnya.


Bagaimana cara menghentikan tangisan ini? kenapa Dasha tidak bisa berhenti, kenapa air mata ini tidak kunjung mengering?


.


.


.

__ADS_1


.


Tangisan pilu gadis itu benar-benar memekakkan telinga.


Daren ingin menghampirinya namun seseorang malah mencegatnya, saat menoleh dan tahu siapa empunya Daren lantas menghela napasnya.


"Itu reaksi yang bagus, lagipula manusia memang harus menangis saat sesuatu menyakiti hatinya. Karena terlalu lama memendam perasaan, itu tidak baik untuk kesehatan psikisnya." kata Dirga tersenyum.


"Tapi saat menangis, seseorang juga perlu orang lain untuk menenangkannya." sahut Daren dengan kedua tangannya yang sudah mengepal kuat.


Ekor mata Dirga lantas melirik Daren, namun melihat bagaimana ekspresi adiknya itu sekarang membuat Dirga tidak bisa berbuat apa-apa.


Ia pasrah dan membiarkan adiknya itu berjalan masuk ke dalam, menghampiri Dasha yang masih belum bisa menghentikan tangisannya.


"Aku tau kamu nggak baik-baik aja, tapi aku ada disini buat kamu, Sha."


**Deg**!


Tubuh Dasha spontan mematung saat Daren tiba-tiba datang kemudian memeluknya. Pelukan yang terasa hangat dan menenangkan itu membuat Dasha akhirnya diam.


Ia lantas memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di dada Daren, merasakan kehangatan saat cowok itu mengusap lembut rambutnya untuk menenangkannya.


"Udah tenang?" tanya Daren lembut, selang beberapa detik Dasha lantas mengangguk.


Daren memegang kedua pundak Dasha kemudian melemparkan senyumnya pada gadis itu.


"Mau ikut aku, nggak?"


"Kemana?" tanya Dasha dengan suara seraknya.


"Nanti kamu juga tahu sendiri, ayo naik."


Dasha terperangah melihat Daren yang berjongkok dengan memunggunginya, cowok itu menyuruh untuk segera naik ke atas punggungnya.


Tanpa basa-basi lagi Dasha lantas menaiki punggung Daren, dan memegangi kedua pundaknya agar tidak terjatuh.


Dasha tidak tahu kemana cowok itu membawanya pergi. Dasha hanya diam tanpa membuka suara sedikitpun saat mereka berjalan melewati lorong rumah sakit yang sepi, kemudian menaiki anak tangga.


Rupanya Daren membawanya menuju rooftop, itu tempat yang pas sekali untuk menenangkan diri.


Dasha pikir begitu, namun saat sudah sampai di atas. Dasha ternganga karena ternyata semua orang sudah menunggu kehadirannya.


"DASHA!!!"


"YEAY!!!"


Lidahnya mendadak kelu, tercengang menatap semua teman sekelasnya. Mereka semua menyambut Dasha dengan senyuman, berhasil mengejutkan gadis itu dengan kehadiran mereka semua.


"Dasha! kami datang!"


"Sha, kami bawa banyak makanan nih!"


"Gue bawa buah-buahan nih! semua buah ada, bahkan durian sekalipun!!!"


"Gue dong! nggak cuma pisang doang gue bawa, pohon pisangnya pun gue bawa! Lo tanam, ya, di depan rumah Lo nanti, Sha."


Setelah turun dari punggung Daren, Dasha masih tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat sekarang. Dasha kira mereka semua membenci Dasha, tapi siapa sangka mereka malah mengejutkannya?


Deg!


Dasha tidak berkutik saat Ayara tiba-tiba memeluknya, gadis itu sangat tulus mengkhawatirkannya padahal Dasha kira Ayara marah kepadanya.


"A-Aya, Lo nggak benci sama gue?" tanya Dasha ragu.


Ayara melepaskan pelukannya kemudian menggeleng, "nggak lah! emangnya buat apa coba gue benci sama Lo? gue juga nggak tersinggung dengan perkataan Lo waktu itu, sorry aja gue bukan cewek baperan!" sahut Ayara.


Mendengar Ayara yang berbicara banyak membuat Satya tercengang, cowok itu dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan lantas ikut menimpali.


"Hyilih! thumbyen lho banyhak omyong!" timpal Satya, Ayara spontan mendelik padanya.


"Jijik! jangan ngomong pas mulut Lo penuh gitu!" kesal Ayara.


Setelah selesai mengunyah makanannya, Satya berdecak kesal. Namun fokusnya teralihkan saat salah seorang temannya memberikan satu sisir pisang kepadanya.


"Kampret! Lo kira gue monyet, hah?! dikasih pisang banyak gini!" sentak Satya menggeram kesal.


"Monyet!" kata Ayara tiba-tiba.


Satya lantas celingak-celinguk, "where?!"


"Tekewer-kewer!" timpal Ayara, detik selanjutnya tawanya meledak.


Melihat tawa Ayara, spontan juga membuat Dasha tertawa.


Satya lantas mendengus sambil membagikan pisangnya kepada Daren, cowok polos itu spontan berekspresi kebingungan.


"Maaf, Kak. Tapi saya bukan monyet." sahut Daren, heran kenapa Satya malah memberikan pisang kepadanya.


"Kampret!!! emangnya cuma monyet doang yang makan pisang, hah?!" teriak Satya frustasi.


Semua teman sekelasnya kompak menertawakan cowok itu. Apalagi Ayara, puas sekali membuat Satya menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya.


"Kalau dilihat-lihat, kalian cocok juga ya." celutuk Dasha menatap Ayara dan Satya secara bergantian.


Ayara spontan mendelik, "stroberi mangga kemiri, sorry cuma bestie!" sahutnya tidak terima.


Satya lantas menoleh menatap Ayara yang sok berekspresi jijik menatapnya, "stroberi mangga apel, enakan pisang." sahut Satya.


"Nggak nyambung pantun Lo, sialan!" umpat Ayara gemas.


Satya mengangkat bahunya, "siapa yang lagi pantun? gaje Lo!" sentaknya.


Melihat pertengkaran mereka berdua membuat Dasha tidak bisa berhenti tertawa. Akhirnya gadis itu melupakan sejenak kesedihannya, membuat Daren bernapas lega memperhatikannya.


"Ya! sejak kapan sifat Lo ketukar gini sama Dasha?! sekarang Dasha jadi kalem kayak Lo waktu dulu, dan Lo malah marah-marah mulu kayak emak-emak!" Satya tidak berkedip memperhatikan Ayara, gadis itu juga sepertinya terkejut dengan perubahan sifatnya.


"Jangan-jangan otak gue jadi miring gara-gara ditampar waktu itu." sahut Ayara, kini ekspresinya berubah datar seperti Ayara yang biasanya.


"Siapa yang nampar?" tanya Dasha penasaran.


"Ma----"

__ADS_1


PLAAAK!


"SAKIT KAMPRET!" sentak Satya tidak terima saat Ayara malah menamparnya, padahal Satya bermaksud menjawab pertanyaan Dasha barusan.


"Diem, mulut Lo bau monyet." kata Ayara sudah dengan mode kalemnya.


"Salah gue apa?! kata monyet kalau bisa berbicara!" sahut Satya dengan ekspresi parahnya.


Daren terkekeh pelan melihat interaksi kedua orang itu. Namun sepertinya Dasha masih merasa penasaran dengan perkataan Ayara barusan, memangnya siapa yang sudah berani menampar Ayara? membuat Dasha semakin kepikiran saja.


"Siapa yang nampar Lo, Ya?" tanya Dasha lagi, Ayara terperangah.


Gadis itu kemudian tersenyum seraya menggeleng, ia lantas menggenggam kedua tangan Dasha dan menatap lekat sahabatnya itu.


"Nggak usah dipikirin, lagipula gue nggak papa. Yang terpenting sekarang ini cuma Lo, Sha."


Perkataan Ayara membuat Dasha memiringkan kepalanya, dan berekspresi kebingungan.


"Maksudnya?"


"Mata Lo sembab, habis nangis 'kan?" kata Ayara sambil menyentuh wajah Dasha.


Dasha spontan mengalihkan tatapannya dari Ayara, namun Dasha tidak bisa mengelak karena itu memang benar.


"Sha. Gue cuma mau bilang. Saat kebahagiaan akhirnya datang, jangan takut buat menerimanya. Hidup Lo juga perlu perubahan, dan Lo nggak bisa terus-terusan untuk menghindarinya." kata Ayara dengan ekspresi seriusnya.


Mendengar ucapannya, Dasha hanya bisa menunduk murung tanpa menyahut sedikitpun.


"Sha, lihat gue!" titah Ayara, gadis itu menurut. "Lo mau bahagia, 'kan?" tanyanya, Dasha perlahan mengangguk.


"Kalau mau bahagia, jangan takut buat nerima uluran tangan seseorang yang ingin memberikan Lo kebahagiaan. Lo bakal bisa bahagia kalau Lo bisa berdamai sama masa lalu, karena itu jangan takut lagi, ya?" kini suara Ayara berubah lembut, saking lembutnya sampai membuat Dasha ingin menangis.


"Ta-tapi ...."


"It's okay not to be okay. Tapi Lo udah nggak sendirian lagi, Sha. Karena kami selalu ada buat Lo, kapanpun Lo membutuhkan pelukan. Hm?" kata Ayara melanjutkan perkataannya. Satya lantas mengangguk setuju.


"Ma-makasih, kalian semua ..." lirih Dasha tersenyum, ia merasa terharu dengan perkataan Ayara kepadanya.


Daren lantas tersenyum seraya menundukkan wajahnya. Ia cukup senang karena Dasha tidak sendirian lagi, tapi perkataan kakaknya spontan terlintas dipikiran Daren.


"Kamu yakin? padahal bisa aja kamu bakal buat kesehatan mentalnya semakin memburuk kalau dia sampai tahu bahwa waktu kamu nggak banyak."


Perkataan Dirga yang ada benarnya itu membuat dada Daren terasa sesak. Dan membuatnya semakin ragu untuk mengatakan keadaannya sekarang pada Dasha.


Apakah gadis itu bisa menerimanya dengan senyuman? ataukah dengan tangisan? fakta bahwa Daren sudah tidak punya banyak waktu lagi di dunia ini, apakah Dasha bisa menghadapinya?


Tapi setidaknya, di sisa waktu ini Daren akan membuat gadis itu bahagia. Sampai saat dengan kepergiannya, Dasha bisa melepaskannya dengan senyuman.


...••••••...


Beberapa hari kemudian. Sesuai perkataan Roland saat itu, dia kembali datang dan bermaksud untuk menjemput Dasha jikalau anaknya itu menerimanya.


Dasha sudah menyiapkan hatinya untuk apapun yang akan terjadi kedepannya. Meskipun dirinya sekarang masih merasa ragu dengan pilihannya.


"Sha, ini tas kamu. Aku tinggal dulu, ya?" kata Daren sambil menyodorkan tas yang berisi pakaian Dasha.


Gadis itu lantas mengangguk sambil memandangi kepergian Daren. Akhirnya Dasha dapat menghirup udara segar, karena hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang.


Namun saat mendengar langkah kaki yang berjalan mendekatinya, Dasha mengira bahwa itu Daren. Tapi ternyata ia salah lagi, karena yang datang ternyata ialah Roland.


"Nak. Ayah menunggu jawaban kamu." kata Roland pelan.


Dasha spontan menggigit bibir dalamnya. Ayara bilang untuk tidak takut pada uluran tangan seseorang yang ingin membahagiakannya, tapi apa Dasha bisa menerima uluran tangan Roland? meskipun perasaan takut ini masih menghantuinya?


Dasha bimbang, dilain sisi ia ingin menerima Roland yang berusaha untuk menepati janjinya. Tapi disisi lain, Dasha tidak ingin menjadi orang asing di antara keluarga baru itu.


Apalagi istri Ayahnya itu sebentar lagi akan melahirkan, memangnya dia mau menerima dirinya yang tidak lain ialah anak dari istri pertama suaminya? memangnya dia mau menjadi ibu sambungnya?!


"A-aku mau ikut Ayah ... ta-tapi apa pendapat istri Ayah tentang semua ini? me-memangnya dia mau nerima orang asing begitu aja?" kata Dasha, akhirnya ia bisa mengatakan isi hatinya setelah lama bergelut dengan pikirannya.


Saat Roland ingin menyahut, ucapannya spontan berhenti saat seorang wanita berjalan menghampiri Roland.


Dasha tercengang menatap wanita yang sangat cantik itu, pandangannya kemudian turun menuju perut wanita itu yang sudah sangat besar. Saat itu juga akhirnya Dasha menyadari bahwa istri Ayahnya itu ternyata menguping pembicaraannya barusan.


"Dasha, ini Sonya. Ibu baru kamu." kata Roland memperkenalkan.


"Ini Emma!!! Yeayy!!! akhilnya Kakak cantik udah jadi Kakak Emma!!!"


Dasha tersentak kaget saat tiba-tiba gadis kecil bernama Emma itu berlari ke arahnya, dan memeluknya. Saking kagetnya Dasha sampai tidak bisa berkutik.


Melihat ekspresi gadis itu, Sonya lantas tersenyum sambil berjalan mendekatinya.


"Kamu nggak perlu mempersalahkan pendapat Saya. Karena kita semua keluarga, jadi kenapa kamu harus takut saya melarang kamu untuk tinggal di rumah kami?"


Dasha spontan mendongak mendengar perkataan Sonya barusan. Senyum hangat yang wanita itu tunjukkan membuat Dasha merasa senang.


"Mulai sekarang Saya akan menyayangi kamu dengan sepenuh hati. Tenang aja, Saya bukan ibu tiri yang jahat kayak di sinetron itu, lho! Saya suka banget nonton sinetron, kalau Dasha suka nonton apa? drakor? anime? atau film India?!" tanya Sonya antusias, detik selanjutnya tawanya meledak karena merasa lucu dengan ekspresi kebingungan Dasha sekarang.


"I-iya ... Tante." sahut Dasha akhirnya membuka suara.


Mendengar Dasha memanggilnya dengan sebutan Tante, Sonya tercengang kemudian mencubit gemas pipi Dasha.


"Panggil saya Mama! harus Mama! asal bukan Tante, oke?!" Sonya mendengus menatap Dasha yang terlihat kikuk bersamanya.


Detik selanjutnya Dasha lantas tersenyum sambil berusaha untuk memanggil wanita itu, "Ma-Mama ...."


"Iyah! begitu!" sahut Sonya tersenyum bangga.


"Mama Sonya." tambah Dasha, menatap Sonya dengan senyum tipisnya.


Sonya lantas tersenyum, mungkin masih terlalu awal untuk membuat gadis itu terbiasa dengan dirinya. Tapi Sonya akan memakluminya, lagipula ia tidak ingin membuat Dasha merasa terbebani saat memanggilnya dengan sebutan Mama. Sonya akan menunggunya dengan sabar, sampai gadis itu bisa membuka hatinya untuk mereka semua.


"Jangan takut, Sayang. Mulai sekarang kami akan menjaga kamu, karena itu ikutlah dengan kami, ya?"


Dasha mendongak menatap tangan Sonya yang terulur padanya. Kemudian menatap Roland yang mengangguk sambil tersenyum pada Dasha. Dan Emma, gadis kecil itu bahkan sudah menggenggam tangan Dasha.


Keluarga baru yang Dasha kira tidak akan bisa menerimanya, malah menyambutnya dengan sepenuh hati. Bagaimana Dasha bisa menolaknya?


Karena Dasha juga ingin merasakan kasih sayang dan kebahagiaan dari yang namanya sebuah keluarga. Dasha sangat menginginkannya, karena itu dia akan menerimanya. Dan memberikan kesempatan pada Roland untuk menepati janjinya.


"Iya. Aku mau ikut."

__ADS_1


......... ...


__ADS_2