Love, Then Lost

Love, Then Lost
EPILOG


__ADS_3

Perlahan lelaki itu menoleh ke arah jendela, menatap sedu pada awan di langit yang mulai mengabu.


Lelaki itu, Dirga. Mulai menyesali waktu karena sebagai seorang Kakak, ia tidak pernah cukup memberikan kasih sayang kepada adiknya. Satu-satunya hal yang berharga di dunia ini, dan satu-satunya alasan kenapa Dirga bertahan selama ini kini sudah tidak ada.


Adiknya itu telah pergi untuk selamanya. Dan jika Dirga dapat merubahnya, dia ingin menukar hidupnya agar bisa membuat Daren kembali lagi ke dunia.


"Kamu udah nggak sakit lagi, 'kan. Daren." lirihan suara yang terdengar putus asa, meredam bersamaan dengan derasnya hujan yang kembali mengguyur langit.


Dipandanginya foto-foto sang adik, yang tersusun rapi di atas nakas. Dan saat tangan Dirga mengambil salah satu foto dirinya bersama Daren saat masih kecil, membuatnya tersenyum getir.


Dirga mulai teringat akan kenangannya dulu. Ketika adiknya itu lahir ke dunia, Dirga sudah berjanji untuk selalu menjaga dan melindunginya.


Tapi sepertinya, kini ia sudah menjadi seorang Kakak yang buruk karena tidak bisa menyelamatkan nyawa adiknya.


"Surat?" fokus Dirga teralihkan saat ia membuka laci dan menemukan sebuah surat di dalam sana.


Tertulis nama di depan surat itu, yang membuat Dirga yakin bahwa surat itu ditinggalkan Daren untuk seseorang.


Dirga lantas mengulum senyumnya, "harusnya tinggalkan juga dong surat untuk Kakak, Daren." gumamnya sedikit kecewa.


Setelah mengambil surat itu dan memasukkannya ke dalam sakunya, Dirga lantas melenggang pergi dari kamar.


Namun ia cukup terkejut saat mendapati orang tuanya sudah berdiri diluar kamar Daren, untuk menunggunya.


"Kalian," kening Dirga mengernyit, menatap tajam pada mereka berdua.


"Dirga, ada yang mau kami bicarakan."


Mendengar ucapan dari Mamanya, tiba-tiba Dirga naik pitam.


"KENAPA BARU SEKARANG DATANG!"


Mereka berdua terdiam setelah mendengar Dirga berteriak marah, lantas membuat Davin menatap tajam pada anaknya.


"Apa kami mengajari kamu untuk berteriak seperti itu?" kata Davin dengan nada dingin.


Padahal pemakaman Daren sudah lewat seminggu yang lalu, namun kedua orang tuanya malah datang sekarang? bisa-bisanya mereka mempermainkan dirinya.


"Daren udah nggak ada, kalian bahkan nggak menangisi kepergiannya. Kalian kenapa sih?" diakhir kalimatnya, Dirga tersenyum getir bersamaan dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.


"Meskipun menangis, tidak akan membuatnya kembali. Percuma saja." Dirga membelalakkan matanya saat mendengar perkataan Rena, Mamanya.


"Daren sudah tidak ada, kenapa kamu tidak berhenti saja menjadi dokter dan kembali lagi bersama kami? kamu pasti paham, 'kan, Ayah sangat ingin kamu menjadi penerus keluarga kita."


Gila! keluarga gila! Dirga mengepalkan tangannya, berusaha menahan umpatan-umpatan keluar dari mulutnya. Padahal Dirga masih berduka, namun sebagai orang tua mereka bahkan tidak menunjukkan sedikitpun perasaan sedih karena kehilangan salah satu anaknya.


Apa itu yang dinamakan orang tua? kemana kasih sayang mereka!?


"Dirga, kami menyayangi kamu. Kembalilah pada kami." Rena perlahan tersenyum, menatap lekat pada Dirga agar luluh dengan perkataannya.


"Cuma aku? kalian nggak sayang sama Daren?" tanya Dirga serius.


Davin dan Rena saling berpandangan sesaat, kemudian kompak menatap Dirga. Ekspresi mereka berdua terlihat serius dan juga arogan, seperti biasanya.


"Untuk apa menyayangi seseorang yang sudah pergi selamanya." sahut Rena, tidak ada perasaan ragu sedikitpun dari ucapannya.


Itulah kenapa sebabnya Dirga membenci keluarga ini. Mereka hanya ingin kesempurnaan sehingga mengekang, bahkan tidak pernah ragu sedikitpun saat membuang seseorang yang mereka anggap mempunyai kekurangan.


"Haaahh ..." Dirga menghela napas panjangnya seraya melangkahkan kakinya. "Aku nggak akan kembali, dan nggak akan pernah. Percuma berdebat dengan kalian berdua. Sebaiknya setelah kalian pulang dari sini, jangan lupa mampir ke rumah sakit jiwa." setelah mengatakannya, Dirga langsung pergi keluar rumah.


Bahkan Davin dan Rena sangat terkejut dengan ucapan Dirga barusan. Mereka tidak pernah mengajari Dirga untuk berbicara tidak sopan, semua harus sempurna! namun kali ini mereka menyadari bahwa Dirga mulai jauh dari kesempurnaan yang selalu mereka impikan.


...••••••...


Meskipun hari sudah mulai gelap, gadis itu tidak kunjung beranjak dari gazebo yang ada di halaman rumahnya.


Seakan tidak pernah bosan, gadis itu selalu menatap langit malam yang penuh bintang. Dan berpikir, mungkin salah satu dari ribuan bintang itu ada Daren di sana.


"Dasha."


Dasha perlahan menoleh saat Ayahnya---Roland, berjalan menghampirinya dengan membawa selimut untuknya.


"Jangan sampai sakit, ya." ucap Roland lembut, anaknya itu lantas mengangguk.


Meskipun Dasha terus diam dan menyendiri akhir-akhir ini, Roland tidak bertanya apapun. Roland tidak ingin membuat Dasha semakin terluka dengan menceritakan semuanya.


Tapi Roland akan selalu disampingnya dan menemaninya, agar Dasha menyadari bahwa dia sedang tidak sendirian di dunia ini.


"Mau Ayah bawakan cokelat panas?" tanya Roland menatap lekat anaknya.


Dasha balas menatap Roland kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Menyadari perubahan kepribadian Dasha yang signifikan membuat Roland sedih.


"Baiklah, tapi panggil Ayah kalau kamu mau sesuatu. Oke?"

__ADS_1


Lagi dan lagi, Dasha hanya mengangguk sebagai jawabannya. Sepeninggal Roland, sorot mata Dasha kembali berubah sedu.


Mata yang dulunya selalu berbinar itu kini terlihat hampa, seolah-olah kebahagiaan tidak ada lagi di dalamnya. Meskipun sudah terbiasa berpura-pura, namun untuk kali ini Dasha tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Dasha merindukannya, Dasha ingin bertemu dengannya. Dasha ingin melihat wajah polos itu saat tersenyum, tawanya, dan juga hari-hari saat bersamanya. Dasha merindukan semuanya.


"Dasha."


Deg!


Gadis itu tersentak kaget saat mendengar suara yang familiar memanggilnya. Dasha lantas menoleh, mendapati Dirga sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


Lantas Dasha bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Dirga. Diam-diam Dirga memperhatikan keadaan gadis itu yang terlihat menyedihkan.


Membuat Dirga semakin merasa bersalah. Itulah sebabnya dulu Dirga pernah menyuruh Daren untuk segera memutuskan hubungan dengan Dasha, agar Daren tidak menyakiti Dasha lebih dalam lagi. Agar gadis itu tidak terluka.


Namun sia-sia saja. Karena mereka berdua saling mencintai, dan Dirga tidak punya hak untuk melarangnya lagi.


"Saya tahu sulit untuk mempercayai bahwa dia udah nggak ada lagi, untuk kamu dan untuk saya juga. Tapi saya bersyukur, karena kehadiran kamu memberikan arti di sisa hidupnya." kata Dirga sambil menyodorkan sebuah surat kepada Dasha.


Jantung Dasha berdegup kencang, tangannya yang gemetar perlahan meraih surat itu. Namanya yang tertulis di depan surat, cukup membuat Dasha yakin bahwa Daren yang meninggalkan surat itu untuknya.


"Apapun yang tertulis di surat itu, saya yakin dia ingin kamu bahagia meskipun tanpa dia." Dasha spontan mendongak menatap Dirga lekat, "lagipula kita sedang membicarakan adik saya, kamu pasti tahu betul bahwa dia anak yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Daren akan sedih jika melihat keadaan kamu sekarang."


Mendengar perkataan Dirga rasanya membuat Dasha ingin menangis. Lelaki itu benar, Daren pasti akan sedih jika melihat keadaannya sekarang.


"Terima kasih sudah hadir di hidup Daren, dan mencintainya. Saya senang bahwa orang itu adalah kamu." setelah mengatakan semua isi hatinya, Dirga kini merasa lega.


Ia berniat ingin pergi, lantas melangkahkan kakinya namun Dasha spontan terperangah dan menghentikannya.


"Do-dokter!"


Dirga lantas menoleh, kemudian tersenyum menatap wajah Dasha yang terlihat cemas. "Meskipun kamu tidak bertanya, tapi saya cuma mau bilang. Selamat tinggal, setelah ini saya akan pergi ke luar negeri. Mungkin saya juga perlu waktu untuk menenangkan diri."


Tanpa menunggu jawaban darinya, Dirga langsung pergi begitu saja. Membuat Dasha menyadari, bahwa yang paling merasa tersakiti dengan kepergian Daren bukanlah Dasha, tapi Dirga.


Mereka yang sedari dulu bersama, Dirga pasti sangat kehilangan namun lelaki itu memasang topeng yang tebal agar bisa berpura-pura kuat dan baik-baik saja.


"Daren ...." lirih Dasha sambil memandangi surat di tangannya.


Sembari berjalan menuju gazebo, Dasha perlahan membuka suratnya kemudian mulai membaca isinya.


Terima kasih dan maaf, Dasha.


Terima kasih karena udah mencintai aku, walaupun dulu kamu terpaksa karena permainan itu. Tapi aku senang bahwa yang kamu pilih adalah aku bukan orang lain, dan aku nggak pernah menyesal buat menerima kamu.


Terima kasih telah hadir di hidupku, Sha.


Terima kasih telah membayangkan masa depan bersamaku. Dan maaf, karena di masa depan yang kamu bayangkan itu nggak ada aku disana.


Maafin aku, Sha. Aku minta maaf. Aku minta maaf karena di kehidupan ini, aku nggak bisa selamanya bersama kamu. Aku nggak bisa menepati janji untuk nggak akan pergi ninggalin kamu.


Dan kalau boleh, aku punya satu permintaan, Sha. Mungkin ini terkesan egois bagi kamu, maafin aku.


Lupain aku, Sha. Demi kebahagiaan kamu.


Dasha mulai meremas selimutnya dan mencoba untuk menahan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun tetap saja pada akhirnya Dasha kalah, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lebih lama lagi.


Tanpa disadari air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya, meskipun Dasha bersusah payah untuk membendungnya. Namun saat membaca permohonan dari cowok itu, membuat Dasha tidak bisa menahan air matanya.


"Daren ... Daren ...."


...•••••...


3 tahun kemudian ....


Tringgg!


Lonceng yang ada di pintu itu berbunyi, saat seorang gadis memasuki Kafe. Membuat beberapa pasang mata refleks menatap ke arahnya.


Termasuk sang barista, yang tengah bekerja paruh waktu di Kafe tersebut. Selama ini ia selalu memperhatikan gadis itu, yang setiap hari selalu mampir ke Kafe untuk memesan secangkir kopi.


Saking seringnya gadis itu mampir, cowok itu mulai tertarik dengannya. Ia bahkan sudah menceritakan perasaannya kepada teman-temannya, dan mereka semua baru menyadari bahwa gadis itu salah satu senior di kampus mereka.


"Udah, bilang aja ke dia bahwa Lo suka sama dia!" kata salah satu temannya.


"Setuju! kalau Lo lama, nanti ditikung sama yang lain!"


Mendengar saran dari kedua temannya, cowok itu terlihat salah tingkah. "Gue takut! kalau ditolak, gimana?"


"Berarti belum rejeki Lo buat dapetin dia!"


"Setuju!"

__ADS_1


Pasrah dengan jawaban kedua temannya, cowok itu lantas mendengus sambil diam-diam memandangi gadis itu yang sedang menatap ke arah jendela Kafe.


Tatapan gadis itu terlihat sedu, seperti menyimpan kesedihan di dalamnya. Namun selalu berusaha untuk terlihat ramah dan ceria saat ada yang mendekati untuk berbicara dengannya.


Membuat cowok itu semakin penasaran, dan ingin mendekatinya.


"Eh, dia mau pergi tuh! cepetan Lo samperin dia, bilang bahwa Lo suka sama dia!"


Cowok itu mendadak panik saat kedua temannya malah mendorong punggungnya, mendesak dirinya agar segera mengikuti gadis itu pergi.


Dengan tekad yang sudah ia bulatkan, akhirnya cowok itu berjalan mengikuti sang gadis keluar Kafe.


"Anu, Kak."


Cowok itu berniat untuk menyapa, namun terdengar ragu. Karena merasa dipanggil, gadis itu akhirnya membalikkan badannya.


"Ka-kalau boleh tahu, nama Kakak siapa?" tanyanya sambil berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.


Bibir gadis itu sedikit terbuka, menatap lekat pada cowok itu kemudian melemparkan senyumnya.


"Dasha. Kenapa?"


Cowok itu lantas mendongak, dan dengan tekadnya yang sudah kuat ia lantas menyatakan perasaannya.


"Saya suka sama Kakak! ayo kita pacaran!"


Mendengar pernyataan cinta dari cowok itu, Dasha langsung terdiam. Tiba-tiba ia mulai teringat akan masa lalu, saat karena sebuah permainan mengharuskannya untuk menyatakan perasaannya pada cowok itu ....


"Daren, gue suka sama Lo. Ayo kita pacaran."


Bibir Dasha gemetar, spontan ia segera menggigit bibir dalamnya. Kemudian perlahan mulai melempar senyumnya pada cowok itu.


"Maaf ya, aku udah punya seseorang yang aku suka." kata Dasha menolaknya dengan lembut.


Terlihat raut kekecewaan yang cowok itu tunjukkan, namun ia berusaha tersenyum untuk menutupinya.


"Begitu ya, ka-kalau gitu coba ajak dia sesekali mampir ke Kafe. Kalau nggak bisa jadi pacar Kakak, setidaknya aku ingin temenan sama Kakak dan cowok yang Kakak sukai juga."


Dasha sempat terdiam sesaat, kemudian kembali tersenyum sambil memeluk sebuket bunga Camelia merah di tangannya. Cowok itu terperangah, gagal fokus karena baru menyadari bahwa Dasha sedari tadi membawa bunga di tangannya.


Tidak! bukan hari ini saja gadis itu membawa bunga, tapi hari-hari sebelumnya juga. Rupanya setiap hari gadis itu selalu membawa sebuket bunga Camelia merah, tapi cowok itu tidak tahu kenapa Dasha selalu membawa bunga itu setiap hari.


"Dia ...,"


"Eh?" cowok itu terperangah dan tidak berkedip menatap Dasha.


Dan menyadari sorot kesedihan yang terlihat jelas dari mata gadis itu, dan juga senyumnya.


Dasha lantas menatap cowok itu, dan tersenyum tipis, "dia udah nggak ada lagi di dunia ini."


Bibir cowok itu sedikit terbuka, tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu katakan. Bahkan ia hanya terdiam sambil memandangi punggung Dasha yang mulai menghilang dari pandangannya.


.


.


.


Dasha perlahan berjongkok sambil meletakkan bunga Camelia merah itu di atas gundukan tanah yang nisannya bertuliskan sebuah nama, Daren Aldevaro.


Setelah itu ia kembali berdiri, kemudian tersenyum sedih memandangi gundukan tanah itu.


"Sudah tiga tahun berlalu, ya, Daren. Saat itu aku senang bahwa ada kamu di sampingku dan mencintaiku. Kita menjalani hidup yang damai, aku kira begitu." kata Dasha sembari menundukkan wajahnya, dan mencengkram kuat ujung bajunya.


Meskipun waktu sudah berlalu cukup lama, sampai sekarang Dasha masih belum bisa mempercayai bahwa hal seperti ini terjadi. Namun fakta bahwa cowok itu telah pergi meninggalkannya, Dasha tidak bisa membantahnya.


"Daren, kira-kira bisa nggak ya kalau kita kembali ke masa lalu. Ke waktu itu, saat kamu masih ada bersama aku." sadar dengan perkataannya barusan, Dasha lantas terkekeh pelan. "Kayaknya menyenangkan kalau kita bisa."


Senyum Dasha memudar, ia kembali murung. Namun isi surat yang Daren tulis saat itu untuknya, tentang permohonan cowok itu kembali terlintas di pikirannya.


Lupain aku, Sha. Demi kebahagiaan kamu.


Perlahan Dasha kembali tersenyum dengan begitu manis, tersenyum seakan-akan Daren sedang berada di hadapannya dan memperhatikannya.


"Mana mungkin aku ngelupain kamu, Daren. Aku kan udah bilang. Nggak peduli digaris dunia manapun dan kapanpun kamu berada, aku akan selalu suka sama kamu, Daren. Dan cinta ini nggak akan pernah hilang."


...•...


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


...SELESAI...


...•••••...


__ADS_2