
..."Saat aku menutup mata, kamu yang pertama kali terlintas dalam pikiranku. Kemudian saat aku membuka mata, lantas dimana kamu berada?"...
.......
.......
.......
...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...
...••••••...
Lelah.
Begitulah yang Dasha rasakan. Perasaan lelah yang membuatnya ingin menyerah untuk segalanya. Jika seseorang ada di posisi dirinya sekarang, apa yang akan dilakukan orang itu untuk kedepannya? apa ia akan terus berdiam diri, menerima dengan pasrah semua penderitaannya?
Dasha tidak tahu. Bahkan perlahan, eksistensinya mulai menghilang, bahkan perasaan ketertarikan dan rasa ingin tahunya dengan sekitar juga ikut menghilang.
Dia sudah tidak peduli lagi, dengan semua orang bahkan dirinya sendiri.
"Gila! coba lihat tuh cewek, basah kuyup gitu!"
"Bhaks! sengaja mau pamer badan, ya?"
"Caper banget! jijik!"
"Najis! hahahah!"
Dasha tahu kedepannya akan lebih banyak hal tidak terduga yang menghampirinya. Tapi siapa sangka, saat ia datang ke sekolah, ia sudah mendapatkan guyuran seember air dari para murid yang membencinya.
Dan sekarang saat Dasha berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya, semua orang tidak berhenti menatapnya dan membicarakan tentang dirinya.
Dasha hanya diam saja, dengan earphone yang menyumpal di kedua telinganya. Sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya, Dasha kemudian menunduk murung saat melewati segerombolan siswi yang kembali menggosipkan dirinya.
"Kasihan, pasti berat banget hidupnya, ya."
"Habisnya dia percaya diri banget dengan menipu Daren, dan pacaran dengan Daren. Memangnya dia tokoh utamanya? bhaks!"
"Katanya sih, ya. Selain suka jual diri, mamanya itu juga suka nipu orang."
"Uugh, kayak anaknya juga!"
"Namanya juga buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!"
Deg!
Segerombolan siswi itu kontan terdiam saat Dasha menoleh ke arah mereka, dengan menatap sinis. Padahal yang Dasha lihat itu ada di belakang mereka, papan mading itu.
Dasha lantas berjalan mendekat, membuat semua siswi itu berlari pergi, mereka bahkan berekspresi jijik seakan-akan Dasha adalah sebuah kotoran.
Dasha tidak peduli, lagipula mereka semua tidak penting. Entah rumor apa yang menyebar tentang dirinya hingga membuat semua orang berkata buruk kepadanya, Dasha tidak ingin menghiraukannya.
"Parah banget." gumam Dasha, rahangnya mengeras melihat papan mading itu yang penuh tulisan dan foto-foto dirinya.
Pantas saja saat itu Dasha berulang kali mendengar bunyi kamera, dan ternyata itu untuk memotretnya.
Tidak hanya fotonya, bahkan ia juga memotret foto mamanya. Dan mamanya selalu bersama pria yang berbeda di setiap fotonya.
"Apa untungnya bagi mereka ngelakuin semua ini? emangnya dapat penghargaan? uang? jabatan? nggak tuh. Mereka merugikan hidup seseorang, tanpa mikirin perasaannya. Buruk banget." Dasha mendengus kesal, tangannya terulur mengambil satu foto kemudian menyimpannya di saku jaketnya.
Setelah itu Dasha kembali melangkahkan kaki, menuju kelasnya.
.
.
.
.
"Jadi Dasha cuman pura-pura suka sama Daren?!"
"Kalau gitu kenapa Dasha duluan yang nembak Daren?"
"Parah banget, gue jadi kasihan sama cowoknya."
"Terus apa hubungannya dengan rumor tentang keluarga Dasha?"
"Mungkin ada yang benci sama Dasha, makanya dia ngelakuin semua ini. Lo liat aja di setiap papan mading sekolah, banyak banget foto Dasha tersebar."
"Gila sih, parah banget."
Tidak di lingkungan sekolah, bahkan di kelas. Mereka semua membicarakan Dasha, tanpa memikirkan perasaan gadis itu.
Bahkan Ayara tidak berkutik saat melihat Dasha yang membenamkan wajahnya di atas meja, sambil memakai earphone dikedua telinganya. Pasti gadis itu mendengarkan musik dengan volume yang full agar tidak bisa mendengar semua perkataan teman sekelasnya.
Ekor mata Ayara lantas melirik Satya, cowok itu mendekati Dasha dengan ekspresi iba dan ingin menyentuh pundak gadis itu. Namun Ayara spontan menepis tangan Satya dengan keras, membuat Satya bahkan semua teman sekelasnya tercengang dengan tindakannya barusan.
Satya menatap tajam pada Ayara, meminta penjelasan dari gadis itu.
"Maksud Lo apa?" tanya Satya dingin.
Ayara tidak menghiraukannya. Ia langsung melenggang pergi keluar kelas, spontan membuat Satya mengejarnya.
"Oi, Aya! maksud Lo tadi apa?" tanya Satya sambil menarik tangan Ayara, dan mencegat gadis itu.
Terdengar helaan napas dari mulut Ayara, lantas membuat Satya kebingungan. Gadis itu lantas menoleh, menatap Satya sengit.
"Ini semua gara-gara Lo, kalau bukan karena Lo, Dasha nggak mungkin kayak gini." nada suara Ayara terdengar tenang, namun terasa menusuk bagi Satya.
Tidak terima disalahkan, Satya mengelak. "Kok jadi gue? gue juga ngelakuin itu buat Dasha! supaya dia nggak perlu lagi terbebani karena harus akting di depan cowok sialan itu!"
Ayara mendongak, "mau jadi sok pahlawan ya Lo? buat Dasha? emangnya kalau Lo duluan yang bilang ke Daren tentang permainan Dasha selama ini, Dasha bakal senang terus berterimakasih gitu sama Lo?"
Kening Satya mengerut. Menurutnya apa yang telah ia lakukan itu benar, Satya membantu Dasha untuk mengakhiri permainannya. Makanya ia menemui cowok itu dan mulai mengatakan semuanya, tentang permainan cinta itu bahkan tentang perasaan Dasha yang berpura-pura. Satya melakukannya untuk kebaikan Dasha, apa yang salah dari semua itu?
"Gue ngelakuin hal yang benar!" nada suara Satya meninggi, spontan membuat Ayara geram.
"Tapi Lo nggak berhak ikut campur, Satya! karena gara-gara Lo, Dasha harus jujur di depan semua orang tentang permainan itu! Lo lihat 'kan apa yang terjadi sekarang? semua orang mulai benci Dasha! bahkan nyebar hal-hal buruk tentang keluarga Dasha! kalau aja Lo nggak bertindak sembrono kayak gitu, Dasha bisa bilang baik-baik ke Daren secara pribadi. Dengan begitu, semua ini nggak akan terjadi!"
Tubuh Satya mematung, berhasil membungkamnya. Semua yang Ayara ucapkan itu menusuk ulu hatinya, lantas membuat Satya tidak dapat mengelak.
Ayara berdecak kesal, napasnya tersengal-sengal. Pasalnya Ayara jarang sekali mengomel dan mengeluarkan banyak kata seperti barusan.
"Jangan sok mengerti perasaan seseorang. Lo nggak tahu apa-apa tentang Dasha, jadi jangan sok tahu!" selesai mengatakan semua isi hatinya pada Satya, Ayara lantas berlalu pergi.
Meninggalkan Satya yang nampak terguncang dengan semua perkataannya barusan. Ayara tidak peduli, toh cowok itu harus introspeksi diri atas sikap sembrono seperti itu.
"Ck! gue jadi haus." gerutu Ayara sambil mengepalkan kedua tangannya, "eh?" namun saat mendongak, ia cukup kaget mendapati Daren yang sedang membersihkan papan mading.
__ADS_1
Cowok itu menghapus semua tulisan tentang Dasha, kemudian melepaskan satu persatu foto-fotonya. Melihat perbuatan Daren, Ayara mendengus menatap punggung cowok itu.
"Setelah dibohongi, Lo masih peduli?"
Daren tersentak kaget dan spontan menoleh ke samping, tercengang mendapati teman Dasha yang sudah berdiri disampingnya.
Tiba-tiba Daren jadi gelagapan sambil menyembunyikan kantung plastik di belakang punggungnya, kantung plastik itu berisikan kumpulan foto-foto Dasha dan mamanya yang Daren ambil dari setiap papan mading di sepanjang koridor sekolah.
"Sa-saya ...." Daren tidak tahu harus berkata apa, lidahnya mendadak kelu.
Ayara tersenyum, "kenapa harus repot-repot dibersihkan? toh lagipula cepat atau lambat mereka semua bakal capek lalu mulai berhenti membicarakan rumor tentang Dasha itu." pancing Ayara, ingin mengetahui jawaban cowok itu.
Mendengar perkataan Ayara, Daren menunduk murung sambil meremas kantung plastik ditangannya.
"Tapi, kalau foto-fotonya nggak segera disingkirkan, mereka nggak akan mau berhenti." jawab Daren dengan nada pelan.
Ayara mengangguk, "gitu ya. Ternyata Lo masih peduli sama Dasha, atau jangan-jangan masih sayang juga?"
Daren spontan terhenyak, menggigit bibir dalamnya kemudian mengalihkan pandangannya dari Ayara. Daren terlihat malu, lantas membuatnya tertawa lucu.
"Sa-saya juga nggak tau." lirih Daren ragu.
Ayara mengangguk, "awalnya Dasha emang cuman pura-pura. Tapi kita 'kan nggak tahu isi hati manusia, hati itu mudah berubah-ubah. Dan cinta, cinta selalu datang karena terbiasa. Karena kalian selalu bersama selama satu bulan belakangan ini, bisa jadi Dasha mulai beneran suka sama Lo." kata Ayara panjang lebar, ia hanya ingin cowok itu mengerti bagaimana rasanya berada di posisi Dasha.
Mendengar penjelasan Ayara, Daren terkekeh pelan. Melihat cowok itu lantas membuat kening Ayara mengernyit.
"Kalau Kakak yang berada diposisi saya sekarang, apa yang Kakak akan lakukan? perasaan saya dipermainkan, saya kira kami punya perasaan yang sama tapi ternyata hanya saya yang merasakannya. Bukankah kejam menjadikan perasaan seseorang sebagai permainan? masa bodoh dengan permainan, apakah membohongi hati seseorang itu hal yang benarkan?"
"H-hah?" Ayara tidak berkutik, ia tercengang menatap Daren.
Semua pembelaan yang Daren katakan, tidak bisa membuat Ayara mengelak. Cowok itu adalah korbannya, dan ia memang berhak untuk membela dirinya.
"Tapi saya----"
"Daren!"
Belum selesai Daren berbicara, seseorang malah memanggilnya dari belakang. Kompak membuat Daren dan Ayara menatap ke sumber suara.
Mendapati sang empunya, kening Ayara mengernyit. Ia menatap tidak suka pada sang wakil ketua OSIS itu, Nasreen namanya.
"Ayo ke ruang OSIS, semua udah nunggu kamu." kata Nasreen melempar senyum manisnya pada Daren.
Cowok itu lantas melirik ke arah Ayara, spontan membuat Ayara mengangguk paham. Meskipun pembicaraan mereka barusan belum selesai, cowok itu harus segera pergi jadi Ayara dapat memakluminya.
Nasreen memiringkan kepalanya, berekspresi heran menatap papan mading dibelakang Daren yang sudah bersih.
"Kenapa harus repot-repot sih? besok pasti bakal dicoret lagi. Mengotori mading aja." kata Nasreen mendengus.
Ayara berdecak, merasa kesal dengan ucapan gadis itu barusan.
"Yang repot juga aku, bukan kamu." sahut Daren sinis.
Nasreen tersenyum kecut mendengar jawaban dari Daren, "aku 'kan cuma bilang doang. Lagian yang kamu lakukan itu juga percuma, rumornya nggak bakal hilang ..." di akhir kalimatnya Nasreen memelankan suaranya, namun masih dapat Ayara dengar dengan jelas.
"Maksud Lo?" tanya Ayara cepat.
Nasreen menoleh menatap Ayara, kemudian tersenyum miring.
"Aku benar, 'kan? rumornya nggak bakal hilang kalau pelaku yang nyebar semua ini nggak ketangkap." lanjut Nasreen menjelaskan.
Perkataan Nasreen yang ada benarnya itu lantas membuat kening Daren mengernyit. Ia menatap Nasreen lekat dengan ekspresi datarnya, lantas membuat gadis itu melempar senyum kepadanya.
Setelah berpamitan pada Ayara, Daren langsung melenggang pergi duluan. Berjalan di depan Nasreen tanpa menghiraukannya.
Mata Ayara menyipit, ia menatap sinis pada Nasreen yang berjalan di belakang Daren. Namun yang membuat Ayara merasa curiga, tatkala Nasreen sempat menoleh ke belakang kemudian melempar senyuman padanya.
...••••••...
Bel pulang berbunyi 10 menit yang lalu, namun Dasha baru saja keluar dari kelasnya setelah menunggu semua teman sekelasnya pulang duluan.
Dasha hanya tidak ingin cepat pulang, lagipula tidak ada tempat yang tenang baginya bahkan dirumahnya sekalipun.
Sambil memandangi foto Selena ditangannya, Dasha berjalan di sepanjang lorong sekolah yang sepi.
Cekrek!
Deg!
Bunyi kamera! sangat terdengar jelas, spontan membuat Dasha celingak-celinguk sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut lorong.
Jantung Dasha mulai berpacu dengan cepat, seluruh tubuhnya bahkan mulai gemetar. Tidak salah lagi, ada stalker yang diam-diam memotretnya. Dan bahkan menyebarkan foto-fotonya di seluruh mading sekolah.
Dan memikirkan siapa pelakunya, lantas membuat Dasha merinding.
"Kakak cantik!"
Dasha terlonjak kaget saat tiba-tiba seorang gadis kecil melompat di depannya, setelah mengenali siapa orangnya Dasha lantas bernapas lega.
"A-aku kira hantu!" sentak Dasha menghela napasnya.
Tidak terima dibilang begitu, gadis kecil bernama Emma itu mendengus.
"Emma bukan hantu!!! Emma manusia!!!" rengek Emma merajuk.
Dasha tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu, yang spontan membuatnya berbinar menatap Dasha.
"Maaf, aku cuma bercanda." kata Dasha sambil memaksakan senyumnya.
Ia tahu siapa gadis kecil ini. Dan meskipun begitu, Dasha tidak berhak untuk membencinya yang sudah mengambil kasih sayang ayahnya dari dirinya. Lagipula Emma masih kecil, selain itu dia juga sangat aktif dan ceria.
Melihat Emma membuat Dasha teringat masa kecilnya, karena sifatnya sewaktu kecil tidak jauh berbeda dari Emma.
"Kakak cantik! ayo jadi kakak Emma! dengan begitu kita bakal jadi keluarga!"
"Eh?" mendengar perkataan Emma, Dasha terhenyak menatapnya.
Padahal tanpa gadis kecil itu, nyatanya mereka memang keluarga. Meskipun Roland, ayahnya itu mungkin sudah melupakannya.
"Kamu nggak punya kakak?" tanya Dasha penasaran.
Emma menggeleng cepat, ekspresinya berubah cemberut.
"Tapi sebentar lagi Emma akan punya adik!" sahutnya dengan suara imutnya.
Begitu ya, ayahnya itu akan segera punya anak lagi, mendengar perkataan Emma lantas membuat Dasha tersenyum."Kalau begitu, kamu yang akan jadi seorang kakak."
"Nggak mau! Emma nggak mau jadi seorang kakak! Emma maunya punya kakak! dan kakak cantik banget! Emma suka kakak yang cantik, karena itu Emma mau kakak cantik jadi kakak Emma!" Emma mulai merengek dengan matanya yang berkaca-kaca.
Melihat tingkah lugu gadis kecil itu membuat Dasha terkekeh pelan, kembali mengusap lembut rambut Emma.
__ADS_1
"Itu apa?" tanya Emma penasaran, ia menunjuk foto yang Dasha pegang.
"Foto."
"Foto siapa?" tanyanya lagi.
Dasha mendadak murung, namun Emma tiba-tiba merebut foto itu dari tangannya yang spontan membuat Dasha terperangah.
"Ini siapa? cantik!!!" tanya Emma antusias memperhatikan foto ditangannya.
Dasha mendengus kemudian tersenyum tipis. "Itu mama aku." jawabnya.
Ternyata kakak cantik mempunyai mama yang cantik juga, membuat wajah Emma sumringah.
"Emma?"
Deg!
Rasanya jantung Dasha barusan seakan ingin lompat dari tempatnya, saat ia mendengar suara berat seseorang yang tidak akan pernah Dasha lupakan.
Menyadari kehadiran Papanya, Emma lantas berlari ke pelukan Roland dengan antusias.
"Papa! itu kakak cantiknya!!!" tunjuk Emma sangat senang.
Dasha spontan menundukkan wajahnya, mengepalkan kedua tangannya saat merasakan suatu desiran aneh di sekujur tubuhnya.
Roland mengernyit kebingungan dengan benda yang Emma pegang, karena penasaran ia lantas mengambil foto itu dari tangan mungil anaknya.
"I-ini!!??"
Roland tidak berkedip memandangi siapa orang yang ada di foto itu, bagaimana bisa ia melupakan wajah seseorang yang pernah ia cintai di foto itu.
"Em-Emma, kamu dapat ini dari mana?" tanya Roland sangat penasaran.
Emma tersenyum lebar sambil menunjuk Dasha yang masih tertunduk. Melihat gadis itu membuat Roland terhenyak.
"Yang di foto itu, mamanya kakak cantik!" sahut Emma dengan polosnya, kemudian nyengir kuda.
Jantung Roland berdegup kencang, ia masih tidak percaya dengan yang Emma katakan. Jika yang ada di foto ini adalah mantan istrinya dulu, maka seorang gadis dihadapannya sekarang ialah ....
"Dasha?"
DEG! DEG! DEG!
Haah, padahal Dasha tidak ingin berurusan dengan ayahnya dan sebisa mungkin untuk menghindarinya. Tapi siapa sangka Roland malah jadi donatur tetap untuk sekolah ini. Ia bahkan bersyukur jika Roland tidak mengenali dirinya selama-lamanya. Lagipula tidak akan ada yang berubah, karena ayahnya itu sudah bahagia dengan keluarga barunya.
"Dasha?" panggil Roland lagi.
Selangkah demi selangkah ia mendekati Dasha, tangan kanannya yang gemetar perlahan terulur untuk menyentuh wajah anaknya itu.
Dan saat Dasha mendongak memperlihatkan wajahnya, Roland terhenyak. Tidak ia sangka waktu sangat cepat berlalu, putri kecilnya kini sudah tumbuh besar menjadi seorang gadis yang sangat cantik.
Namun melihat tatapan tajam Dasha kepadanya, membuat Roland lantas tersenyum. Dasha seperti Selena ketika marah, apalagi tatapan tajamnya itu.
"Dasha kamu nggak melupakan---- ayah 'kan?"
Deg!
Mendengar pria itu menyebut dirinya sebagai ayah, spontan membuat Dasha menepis tangan Roland yang ingin menyentuh wajahnya.
PLAAKK!
Betapa terkejutnya Roland saat tangannya ditepis dengan kasar, ia bahkan tidak berkedip menatap Dasha yang terlihat marah menatapnya.
Tapi tidak hanya kemarahan yang Dasha tunjukkan, tapi juga kekecewaan. Bagaimana bisa semudah itu Roland meninggalkannya, dan membuat hidupnya menderita. Kemudian dia datang dan menyebut dirinya seorang ayah? jangan membuat Dasha tertawa!
"Jangan bercanda! setelah pergi begitu aja, dan ninggalin semuanya ... Ayah nggak akan tahu gimana rasa sakit yang setiap hari aku rasakan!"
Hah! Dasha merasa malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia masih memanggil Roland dengan sebutan itu, spontan membuatnya membekap mulutnya kemudian tersenyum kecut.
"Ayah?" lirih Emma menatap Dasha dan Roland secara bergantian.
Dasha terperangah, ia hampir lupa bahwa anak kecil itu masih berada disekitarnya.
"Dasha, maaf." kata Roland pelan.
Dasha menggeleng, "nggak perlu, lagipula semuanya udah berakhir. Silahkan bahagia dengan keluarga baru Anda, dan kami berdua juga akan bahagia dengan cara kami sendiri."
Mendengar perkataan anaknya, Roland berekspresi murung. Perasaan bersalah karena telah meninggalkan Dasha, membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Bahkan saat melihat penampilan Dasha yang berantakan, membuat Roland semakin merasa bersalah. Tidak hanya itu, Roland juga menyadari luka-luka pada kedua tangan Dasha serta lehernya yang terlihat memar.
Apa yang telah Dasha rasakan selama ini? kenapa anaknya itu terlihat sangat kesakitan.
"Beri saya satu kesempatan lagi, Dasha. Ijinkan saya memperbaiki semuanya."
"Jangan bercanda!" sentak Dasha meninggikan suaranya, "memperbaiki seperti apa? memangnya Ayah mau kembali ke Mama terus meninggalkan keluarga baru yang sekarang?! jangan bercanda! itu sama aja, nggak ada gunanya memperbaiki apa yang sudah Ayah rusak!"
"Dasha!" Roland langsung menarik tangan Dasha tatkala gadis itu ingin kabur, spontan membuat Dasha meringis kesakitan karena Roland tidak sengaja mencengkram luka ditangannya.
"Eeeh, tunggu Om!"
Roland spontan terhenyak saat seseorang mencengkram tangannya, memintanya untuk melepaskan tangan Dasha.
"Azka?" panggil Dasha, bingung kenapa cowok itu tiba-tiba menghampirinya.
Azka sempat melempar senyum pada Dasha, kemudian menatap Roland yang kebingungan.
"Maaf, Om. Saya ada urusan sama Dasha, jadi silahkan Om pulang duluan." kata Azka dengan santainya.
"Hah?" Roland mengernyit, menatap Azka dengan serius.
Padahal orang asing, tapi malah ikut campur dalam urusannya. Begitulah pikiran Roland sekarang.
"Atau kalau nggak, kami aja yang pulang duluan." dengan santainya Azka memegang tangan Dasha, kemudian membawanya pergi meninggalkan Roland yang tidak dapat berkata-kata.
Azka menolongnya, lantas membuat Dasha bernapas lega saat mereka mulai keluar dari lingkungan sekolah.
"Makasih." ucap Dasha sambil melepaskan tangannya dari Azka.
Azka mengangguk sambil tersenyum miring, ia kemudian berhenti dan membiarkan gadis itu berjalan beberapa langkah di depannya.
Tiba-tiba Dasha teringat sesuatu, foto mamanya masih ada di tangan Roland! bisa-bisanya ia melupakan itu.
Dasha spontan menepuk dahinya, kemudian ingin menoleh ke belakang namun tiba-tiba seseorang membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan.
Dan entah kenapa tiba-tiba tubuh Dasha jadi lemas, dan pandangannya mulai gelap. Seketika ia menyadari bahwa sapu tangan itu, terdapat obat bius yang membuatnya tidak sadarkan diri seketika.
Brukkk.
__ADS_1
...••••••...