
..."Tidak apa-apa semesta hanya memberikan satu kebahagiaan di antara seribu penderitaan, setidaknya satu kebahagiaan itu adalah kamu yang hadir di dalam hidupku."...
........ ...
Setelah memberhentikan mobilnya di depan rumah Dasha, ia lantas turun dari mobilnya sembari menunggu kedatangan gadis itu.
Daren terlihat keren dengan style pakaian yang ia kenakan hari ini, bahkan saat Dasha keluar dari rumahnya, ia sempat terhenyak sesaat memperhatikan cowok itu dari kejauhan.
"Wow ..." gumam Dasha terkagum-kagum memandangi cowok itu.
Namun setelah itu, ekspresi Dasha menjadi murung. Sembari berjalan menghampiri Daren, Dasha merasa ragu karena khawatir dengan keadaannya sekarang.
"Dasha." wajah Daren berubah sumringah, ia tidak berkedip memandangi penampilan Dasha yang terlihat sangat cantik di matanya.
Dan tumben sekali gadis itu hari ini mengenakan cardigan juga celana panjangnya. Daren heran, padahal biasanya Dasha selalu mengenakan rok atau bahkan dress setiap kali jalan-jalan dengannya.
"Daren." panggil Dasha, ia sudah berada tepat di hadapan cowok itu.
Dasha melempar senyuman dengan kedua tangan yang sedari tadi terus mencengkram erat tas selempang miliknya. Saat melihat wajah gadis itu, Daren mengernyit dan spontan menangkup wajah Dasha dengan kedua tangannya.
Jantung Dasha berdegup kencang, ini bukan perasaan gugup karena wajah cowok itu yang sangat dekat. Melainkan perasaan takut jikalau lebam akibat tamparan mamanya yang masih membekas, diketahui oleh cowok itu.
Nggak mungkin, 'kan? pasalnya Dasha sudah memoles wajahnya dengan make up agar menutupi lebam di wajahnya.
"Ke-kenapa?" tanya Dasha pelan.
Setelah beberapa saat memandangi wajah gadis itu, Daren lantas tersenyum seraya memeluk Dasha dengan erat.
Terdengar helaan napas dari mulut Daren, "kangen." satu kata dari mulutnya yang berhasil membuat Dasha tidak bergeming mendengarnya.
Dasha lantas tersenyum seraya menjauhkan tubuhnya dari Daren. Pelukan yang singkat itu langsung membuat Daren terlihat cemberut.
"Aku juga." kata Dasha, tangan kanannya perlahan mengusap lembut rambut Daren.
Daren tersenyum senang, karena gadis itu mengusap rambutnya. "Ayo kita berangkat sekarang."
"Emangnya kita mau kemana?" tanya Dasha memperhatikan Daren yang membukakan pintu mobil untuknya, memperlakukannya seperti seorang ratu saja.
Daren berdehem sebentar kemudian kembali tersenyum, "rahasia." jawabnya yang tentu saja membuat Dasha semakin penasaran.
.
.
.
"Wow ...."
Gadis itu berulang kali berdecak kagum memandangi hamparan Padang rumput luas dengan banyak pepohonan di sekitarnya, benar-benar tempat yang sangat indah dan juga menenangkan jiwa dan pikiran jika berada di sana.
Dan ternyata rahasia yang Daren maksud adalah piknik bersama di tempat yang luas dan sejuk itu, cowok itu bahkan sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari alas kain untuk mereka duduk, buku untuk Dasha membaca, juga makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Ayo, duduk." titah Daren menarik tangan Dasha.
Setelah mereka berdua saling duduk berhadapan, Daren tidak berhenti tersenyum memperhatikan wajah gadis itu. Tatapan dari Daren tentu saja membuat Dasha merasa terbebani.
Tapi Dasha senang. Ia bahagia karena cowok itu sudah melakukan semua ini hanya untuknya.
"Makasih." ucap Dasha seraya tangannya perlahan mengusap rambut Daren. Ia cukup suka melakukan hal ini, karena cowok itu sangat imut ketika tersenyum dan juga bertingkah polos.
"Suka, 'kan?" tanya Daren, Dasha mengangguk.
"Iya, suka."
"Aku?"
Ekor mata Dasha lantas melirik wajah Daren, kemudian tersenyum seraya mendongak ke atas memperhatikan langit biru yang mengelilingi mereka.
"Iya," kata Dasha yang berhasil membuat wajah Daren nampak sumringah.
Daren cukup puas mendengar perkataan Dasha, meskipun gadis itu tidak secara langsung mengungkapkannya.
Melihat Daren bangkit dari duduknya, Dasha terperangah dengan ekspresi bingungnya.
"Mau kemana?" tanya Dasha penasaran.
"Tunggu, aku mau ke sana sebentar." jawab Daren seraya menunjuk tempat yang ia maksud dengan dagunya.
Dasha mengangguk, "jangan lama, ya." ujarnya sembari kembali membaca buku yang ada di pangkuannya.
"Iya, sayang."
Deg!
Kedua mata Dasha spontan melotot kaget, dan saat ia menoleh, cowok itu sudah melenggang pergi meninggalkannya.
"Asdfkhjkl! belajar dari mana sih tuh anak? bikin jantung gue mau meledak aja!" gerutu Dasha, ia memanyunkan bibirnya memandangi punggung Daren yang mulai menghilang dari pandangannya.
Dasha lantas menghela napasnya, kemudian menutup cover bukunya dan meletakkannya di samping. Dasha kembali menghela napasnya, meletakkan kedua tangannya di samping tubuhnya seraya wajahnya mendongak ke atas.
Hari ini ia banyak menghela napas, seakan melepaskan semua masalah yang menumpuk di hati dan pikirannya. Tempat piknik ini benar-benar healing terbaik bagi Dasha untuk menenangkan hatinya.
Semenjak bertemu dan bersama dengan Daren, Dasha jadi lebih banyak tersenyum dari biasanya. Cowok itu telah memberikannya cinta dan kebahagiaan dalam waktu yang singkat ini. Dan setiap kali Dasha merasa bahagia saat memikirkannya, kenyataan pahit selalu saja menamparnya seakan memberitahu bahwa semua yang telah ia lakukan ini hanyalah sebuah permainan.
Perasaannya dan hubungan ini, hanyalah permainan. Dan sisa waktu dari permainan ini, tinggal tersisa satu Minggu lagi.
Dasha spontan menggeleng cepat, "nggak mau!" lirihnya seraya menggigit bibir dalamnya.
"Nggak mau?"
Deg!
Gadis itu tersentak kaget dan spontan menoleh ke samping, tanpa Dasha sadari cowok itu tiba-tiba sudah ada sambil menyodorkan bunga kepadanya.
"Nggak mau?" tanya Daren lagi, padahal ia sudah susah payah memetik bunga Camelia putih untuk diberikan pada gadis itu.
Dasha menggeleng, "mau!" jawabnya spontan.
Daren tersenyum senang kala gadis itu menerima bunga yang ia berikan, ekspresi Dasha juga terlihat sumringah hingga membuat Daren tidak bisa melepaskan pandangannya.
"Sha. Kamu tahu nggak? arti bunga Camelia putih."
Dasha mengangguk. "Tau kok," sahutnya.
"Apa?"
"Aku suka kamu." jawab Dasha sambil terus memandangi bunga itu.
"Aku juga."
Dasha spontan menoleh, membuat mereka saling berpandangan. Cowok itu, berhasil menjebaknya dengan pertanyaan barusan.
"Artinya aku suka kamu!" sentak Dasha serius.
__ADS_1
"Iya, aku juga suka kamu."
"Arti bunganya! aku suka kamu!"
"Iya aku juga."
"Daren!!!"
Tawa Daren meledak, tidak kuasa melihat ekspresi kesal yang Dasha tunjukkan. Melihat tawa renyah Daren yang lepas, membuat Dasha juga ikut tertawa.
"Sha."
Dasha tersentak kaget saat Daren tiba-tiba meletakkan kepalanya di atas pangkuannya, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk cowok itu rebahan.
"Hmm!" dengus Dasha kesal, Daren lantas terkekeh pelan.
"Usap kepala aku." pinta Daren atau lebih tepatnya itu sebuah titah untuk Dasha.
Tanpa protes Dasha lantas menuruti keinginannya, membuat Daren tersenyum karena merasakan kehangatan dari perlakuan gadis itu.
Dasha menundukkan wajahnya memandangi Daren yang juga sedang memperhatikannya. Cowok itu bahkan meraih tangan Dasha, kemudian mencium punggung tangannya lalu telapak tangannya, perbuatan Daren berhasil membuat Dasha merasa tidak keruan.
"Daren! geli!" sentak Dasha, pasalnya cowok itu masih betah menciumi telapak tangannya.
Daren terkekeh pelan seraya berhenti melakukannya, kemudian menempelkan tangan Dasha di pipinya.
"Maaf."
Dasha mendengus, ekspresinya sudah cemberut.
"Tetaplah bersikap polos, supaya jantung aku aman." gumam Dasha namun masih dapat terdengar jelas oleh Daren.
"Hah? jantung kamu kenapa?" tanya Daren, raut wajahnya sudah berubah panik.
"Kamu bisa bikin jantung aku meledak-ledak atau bahkan udah lompat dari tempatnya tau!"
Mendengar perkataan Dasha, Daren kontan saja langsung duduk dengan ekspresi paniknya.
"Ka-kamu sakit?! jantung kamu ... ayo kita ke rumah sakit!"
Tawa Dasha meledak, tingkah polos Daren yang seperti ini selalu saja berhasil membuatnya ketawa dan merasa gemas.
"Bukan itu maksud aku. Memangnya jantung kamu nggak pernah berdegup kencang saat ngerasa gugup, hm?" tanya Dasha, ia tersenyum simpul memperhatikan Daren yang terlihat kebingungan.
"Ng ... nggak tau, aku bingung." jawab Daren murung.
"Kalau gini, gimana?"
Cup!
Tubuh Daren spontan mematung di tempat saat Dasha tiba-tiba mencium pipinya, secara mengejutkan. Meskipun ciuman itu cuma sebentar, lantas membuat Daren tidak berkedip menatap Dasha yang terlihat malu-malu setelah melakukannya.
"Sha ...."
"Gi---gimana? yang tadi itu hadiah lho!" sepertinya malah Dasha yang menjadi gugup, ia merasa malu karena sedari tadi Daren terus menatapnya.
"Sha!"
"Apa?"
"Kayaknya jantung aku udah terjun ke perut karena saking bergetar nya!"
Mendengar perkataan Daren, detik selanjutnya tawa Dasha meledak karena saking lucunya dengan tingkah polos cowok itu.
...••••••...
Sore harinya setelah piknik romantis bersama. Daren kembali mengajaknya ke suatu tempat yang tentu saja membuat Dasha tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
Cowok itu membawanya ke sebuah taman hiburan yang buka sampai malam, tidak hanya wahana bermain, banyak juga yang berjualan di sana. Suasana yang membuat Dasha rindu akan masa kecilnya saat bermain di taman hiburan bersama keluarga kecilnya.
Keluarga kecil ... saat keluarga itu masih baik-baik saja.
"Pengen coba semuanya."
Eh?
Dasha lantas menoleh, melongo memperhatikan Daren yang terlihat antusias dengan mata berbinar-binar.
"Kamu pernah ke sini sebelumnya?" tanya Dasha bingung.
Dengan ekspresi yang masih kagum, Daren menggeleng dengan polosnya.
"Belum pernah." jawabnya itu spontan membuat Dasha tertawa renyah.
Dasar cowok polos, Dasha kira cowok itu mengajaknya pergi ke sini karena sudah sering mengunjungi tempat ini sewaktu kecil. Tapi siapa sangka, ternyata ini pertama kalinya Daren pergi ke taman hiburan seperti ini.
"Kalau belum pernah, kenapa kamu bisa tahu tempat ini dan ngajak aku ke sini?"
Daren menoleh, kemudian mengalihkan pandangannya dengan ekspresi malu-malu.
"Se-sebenarnya aku minta rekomendasi tempat dari pengasuh aku, dia bilang ini tempat terbaik untuk kencan." ujar Daren, ia tersenyum simpul sambil mengusap belakang lehernya.
Dasha tersenyum, "kamu punya pengasuh, ya?" tidak heran sih, pasalnya Daren memang dari keluarga yang berada dan juga terpandang.
"Iya, karena mama sama papa selalu sibuk kerja. Mereka berdua bahkan merekrut banyak pelayan juga pengasuh di rumah supaya aku nggak kesepian, tapi tetap aja ... aku kesepian." Daren mulai bercerita tentang masa lalunya, melihat senyum kesepian yang cowok itu tunjukkan, Dasha lantas mengusap rambutnya.
"Kalau sekarang? masih kesepian?" tanya Dasha, mencoba menghiburnya.
Daren menggeleng sambil menautkan jari jemarinya, dan menggenggam erat tangan Dasha.
"Nggak, karena sekarang sudah ada kamu."
Mereka mulai berkeliling di taman hiburan itu. Bersenang-senang di tempat itu sambil mencoba berbagai wahana bermain yang ada di sana.
Jiwa kekanak-kanakan Dasha mulai muncul, ia tersenyum antusias saat melihat salah seorang pedagang berjualan arum manis kesukaan Dasha yang spontan saja Dasha langsung melepaskan genggaman tangannya dari Daren. Kemudian berjalan mendahului Daren untuk membeli permen kapas itu.
"Bang, mau dong satu." ucap Dasha, pedagang itu lantas mengangguk seraya menyiapkan pesanan Dasha.
"Siap, Neng."
Sedari tadi ia tidak bisa berhenti untuk tersenyum, permen kapas itu benar-benar membuatnya nostalgia masa kecil.
"Sendirian aja, Neng?" tanya pedagang itu.
Dasha terbahak, "yakali saya sendirian doang ke sini. Saya datang sama pa--- Daren?" Dasha terbelalak kaget, mendadak panik tatkala Daren tidak berada di sampingnya.
Saat menyadari sesuatu, Dasha spontan menepuk dahinya, merutuki kebodohannya yang malah melepaskan genggaman tangannya dari Daren. Padahal cowok itu, kali pertamanya datang ke tempat ini.
"Hilang! pacar saya hilang! gimana nih, Bang? dia anaknya polos banget, gimana kalau dia kenapa-kenapa? dunia ini 'kan kejam buat orang sepolos dia!" Dasha terus bercerocos panjang lebar kali tinggi hingga membuat Abang pedagang itu terheran-heran mendengarnya.
"Gimana kalau dia di culik?! gimana Bang?!" Dasha langsung menyambar permen kapas yang disodorkan Abang pedagang itu kepadanya.
"Yah, di telepon atuh, Neng." jawab Abang pedagang itu sambil menerima uang yang Dasha berikan.
__ADS_1
Dasha mengangguk paham, kemudian merogoh isi tasnya untuk mengambil handphone-nya. Lalu mencari kontak Daren kemudian menghubunginya.
Saat teleponnya sudah tersambung, Dasha langsung menyambarnya dengan beribu pertanyaan.
"Daren! kamu dimana? kok bisa malah hilang! kamu nggak di culik, 'kan? kamu nggak papa, 'kan?" dada Dasha naik turun, ekspresinya sekarang sangat serius sambil memakan arum manis di tangannya.
"Sha ... aku ada di dekat bianglala." suara Daren dari seberang sana lantas membuat Dasha menghela napasnya lega.
"Tunggu aku di sana! jangan kemana-mana, paham?!"
"Paham."
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Dasha segera berlari pergi ke tempat cowok itu berada.
Dasar! bisa-bisanya Daren seperti anak kecil yang hilang di tengah keramaian, cowok itu benar-benar polos! maklum sih, lagian Daren tidak pernah ke tempat ini sebelumnya. Mungkin cowok itu selalu menghabiskan masa kecilnya dengan berada di rumah saja, pantas saja kedua orangtuanya merekrut banyak pengasuh dan juga pelayan untuk menjaganya.
Nak orang kaya! emang beda! Batin Dasha.
Saat menemukan sosok cowok itu, Dasha langsung menghampirinya.
"Daren!" Dasha mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal, karena kelelahan sehabis berlari.
Daren langsung menatap Dasha dengan ekspresi khawatir di wajahnya.
"Sha! aku kira kamu hilang!" kata Daren.
"Kamu yang hilang!" sentak Dasha gemas.
Daren menunduk dengan ekspresi murungnya, "maaf, habisnya kamu tiba-tiba hilang di tengah keramaian, makanya aku bingung dan nyari kamu kemana-mana." ceritanya menjelaskan.
"Aku tadi beli permen kapas!"
"Kenapa nggak bilang."
Dasha luluh, kini malah dirinya yang merasa bersalah karena tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya dari cowok itu.
"Maaf aku----"
Daren menyela perkataan Dasha, cowok itu menggeleng seraya tersenyum. "Nggak papa, kok, kamu nggak perlu minta maaf."
Gadis itu menghela napasnya. Daren terlalu lembut memperlakukannya, dan semakin membuatnya merasa bersalah tentang kebohongan ini.
"Sha, aku mau naik itu." tunjuk Daren dengan ekspresi polosnya.
Dasha mengangguk, "oke, ayo kita naik." ajaknya sambil menarik tangan Daren, dan berjalan menuju bianglala di depan mereka.
Setelah beberapa saat mengantri, akhirnya mereka bisa menaiki bianglala itu. Daren cukup senang dan antusias saat bianglala itu mulai berputar pelan, dan ini pertama kalinya Daren menaikinya. Apalagi bersama dengan gadis yang disukainya.
Melihat reaksi Daren yang sedari tadi berdecak kagum memandangi siluet senja yang mulai menampakkan dirinya, kedua sudut bibir Dasha tertarik dan membentuk senyuman.
Hari ini adalah hari yang membahagiakan, Dasha ingin lebih banyak merasakan bahagia bersama cowok itu. Tapi disisi lain, Dasha terlalu takut bahagia jika pada akhirnya akan merasakan sedih lagi.
"Sha," panggil Daren, ekspresinya berubah serius.
Kini Daren mengunci pandangannya hanya pada gadis itu, yang duduk berhadapan dengannya. Melihat ekspresi Daren, Dasha mendadak gugup.
"Apa?" Dasha menyahut.
Mereka berdua saling berpandangan, kemudian Daren menarik tangan Dasha hingga membuat gadis itu terduduk di atas pangkuan Daren.
Menyadari jarak mereka yang terlalu dekat, Dasha spontan ingin menjauh, namun Daren melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dasha.
Kini jarak mereka sudah dekat, dan Daren masih belum bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Cowok itu kini tersenyum miring, lantas membuat perasaan Dasha tidak keruan.
"Boleh aku cium?"
Mendengar pertanyaan itu, Dasha tidak berkedip menatap wajah Daren yang masih tersenyum.
"H-huh?"
Jantung Dasha semakin berdegup kencang saat tangan Daren perlahan mengusap lembut bibirnya. Apa cowok polos itu benar-benar akan menciumnya?! sejak kapan ia bertindak seperti ini!
Tanpa basa-basi lagi, Daren mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dasha. Gadis itu dapat merasakan deru napasnya, yang spontan saja membuat Dasha memejamkan matanya dan mencengkram kerah pakaian Daren karena gugupnya.
"Da-Daren ...."
"Sssttt."
Dasha tidak berani membuka matanya, ia terlalu gugup untuk melihat wajah cowok itu lebih dekat. Namun anehnya, ia tidak merasakan apapun yang menempel di bibirnya. Kenapa? apakah cowok itu tidak jadi menciumnya?
"Sha."
Dasha membuka matanya, ia kontan terperangah saat sebuah liontin sudah melingkar di lehernya. Melihat liontin itu membuat Dasha langsung menatap Daren, cowok itu tersenyum puas karena berhasil menipu Dasha barusan.
"Itu hadiah, karena kamu udah hadir di hidup aku."
Sebuah liontin yang sangat indah, ini fitur berlian yang berbentuk seperti buah pir dan di lengkapi dengan rantai sederhana yang dibuat dari emas putih. Sepotong perhiasan yang membuat tampilan menjadi mewah dan kaya kepada pemakainya. Harganya? tentu saja itu rahasia, Daren tidak ingin membuat gadis itu merasa terbebani saat memakainya. Biarlah hanya Daren yang tahu betapa fantastisnya harga liontin itu.
"Tunggu! kenapa di kasih ke aku?!" sentak Dasha meminta penjelasan.
"Karena aku suka kamu."
"Daren!"
Cowok itu terkekeh pelan, kedua tangannya perlahan menyentuh wajah Dasha kemudian mengusap lembut rambutnya.
"Ayo, katakan sesuatu." pinta Daren, manik mereka saling berpandangan.
Setelah diam sesaat, Dasha meneguk salivanya dan ingin mengatakan terima kasih, namun cowok itu malah menggeleng.
"Aku rasa ada yang lebih baik dari ucapan terima kasih."
Dasha tahu apa maksud cowok itu, namun entah kenapa untuk mengatakan itu membuat lidah Dasha kelu. Ini berbeda dengan sebelumnya, saat ia mengatakan rasa suka dengan mudahnya kepada cowok itu. Semua yang pernah ia katakan itu, hanya kebohongan.
Harusnya Dasha tahu, tapi kenapa untuk sekarang terasa susah mengatakannya? seolah yang akan ia katakan sekarang bukan lagi sebuah kebohongan.
Ini perasaan Dasha yang sesungguhnya!
"Su-suka!"
"Hm?" Daren tersenyum heran, ekspresinya seakan meminta kejelasan dari kata yang Dasha lontarkan.
Dasha menggigit bibir dalamnya, menahan napas memandangi Daren yang masih tersenyum menatapnya.
Detik selanjutnya Dasha langsung melingkarkan tangannya di leher Daren, memeluk cowok itu erat dengan wajahnya yang terbenam di bahu Daren. Melihat tingkah Dasha sekarang, lantas membuat Daren terkekeh geli melihatnya.
"Aku suka kamu." bisik Dasha pelan tepat di samping telinga Daren.
Daren mengangguk singkat, seraya mengusap lembut punggung Dasha. Pelukan yang gadis itu berikan, sekarang benar-benar menghangatkannya.
"Iya, aku juga."
.............
__ADS_1