
..."Aku hanya ingin bersama dengannya, itupun jika semesta memperbolehkannya."...
.......
.......
.......
...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN:)...
...•••••...
"Kak Dirga."
Dirga spontan menoleh dengan tubuh yang tiba-tiba membatu, pupil matanya yang bergetar tidak berkedip menatap sosok Daren yang berdiri tegak di hadapannya.
"Makasih udah jadi Kakak yang selalu melakukan apapun buat aku. Selamat tinggal, Kak." Daren tersenyum kepadanya.
Setelah mengatakannya, adiknya itu mulai membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Dirga.
Dan entah sebanyak apapun Dirga memanggil namanya dan berusaha menggapainya, adiknya itu tidak berbalik dan menatapnya.
Bagi Dirga, ini adalah mimpi terburuk yang selalu menghantuinya.
"DAREN!"
DEG!
Dirga terperanjat kaget spontan terbangun dari tidurnya, dan menyadari bahwa keringat dingin sudah bercucuran membasahi leher dan wajahnya.
Bisa-bisanya Dirga malah tertidur di saat jam kerjanya. Saat Dirga melirik ke arah dinding, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Ekor mata Dirga lantas melirik ke arah bingkai foto yang ada di atas mejanya, cukup lama Dirga memandangi foto adiknya itu hingga akhirnya air matanya sekarang mewakilkan isi hatinya.
Dirga terisak sambil mengusap wajahnya dengan punggung tangannya, kemudian berjalan mendekati pintu ruangannya yang diketuk seseorang dari luar.
Saat Dirga membukakan pintu, ia cukup kaget mendapati Daren di hadapannya.
Adiknya itu hanya diam saja sambil berjalan masuk ke dalam ruangan, lantas membuat Dirga mengernyit heran. Tumben Daren menemuinya di rumah sakit malam ini tanpa ia minta.
"Kenapa?" tanya Dirga heran.
Daren menunduk dengan ekspresi murungnya, "aku nggak mau ninggalin dia." katanya tiba-tiba.
Dirga spontan mengernyitkan keningnya, karena tahu kemana arah pembicaraan ini berlanjut.
"Kamu bakal bikin dia semakin terpuruk, Daren. Dia baru aja berusaha bangkit, kalau dia sampai mengetahui tentang keadaan kamu, bukannya usaha dia buat bangkit bakal sia-sia? dia pasti bakal terpuruk lagi." kata Dirga menjelaskan, dan berharap adiknya itu akan mengerti.
Namun sepertinya sampai kapanpun Daren tidak akan mengerti, karena sudah terlanjur menggenggam gadis itu membuat Daren sulit untuk melepaskannya.
"Kamu juga pasti nggak bisa jujur sama dia, 'kan?" tanya Dirga spontan membuat Daren mendongak menatapnya.
"A-aku takut." sahut Daren ragu.
"Kalaupun kamu jujur ke dia, nggak ada jaminan dia bakal tetap bersama kamu, 'kan? akhirnya sama aja, mending sekarang kamu putuskan hubungan kamu dengannya tanpa mengatakan yang sejujurnya. Dengan begitu, dia pasti bakal baik-baik aja setelah putus sama kamu daripada harus mengetahui semua kenyataan pahitnya. Pilihan itu lebih baik, Daren."
Kedua tangan Daren spontan terkepal kuat. Daren tahu alasan Dirga mengatakan semua ini, demi kebaikan Dasha dan juga dirinya.
Kalau Daren melepaskan gadis itu tanpa mengatakan yang sejujurnya, setidaknya perasaan Dasha tidak akan terlalu tersakiti. Tapi jika Daren mengatakan tentang keadaannya, dan tetap memutuskan untuk menggenggam gadis itu, Daren tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Dasha saat mendengarnya.
Padahal Dasha menginginkan Daren untuk tidak akan pernah pergi meninggalkannya, namun sepertinya janji itu tidak akan bisa Daren tepati.
Apa yang harus Daren lakukan?
"Putuskan dia sekarang, Daren." kata Dirga tegas.
Daren lantas menggeleng dengan melemparkan senyumnya pada Dirga. Melihat ekspresi adiknya sekarang membuat Dirga frustasi, ia menatap Daren murka.
Meskipun kata-kata yang akan ia ucapkan sekarang ini menyakitkan, tapi Dirga harus melakukan ini agar Daren sadar dengan keadaannya sekarang.
"SEBENTAR LAGI KAMU BAKAL MATI, DAREN! WAKTU KAMU UDAH NGGAK BANYAK! KENAPA KAMU HARUS MEMPERTAHANKAN DIA YANG SEBENTAR LAGI BAKAL KAMU TINGGALKAN, DENGAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN KAMU DENGAN DIA TANPA HARUS JUJUR TENTANG PENYAKIT KAMU, KAMU BAKAL MENGHILANG DARI DUNIA INI TANPA MENYAKITI PERASAANNYA! COBALAH MENGERTI BAGAIMANA BERADA DI POSISI DIA, ITU SANGAT MENYAKITKAN TAU! DASAR ADIK BODOH!" ucap Dirga dengan nada yang meninggi sampai membuat napasnya terengah-engah.
Mendengar kenyataan yang Dirga ucapkan membuat dada Daren terasa sesak. Perlahan Daren memaksakan senyumnya, dan berusaha agar Dirga mau mengerti tentang perasaannya.
"Dulu Kakak pernah nanya ke aku, apa yang aku mau, 'kan?"
Dirga mendongak kemudian mengangguk singkat.
"Aku mau bersama dia sebentar lagi, aku mau membuat kenangan bersama dia. Tolong mengerti, Kak." ucap Daren dengan ekspresi datarnya, dan tatapannya yang penuh keyakinan.
"Tapi----"
"Ini permintaan terakhir aku, Kak Dirga."
*********Deg*********!
Dirga kalah. Melihat bagaimana ekspresi adiknya itu sekarang membuat Dirga luluh. Bagaimana cowok itu mengatakan permintaan terakhirnya dengan senyuman tulus itu? bagaimana Dirga bisa menolaknya!
"Terserah kamu, adik bodoh." jawab Dirga sambil membalikkan badannya membelakangi Daren.
Dirga mendengus pasrah, pada akhirnya baik Dirga maupun Dasha akan sama-sama tersakiti karena mengetahui kenyataan ini. Bahkan Dirga yang paling tahu, bagaimana adiknya itu sangat ketakutan selama ini.
Namun jika bersama gadis itu, dapat Dirga rasakan bahwa ketakutan adiknya itu sedikit menghilang. Bahkan saat bersama gadis itu, membuat Daren lebih banyak tersenyum dari biasanya.
"Kak, aku boleh minta tolong satu hal?"
"Apa?" sahut Dirga tanpa menoleh ke belakang.
"Aku----"
BRUKK!
Dirga spontan menoleh dan syok saat melihat Daren terjatuh dan sudah tidak sadarkan diri.
"DAREN!"
...•••••...
"Hufft!"
Dasha mendengus kesal sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia merasa bosan karena Daren tidak hadir di sekolah selama beberapa hari terakhir ini, dan yang membuat Dasha merasa kecewa karena cowok itu tidak kunjung menghubunginya.
Tapi anehnya, setiap hari selalu ada sebuket bunga Camelia putih yang dititipkan untuknya. Dan Dasha mengetahui siapa yang memberikan bunga itu, sudah pasti Daren! daripada memberikannya bunga, kenapa tidak menghubunginya saja?!
Dasha merasa frustasi karena tidak tahu bagaimana keadaan Daren sekarang dan ada dimana cowok itu. Dasha bahkan tidak tahu alamat rumah Daren karena cowok itu tidak pernah memberitahukannya.
Aneh!!! dasar Daren! awas saja saat mereka bertemu nanti, Dasha akan memarahinya habis-habisan! memangnya ada ya, cewek yang tidak mengetahui rumah pacarnya?! ada! itu Dasha!
__ADS_1
"Dasar cowok polos!" gerutu Dasha kesal.
Dasha sempat ingin membanting buket bunga itu ke tanah karena saking gemasnya, namun tidak jadi karena sebuah surat terselip di tangkai bunga itu.
Karena penasaran Dasha lantas membuka surat itu dan membaca isinya.
Maaf kita nggak bisa ketemu untuk beberapa hari ini, Sha. Aku sayang kamu.
From: Daren.
Perasaan kesal yang sempat ia rasakan untuk cowok itu tiba-tiba menghilang, berganti dengan sebuah senyuman manis setelah membaca kalimat terakhir dari isi surat itu.
"Aku juga sayang kamu," gumam Dasha pelan.
"Kamu suka bunga?"
Deg!
Dasha tersentak kaget dengan kehadiran Ayahnya yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Meskipun hubungan mereka sekarang masih canggung, tetapi Roland selalu berusaha untuk mendekati Dasha agar hubungan mereka semakin membaik.
"Iya, aku suka." jawab Dasha perlahan tersenyum pada Ayahnya.
Melihat senyuman gadis itu lantas membuat Roland senang, tangannya kemudian perlahan terulur dan mengusap lembut rambut Dasha.
"Bagaimana kalau Ayah buatkan kamu taman bunga? jenis bunga apa yang kamu suka?"
Mendengar perkataan Roland barusan membuat Dasha terpaku sesaat. Jika ditanya bunga apa yang Dasha suka, Dasha akan menjawab bunga Camelia. Karena setiap warna dari bunga itu, mempunyai makna yang dalam.
"Camelia. Aku suka bunga Camelia." jawab Dasha menatap Roland dengan mata yang berbinar.
Roland lantas terkekeh kecil, ternyata putrinya sekarang masih putri kecilnya yang dulu.
"Baiklah, nanti Ayah akan panggil tukang kebun untuk membuatkannya."
Dasha mengangguk sambil melempar senyum manisnya pada Roland, "makasih, Ayah."
"Ayah senang kamu menyukainya."
Setelah berbincang sebentar tentang taman bunga pada Roland. Dasha kemudian melenggang pergi menuju kamarnya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil memandangi surat yang Daren kirimkan kepadanya.
Sudah beberapa hari tidak bertemu membuat Dasha merindukan cowok itu. Kira-kira apa yang Daren lakukan sekarang? kenapa cowok itu tidak menghubunginya?
Apa mungkin Daren masih sakit karena sempat pingsan tempo hari yang lalu? memikirkan semua itu membuat Dasha semakin merindukannya saja.
"Oh iya, nanti aku kasih tahu ayah deh soal taman bunga itu. Aku mau taman itu khusus untuk bunga Camelia putih. Supaya nanti aku bisa nunjukin ke Daren." kata Dasha berbicara sendiri, diselingi kekehan diakhir kalimatnya.
Beberapa saat kemudian Dasha diam, menciptakan keheningan di dalam kamarnya.
Bagaimana Dasha menjelaskan perasaan ini ya? ia sangat merindukan cowok itu, tapi entah kenapa ia juga merasa sedih dan sangat khawatir. Perasaan campur aduk sekarang, benar-benar membuatnya merasa aneh.
Dddrrrtt.
Dasha terperangah saat handphone-nya bergetar. Saat ia memeriksa benda pipih itu, wajah Dasha mendadak sumringah karena mengetahui siapa yang mengirimkannya pesan.
Daren. Akhirnya cowok itu menghubunginya juga setelah beberapa hari menghilang tanpa kabar!
Daren:
Sha, kita ketemuan sore ini jam 5 di taman kota, ya.
Tapi Dasha tidak peduli, karena ia merasa senang karena cowok itu mengajaknya untuk bertemu!
To Daren:
Oke^^
Aku kangen kamu, Daren.
Setelah beberapa saat cowok itu membalas pesannya, namun entah kenapa balasannya tidak seperti Daren yang biasanya.
Daren:
^^
Dasha sempat kebingungan, namun pikiran itu ia tepis saat melirik ke arah jam dindingnya. Dasha terperangah karena setengah jam lagi waktu yang tersisa untuk bertemu cowok itu di taman, Dasha harus segera siap-siap!
"Asdfkhjkl! harus segera mandi lalu dandan, pokoknya harus wangi supaya pas Daren meluk, gue nggak bau ketek!"
"Tunggu! gue mikir apa sih?!"
"Heh! dasar mesum!"
...••••••...
Dirga mendengus sambil memandangi handphone Daren yang ada di tangannya. Dirga mengambil benda pipih milik Daren tanpa sepengetahuan adiknya itu.
Dirga bahkan yang mengirimkan pesan pada Dasha barusan, dan berencana untuk bertemu dengan gadis itu sore ini.
Tanpa sepengetahuan adiknya, Dirga akan mengatakan semuanya pada Dasha tentang Daren dan menunggu bagaimana reaksinya nanti.
"Kak," panggil Daren pelan saat Dirga kembali masuk ke dalam ruangannya.
Melihat Daren yang terbaring lemah dengan selang infus yang yang menempel ditangannya, dan ekspresi Daren sekarang, Dirga menyadari bahwa pasti adiknya itu sangat bosan harus tinggal di rumah sakit ini selama beberapa hari lagi.
Tapi sepertinya kalimat beberapa hari lagi itu akan berubah menjadi lebih lama lagi mengingat kondisi Daren sekarang. Karena bisa saja kondisi Daren akan memburuk secara tiba-tiba, karena itu Dirga harus memperhatikan adiknya itu lebih lama lagi.
"Kakak udah kirimkan bunganya ke Dasha, 'kan?" tanya Daren sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
Dirga perlahan mendongak kemudian mengangguk. Sesuai permintaan Daren, beberapa hari terakhir ini Dirga rutin mengirimkan buket bunga Camelia putih ke rumah Dasha. Dan itu Dirga lakukan setiap siang setelah Dasha pulang sekolah.
Padahal Daren bisa menghubungi gadis itu lewat handphone-nya, tapi kenapa harus repot-repot mengirimkannya bunga? entahlah, Dirga tidak mengerti jalan pikiran adiknya itu.
"Makasih Kak, aku senang karena Kak Dirga adalah Kakak aku."
Eh?
Dirga tidak berkedip menatap wajah Daren dari samping, kenapa adiknya itu tiba-tiba mengatakan hal barusan?
Daren lantas menoleh seraya melemparkan senyumnya pada Dirga, "Makasih udah jadi Kakak yang selalu melakukan apapun buat aku. Aku senang, Kak."
Eh? kenapa perkataan yang Daren katakan seperti mimpi yang selama ini menghantui Dirga?!
"Makasih udah jadi Kakak yang selalu melakukan apapun buat aku. Selamat tinggal, Kak."
******Deg! Deg! Deg******!
__ADS_1
Pupil mata Dirga bergetar, bahkan kini tubuhnya juga ikut gemetar. Kenapa perkataan Daren barusan sangat persis seperti dalam mimpi Dirga!
"Daren!"
"Apa?" sahut Daren mengernyit heran saat Dirga terlihat syok menatapnya.
Dirga tersadarkan dari pikirannya barusan, kemudian segera menggeleng cepat dengan ekspresi kikuknya.
"Ka-Kakak mau pergi dulu, kamu mending istirahat aja." kata Dirga mendadak panik.
"Mau kemana?" tanya Daren heran saat Dirga berhenti di depan pintu.
Dirga lantas menoleh kemudian melemparkan senyumnya, "ada janji sama teman." jawabnya berbohong.
Daren mengangguk singkat. Sepeninggal Dirga, ia lantas menghela napas panjangnya.
Sesaat ekspresi Daren berubah murung, namun saat memikirkan wajah bahagia Dasha membuat Daren merasa senang.
Daren akan melalui beberapa hari ini lagi dengan sabar, sembari berdoa pada Tuhan untuk memberikannya sedikit waktu lagi agar bisa bertemu dengan gadis itu.
"Aku kangen kamu, Sha." gumam Daren menoleh ke arah jendela.
Daren tidak berkedip memandangi pekatnya awan mendung yang menyelimuti langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
.
.
.
.
"Oke, udah cantik!" kata Dasha pelan, kemudian terkekeh karena merasa malu dengan ucapannya barusan.
Setelah berkaca pada layar handphone-nya, Dasha kemudian mendongak ke atas langit menatap awan yang mengabu.
"Mau hujan," gumam Dasha mendadak murung.
Drrrtttt
Dasha spontan terperangah saat handphone-nya bergetar, sebuah panggilan masuk! melihat nama kontak yang tertera di layar handphone-nya, membuat Dasha langsung mengangkat panggilannya.
"Daren!" panggil Dasha senang.
"Bukan." jawab seseorang dari seberang sana.
Mendengar suara yang terasa familiar baginya, Dasha kemudian menoleh dan cukup terkejut mendapati sosok Dokter yang sempat menanganinya di rumah sakit.
"Dokter Dirga." kata Dasha lantas bangkit dari duduknya, ia menatap sosok itu yang sedang berjalan menghampirinya.
"Itu 'kan, handphone Daren." ucap Dasha serius, merasa heran kenapa handphone Daren bisa ada pada Dokter itu.
Dirga lantas mengangguk sambil menyimpan benda pipih itu di saku jaketnya, ia kemudian menghela napasnya dan tersenyum pada Dasha yang kebingungan.
"Saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Dirga Aldevaro."
Mendengar nama panjang Dirga spontan membuat Dasha tercengang. Nama belakang Dokter itu sama seperti nama Daren, apa itu artinya mereka???
"Kakak Daren?" tanya Dasha spontan.
Dirga mengangguk singkat, "iya." jawabnya membuat Dasha semakin tercengang.
Sebenarnya ada apa? bukannya harusnya yang datang sekarang itu Daren, tapi kenapa malah Kakaknya?
"Apa jangan-jangan yang ngirim pesan buat ketemuan disini itu juga Dokter?" tanya Dasha lagi meminta penjelasan.
Dirga mengangguk, membuat Dasha tersenyum kecut karena tidak mengerti situasinya sekarang.
"Sa- saya nggak mengerti, Dok. Tapi karena Dokter itu Kakak Daren, berarti Dokter tahu 'kan dimana Daren sekarang? apa dia baik-baik aja?" tanya Dasha mencoba memaksakan senyumnya meskipun merasa canggung setelah mengetahui bahwa Dokter itu adalah Kakak Daren!
Terdengar helaan napas panjang dari mulut Dirga, membuat Dasha heran menatapnya. Setelah mempersiapkan dirinya, Dirga akan mengatakan segalanya.
Biar bagaimanapun, gadis itu harus mengetahui semuanya agar bisa memutuskan bagaimana kedepannya. Apa gadis itu akan meninggalkan Daren sesuai keinginannya, atau tetap mempertahankannya meskipun pada akhirnya mereka akan berpisah selamanya.
"Saya akan langsung mengatakan yang sebenarnya." kata Dirga yang semakin membuat Dasha kebingungan.
"I-iya?"
"Daren menderita sakit yang parah, dan saya sebagai Dokter sudah memprediksi bahwa masa hidupnya udah nggak lama lagi."
Deg!
Tubuh Dasha spontan mematung di tempat saat mendengar perkataan Dirga barusan. Dasha lantas tersenyum kecut, karena menganggap bahwa perkataan Dirga hanya bercanda. Namun melihat bagaimana ekspresi serius Dokter itu, membuat Dasha merasa syok.
"Bo-bohong, 'kan?" kata Dasha mencoba tersenyum, kedua tangannya yang gemetar perlahan terulur dan menarik jaket Dirga.
"Daren udah nggak punya banyak waktu lagi. Saya mengatakan ini supaya kamu mengetahui kenyataannya. Padahal Daren berencana untuk tidak memberitahukannya sama kamu tapi saya berpikir bahwa tahu atau tidaknya kamu tentang keadaan Daren sekarang, pada akhirnya kalian akan berpisah selamanya."
Deg! Deg! Deg!
Rahang Dasha mengeras, napasnya bahkan sudah tidak teratur. Mendengar perkataan Dirga barusan, spontan membuat Dasha naik pitam.
Dasha mencengkram kerah baju Dirga, dan mulai meneriakinya dengan frustasi.
"Ke-kenapa baru memberitahukannya sekarang?! dan kenapa malah Dokter yang mengatakannya, kenapa bukan Daren?!" teriak Dasha.
Dirga lantas mendengus sambil menyingkirkan tangan Dasha yang mencengkram kerah bajunya, Dirga juga berusaha untuk menenangkan emosi gadis itu.
"Dia takut, Sha. Begitulah Daren, dia terlalu penakut untuk mengatakan semuanya sama kamu. Tapi Daren punya permintaan."
Dasha mendongak setelah mendengar kalimat terakhir Dirga, "apa?" tanyanya menatap Dirga dengan kedua matanya yang memerah.
"Permintaan terakhirnya. Meskipun cuma sebentar, dia ingin bersama kamu dan membuat kenangan dengan kamu." kata Dirga, setelah itu Dirga berpamitan pada Dasha dan melenggang pergi meninggalkan gadis itu yang tidak berkutik sama sekali.
Kenapa lidah Dasha mendadak kelu? setelah mendengar permintaan terakhir itu, rasanya hati Dasha sangat hancur. Seakan ribuan jarum menusuk dadanya, sangat menyakitkan! Dasha ingin menangis sekarang juga!
Tes ... Tes ... Tesssss!!!! Zzzhhhhrsss!
Rupanya kini langit sudah menumpahkan isinya, membasahi dirinya dengan derasnya rintik hujan yang mengguyurnya. Seakan-akan menggantikan dirinya untuk menangis.
Daren sakit parah dan kini waktunya sudah tidak banyak lagi. Tapi cowok itu punya permintaan, meskipun cuma sebentar dia hanya ingin bersama dengan Dasha dan membuat kenangan bersamanya.
Memikirkan semua itu membuat tembok pertahanan Dasha runtuh seketika. Kedua lututnya terasa lemas, kontan membuatnya meluruhkan tubuhnya ke tanah.
Bagaimana bisa cowok itu menahan rasa sakitnya tanpa mengeluh, bagaimana cowok itu bisa sekuat ini.
Detik selanjutnya tangis Dasha pecah. Ia menangis dengan pilu dibawah guyuran hujan, tanpa seorangpun mengetahui betapa sedihnya ia sekarang.
__ADS_1
Daren ... Daren ....
...•••••...