
Beberapa tahun yang lalu saat Daren berumur 7 tahun. Dia anak lelaki yang pendiam dan juga pemalu.
Saat anak seusianya bermain dengan bebas dengan teman-temannya, Daren hanya bisa terkunci di dalam rumahnya yang penuh dengan peraturan dan juga didikan yang keras agar bisa memenuhi ekspektasi.
Daren tidak punya waktu bermain, dan dia selalu merasa kesepian. Semua orang disekitar hanya menuntut dirinya untuk menjadi seperti yang kedua orang tuanya inginkan.
Namun berbanding terbalik dengan Dirga, kakaknya itu lebih memilih memberontak untuk mendapatkan kebebasan di masa remajanya. Dirga tidak peduli dengan ekpektasi orang tuanya terhadap masa depannya, yang Dirga inginkan hanya kebebasan tanpa terkekang.
"Lihat nilai kamu, Dirga. Bagaimana bisa nilai kamu sangat buruk seperti ini! sangat tidak sempurna, Dirga!"
Dirga menghela napasnya saat Amelia, Mamanya itu lagi-lagi memarahinya karena tidak bisa mendapatkan nilai yang sempurna pada setiap mata pelajaran.
"Masa bodoh dengan sempurna! kemampuan setiap orang itu berbeda-beda, kenapa kalian selalu menuntut anak kalian untuk sempurna?! memangnya boneka!?" sentak Dirga naik pitam.
PLAKK!
Bagi Amelia, sopan santun itu sangat penting. Dia tidak pernah mengajarkan pada Dirga untuk melawan setiap perintahnya, tapi sejak anaknya itu memasuki masa SMA, dia mulai memberontak terhadap orang tuanya.
"Jaga bicara kamu, Dirga. Apa seperti itu yang kami ajarkan pada kamu?" kata Amelia menatap tajam pada anaknya.
Dirga mendengus kemudian menunduk murung, "maaf." ucapnya pelan.
Amelia mengangguk sambil merobek-robek kertas hasil ujian cowok itu. Melihat perbuatan Mamanya sontak membuat Dirga tersenyum kecut, apa nilai 95 itu adalah nilai yang buruk dan tidak sempurna?
"Tingkatkan lagi nilai kamu jika ingin meneruskan perusahaan keluarga kita. Saya sangat tidak suka anak yang bodoh dan juga pemberontak."
Setelah mengatakan kalimat yang menyakitkan itu, Amelia segera melenggang pergi meninggalkan Dirga yang sangat marah.
Terkadang Dirga berpikir, terlahir di keluarga ini adalah sebuah kesalahan. Mereka semua hanya bisa menuntut dirinya untuk menjadi sempurna dalam segala hal, tanpa memikirkan perasaan dan kehendaknya selama ini.
Menjadi bagian dari keluarga ini sama saja seperti menjadi sebuah boneka yang siap untuk selalu dikendalikan.
Dirga sangat membenci cara kerja keluarga ini dalam mendidiknya. Dirga membencinya namun di dalam lubuk hatinya, Dirga juga menyukainya.
"Daren." panggil Dirga tersenyum saat memergoki Adiknya itu sedang bersembunyi sambil mengintipnya.
Hanya ada satu alasan kenapa Dirga bertahan di rumah yang seperti neraka ini, semua itu hanya untuk Daren. Adiknya satu-satunya.
"Kak Dirga."
Melihat anak lelaki berumur 7 tahun itu yang berlari tergesa-gesa menghampirinya, lantas membuat Dirga tersenyum karena merasa lucu saat memperhatikannya.
"Mana punya aku?" tanya Daren sambil mengulurkan tangannya.
Dirga mengangguk sambil merogoh saku celananya, ia mengeluarkan sebuah permen kemudian memberikannya pada Daren.
"Seperti biasa, jangan sampai ketahuan." bisik Dirga sambil mengusap lembut rambut Daren.
Daren lantas mengangguk sambil melempar senyum manis pada Kakaknya. Ia sangat senang karena terkadang Dirga selalu membawakannya sebuah permen saat pulang sekolah.
Padahal cuma permen, tapi Adiknya itu terlihat sangat senang. Membuat Dirga merasa iba karena tidak hanya kepadanya, keluarga ini juga memperlakukan Daren seperti boneka dan mengekang kebebasannya.
"Sana masuk kamar kamu." titah Dirga, Daren lantas mengangguk sambil berlari menuju kamarnya.
Akhirnya Dirga bisa bernapas lega, kemudian membalikkan badannya ingin pergi.
BRUK!
Namun Dirga tersentak kaget saat mendengar sebuah suara, saat menoleh Dirga tercengang karena mendapati Daren sudah tersungkur ke lantai.
Dan di hadapan Daren, ada Amelia yang menatap tajam pada anaknya itu.
"Permen?" kata Amelia menatap nanar kemudian menginjak permen itu sampai tidak berbentuk.
Daren meneguk salivanya sambil bangkit dari lantai. Ia lantas menunduk murung seolah-olah merasa bersalah karena melanggar salah satu peraturan di keluarga ini.
"Daren, kamu tahu salah satu peraturan keluarga ini?" tanya Amelia setengah berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Daren.
"Ja-jangan makan permen."
Amelia mengangguk sambil melempar senyumnya, namun entah kenapa senyum itu selalu membuat Daren merinding.
"Anak pintar. Kalau kamu makan permen, nanti gigi kamu berlubang. Mama nggak mau ada sesuatu yang membuat kamu nggak sempurna. Karena kamu harus tumbuh menjadi anak lelaki yang sangat tampan dan juga penuh kesempurnaan dalam segala hal."
Mendengar semua ucapan Amelia, Daren lantas mengangguk tanpa menunjukkan senyumannya.
Amelia tersenyum sambil kedua tangannya menyentuh wajah Daren, membuat mereka berdua akhirnya saling berpandangan.
"Terutama wajah kamu ini, harus selalu dijaga agar selalu sempurna. Paham?" tanya Amelia dengan nada dinginnya.
Daren lantas mengangguk sambil melangkahkan kakinya saat Amelia menarik tangannya.
"Sekarang ayo belajar, sampai nilai kamu juga sempurna. Setelah belajar, kamu harus mengasah lagi kemampuan bermain piano kamu. Daren pasti sudah nggak sabar untuk bermain piano di hadapan ayah, 'kan?" ujar Amelia menatap Daren dengan senyum sinisnya.
Setelah terdiam sesaat, Daren lantas mengangguk singkat kemudian menundukkan wajahnya.
Sepeninggal mereka berdua. Dirga menggertakkan giginya dengan kedua tangannya yang sudah terkepal kuat.
Rasanya gendang telinga Dirga akan pecah karena terus-menerus mendengar kata sempurna itu dari mulut Amelia. Dirga merasa muak karena mamanya itu sangat terobsesi dengan kesempurnaan.
"Sialan!"
...•••••...
"Setelah tabungan gue udah banyak, gue bakal bawa Daren dan pergi dari rumah ini. Tanpa mereka, gue dan Daren juga bakal bisa hidup bahagia."
Dirga kembali bergumam, memikirkan setiap langkah kedepannya untuk bisa pergi dari rumah ini dan juga orang tuanya.
Persetan dengan tanggung jawabnya sebagai penerus keluarganya, Dirga hanya ingin segera pergi dari rumah ini dan membuat Daren dapat merasakan kebahagiaan seperti anak kecil pada umumnya.
"Kak Dirga. Lihat apa yang aku bawa."
Daren tersenyum sumringah sambil berjalan menghampiri Dirga yang sedang duduk dibawah pohon. Menyadari kedatangan Daren spontan membuat Dirga antusias.
__ADS_1
"Kucing, ngambil darimana?" tanya Dirga tersenyum melihat Daren yang sedang menggendong seekor anak kucing.
"Dia tiba-tiba masuk ke halaman rumah kita. Aku boleh temenan sama dia, 'kan?" tanya Daren mendongak menatap Dirga dengan mata yang berbinar.
Dirga mengangguk sambil mengusap lembut puncak kepala Daren. Detik selanjutnya senyum Dirga sirna, ia menatap Daren dengan tatapan sendu.
"Tadi malam ngapain aja?"
Mendengar pertanyaan Dirga yang tiba-tiba membuat Daren terperangah. Daren kemudian memaksakan senyumnya agar tidak membuat Dirga khawatir.
"Se-sebenarnya aku semalaman cuma belajar. Kata mama kalau aku nggak bisa dapat nilai yang sempurna, aku nggak boleh ketemu sama Kakak lagi."
"Sampai mana kamu sudah belajar?"
"Mata pelajaran anak SMP."
Sudah bukan hal yang mengejutkan bagi Dirga, karena saat Dirga seumuran dengan Daren, ia sudah dituntut untuk bisa mengerjakan setiap pelajaran anak SMA.
Namun melihat bagaimana ekspresi Adiknya sekarang membuat dada Dirga sakit. Padahal Daren bisa mengeluh padanya, namun Adiknya itu selalu bertingkah baik-baik saja.
"Daren, kamu mau apa?" tanya Dirga tiba-tiba.
Daren mengernyit heran, tidak mengerti maksud Dirga barusan. Melihat Dirga yang mulai berdiri, Daren lantas mengikuti.
"Apa ada sesuatu yang kamu mau? misalnya mainan atau makanan?" tanya Dirga lagi, menatap lekat pada Daren.
Mendengar perkataan Dirga, Daren lantas tersenyum sambil menundukkan wajahnya.
Sebenarnya ada banyak hal yang Daren inginkan. Mainan? Daren juga menginginkan itu, tapi orang tuanya tidak pernah memperbolehkannya. Mereka bilang daripada bermain, Daren seharusnya belajar!
"Nggak usah segan, kamu boleh minta apapun yang kamu mau. Karena mulai sekarang kamu nggak akan dikekang lagi, Daren."
Deg!
Daren spontan mendongak menatap Dirga tidak berkedip. Selama ini mereka selalu dituntut untuk sempurna dalam segala hal, dan dikekang hingga rasanya berada di dalam rumah itu seperti berada di tempat yang sempit dan juga gelap.
Dirga bilang dirinya tidak akan di kekang lagi, bagaimana bisa? padahal selama ini, mereka tidak pernah bisa bebas.
"A-aku mau permen."
Mendengar jawaban sederhana dari Adiknya itu lantas membuat Dirga tersenyum manis, lebih tepatnya sebuah senyuman yang ia paksakan agar terlihat baik-baik saja di hadapan Adiknya.
"Kamu bisa makan banyak permen sampai gigi kamu berlubang, nggak perlu takut. Karena kita manusia, kita nggak bisa sempurna."
.
.
.
.
"Pelajari ini, Daren." titah Amelia menatap dingin pada Daren yang duduk di depannya.
"Anak pintar. Nilai kamu selalu sempurna, tidak seperti kakak kamu. Kalau dia terus memberontak dan tidak ingin menjadi sempurna, maka yang harus menggantikannya adalah kamu. Kamu nggak keberatan 'kan? Daren?"
Deg!
Perasaan Daren sekarang campur aduk. Dan yang Daren bisa lakukan hanya menurut. Daren tidak punya hak untuk menolak, dan tidak punya kebebasan untuk mengeluh pada siapapun.
"Mama, ada darah."
Amelia spontan mendongak, ia menatap datar saat hidung Daren tiba-tiba mengeluarkan darah.
Daren mimisan, ia sudah mencapai batasnya.
"Bersihkan, dan kembali belajar." titah Amelia sambil menyodorkan beberapa tisu pada Daren.
Anak lelaki itu lantas mengangguk sambil membersihkan hidungnya, ia sedikit mendongak ke atas untuk menghentikan pendarahannya.
"Setelah ini, kamu latihan piano lagi. Paham?" titah Amelia lagi.
Daren spontan menggigit bibir dalamnya. Ia ingin istirahat sebentar saja namun sepertinya Amelia tidak akan pernah mengijinkannya.
"Pah----" ucapan Daren terpotong saat Dirga tiba-tiba datang.
"Mama."
Cowok itu baru pulang sekolah. Lantas membuat Amelia berdiri dan berjalan menghampirinya.
Dirga menyodorkan beberapa lembar hasil ujiannya hari ini. Dan semua nilainya sempurna hingga berhasil membuat Amelia tersenyum senang.
"Apakah sekarang kamu udah berhenti memberontak? Mama tahu, Dirga, kamu memang sempurna."
Akan Dirga lakukan apapun untuk Daren, agar Adiknya itu bisa mendapatkan kebebasannya.
"Biar aku aja yang belajar, aku nggak akan memberontak lagi. Aku bakal jadi sempurna sesuai yang Mama inginkan, agar bisa menjadi penerus keluarga ini." kata Dirga dengan ekspresi datarnya.
"Bagus," sahut Amelia tersenyum.
"Jadi, tolong biarkan Daren bebas. Jangan kekang Daren lagi, karena mulai sekarang Daren bebas melakukan apa yang dia mau." lanjut Dirga lagi.
Mendengar semua perkataan Kakaknya itu spontan membuat Daren sedih. Lagi-lagi Dirga melakukan semua ini hanya untuknya.
Padahal Daren tidak apa-apa meskipun harus hidup seperti ini, tapi Dirga selalu mengorbankan apapun untuk bisa membuatnya bahagia.
"Kamu memang seorang Kakak yang sempurna, ya, Dirga." ucap Amelia tersenyum sinis.
Dirga lantas tersenyum, "aku akan menuruti apa yang Mama mau."
Meskipun harus menjadi boneka yang dikendalikan, lagi.
...•••••...
__ADS_1
"Daren?"
Deg!
Daren tersentak kaget dan tersadarkan dari lamunannya. Ia lantas menoleh menatap lekat pada Dirga yang baru saja selesai memeriksa kondisinya.
"Gimana?" tanya Daren dengan raut wajah datarnya.
"Seperti biasa, nggak ada perubahan." jawab Dirga.
Bagaimana bisa Dirga jujur pada Adiknya itu, bahwa kondisinya sekarang semakin memburuk.
"Jangan lupa minum obat kamu," ujar Dirga mengingatkan.
Daren mengangguk sambil menurunkan pandangannya, dan memainkan jari jemarinya.
"Jangan takut, Kakak akan selalu ada disamping kamu." kata Dirga, tangan kanannya perlahan mengusap lembut rambut Daren.
Padahal Dirga selalu mengatakan kalimat itu kepadanya sewaktu kecil setiap Daren merasa ketakutan, namun entah kenapa hari ini kalimat itu terasa sangat bermakna.
"Kak Dirga, mereka benar-benar ninggalin kita, ya? mungkin karena kita nggak bisa sempurna seperti yang mereka mau."
Orang tua yang sangat keras mendidik mereka agar bisa sempurna. Namun tiba-tiba Dirga memutuskan untuk menjadi dokter, dan Daren jatuh sakit.
Kedua anak mereka yang dituntut untuk menjadi sempurna, kini telah mematahkan ekspektasi mereka. Mungkin alasan itulah yang membuat kedua orang tuanya kini tidak memperdulikan mereka lagi.
Namun setiap kali Daren berpikiran seperti itu, Dirga akan selalu menenangkannya dan mengatakan bahwa kedua orang tuanya masih memperdulikannya namun hanya saja jarak selalu memisahkan mereka.
"Mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka, jadi nggak bisa pulang." sahut Dirga sambil bersiap untuk pergi.
Daren lantas mengangguk sambil mengalihkan pandangannya menuju kaca jendela. Menyadari raut wajah Daren yang berubah, Dirga menghela napasnya sambil melenggang pergi dari ruangan.
Sepeninggal Dirga. Beberapa saat kemudian pintu ruangannya kembali dibuka, saat menyadari siapa yang datang sontak saja membuat wajah Daren kembali sumringah.
"Daren, aku bawa banyak buah-buahan. Aku juga bawain kamu bunga, lho. Taraaa!!! coba tebak ini bunga apa?"
Daren lantas tersenyum, merasa senang saat melihat Dasha yang bahagia.
"Bunga aster," sahut Daren mengulum senyumnya.
Dasha mengangguk sambil berjalan menuju jendela, ia memasukkan bunga aster itu di dalam vas kaca yang ada di samping jendela.
Setelah itu Dasha kembali menghampiri Daren dan duduk di pinggir ranjang sambil mengupas buah apel untuk cowok itu.
"Tadi di sekolah seru banget ngelihat Ayara dan Satya berantem, mereka udah kayak tikus dan kucing aja." kata Dasha mulai bercerita panjang lebar.
Dasha mengatakan banyak hal tentang segalanya yang ia lewati hari ini di sekolah. Meskipun terasa sepi karena tidak ada Daren, namun Dasha bersyukur bisa menemui cowok itu setiap kali pulang sekolah.
Dan Daren selalu setia menjadi pendengar dari cerita yang gadis itu sampaikan. Tidak peduli cerita gadis itu membosankan atau tidak, Daren selalu merasa bahagia setiap kali melihat wajah Dasha.
"Terus tadi aku sempat debat sama penjual buah karena harga jualannya mahal banget. Harusnya 'kan dia ngasih aku diskon buat pelajar!" di akhir ceritanya, Dasha lantas memanyunkan bibirnya.
Melihat ekspresi cemberut gadis itu, Daren sontak terkekeh pelan sambil mencubit gemas pipi Dasha.
"Sakit, Daren!" rengek Dasha semakin cemberut.
"Kamu cerewet, Sha."
"Kamu nggak suka?!"
"Suka, kok." sahut Daren tersenyum.
"Yaudah, nggak boleh protes!"
"Maaf,"
"Kalau gitu, peluk aku." kata Dasha sambil merentangkan kedua tangannya.
Daren cukup terkejut dengan perkataan gadis itu yang tiba-tiba. Padahal biasanya Daren yang selalu meminta pelukan pada Dasha, namun kini malah Dasha yang memintanya.
"Dengan senang hati," sahut Daren cengengesan.
Daren mencondongkan tubuhnya ke arah Dasha, kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
"Daren, geli!" sentak Dasha spontan mendorong tubuh Daren, ia merengut kesal karena menyadari bahwa cowok itu baru saja menggigit telinganya.
"Maaf," kata Daren tersenyum tipis.
Melihat wajah cowok itu spontan membuat Dasha gemas, Dasha lantas membalas perbuatan Daren barusan dengan menggigit tangan cowok itu hingga membuat Daren memekik tertahan.
"Sakit, Sha!" sentak Daren meringis kesakitan.
"Biarin!" sahut Dasha spontan buang muka.
Daren menghela napasnya kemudian tersenyum sambil menyentuh puncak kepala Dasha, lalu saling menempelkan dahi mereka.
Detik selanjutnya mereka saling tertawa, merasa bahagia karena saling mencintai satu sama lain. Setidaknya untuk saat ini, Daren hanya ingin menikmati setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap harinya bersama gadis itu.
"Daren, kamu mau sesuatu? misalnya barang atau apapun itu yang kamu mau."
Deg!
Daren cukup kaget dengan pertanyaan Dasha yang kembali mengingatkannya dengan masa lalu, karena saat itu Dirga juga pernah mengatakannya.
"Ada," jawab Daren mengangguk.
"Apa?"
Setelah terdiam sesaat, Daren kemudian mengulum senyumnya dan menatap lekat wajah Dasha.
"Aku mau main piano untuk kamu."
...•••••...
__ADS_1