
..."Saat aku sadar bahwa tidak ada tempat untuk menetap, kamu hadir menjadi satu-satunya alasan aku bahagia, di duniaku yang tanpa warna."...
....... ...
Satya baru saja keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian, lalu berjalan menuju teman-temannya yang berada di ruang tamu.
Setelah pulang sekolah, mereka semua kembali mengerjakan tugas yang diberikan wali kelas mereka. Dan mengharuskan mereka untuk mengerjakannya secara berkelompok.
Kelompoknya sekarang beranggotakan 5 orang, tidak lain ialah Dasha, Ayara, Satya, Lena, dan Tara. Dan secara sukarela Satya mengusulkan mereka semua agar mengerjakan tugas kelompok dirumahnya saja.
"Mana si Tara?" tanya Satya sembari duduk di samping Ayara.
"Ke minimarket, gue suruh beli makanan. Habisnya di rumah Lo nggak ada makanannya sama sekali!" Lena menggerutu kesal, lantas membuat Satya terkekeh pelan.
Satya sempat menoleh ke arah Ayara, gadis itu fokus berkutik dengan laptop di pangkuannya.
"Dasha mana?" tanya Satya penasaran.
Ayara menoleh, "ke belakang rumah lo tadi." jawabnya.
"Ngapain?"
"Entah, sambil bawa gayung dia barusan."
"Mau ngapain dia, njir? mau mandi di kolam renang gue pake gayung?" Satya tercengang, lantas segera bangkit dari duduknya.
.
.
.
.
Dua Minggu sudah berlalu. Sisa waktu sandiwara ini, kini tersisa setengah bulan lagi. Dasha ingin segera berhenti sebelum waktunya, tapi selalu saja saat melihat cowok itu, membuatnya ragu.
Dasha tidak ingin kebohongan ini terus berlanjut, tapi bagaimana ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Daren? karena seiring berjalannya waktu, Dasha mulai terbawa suasana permainan ini!
Cowok itu, benar-benar manja pada Dasha dan tidak ingin melepaskannya. Apa yang harus ia lakukan? bagaimana jika Dasha mulai benar-benar ... menyukai cowok itu?
"Ah! nggak akan! ini cuma game, jangan baper!" gumam Dasha, ekspresinya berubah serius.
Dasha mulai menurunkan pandangannya, menatap gayung yang berisi banyak ikan di dalamnya.
Dan ikan-ikan ini Dasha ambil dari akuarium yang ada di ruang tamu milik Satya, karena merasa kasihan pada ikan itu yang harus berada di akuarium hingga tidak bisa berenang dengan leluasa, Dasha memutuskan untuk menolongnya.
"Ikan, gue tau nasib Lo kayak gue. Rasanya sangat sesak harus berada di tempat yang sempit hingga membuat kita merasa terkekang, iya 'kan?" Dasha mulai berbicara sendiri, lebih tepatnya saling berbagi isi hati pada ikan-ikan dihadapannya.
"Karena gue baik, gue bakal lepasin kalian semua ke tempat yang lebih besar daripada akuarium itu!" perlahan Dasha mulai melepaskan para ikan itu ke dalam kolam renang, sehingga mereka akan berenang lebih leluasa daripada yang sebelumnya.
Satya yang terkejut dengan perbuatan gadis itu spontan berlari menghampiri Dasha.
"Itu ikan emak gue, kampret! kenapa Lo buang?!"
Kedatangan Satya yang tiba-tiba membuat Dasha tersentak kaget, spontan menoleh ke arahnya.
"Nggak gue buang! cuma gue pindahin ke tempat yang lebih besar, jadi mereka nggak sesak lagi di dalam akuarium yang kecil itu! harusnya Lo berterimakasih sama gue, karena gue udah bantuin ikan Lo itu untuk bebas menikmati hidup."
Mendengar Dasha yang terus cerocos panjang lebar, Satya tidak berkutik mendengarnya.
"Gue bilangin emak gue Lo! gue adukan!" ancam Satya dramatis, dan menunjuk tepat di wajah Dasha.
"Laporin aja sana! dasar bocah!"
Setelah saling berpandangan sesaat, Satya spontan berlari pergi ingin mengadukannya, sambil berteriak memanggil mamanya yang lantas membuat Dasha mengejarnya.
"Emak! mak! emak!"
"Bocah sialan!"
Di saat mereka saling kejar-kejaran itu, Dasha sempat-sempatnya melepaskan sandalnya kemudian melemparkannya hingga tepat sasaran mengenai belakang kepala Satya.
"Sakit, kampret!"
"Berhenti Lo, kampret!"
Berulang kali ia berdecak kesal, gemas dengan Satya yang sempat-sempatnya mengejeknya. Setelah berhasil mengejar cowok itu, Dasha langsung menjambak rambut Satya hingga membuat cowok itu berteriak kesal.
"Ngapain main jambak, sinetron Lo?!"
"Rasain Lo! dasar anak mami!"
Tawa Satya meledak melihat ekspresi kesal gadis itu, seraya mencengkram pergelangan tangan Dasha yang masih menjambak rambutnya.
Tanpa mereka sadari, pertunjukan yang mereka lakukan malah di tonton oleh teman-temannya.
"Sha!" Lena memanggil, kompak membuat Dasha dan Satya menoleh.
Ia melepaskan tangannya, langsung menjauh dari Satya karena terkejut melihat kehadiran Daren. Cowok itu baru saja datang bersama Tara, dan malah sudah disuguhkan oleh pertengkaran kedua orang itu barusan.
Dasha menunjuk Daren dengan gemetar, ia mendadak panik. Rasanya seperti ia baru saja sedang ketahuan selingkuh dengan cowok lain.
__ADS_1
"Kok bisa ada dia? disini ...." Dasha menatap Tara, meminta penjelasan pada gadis itu.
Tara menghela napasnya seraya menoleh ke arah Daren, cowok itu mulai menurunkan tudung hoodie dari kepalanya dan menatap Dasha dengan ekspresi datarnya.
"Gue ketemu dia pas belanja di minimarket, karena dia pacar Lo, jadinya gue ajak aja dia sekalian ke sini." cerita Tara diselingi kekehan diakhir kalimatnya, "berterima kasihlah sama gue, oke?" lanjutnya lagi sambil mengangkat jempolnya.
Dasha menghela napasnya seraya memijit pelipisnya, "makasih!" gumamnya pelan.
Makasih buat gue terlihat kayak habis ketahuan selingkuh! Niat Tara memang baik, tapi masalahnya Dasha tidak memberitahu pada Daren bahwa dirinya ada kerja kelompok di rumah Satya.
Lihat saja wajah Daren yang tanpa ekspresi itu, semakin membuat Dasha gelisah saja.
"Ekhem!" Satya berdehem, memecahkan keheningan sesaat di antara mereka. "Ayo, lanjut nugas biar cepat selesai." titahnya, mereka semua mengangguk setuju.
...••••••...
Tiga jam sudah berlalu, dan hari sudah semakin sore. Untung saja tugas mereka kali ini hampir selesai, meskipun Tara dan Lena sudah tumbang duluan karena kelelahan.
Tinggal menunggu Ayara saja menyelesaikan resuman di laptopnya, sedangkan Dasha dan Satya masih sibuk mengerjakan tugas dari Pak Edi yang mereka belum selesaikan di sekolah.
"Eh Sat, ini gimana cara jawabnya?" Dasha mendekatkan wajahnya pada Satya yang duduk di sampingnya, lantas membuat cowok itu sedikit kaget.
Seraya mengulum ujung penanya dan mengamati jawaban punya Satya, Dasha lantas meletakkan tangan kirinya di atas meja. Daren yang duduk di depan Dasha, dan sedari tadi memperhatikan perlahan ingin meraih tangan kiri gadis itu.
Namun sebelum ia berhasil memegang tangan Dasha, gadis itu tiba-tiba menjauhkan tangannya karena garuk-garuk kepala mendengarkan penjelasan dari Satya.
"Paham?" tanya Satya.
"Kagak! penjelasan Lo belibet, otak gue yang dangkal ini makin susah nangkapnya!" kesal Dasha.
Ekspresi Daren mendadak murung. Selama gadis itu mengerjakan tugas kelompoknya, Daren hanya diam dan menunggunya sampai selesai. Ia sudah menjadi anak yang baik dengan tetap diam tanpa mengganggu gadis itu, meskipun harus menahan kesal karena melihat Dasha dan Satya sesekali tertawa bersama karena sebuah candaan.
Ekor mata Dasha melirik Daren saat cowok itu berdiri, membuatnya terperangah menatap cowok itu yang tanpa ekspresi. Tidak seperti Daren yang biasanya selalu tersenyum ramah.
"Mau kemana?" tanya Dasha heran.
Tanpa menatap gadis itu, Daren hanya tersenyum simpul dan menurunkan pandangannya.
"Aku mau nunggu diluar aja." jawab Daren, Dasha lantas mengangguk.
"Oke, 15 menit lagi aku selesai. Tapi kalau mau pulang duluan, pulang aja."
Daren mengangguk tanpa menjawab perkataan gadis itu, kemudian melenggang pergi menuju kursi yang ada di teras rumah Satya.
15 menit telah berlalu, sesuai ucapannya Dasha lantas membereskan buku-buku dan memasukannya ke dalam tas. Ia kemudian bangkit dan memperhatikan teman-temannya yang juga sudah selesai merapihkan barang-barangnya.
"Oke, gue pulang duluan, ya. Kasihan dia udah nunggu lama." pamit Dasha seraya tertawa renyah.
"Ayo pulang." seru Dasha.
Daren mengangguk seraya bangkit dari duduknya, mereka berdua mulai berjalan berdampingan meskipun sedari tadi Daren enggan menatap ke arah Dasha.
"Harusnya kamu nggak usah nunggu, harusnya langsung pulang aja! apalagi pas Tara ngajak waktu itu, 'kan gini jadinya! lama kamu nunggunya! pasti bosan, 'kan?" Dasha menoleh, menatap wajah Daren dari samping.
Namun cowok itu hanya tersenyum dengan menundukkan wajahnya, tanpa menyahut ucapannya.
"Kamu ken--- ah!? hujan!"
Belum selesai Dasha bertanya, mereka malah dikejutkan dengan hujan deras yang mengguyur dengan tiba-tiba. Lantas membuat Dasha dan Daren berlari menuju halte bus untuk berteduh sejenak di sana.
Dasha menggigil kedinginan seraya tertawa renyah tanpa sebab, dan saat ia menoleh ke arah Daren, ia terkejut karena cowok itu tiba-tiba melepaskan hoodie-nya dan memberikannya pada Dasha.
"Terus kamu gimana?" tanya Dasha kebingungan.
Daren menggeleng, "aku nggak papa." jawabnya seraya mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan.
Merasa tersentuh dengan apa yang Daren lakukan, Dasha lantas tersenyum seraya memakai hoodie milik cowok itu yang malah terlihat oversize padanya.
Dasha diam-diam tersenyum, "wangi Daren." gumamnya sangat pelan.
"Rumah kamu dekat, 'kan, dari sini?" tanya Daren tanpa menoleh pada Dasha, gadis itu mengangguk.
"Iya."
"Kita terobos aja, ya? soalnya kalau nunggu kayaknya bakal lama, nanti kemaleman kamu pulangnya." tanpa mendengar jawaban dari Dasha, Daren langsung menarik tangan Dasha.
Dan membuat mereka berlari di sepanjang trotoar jalan, menuju rumah Dasha. Tanpa memperdulikan hujan yang mengguyur mereka berdua dengan derasnya.
...••••••...
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Dasha. Setelah mengantarkan gadis itu, Daren berniat ingin langsung pergi. Namun Dasha yang merasa tidak enak hati, lantas mencegatnya.
"Mau masuk dulu?" tanya Dasha khawatir, untungnya hari ini mamanya itu sedang tidak ada di rumah jadi Dasha tidak perlu khawatir jikalau Daren malah mengetahui bagaimana keadaan kacau di rumahnya.
Daren menggeleng pelan, "nggak, aku mau langsung pul--- hachiw! pulang--- hachiw!"
Dasha terhenyak saat mendengar cowok itu bersin berulang kali, mau tak mau Dasha harus memaksanya masuk ke dalam untuk mengeringkan pakaian dan rambutnya agar tidak sakit besok harinya.
"Ayo, keringkan pakaian sama rambut kamu dulu. Kalau nggak, nanti kamu sakit." Dasha menarik tangan Daren, namun cowok itu berulang kali menolaknya.
"Nggak usah ... aku nggak papa!"
__ADS_1
"Daren!" sentak Dasha, ia mulai kesal pada cowok itu. "Jangan keras kepala!"
Akhirnya mata mereka saling bertemu setelah Daren yang berulang kali enggan untuk menatapnya. Detik selanjutnya Daren berekspresi murung, kemudian mengangguk pasrah karena melihat ekspresi marah di wajah gadis itu.
.
.
.
.
Dasha akhirnya bisa bernapas lega setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu, karena Daren sedang ada di sana.
Ia kira cowok itu sudah selesai mengeringkan rambutnya, namun saat Dasha sudah sampai di sana ia cukup terkejut melihat Daren yang hanya terduduk diam dengan handuk kecil yang masih ada di atas kepalanya.
Cowok itu menunduk murung, seperti ada yang ia pikirkan. Dasha lantas berjalan menghampirinya.
"Sini aku bantu keringkan rambut kamu."
Daren tersentak tersadarkan dari lamunannya saat Dasha berdiri tepat di hadapannya, sambil membantu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Deg! deg! deg!
Jantung Daren mendadak berdegup kencang karena gadis itu sangat dekat dengannya. Membuat Daren ingin langsung memeluknya, namun niatnya itu ia urungkan karena suasana hatinya sekarang.
"Kamu kenapa? dari tadi diam aja, punya mulut, 'kan?" tanya Dasha, ia mulai menatap Daren dengan ekspresi yang membuat nyali cowok itu menciut.
Daren mengangguk dengan polosnya, "punya."
"Kalau gitu, kenapa diam aja? bicara apa kek! kalau kamu nggak bicara, aku ngerasa kayak lagi ngomong sama patung!" Dasha mulai mengomel setelah selesai mengeringkan rambut cowok itu.
Dasha melempar handuk di tangannya ke sembarang arah, kemudian bertolak sebelah pinggang seraya menatap Daren penuh selidik.
Bukannya menyahut, Daren malah mendongak menatapnya dengan tatapan yang memelas. Lantas membuat Dasha menghela napasnya, dari penglihatannya sekarang cowok itu terlihat seperti anak kucing yang lucu.
"Dasha, aku nggak bisa terus-terusan marah kalau lihat wajah kamu." kata Daren akhirnya mulai berbicara.
Dasha mengernyitkan keningnya, "hah? jadi dari tadi kamu marah sama aku?" tanyanya, cowok itu mengangguk.
"Iya."
"Kenapa? emangnya aku salah apa?" Dasha kebingungan, memangnya apa yang sudah ia lakukan pada cowok itu?
Daren menunduk murung, ternyata gadis itu tidak peka hingga tidak bisa menyadari bahwa dirinya sedang marah.
"Kamu sama dia ... kelihatan dekat. Aku ...," Daren menggantungkan ucapannya, seraya mendongak menatap Dasha yang masih berdiri di hadapannya. "Aku nggak suka lihatnya."
Dia? Dasha mulai berpikir siapa orang yang Daren maksud, detik selanjutnya ia terperangah dan baru menyadari bahwa orang yang sedang Daren bicarakan itu ialah Satya.
Eh? hanya karena melihat dirinya bersama Satya, cowok itu menjadi marah dan mendadak jadi pendiam dari biasanya? apa itu artinya, cowok di hadapannya sekarang ini ... sedang cemburu?!
"Cemburu?!" tanya Dasha spontan.
Daren terhenyak sesaat menatap Dasha, detik selanjutnya ia langsung mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Mung---kin." lirih Daren.
"Ooh! bilang dong kalau kamu nggak suka aku dekat sama cowok lain! kalau kamu nggak bilang, aku mana tahu!"
"Kamu yang nggak peka ...."
"Iya deh, maafkan pacarmu yang nggak peka ini, oke?"
"Hm." Daren berdehem sebagai jawabannya, meskipun masih ada sedikit perasaan cemburu jika mengingat kejadian saat Satya dengan berani memegangi tangan pacarnya!
Tawa Dasha menggema di rumahnya yang sepi itu, bahkan semua lampu yang ada di ruangan di matikan, kecuali lampu di ruang tamu yang sekarang mereka tempati. Dan Daren baru menyadarinya sekarang bahwa hanya ada mereka berdua di rumah yang sebesar ini, membuatnya bertanya-tanya kemana ayah dan ibu Dasha? apa mereka sedang bekerja? Daren tidak mengetahui tentang latar belakang gadis itu, karena Dasha yang tidak pernah memberitahukan atau cerita apapun tentang keluarganya.
"Aku mau pulang ya, nggak enak lama-lama ada disini." Daren lantas bangkit dari duduknya seraya melenggang pergi menuju pintu.
Dasha mengangguk sambil mengekorinya dari belakang, "pulangnya gimana?" tanya Dasha heran, untungnya hujan juga sudah reda jadi ia tidak perlu khawatir cowok itu akan basah kuyup lagi.
"Naik taksi."
Dasha ber-oh ria sambil mengangguk. Ia sudah berdiri di depan pintu, memandangi Daren yang sudah bersiap untuk pergi.
"Hati-hati, ya." kata Dasha, Daren lantas membalikkan badannya dan menatap Dasha dengan senyuman hangatnya.
"Setiap kali bertemu kemudian berpisah, aku hanya akan semakin mencintai kamu, Sha."
Dasha langsung terdiam mendengar perkataan Daren yang tiba-tiba, ia bahkan tidak berkedip memandangi sosok Daren yang tersenyum seperti kilau bulan pada malam hari.
"Karena itu ... stay with me, oke? hm?"
Haaahh ... kesalahan apa yang ia pernah perbuat di masa lalu hingga terjebak dalam situasi seperti ini? mengesampingkan fakta bahwa ini semua hanya permainan, Dasha ingin berlari menghampiri kemudian memeluk cowok yang begitu hangat itu.
Tapi kenapa? semakin hari perasaan ini semakin sulit untuk di pahami, dan rasa bersalah ini juga semakin menghantui.
Dasha ingin berhenti! sekarang juga! ia tidak ingin, menyakiti hati cowok itu lebih dalam lagi.
"Dasha," Dasha tersadarkan dari lamunannya, spontan menatap Daren di hadapannya. "Selamat malam, sayang."
__ADS_1
...••••••...