Love, Then Lost

Love, Then Lost
28- Heartbreak


__ADS_3

"Saya berterima kasih pada kalian berdua karena sudah menyempatkan waktu untuk membesuk Daren. Tapi seperti yang kalian lihat, kondisi Daren semakin memburuk."


Suara rendah dari seorang Dokter muda yang ada di hadapan mereka, baik Ayara dan Satya sama sekali tidak bisa berkutik.


Dirga sudah menceritakan semuanya pada mereka. Tentang keadaan Daren. Setelah mendengar semua itu, mereka sangat terkejut sampai tidak tahu harus berkata apa.


Tapi satu hal yang pasti, kedatangan mereka berdua agar bisa mendukung cowok itu untuk tetap kuat dan tidak merasa takut.


Meskipun sejak kejadian tempo hari di sekolah, Dasha sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di hadapan Daren maupun kedua temannya.


"Gue bener-bener nggak nyangka," ucap Ayara murung, saat mereka berdua sudah keluar dari gedung Rumah Sakit.


Satya lantas menghela napasnya, beberapa saat kemudian kedua tangannya terkepal kuat.


"Gue jadi kesal!" decak Satya berhasil menarik perhatian Ayara.


"Kenapa?"


Satya spontan menoleh, menatap gadis itu dengan serius. "Bisa-bisanya Dasha nggak ngasih tahu kita tentang kondisi Daren!"


Mendengar ucapan cowok itu, Ayara bungkam. Dia tidak bisa membantah karena perkataan Satya barusan memang benar.


"Lo dengar sendiri 'kan dari Dokter tadi, kondisi Daren semakin memburuk ..." ungkap Ayara dengan suara rendahnya, terdengar bergetar.


"Terus Dasha mana!? udah beberapa hari dia nggak masuk sekolah, apalagi muncul di hadapan Daren!" sentak Satya dengan suaranya yang meninggi.


Ayara sempat kaget karena tercengang dengan respon Satya. Lagi-lagi perkataan cowok itu benar. Entah apa yang Dasha lakukan sampai seakan-akan seperti menghilang entah kemana.


Meskipun mereka berdua mencoba menghubungi gadis itu, tetap tidak ada balasan dari seberang sana. Bahkan Ayara sempat pergi ke rumah Dasha, namun orang tuanya malah mengatakan bahwa Dasha sedang tidak ada.


Bohong! Ayara tahu semua itu bohong! gadis itu pasti sedang mengurung diri di dalam kamar, dengan perasaan yang penuh ketakutan dan juga kesedihan.


Dasha pasti sedang menderita.


"Hari ini, ayo kita ke rumah Dasha lagi." kata Ayara menatap Satya dengan ekspresi serius.


Satya spontan mengangguk cepat, "oke! gue udah nggak sabar buat marahin dia!" jawabnya yang sontak saja membuat Ayara kaget.


"Jangan kasar sama cewek, kampret! mau gue pukul, hah?!" ancam Ayara sudah siap dengan kepalan tangannya.


"Ha-habisnya Daren 'kan memerlukan dia, eh dia malah nggak ada!" sahut Satya sambil menggaruk tengkuk lehernya.


"Pokoknya awas aja nanti kalau Lo buat keributan di rumah Dasha, awas aja!"


Satya langsung mendengus, kesal. Mana mungkin Satya berlaku kasar pada seorang perempuan, Satya masih waras karena tahu bahwa semua perempuan itu harus dihormati.


"Iya, cantik."


"Pernah lihat motor terbang ke muka Lo nggak, Sat?"


...•••••...


Sambil berjalan menaiki anak tangga satu persatu, Sonya sesekali menarik napas kemudian menghembuskan perlahan. Rasanya lelah dan berat ketika menaiki setiap anak tangga dengan perutnya yang semakin membesar.


Meskipun begitu Sonya harus melakukannya untuk membujuk anaknya agar bisa keluar kamar. Sebab beberapa hari terakhir ini Dasha mengurung diri di kamar tanpa Sonya tahu apa yang membuat gadis itu seperti merasa sangat frustasi.


"Dasha. Kamu udah bangun 'kan? kalau udah, tolong buka pintunya. Ya?"


Sonya berulang kali mengetuk pintu kamar Dasha. Namun seperti biasa, tidak ada sahutan dari dalam sana.


Sampai sekarang Sonya tidak tahu apa masalah yang membuat Dasha seperti itu. Bahkan meskipun Roland berusaha membujuk gadis itu untuk keluar, hasilnya tetap nihil. Dasha terlalu keras kepala.


"Sayang, Mama nggak tahu apa yang membuat kamu seperti ini. Tapi jangan terus-terusan mengurung diri di dalam kamar, sesekali kamu harus keluar juga untuk menenangkan diri." ucap Sonya dengan suara lembutnya yang penuh kasih sayang.


Dan Dasha masih belum kunjung membukakan pintunya. Terdengar helaan napas panjang dari mulut Sonya, merasa semakin sedih karena memikirkan gadis itu.

__ADS_1


"Dasha, apa kamu tahu? taman bunga camelia yang kamu mau, bunganya sudah mekar lho! ayo keluar dan lihat tamannya, pasti kamu bakal suka!"


Tiga detik ... lima detik berlalu. Sonya kira gadis itu tidak akan membukakan pintunya. Namun setelah sepuluh detik berlalu, pintu kamar itu akhirnya terbuka dan memperlihatkan sosok Dasha yang spontan membuat Sonya tidak berkutik saat menatapnya.


.


.


.


.


Mata gadis itu sedikit menyipit saat menatap langit. Kemudian perlahan ia menoleh menatap ke arah taman bunganya.


Sonya benar, bunga camelia yang ada di taman itu sudah mekar. Dan entah kenapa saat melihat hamparan bunga itu membuat hati Dasha berdenyut, terasa sesak.


Tangan kanan Dasha perlahan terulur, memetik salah satu bunga itu yang berwarna putih. Camelia putih yang mengingatkannya pada cowok itu, seseorang yang berharga untuknya.


Lantas jika berharga, kenapa Dasha seolah menghindarinya? Dasha bahkan tidak keluar kamar selama beberapa hari, atau bahkan mengunjungi Daren di rumah sakit seperti biasanya.


Perasaan yang Dasha rasakan sekarang, sulit dijelaskan. Karena setiap kali memikirkan bagaimana cowok itu terjatuh di hadapannya, membuat sekujur tubuh Dasha gemetar.


"Dasha!"


**Deg**!


Rasanya jantung Dasha sempat berhenti sesaat setelah mendengar suara yang familiar itu memanggilnya. Perlahan Dasha menoleh, tercengang menatap kedua temannya yang berjalan menghampirinya.


Ayara dan Satya. Dasha sudah tahu untuk apa kedua temannya itu berusaha menemuinya, pasti mereka berdua juga sudah mengetahui tentang kondisi Daren.


"Sha," panggil Ayara.


Ayara spontan menggigit bibir dalamnya, menatap iba pada Dasha. Bahkan penampilan gadis itu terlihat kacau, kedua matanya bahkan sembab. Melihatnya saja sudah membuat Ayara mengerti bagaimana sedihnya gadis itu.


"Kami berdua sudah tahu tentang Daren." kata Satya dengan ekspresi sedihnya.


Perlahan Dasha mengulum senyumnya sambil mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya dari kedua temannya.


"Udah beberapa hari Lo nggak masuk sekolah, kami semua khawatir." kata Satya lagi.


Ayara mengangguk setuju, "dan juga, kami baru aja dari rumah sakit. Dokter Dirga bilang----"


"Dia baik-baik aja 'kan?" belum selesai Ayara berbicara, Dasha memotong pembicaraannya.


Menyadari sorot mata Dasha yang terlihat sedih, Ayara lantas berekspresi serius.


"Kenapa Lo nggak pastikan sendiri aja? dengan begitu Lo bakal tahu gimana kondisinya sekarang." jawab Ayara begitu dingin.


Dan terjadi lagi. Hati Dasha kembali berdenyut, terasa sakit. Perasaan ini semakin menyesakkan dada Dasha.


"Gue tanya sekali lagi ... Daren baik-baik aja 'kan ...?" lirih Dasha, enggan menatap mata Ayara.


"Gue tekankan sekali lagi, mending Lo pastikan sendiri aja." kata Ayara penuh penekanan. 


Kedua tangan Ayara sudah terkepal, merasa kesal dengan sikap Dasha sekarang.


Dasha perlahan menunduk, sorot matanya terlihat kosong memandangi setangkai bunga yang dipegangnya.


"Mustahil gue ...."


"Hah?" Ayara terperangah saat mendengar suara Dasha yang terdengar lirih.


"Gue nggak bisa ketemu dia. Gimana gue ngejelasin perasaan ini? saat ngelihat kondisi dia saat itu, gue ... gue takut!" Dasha berusaha memaksakan senyumnya, akhirnya memberanikan diri menatap mata Ayara. "Gue takut nggak bisa ngelihat dia lagi!"


Setelah mendengar perkataan gadis itu, darah Ayara langsung mendidih. Amarahnya kini memuncak, secara tiba-tiba Ayara mencengkram kerah baju gadis itu hingga membuat tubuh Dasha mematung.

__ADS_1


"KALAU TAKUT NGGAK BISA NGELIHAT DIA LAGI, KENAPA BEBERAPA HARI TERAKHIR INI LO MENGHILANG DAN NGGAK MAU KETEMU SAMA DIA, HAH?! BODOH! BODOH! BODOH! BODOH!"


Teriakan Ayara membuat Dasha syok, Satya bahkan tidak berkutik. Sonya serta asisten rumah tangganya buru-buru keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Melihat Ayara yang masih mencengkram kerah baju Dasha, membuat Sonya kaget. Terutama Satya yang sangat panik, padahal gadis itu sempat memperingatkannya untuk tidak membuat keributan. Dan sekarang? siapa yang membuat keributan?


Ayara menggeram kesal, "padahal Daren membutuhkan Lo! bisa-bisanya Lo malah takut! Dokter Dirga bilang kondisi Daren semakin memburuk. Dia kesakitan, Sha! dan Lo sebagai pacarnya malah nggak ada di sampingnya sekarang!?" teriak Ayara di depan wajah Dasha, melampiaskan segala amarahnya yang menggebu-gebu.


Berharap gadis itu mengerti, namun Dasha menepis kasar tangan Ayara hingga terlepas dari kerahnya. Ayara sempat mundur beberapa langkah saat Dasha mendorongnya.


"LO NGGAK NGERTI RASANYA JADI GUE! LO NGGAK PAHAM GIMANA PERASAAN GUE SEKARANG!" sentak Dasha balas meneriakinya.


Ayara tercengang dan tidak berkedip menatap Dasha, kedua mata Dasha merah dan napasnya terengah-engah.


"Kenapa sih dari dulu harus gue yang selalu menderita? kenapa semua orang terlihat bahagia, sedangkan gue ... kenapa harus gue yang menderita?" suara Dasha bergetar, berusaha menahan isak tangisnya.


"Padahal gue kira bersama dia, kebahagiaan bakal terus berpihak pada gue." pertahanan Dasha kini runtuh, air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Dasha perlahan tersenyum getir sambil menatap Ayara. "Sekarang gue tanya sama Lo, Aya. Kenapa semesta jahat banget? mau rebut kembali kebahagiaan yang baru sebentar gue rasain ini?"


Deg!


Desiran aneh menjalar di sekujur tubuh Ayara setelah mendengar curahan hati gadis itu. Tidak hanya dirinya, semua orang yang mendengarnya pun terlihat terkejut mendapati bagaimana sosok gadis itu yang sangat terpuruk pada kesedihannya.


"Gue nggak sanggup ngelihat dia, mustahil gue nggak akan nangis karena dia! gue takut banget ... gue takut nggak bisa ketemu dia lagi."


"Jangan egois, Sha!" sentak Ayara menatap tajam pada Dasha.


"Gue----"


Ayara spontan menyela, "Lo takut!? Daren lebih takut!"


Tepat sasaran! perkataan Ayara barusan berhasil membuat tangis Dasha berhenti. Dasha tidak berkedip menatap wajah Ayara, ucapannya barusan seakan menyadarkan Dasha.


"Yang paling takut disini itu Daren, bukan Lo! Dokter Dirga bahkan pernah bilang bahwa Daren pernah mengalami insomnia karena terus-menerus kepikiran soal sisa waktunya! dia lebih menderita, Sha!"


Tertampar! dengan semua perkataan Ayara yang menusuk ulu hatinya. Detik selanjutnya Dasha terperangah, teringat perkataan Daren. Saat cowok itu menangis ketakutan sambil duduk di salah satu anak tangga, ketika Daren menghindarinya saat berada di rumah sakit.


"Setiap malam aku selalu mimpi buruk. Aku mimpi terjatuh dalam kegelapan tanpa batas, saking takutnya setiap kali aku bangun rasanya tenggorokanku tercekat."


"Tapi sejak ada kamu, rasanya mimpi itu udah nggak menakutkan. Aku ngerasa tenang ... setiap kali ... ada didekat kamu ... sampai rasanya ... aku ... bisa ... tidur ... kapanpun aku mau ...."


Dasha langsung membekap mulutnya karena syok, tidak percaya dengan semua perkataan Ayara yang berhasil menyadarkan keegoisannya.


Ayara benar. Dirinya sangat bodoh dan juga egois!


"Jangan terus-terusan lari lagi dari kenyataan, Sha. Mulai sekarang Lo harus bisa menerima semuanya. Pergi dan temui Daren, Sha. Daren udah nunggu."


Setelah mengatakannya, Ayara langsung melenggang pergi diikuti oleh Satya yang terlihat gelagapan. Dapat Ayara dengar suara tangis Dasha yang pilu itu, bahkan Sonya dan beberapa orang lainnya berusaha untuk menenangkannya.


Saat dirasa sudah jauh dari rumah Dasha, langkah kaki Ayara terhenti. Satya mengernyit heran, tangannya terulur ingin menyentuh pundak Ayara. Namun tangis gadis itu malah mengagetkannya.


"GUE EMANG NGGAK TAHU RASANYA JADI DIA GIMANA! GUE NGGAK TAHU SEBERAPA BANYAK PENDERITAAN YANG UDAH DIA RASAIN! GUE EMANG NGGAK NGERTI!" tangis Ayara akhirnya pecah juga, setelah bersusah payah mempertahankan topengnya di depan Dasha.


Meskipun Ayara sempat kasar pada sahabatnya itu, tapi melihat bagaimana Dasha menangis, sahabat mana yang juga tidak ikut menangis saat melihat sahabatnya menangis?


"Ayara," panggil Satya murung.


"Kalau bisa harusnya semua penderitaannya kasih aja ke gue! gue nggak papa kok! gue ikhlas! asalkan sahabat gue bisa bahagia lagi! asalkan sahabat gue bisa tersenyum lagi!"


Dada Satya ikut merasa sesak melihat tangisan gadis itu. Kepedulian Ayara dan kasih sayangnya untuk Dasha, Ayara sangat tulus. Dulu Satya pernah mendengar cerita tentang masa lalu Ayara yang pernah dibully saat SMP. Disaat semua orang menjauhinya, Dasha dengan tulus mengulurkan tangannya dan mau berteman dengan Ayara meskipun semua orang memusuhinya.


"Gue----" belum selesai Ayara berbicara, ia tersentak saat tiba-tiba Satya merangkulnya.


Cowok itu memeluknya untuk menenangkannya. Lantas membuat hati Ayara luluh, dan isak tangisnya semakin menjadi.


"Gue cuma mau bilang, Lo udah berjuang dengan baik, Ayara. Dasha pasti udah mengerti dan mau menerima semuanya."

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2