
..."Cintai seseorang yang mencintaimu apa adanya, tanpa membuatmu menjadi orang lain untuknya."...
........ ...
Pagi ini Dasha sudah berseragam rapi, ia bahkan sengaja mengenakan rompi berwarna cream miliknya. Seraya menenteng tas ranselnya, Dasha berlari kecil menuruni anak tangga.
Senyum sumringah yang tercetak di bibirnya spontan redup, saat ia melihat beberapa pakaian yang berceceran di lantai. Itu pakaian milik mamanya dan juga pakaian milik seorang lelaki.
Ekspresi Dasha berubah serius, pasti mamanya itu habis melakukan hal yang menjijikan tadi malam tanpa sepengetahuannya.
Ekor mata Dasha melirik ke arah pintu kamar mamanya, "sialan." umpat Dasha pelan.
Ia kembali melangkahkan kakinya, melenggang pergi keluar dari rumah. Saat melewati mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya, lantas terlintas suatu pikiran jahil yang membuat Dasha langsung tersenyum miring.
Mobil itu tidak lain ialah milik kekasih mamanya, dan sekarang Dasha akan memberi pelajaran kepadanya!
Gadis itu mengambil beberapa batu besar yang ada di sekitarnya, kemudian tanpa ragu langsung menghujani mobil mewah itu dengan batu-batu yang Dasha lempar.
PRANGG!!!
Satu persatu kaca mobil itu retak, Dasha sudah tidak segan-segan lagi untuk menghancurkannya.
Detik selanjutnya tawa Dasha meledak, merasa lucu dengan apa yang ia barusan lakukan.
"Hei! apa yang kamu lakukan pada mobil saya?!"
Akhirnya sang pemilik mobil itu keluar juga memperlihatkan dirinya, lantas membuat Dasha menoleh dan spontan mengejeknya dengan ekspresi meledek.
"I HATE YOU, OM BURHAN!"
Lelaki itu terlihat kesal, "kurang ajar! nama saya bukan Burhan! dan lagi, tanggung jawab kamu karena telah menghancurkan mobil saya!"
Dasha tidak menghiraukannya, ia lalu berlari pergi dengan tawa yang masih di dengar oleh lelaki itu.
...••••••...
Setelah bel sekolah berbunyi, seluruh murid kelas 12 IPS 4 mulai berhamburan keluar kelas menuju lapangan sekolah. Mereka semua sudah siap dengan pakaian olahraga dan kini tengah menunggu guru penjaskes mereka untuk memberikan arahan pada pelajaran hari ini.
Dengan ekspresi serius seraya menguncir rambut panjangnya, Dasha sempat memikirkan sesuatu. Namun detik selanjutnya ia kembali tersenyum sambil berlari menghampiri teman-temannya yang sedang bermain basket.
Tidak ada gunanya ia bersedih memikirkan apa yang dilakukan oleh mamanya itu, toh ia sudah terbiasa menghadapi penderitaan ini sejak dulu. Karena itu mungkin air matanya sudah lama mengering.
"Gue mau main." kata Dasha ikut nimbrung main basket dengan teman-temannya.
Satya lantas mengoper bola basket ke arah Dasha, dan gadis itu langsung menerimanya.
"Emang bisa?" tanya Satya meremehkan.
"Gini-gini gue ketua basket waktu SMP." jawab Dasha tersenyum miring.
Satya terhenyak, "serius?"
"Tapi bohong!" sahut Dasha, tawanya meledak.
Tanpa basa-basi lagi Dasha segera mendribble bola basketnya menuju ring, lantas membuat Satya dan teman-temannya yang lain berusaha menghalang-halangi gadis itu.
Namun dengan gesit Dasha selalu bisa menghindarinya, ia kemudian berhenti di depan ring dan dengan setengah melompat kemudian melemparkan bola basketnya hingga berhasil masuk ke dalam ring dan mencetak poin.
Semua teman sekelasnya bersorak dengan kompak, lantas membuat Dasha tersenyum lebar. Tidak mereka sangka gadis itu jago juga dalam olahraga.
"Aduh, keren banget gue!" kata Dasha seraya melirik Satya yang ternganga kaget karenanya.
"Cih! sombong amat!" decak Satya kesal.
Tawa Dasha semakin meledak, kemudian kembali mendribble bola basketnya dan lagi-lagi berhasil mencetak poin.
Sementara itu di koridor sekolah. Daren bersama Azka sedang berjalan, berniat untuk pergi ke kantin. Namun saat melihat ke arah lapangan dan mendapati Dasha sedang bermain basket lantas membuat langkah Daren terhenti.
Mata Daren tidak berkedip memandangi sosok gadis itu dari kejauhan. Benar-benar gadis yang berjiwa bebas dan selalu ceria, seperti matahari yang menghangatkan sekitarnya.
Azka lantas menoleh, mengernyit heran melihat Daren yang sedang tersenyum sambil memperhatikan ke arah lapangan. Lantas Azka mengikuti arah pandang cowok itu, dan cukup terkejut mendapati Dasha sedang tanding basket dengan para siswa.
"Cemburu, ya?" tanya Azka spontan.
Daren menggeleng, "cuma senang aja, karena dia juga kelihatan senang." jawabnya.
Azka mendengus, "sebenarnya yang cemburu disini itu gue! sialan, iri banget gue! beruntung banget Lo bisa dapat bidadari kayak dia!" mendengar ucapannya Daren lantas menatap sinis pada Azka, spontan membuat tawa Azka meledak.
"Sebaiknya nyerah aja, dia punya aku." ucap Daren, ekspresinya berubah serius.
"Serah gue lah, lagipula semua orang punya hak buat menyukai meskipun dia udah jadi milik orang lain!" sahut Azka, Daren langsung terdiam.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut Daren, cowok itu lantas menunduk sebentar kemudian kembali menatap wajah Azka yang terlihat kebingungan.
"Eh, itu siapa?" Azka menepuk pundak Daren, kemudian menunjuk seseorang yang ada di belakang Daren dengan dagunya.
Daren lantas menoleh, kemudian ber-oh singkat memperhatikan seorang lelaki paruh baya yang Azka maksud. Lelaki yang mengenakan jas hitam dan setelan berwarna putih itu, berjalan memasuki ruangan kepala sekolah.
"Ah itu, dia donatur yang baru-baru aja mendonasikan banyak uangnya buat sekolah kita." kata Daren menjelaskan, kemudian kembali menoleh ke arah lapangan.
Daren terhenyak memperhatikan ke arah lapangan, lebih tepatnya kebingungan saat seorang anak kecil berjalan dengan kaki mungilnya menghampiri Dasha yang sedang bermain basket.
Dasha yang menyadari kehadiran gadis kecil itu lantas melempar senyumnya, merasa gemas tatkala gadis kecil itu sedang menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Ka---kak can---tik! cantik!" gadis kecil yang berumur sekitar 4 tahun itu mengangkat tangannya, dan mendongak menatap Dasha yang berdiri di hadapannya.
Dasha lantas berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis kecil yang imut itu dengan gaun berwarna merahnya.
"Halo, kamu siapa?" tanya Dasha ramah, kemudian menoleh ke arah teman-temannya yang juga penasaran terhadap gadis kecil itu. "Adek siapa nih? kayaknya tersesat." tanya Dasha heran.
Baik Ayara maupun Satya lantas menggeleng tidak tahu, juga teman sekelasnya yang lain.
"Imut banget! karung! ambil karung oi! mau gue culik." teriak Satya yang sontak saja membuat semua teman sekelasnya tertawa.
"Gilak! lolicon!" sahut salah seorang temannya yang lain.
__ADS_1
Tawa Tara meledak, "pedofil! Satya jadi pedofil!" sambatnya lantas membuat Satya mendelik kesal.
Dasha ikut tertawa melihat Satya yang menjadi bulan-bulanan semua teman sekelasnya. Namun ia malah tersentak kaget saat gadis kecil itu malah menyentuh wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.
Dasha melempar senyumnya, "kamu sama siapa ke sini?" tanyanya pada gadis kecil itu yang sedari tadi terus berbinar-binar memandanginya.
Selang beberapa detik gadis kecil itu tersenyum lebar, "sama papa!" jawabnya terdengar antusias.
Mendengarnya membuat mereka semua tersenyum manis, gadis kecil itu sangat imut sehingga membuat mereka semua gemas.
Kini giliran Dasha yang menyentuh wajah gadis kecil itu, kemudian mencubit pipinya dengan gemas.
"Papanya mana?" tanya Satya sembari ikut berjongkok di samping Dasha, lalu menyodorkan sesuatu di tangannya. "Mau permen, nggak?" tanya Satya tersenyum.
Gadis kecil itu menggeleng takut, spontan memeluk Dasha.
"Kata papa, kalau ada yang kasih pelmen, belalti dia penculik! kakak, tolong! ada pencu---lik!"
Tawa mereka kembali meledak, tidak kuasa menatap ekspresi Satya sekarang. Kasihan sekali cowok itu malah dikira penculik, padahal berniat baik.
Satya mendengus dengan ekspresi sedih seraya berdiri. Kemudian menoleh tatkala Lena dan Tara menepuk-nepuk punggungnya.
"Sabar, ya." kata Lena berekspresi seolah iba.
"Emang sih, muka Lo kayak om-om penculik!" timpal Tara, Satya lantas mendelik kesal.
"Kampret!"
Setelah selesai menertawakan cowok itu, Dasha kembali menatap gadis kecil itu yang sedang senyam-senyum memandanginya. Sepertinya gadis kecil itu sangat menyukainya.
"Namanya siapa?" tanya Dasha penasaran.
Gadis kecil itu tersenyum antusias, "Em---"
"Emma."
Deg!
Gadis kecil yang bernama Emma itu spontan menoleh, ekspresinya berubah sumringah seraya berlari kecil menghampiri seorang lelaki paruh baya yang tidak lain ialah ayahnya.
"Papa!"
Deg! deg! deg!
Pa---pa? Batin Dasha. Ia lantas berdiri kemudian menatap lelaki yang gadis kecil itu panggil dengan sebutan papa. Melihat lelaki itu, suatu desiran aneh tiba-tiba menjalar ke sekujur tubuhnya.
Kedua tangan Dasha mengepal kuat, jantungnya bahkan berdegup kencang. Dasha mematung ditempat, tidak berkedip menatap wajah lelaki itu yang sangat familiar.
Iya, sejak kecil ... sejak kecil Dasha tidak akan pernah lupa. Bagaimana Dasha bisa lupa? ia akan selalu mengingat wajah lelaki itu. Yang telah berselingkuh kemudian meninggalkan Dasha dan juga mamanya? awal dari segala bentuk penderitaan yang Dasha rasakan. Bagaimana Dasha bisa lupa? wajah ayahnya.
Dan sekarang, ayahnya itu muncul kembali di hadapannya setelah sekian lama. Bukan sebagai ayahnya, tapi sebagai ayah dari gadis kecil itu?
"Haaah ... haaah ...." mendadak deru napas Dasha jadi tidak teratur, dadanya bahkan naik turun.
Ekspresi syok yang gadis itu perlihatkan, lantas membuat Ayara kebingungan. Dan saat ia ingin menyentuh pundak Dasha, gadis itu malah berlari pergi tanpa mengatakan apapun.
"Da---sha?" lelaki paruh baya bernama Roland itu, lantas menoleh dan mengernyit heran.
Nama itu membuatnya kembali mengingat masa lalu.
"Papa! tadi--- tadi Emma ketemu sama kakak cantik! Emma ... Emma mau dia jadi kakak Emma!" gadis kecil itu bercerita antusias dengan ekspresi senangnya.
Melihat anaknya yang terlihat gembira, lantas membuat Roland tersenyum dan mencium pipi Emma berulang kali.
"Oh, ya? siapa namanya?" tanya Roland penasaran.
Emma mendadak cemberut, memanyunkan bibirnya.
"Emma ... Emma lupa nanya! ayo! ayo cari kakak yang tadi! telus Papa suluh dia jadi kakak Emma!"
Roland lantas tertawa renyah, "iya-iya, nanti kita cari kakaknya, ya. Oke?"
Emma mengangguk cepat, "oke!"
...••••••...
"Dasha."
"Papa!"
"Sayang, kamu kemana aja? Papa nyariin."
"Papa! Dasha ... Dasha mau pelmen awan, beliin, ya!"
"Oke! ayo kita beli sekarang."
"Holeeey!!!!"
Dasha spontan menggigit bibir dalamnya, kembali membasuh wajahnya berulang kali dan membiarkan air terus mengalir deras di wastafel.
Ia bahkan tidak menghiraukan tatapan para siswi yang juga ada di toilet, mereka terheran-heran memperhatikan Dasha yang terlihat frustasi saat membasuh wajahnya.
Saat keadaan toilet sepi, Dasha berdecak kesal dan kembali membasuh wajahnya.
"Papa?" lirih Dasha seraya memandangi wajahnya di depan cermin besar yang ada di hadapannya sekarang. Detik selanjutnya ia tertawa kecil, lebih tepatnya menertawakan keadaannya sekarang.
Syukurlah ayahnya itu sudah bahagia, bersama keluarga kecilnya yang baru. Dan yang tersisa, hanya Dasha yang selalu menderita.
"Sial! sial! sial!"
Dasha mengumpat, seraya memukul cermin di hadapannya berulang kali.
"Kenapa baru muncul sekarang?! setelah gue berusaha buat ngelupain! gue udah berusaha! kenapa malah membuka luka lama?! kenapa!? kenapa!? kenapa harus kembali lagi ... udah cukup ... gue capek ... gue nggak mau nangis lagi ...."
Mata Dasha memerah, namun ia tidak menangis. Lebih tepatnya, ia berusaha agar tidak menangis. Kalaupun menangis, nggak akan merubah segalanya. Itu hanya akan membuatnya semakin putus asa!
__ADS_1
Dasha menghela napasnya, kembali memperhatikan wajahnya di cermin. Ia lalu tersenyum kecut sambil mengepalkan tangannya.
"Gue mikir apa sih? gue nggak perlu frustasi kayak gini. Lagian, pasti dia nggak bakal ngenalin wajah anaknya lagi. Itu karena, dia udah ninggalin gue dari kecil, dia nggak bakal ingat wajah gue sekarang. Iya, 'kan? gue benar, 'kan?"
Selalu bertanya-tanya pada sosok dirinya dari balik cermin, kira-kira seperti apa ia sekarang? ketika ia memikirkan itu, detik selanjutnya Dasha kembali tersenyum.
Bukan berarti ia akan kembali baik-baik saja, ini hanya sebuah kelemahan yang bisa ia lakukan.
"Sudah cukup ...." lirih Dasha seraya melenggang pergi keluar dari toilet.
Ia berjalan dengan menundukkan wajahnya di sepanjang koridor, seraya melepaskan ikat rambutnya, kemudian menghela napasnya.
Dasha sudah tidak ingin memikirkan apapun lagi, pikirannya sudah terlalu lelah untuk kembali menambah beban berat di hati.
"Papa! itu dia! Kakak can---tik!"
Deg!
Langkah Dasha spontan berhenti saat gadis kecil itu tiba-tiba berada di hadapannya, dan menghalangi jalannya.
Gadis kecil bernama Emma itu kemudian menoleh ke belakang, berulang kali memanggil papanya yang sedang sibuk bercengkrama bersama seseorang.
"Papa! sini!" teriak Emma dengan suara imutnya.
Mendengar gadis kecil itu memanggil papanya, lantas membuat seluruh badan Dasha gemetar.
"Ada ... disini ...." lirih Dasha, tidak berkutik memandangi lelaki paruh baya itu yang berada tidak jauh darinya.
Dan ketika Emma kembali mengalihkan pandangannya menatap kakak cantik yang ia maksud, ia lantas memanyunkan bibirnya karena kakak cantik itu sudah tidak ada lagi di hadapannya.
"Mana orangnya, Emma?" tanya Roland yang baru saja datang, lalu mengangkat tubuh mungil anaknya itu.
Emma memanyunkan bibirnya, cemberut. "Udah pelgi! Papa ... lama!"
Roland tertawa renyah, "yaudah, nanti kita cari lagi. Oke?"
Emma mengangguk cepat, "oke!"
...••••••...
Dasha kira rumah adalah tempat yang paling tenang juga aman. Ia pikir begitu, tapi ternyata tidak.
Bahkan rumah pun tidak bisa menjadi tempat teraman untuk tenang, lantas kemana harus pulang?
PLAKKK!
"KURANG AJAR! SIALAN! GARA-GARA KAMU MENGHANCURKAN MOBIL ITU, DIA JADI PERGI MENINGGALKAN SAYA! ANAK SIALAN!"
PLAKKK!
Dasha mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia tidak berkutik saat Selena kembali menganiayanya, bahkan menyakiti perasaannya dengan kata-kata yang serasa menusuk gendang telinga Dasha.
"Kenapa kamu selalu mengacaukan semuanya, hah?! kenapa kamu selalu membuat saya menderita?! saya sangat benci pada kamu! anak sialan! kurang ajar! tidak bisakah kamu diam sehari saja tanpa mencampuri urusan saya! ini hidup saya, kamu tidak ada hubungannya dengan semua ini!" Selena terus berteriak marah kepada Dasha, bahkan mencengkram kedua lengan gadis itu dengan kukunya yang tajam.
Dasha spontan mengigit bibir dalamnya, menahan sakit saat merasakan ujung kuku Selena menancap di kulitnya. Dan saat ekor matanya melirik ke arah lengannya, ia sudah berdarah.
"Kamu bisu?! bicara sesuatu! jangan diam aja, sialan!" teriak Selena lagi.
Setelah terdiam sesaat, Dasha lantas menyunggingkan senyumnya seraya melepaskan cengkraman Selena dari kedua lengannya.
Melihat senyuman dan tatapan hangat dari gadis itu, lantas membuat Selena terhenyak menatapnya.
Dan tanpa mengatakan apapun, Dasha langsung melenggang pergi menuju kamarnya.
Sudah cukup ... berapa lama lagi, ia harus menahan semua gejolak ini yang meminta untuk di luapkan?
Menangis? bahkan sekarang air mata pun enggan untuk mewakilkan emosinya.
Setelah mengunci pintu kamarnya, Dasha meletakkan tas ranselnya di lantai. Padahal baru saja pulang dari sekolah, tapi ia sudah mendapatkan semua perlakuan menyakitkan ini.
Dasha sudah terbiasa, jadi tidak apa-apa, meskipun sakit rasanya.
Beberapa saat kemudian setelah melamun di depan cermin, Dasha tersadarkan saat handphone-nya berdering. Ia lantas mengambil benda pipih itu di sakunya dan terperangah mendapati nama kontak yang tertera di layarnya.
Dasha langsung mengangkat panggilan telepon itu, dan berdehem sebentar untuk mengontrol nada suaranya.
"Halo?"
"Dasha, ayo ketemu besok siang , nanti aku jemput." Suara yang hangat dari seberang sana, berhasil membuat Dasha tersenyum saat mendengarnya.
"Iya, Daren."
"Tunggu aku, ya!" bahkan meskipun lewat telepon, tingkah polos dari cowok itu selalu membuat Dasha ingin ketawa karena gemasnya.
"Iya." sahut Dasha seraya kembali memperhatikan dirinya dari balik cermin.
Kedua lengannya bahkan banyak luka-luka akibat cengkraman dari mamanya itu, dan pipinya bahkan memerah juga sedikit lebam, bagaimana ia bisa bertemu dengan cowok itu besok siang dengan penampilannya sekarang? apa yang harus ia katakan nanti pada Daren? jika melihatnya seperti ini, cowok itu pasti akan sangat mengkhawatirkannya.
"Sha ...."
"Hm?" dehem Dasha saat cowok itu memanggilnya dengan nada lembut.
"I love you more than you know." kata Daren dari seberang sana, mendengar kalimat itu membuat Dasha perlahan menyunggingkan senyuman.
Tidak apa-apa 'kan ia menerima cinta dan kebahagiaan sesaat ini? meskipun sebentar lagi ia akan mengakhiri semuanya dan mengakui kebohongannya pada cowok itu.
Dasha hanya ingin merasakan bahagia yang sesungguhnya bersama cowok itu, meskipun hanya sebentar saja.
"Iya."
"Kamu juga, bilang kayak gitu. Aku mau dengar."
"Hmm, nggak mau! nanti aja!" kata Dasha seraya terkekeh kecil.
"Oke, aku tunggu. Sampai kapanpun itu."
__ADS_1
...••••••...