
Hari itu kelas Daren sedang mengikuti mata pelajaran penjaskes, semua murid berhamburan keluar kelas menuju lapangan, dengan mengenakan pakaian olahraga mereka yang nampak serasi.
Kecuali Daren, ia masih mengenakan seragam yang dibalut dengan rompi berwarna navy miliknya. Daren juga ingin mengikuti pemanasan yang dilakukan semua teman sekelasnya itu sebelum berlari, tapi berhubung ada rapat OSIS terpaksa Daren harus absen pada mata pelajaran kesukaannya itu.
Derap langkah Daren mulai terdengar saat ia berjalan sendirian di sepanjang koridor sekolah, kedua sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk senyuman, Daren merasa senang tatkala memikirkan pacarnya yang menggemaskan meskipun galak itu.
Kira-kira apa yang Dasha lakukan sekarang? apakah ia belajar dengan giat? gadis itu tidak akan tidur di kelas saat mata pelajaran berlangsung bukan? bagaimana kalau dirinya membelikan Dasha sesuatu yang manis? gadis itu pasti akan senang kan? memikirkan semua itu membuat Daren senyam-senyum sendiri.
"Udah gila, ya?"
Daren tersentak kaget dan spontan menoleh, dahinya mengernyit saat mendapati Azka. Cowok itu dengan gaya sok kerennya sedang bersandar pada sebuah pilar, sambil menatap Daren dengan senyum miringnya.
"Bolos?" tanya Daren spontan, harusnya cowok itu sekarang sedang mengikuti pemanasan di tengah lapangan.
Azka mengangguk sambil berjalan mendekati Daren, kemudian merangkulnya dengan akrab.
"Lo udah bucin banget, ya, sama dia! bucin boleh tapi jangan sampe jadi goblok ya, nanti nangis!" kata Azka sambil tertawa.
Daren mendengus seraya menepis tangan Azka dari bahunya, "ini namanya cinta!" sahut Daren kesal.
Tawa Azka semakin keras, "tapi kalau suatu saat kalian putus, boleh kali ya, dia jadi milik gue?" ekspresi Azka berubah, ia melempar senyum penuh arti pada Daren yang tidak berkedip menatapnya.
Terjadi keheningan sesaat di antara mereka, karena perkataan Azka barusan berhasil membuat Daren terdiam, cowok itu menatap tajam pada Azka yang kontan kembali tertawa.
"Gue bercanda oi! gue jadi ngeri, ekspresi Lo kayak mau ngehajar gue aja." sentak Azka cengengesan dengan tampang tidak berdosa.
Kedua tangan Daren yang sempat terkepal kuat, kini perlahan melemah. Detik selanjutnya Daren lantas menghela napasnya seraya melenggang pergi meninggalkan cowok aneh itu.
Azka, temannya itu memang aneh. Daren tidak bisa mengerti isi hatinya, bahkan saat Azka tersenyum pun ia seperti punya banyak hal yang disembunyikannya.
"Oi, Daren. Jangan marah, gue cuma bercanda!" ekspresi Azka berubah cemberut, ia bahkan mencolek pipi Daren berulang kali bermaksud menggoda Daren yang terlihat marah padanya.
"Berhenti, Azka." pinta Daren, ia sudah cukup lelah menghadapi sikap Azka.
"Duh, ngambek ya Lo? padahal gue cuma bercanda, gue emang suka Dasha, tapi gue nggak bakal ngambil dia dari Lo, kok." langkah Daren spontan berhenti mendengar kalimat terakhir dari Azka, lantas membuat mereka saling bertatapan seakan mengibarkan bendera perang.
Azka melempar senyumnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Woi, cowok polos."
Daren dan Azka kompak menoleh ke sumber suara, mengernyit kebingungan menatap siswa di hadapan mereka.
"Kelas 12, ya?" tanya Azka dengan santainya, siswa itu lantas mengangguk.
Melihatnya lantas membuat kening Daren berkerut, siswa itu adalah teman sekelas Dasha. Satya namanya, cowok yang pernah menghajar Daren. Selain itu, Satya selalu terlihat dekat dengan Dasha.
"Ada urusan apa? dan lagi, cowok polos yang Lo maksud itu orang ini, ya?" tanya Azka dengan polosnya sambil menunjuk Daren, Satya lantas mengangguk.
Ekspresi Daren berubah, ia menghela napasnya dan melangkahkan kakinya berlalu melewati Satya. Sebenarnya Daren tipe yang cuek dan acuh tak acuh, terutama pada orang yang tidak ia sukai. Dan Satya, adalah salah satunya.
"Maaf, Kak. Saya sedang sibuk, soalnya ada rapat OSIS hari ini."
Saat Daren berlalu melewatinya, Satya mendengus dan tersenyum kecut karena sikap cowok itu.
"Ini soal Dasha, ada yang mau gue bicarakan."
Mendengar nama gadis itu di sebut, Daren spontan berhenti dan membalikkan badannya menghadap Satya. Dan cowok itu spontan tersenyum puas, karena ia yakin bahwa Daren tidak akan bisa menolaknya.
"Apa? mau bicara apa?" tanya Daren penasaran.
Satya mengangkat bahunya, "gue sih mau bicaranya berdua doang sama Lo, jadi yang nggak berkepentingan sebaiknya pergi aja." sindir Satya, ekor matanya melirik Azka yang kebingungan.
Saat Daren menatap kepadanya, Azka spontan mengangguk dengan nyengir kuda.
"Daren, gue mau ke kantin dulu. Semoga hari Lo selalu menyenangkan untuk seterusnya, bye." setelah berpamitan, Azka berlalu melewati Daren.
Azka sempat menepuk pelan pundak Daren, kemudian tersenyum tipis dan segera melenggang pergi untuk memberi ruang pada kedua orang itu.
...••••••...
Sehabis membeli roti coklat dari kantin, Dasha dan Ayara segera memasuki kelas. Mereka sempat berbicara banyak hal satu sama lain, dan berbicara dengan Ayara selalu membuat suasana hati Dasha menjadi lebih baik.
Saat duduk di kursinya kemudian ingin meletakkan roti coklatnya dibawah laci meja, Dasha terperangah mendapati sebuah surat berada di bawah laci mejanya.
Dasha tidak tahu surat itu punya siapa, karena tidak ada nama ataupun hal lainnya yang menunjukkan tanda kepemilikan pada surat itu.
Karena penasaran, ia lantas membuka suratnya kemudian membaca isinya.
Mau lihat hal yang menarik, nggak? kalau gitu, segera pergi ke lapangan utama.
Dahi Dasha mengerut membaca isi surat itu. Orang aneh mana yang memberikan surat tidak jelas ini?
"Surat ini bukan buat gue, 'kan?" Dasha pikir begitu, ia lantas mengecek ke bawah laci mejanya dan terhenyak karena mendapati ada beberapa surat lagi.
Segera Dasha mengambil surat itu, kemudian kembali membaca isinya.
Kalau udah lihat apa yang terjadi di sana, segera jujur, oke?
Jangan jadi cewek yang munafik, paham?
Da~sha♡
Deg!
Dasha spontan bangkit dari duduknya, tidak bergeming setelah membaca isi suratnya. Ternyata memang benar, semua surat itu diperuntukkan untuknya. Namun Dasha tidak tahu siapa yang mengirimkannya.
__ADS_1
Lantas Dasha segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelasnya, menatap selidik semua teman sekelasnya termasuk Ayara. Sahabatnya itu mendongak, menatap Dasha terheran-heran.
"Kenapa?" tanya Ayara bingung.
Tanpa menjawab pertanyaan Ayara, Dasha segera berlari pergi keluar kelas. Pikirannya jadi tidak keruan, tidak tahu apa yang sedang terjadi di lapangan utama. Tapi yang pasti, perasaan Dasha sedang tidak enak.
Setelah berlari di sepanjang koridor sekolah, kemudian menuju lapangan, Dasha spontan meremas surat yang ada di tangannya.
Tubuh Dasha spontan menegang saat melihat apa yang terjadi di sana. Dasha tidak percaya dengan yang ia lihat sekarang.
Daren dan Satya, kedua cowok itu sedang berkelahi di tengah lapangan. Semua orang sedang menonton perkelahian itu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melerainya.
"Apa-apaan ini!" Dasha langsung berlari menghampiri.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat Daren yang menindih tubuh Satya, mencengkeram kuat kerah seragam Satya sambil berulang kali berteriak pada cowok itu.
"BOHONG, 'KAN?! SEMUA ITU BOHONG, 'KAN?! IYA 'KAN?!" amarah Daren meledak-ledak, tidak peduli dengan statusnya sekarang sebagai ketua OSIS. Karena perkataan Satya tentang Dasha, benar-benar membuatnya kehilangan kendali.
Satya menggertakkan giginya, kemudian mendorong tubuh Daren yang berada di atasnya.
"Gue nggak bohong, brengsek! Lo bodoh, ya? makanya jadi cowok tuh jangan polos!"
Rahang Daren mengeras, kembali melayangkan kepalan tangannya ke wajah Satya hingga membuat sudut bibir cowok itu mengeluarkan darah.
"Bohong! Dasha ... dia nggak mungkin bohong!"
"Kalau nggak percaya, tanya aja langsung sama orangnya!" teriak Satya marah, lantas membuat Daren terhenyak menatapnya.
"Daren! Satya!"
Mereka berdua kompak menoleh, orang yang baru saja mereka bicarakan kini sudah datang. Dengan ekspresi khawatirnya, gadis itu berjalan mendekati Daren kemudian berjongkok di hadapannya.
"Daren, kamu kenapa berkelahi? wajah kamu----"
PLAKK!
"Eh?"
Tubuh Dasha spontan mematung ditempat saat Daren menepis tangannya dengan kasar. Dasha bermaksud ingin menyentuh wajah cowok itu, tapi Daren tiba-tiba menolaknya.
Cowok itu, tidak seperti biasanya.
"Kamu ... kenapa?" tanya Dasha, tidak berkedip menatap Daren.
Daren lantas menoleh, menatap tajam pada Dasha. Kini ia mulai bertanya-tanya, apakah ekspresi khawatir yang gadis itu tunjukkan barusan, benar-benar tulus atau cuman kebohongan?
Sembari berdiri, Daren menatap nanar pada Dasha. Kedua tangannya terkepal kuat. Ia benar-benar kecewa pada gadis itu, apa gadis itu benar-benar sudah menipunya?
Benarkah itu?
"Dasha!"
DEG! DEG! DEG!
Apa ini? tiba-tiba seluruh tubuh Dasha gemetar, bahkan untuk mendongak dan menatap cowok itu, Dasha tidak sanggup.
Yang Daren katakan barusan, apakah itu artinya cowok itu sudah mengetahui semuanya? kebohongannya selama ini? tentang permainan dan Daren sebagai targetnya. Apakah cowok itu sudah mengetahui semuanya?
Ekor mata Dasha langsung melirik ke arah Satya, cowok itu juga balas menatapnya. Dasha lantas menghela napas panjangnya, pasti Satya sudah membeberkan semua rahasianya.
Mulut Satya yang seperti ember bocor itu, Dasha ingin segera menambalnya!
"Sha, Itu bohong, 'kan? semua yang dikatakan Satya itu juga, bohong 'kan?" nada suara Daren melemah, terdengar putus asa.
Dengan berat hati, Dasha lantas berdiri tegak di hadapan Daren. Kemudian perlahan mendongak menatap wajah cowok itu yang terlihat murung.
Haaah, Dasha tidak bisa! ekspresi Daren sekarang benar-benar melemahkan hatinya.
"Jawab aku, Sha. Semua itu bohong, 'kan?" Daren tersenyum kecut sembari menyentuh wajahnya, meminta penjelasan pada Dasha yang masih diam memperhatikannya. "Habisnya ... habisnya kita 'kan saling suka, iya 'kan?" lirih Daren, kedua matanya mulai terasa panas, ia ingin menangis.
Tangan Dasha spontan terkepal kuat, seperti isi surat barusan. Dasha memang harus jujur pada cowok itu, lagipula ia tidak bisa mundur sekarang.
"Apapun yang kamu dengar dari Satya, dia nggak bohong. Semuanya benar." kata Dasha seraya menurunkan pandangannya.
Mendengar kalimat yang Daren tidak ingin dengar dari gadis itu, spontan membuat tubuhnya mematung. Daren syok, perasaannya campur aduk mendengar Dasha mengatakan semuanya. Dengan ekspresi datarnya.
"Alasan aku nembak kamu waktu itu, semuanya cuma karena permainan. Satya benar, bahkan tentang perasaan aku sama kamu, itu cuma kebohongan." Dasha menghela napasnya, tangannya perlahan menarik kalung yang masih melingkar di lehernya.
Dasha melepaskan kalung itu secara paksa, kemudian melemparkannya tepat di bawah kaki Daren, dengan teganya tanpa memikirkan perasaan cowok itu.
"Karena aku pikir sudah waktunya, makanya aku memberitahukan semuanya sama kamu. Tapi malah Satya duluan yang bilang ke kamu, sebenarnya itu cukup menyebalkan tapi aku juga harus berterima kasih sama dia. Dengan begitu, aku nggak perlu susah payah buat ngejelasin semuanya sama kamu."
Bohong, 'kan? Daren pikir begitu. Tapi melihat Dasha sekarang dihadapannya, gadis itu tidak seperti yang Daren kenal. Bahkan tanpa memikirkan perasaannya, Dasha melempar begitu saja kalung pemberian darinya.
"Terima kasih, Daren. Maaf sudah membohongi kamu selama satu bulan ini." setelah mengatakan semua yang ingin ia katakan, Dasha lantas segera melenggang pergi.
Meninggalkan Daren yang merasa terguncang oleh semua perkataan gadis itu. Daren tidak ingin mempercayainya, tapi begitulah kenyataannya!
Sepeninggal Dasha, Satya tersenyum puas sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Kemudian berjalan mendekati Daren yang masih diam di tempatnya.
"Udah jelas, 'kan? gue merasa kasihan sama Dasha karena harus terus berpura-pura cuma buat nyenengin hati Lo doang!" sambat Satya sembari melenggang pergi, ia sudah puas dengan kejujuran yang Dasha lakukan barusan.
Namun sepertinya Daren masih belum bisa menerima kenyatannya, Daren bahkan masih diam dan terus memandangi kalung yang sempat Dasha lempar ke bawah kakinya.
Padahal Daren sudah memberikan kalung itu dengan tulus, untuk Dasha. Tapi gadis itu malah membuangnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian setelah puas memandangi kalung itu yang masih berada di bawah kakinya, Daren lantas memungutnya dengan hati-hati.
Matanya mulai memerah, "kalau kamu membuangnya, aku akan mengambilnya. Sesuatu yang penting itu harus dijaga." dan detik selanjutnya bulir air mata mulai keluar dari pelupuk matanya.
Daren tidak bisa menahan air matanya, karena semua kejujuran itu sangat menyakiti perasaannya.
...••••••...
Kreekkk.
Rasanya Dasha sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan sekedar untuk menutup pagar rumahnya. Dengan langkah pelannya, ia mulai berjalan masuk ke dalam.
Saat Dasha melirik arloji di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebenarnya setelah dari sekolah, Dasha tidak langsung pulang ke rumah. Ia lebih memilih pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya.
Saking terlalu asik merutuki kebodohannya, Dasha tidak sadar bahwa hari sudah mulai malam.
Sebut saja Dasha adalah gadis yang jahat, sekarang. Toh, semua orang cepat atau lambat pasti akan membencinya. Karena di hadapan semua murid, Dasha sudah mencampakkan Daren. Dan sebagai ketua OSIS, Daren cukup populer.
"Satya, ya?" gumam Dasha, ia mengeluarkan salah satu surat yang masih ia simpan, pasalnya isi surat ini membuatnya merinding saat membacanya.
Kalau Lo nggak jujur dan lebih memilih jadi cewek munafik. Gue bakal bongkar semua rahasia Lo, tentang keluarga Lo.
Lo juga pasti nggak mau 'kan, semua orang tahu bahwa mama Lo itu seorang----
Dasha meremas suratnya, tidak ingin membaca kalimat terakhir dari isi surat itu.
Dasha kembali bertanya-tanya, siapa pelakunya? tapi jika itu Satya, cowok itu tidak sampai mengetahui latar belakang keluarganya. Karena yang mengetahui tentang keluarganya cuma Ayara, dan gadis itu dapat dipercaya.
"Kalau gitu, siapa?" tanya Dasha lagi, sembari membuka pintu rumahnya.
Dan betapa terkejutnya Dasha saat mendapati Selena, Mamanya itu sedang terduduk di lantai sambil berulangkali terbatuk-batuk.
"Mama!" Dasha segera berlari menghampiri, menyentuh pundak Selena dengan ekspresi khawatir.
Namun seperti biasa, Selena selalu menolak perlakuan lembut dari anaknya itu.
"Jangan sentuh saya, sialan!" Selena menepis tangan Dasha dengan kasar, lantas membuat gadis itu terlihat syok.
Dasha sangat khawatir dengan keadaan Selena sekarang, Mamanya itu bahkan mulai muntah-muntah.
"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Dasha, sembari menuntun Selena untuk berdiri.
Namun dengan kejamnya Selena mendorong tubuh Dasha, hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Kemudian berteriak marah dan mulai melempari gadis itu dengan barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Saya 'kan udah bilang jangan sentuh saya, dasar anak kurang ajar! Saya bahkan nggak sudi kamu manggil saya dengan sebutan itu! sialan! anak sialan!" amarah Selena yang meledak-ledak membuatnya jadi tidak terkendali, ia terus berteriak histeris sambil mencaci maki Dasha.
Dan gadis itu, hanya menerima saja dengan pasrah saat Selena mulai melempari barang-barang ke arahnya.
Rasa sakit ini, semua penderitaan ini, Dasha sudah terbiasa menerimanya. Namun meskipun begitu, Dasha tidak pernah membenci Selena. Karena mau bagaimanapun dia, Selena tetaplah seorang Ibu yang sudah melahirkannya.
"KAMU DAN PRIA ITU, SAYA BENCI KALIAN! SAYA BENCI KALIAN BERDUA! SAYA HARAP KALIAN BERDUA MENGHILANG SAJA DARI DUNIA INI! PERGI SANA!"
DEG!
Dan kini seorang wanita yang sudah melahirkannya itu, malah berharap dia menghilang saja dari dunia ini.
Dasha spontan mengepalkan kedua tangannya, kemudian menunduk sambil menggigit bibir dalamnya begitu kuat hingga berdarah.
Sebenarnya Dasha ingin menahan tangisnya yang selama ini ia pendam, tapi mendengar perkataan Selena barusan lantas membuat bulir air mata itu mulai berjatuhan di pipinya.
"Hiksss ...."
Mendengar isak tangis gadis itu, membuat Selena terhenyak menatapnya. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya gadis itu mulai menumpahkan emosinya.
"Kalau gitu ... cepat buat Dasha segera menghilang dari dunia ini!" Dasha tiba-tiba berteriak dengan histeris.
Mendengar teriakan gadis itu, Selena tidak dapat berkata-kata. Bahkan setelah itu, Dasha mulai menyakiti dirinya sendiri.
Gadis itu terus menampar wajahnya berulang kali.
PLAKK! PLAAKK!
"CEPAT BUAT DASHA MENGHILANG SEKARANG JUGA!!!"
Tidak hanya menampar wajahnya, kini Dasha mulai mencakar kedua tangannya hingga mengeluarkan darah segar. Yang Dasha lakukan sekarang adalah sebuah keputusasaan, untuk mengatasi rasa sakit emosional, kemarahan, dan frustasinya.
Melihat Dasha yang semakin melukai dirinya, Selena ingin menghentikan gadis itu. Tangan terulur untuk menghentikannya, namun Dasha malah semakin berteriak dengan histeris.
"Dasha nggak tahu kenapa kalian berdua pisah! tapi kalau itu karena Dasha, Dasha minta maaf! Dasha minta maaf! Dasha minta maaf karena udah lahir ke dunia ini!"
Mungkin ini juga balasan dari apa yang telah ia lakukan pada cowok itu. Rasa sakit yang Daren rasakan, Dasha akan menanggung semuanya. Dan tentang Dasha yang telah mencampakkan cowok itu dengan kejamnya, Dasha hanya ingin membuat Daren membencinya.
Dengan begitu, cowok itu akan melupakannya. Melupakan semua kenangan tentang dirinya.
Lagipula sejak Dasha dilahirkan, Dasha tidak berhak untuk dicintai oleh siapapun.
"Maaf!!! maafin Dasha, maaf untuk semuanya!" lirih Dasha, dengan air mata yang masih berlinang membasahi pipinya.
Ia mulai mengepalkan kedua tangannya, kemudian meringkuk di lantai dengan keputusasaan yang sangat mendalam.
Setelah sekian lama memendam emosi dan perasaannya, Dasha akhirnya dapat meluapkan semuanya.
"Hikkksss!"
...••••••...
__ADS_1