Love, Then Lost

Love, Then Lost
24- Kilas Balik(2)


__ADS_3

..."Bukan hanya aku, tapi semua orang juga sudah terbiasa menjalani hari dengan berpura-pura."...


.......


.......


.......


...SELALU DUKUNG CERITA SENA, YA^^...


...•••••...


Bagi Dirga, adiknya itu adalah segalanya. Dirga tidak ingin Daren menjadi pelampiasan dari tingginya ekpektasi yang kedua orang tuanya inginkan terhadapnya.


Jika dengan menjadi sempurna seperti yang Amelia inginkan, dan agar bisa membebaskan Daren, Dirga tidak akan keberatan untuk melakukannya.


Dirga pikir Daren sudah bebas, namun secara diam-diam ternyata Amelia kembali mengekang Daren. Amelia kembali memenuhi hasratnya untuk membuat Daren menjadi anak yang jenius dalam memainkan piano, Amelia ingin Daren segera bisa menguasai kemampuan itu.


Amelia bahkan sudah mendatangkan guru les privat untuk membantu Daren menguasai kemampuan bermain pianonya secepat mungkin.


"Mama kenapa sih! 'kan aku udah bilang, tolong bebaskan Daren!" kata Dirga naik pitam.


Mengetahui Daren sedang belajar piano di ruangan musik, membuat Dirga buru-buru untuk menghampirinya. Bahkan Amelia selalu mengawasi Daren ketika bermain piano, membuat Dirga mau tak mau harus melabrak Amelia.


"Saya sudah bebaskan kok, bahkan saya nggak memaksa Daren untuk belajar. Hanya belajar piano sebentar, nggak papa 'kan?" ujar Amelia dengan arogannya.


Dirga spontan menggertakkan giginya, "anak seusianya nggak harus belajar piano doang, dia perlu bermain juga dengan teman sebayanya!" sentak Dirga.


Mendengar perkataan Dirga, Amelia lantas melirik anaknya itu dengan tatapan tajam.


"Emangnya Daren punya teman? dia 'kan anak yang pendiam dan juga pemalu. Kalau nggak punya teman, yaudah belajar piano aja."


Dirga ternganga, tidak percaya dengan perkataan Amelia. Sedangkan Daren, anak lelaki yang kini sudah berusia tiga belas tahun itu hanya bisa duduk termenung mendengarkan perkataan Amelia barusan yang cukup menusuk dadanya.


"Piano! piano! piano terus! emangnya Daren suka bermain piano, hah?!" bentak Dirga balas menatap tajam Amelia, kemudian beralih menatap Daren yang menunduk murung.


Amelia spontan menoleh, menatap Daren dengan raut wajah yang seketika membuat Daren merinding.


"Kenapa Mama diam? karena Mama sendiri nggak pernah sekalipun nanya apa kesukaan Daren----" belum sempat Dirga menyelesaikan kalimatnya, Daren malah menyela pembicaraannya.


"Aku suka," kata Daren berjalan menghampiri Dirga.


"Hah?" Dirga terperangah, menatap heran Daren.


"Aku suka main piano, Kak Dirga jangan marah sama Mama lagi. Lagipula aku mau nunjukin bakat aku saat ayah pulang nanti." lanjut Daren lagi.


Mungkin perkataannya sekarang terdengar tulus dari isi hatinya, namun bagi Dirga itu hanya sebuah sandiwara yang selalu diperankannya.


"Jangan khawatir, Daren. Besok ayah akan pulang. Dia pasti senang saat tahu kamu sudah pandai bermain piano." kata Amelia tersenyum senang pada Daren.


Dirga bungkam dan tidak tahu harus menjawab apa setelah mendengar perkataan Adiknya barusan. Dan pada akhirnya, Dirga akan memutuskan bahwa sebentar lagi ia akan membawa Daren pergi dari rumah ini.


.


.


.


.


Akhirnya sesuai perkataan Amelia. Ayahnya benar-benar pulang ke rumah setelah beberapa bulan mengurus pekerjaannya di luar negeri.


Mungkin kalian tidak kenal, karena itu Dirga akan memperkenalkannya. Ayahnya itu bernama Davin Aldevaro. Jika dibandingkan dengan Mamanya, Davin lebih lembut saat memperlakukan anaknya.


Davin juga sangat pandai bermain piano, karena itu ia menginginkan Daren agar bisa memiliki bakat seperti dirinya. Mungkin ekpektasi seperti itu yang membuat Amelia ingin mewujudkannya, meskipun tidak pernah bertanya sekalipun apa Daren menyukai piano atau tidak.


"Apa kabar, Dirga?" tanya Davin menyentuh pundak Dirga, namun anaknya itu malah menepis tangannya.


"Biasa aja." sahut Dirga datar.


Davin sempat tertawa kecil, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang musik. Di sana sudah berkumpul Daren, Amelia, serta para pelayan mereka yang ingin menyaksikan permainan piano dari Daren.


Dirga mendengus sambil berjalan mengekori Davin. Saat memasuki ruangan itu, Dirga sempat terperangah karena mendapati Daren yang sedang duduk di depan piano dengan wajah yang sangat pucat.


Daren sepertinya sedang tidak sehat, lantas membuat Dirga khawatir.


Dirga sempat ingin menghampiri Daren, namun saat Adiknya itu menoleh dan menggeleng ke arahnya lantas membuat langkah kaki Dirga terhenti.


"Kalau sakit, istirahat aja. Dasar adik bodoh!" gerutu Dirga, merasa marah.


"Ternyata anak Ayah sudah besar, ya. Jadi nggak sabar untuk melihat permainan piano kamu, Daren." kata Davin melempar senyumnya pada Daren.


***Deg**! Deg! Deg*!


Entah kenapa jantung Daren terus berdegup kencang, padahal Daren sedang tidak gugup.


Apa karena semua mata sedang tertuju padanya? tidak! perasaan Daren sekarang biasa aja, namun sepertinya kondisi tubuhnya yang sedang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Uhhuk!


Deg!


Mereka semua melotot kaget saat melihat Daren memuntahkan banyak darah. Saat melihat kedua telapak tangannya bersimbah darah lantas membuat Daren tidak bergeming, ini adalah kali pertama Daren merasa sangat syok saat melihat darah.


"Daren!" Dirga dengan gesit langsung berlari ke arah Daren.


Bahkan beberapa pelayan lainnya ikut membantu membersihkan tangan Daren. Dirga sempat mengeluarkan handphone-nya, ingin memanggil Dokter yang khusus melayani keluarganya.


Dalam keadaan panik seperti itu, perkataan Davin malah membuyarkan pikiran Dirga.


"Sudah nggak muntah lagi, 'kan? sekarang ayo mainkan piano kamu."


Deg!


Dirga spontan menoleh ke arah Ayahnya, menggertakkan giginya saat mendengar perkataan Davin barusan. Bukannya khawatir dengan keadaan Daren, Davin malah bersikap biasa saja. Bahkan Amelia, Mamanya itu hanya duduk santai dan memperhatikannya.


Apa-apaan keluarga ini?! mereka semua gila!


"Udah berhenti aja! Daren baru aja muntah darah, panggil Dokter sekarang!" titah Dirga pada pelayan disekitarnya.


Namun semua pelayan itu tidak ada yang berani bergerak karena mendapatkan tatapan tajam dari Davin. Karena mereka semua paham, bahwa keputusan Davin terhadap Daren barusan adalah mutlak!


"Daren, sekarang udah baik-baik aja 'kan?" tanya Davin menatap Daren yang sedari tadi diam.


Daren perlahan mendongak, kemudian mengangguk. Daren tidak punya hak untuk mengeluh pada siapapun, bahkan jika dia ingin.


Selama ini Daren selalu diam, dan memendam semuanya. Padahal didalam lubuk hatinya, Daren juga ingin mengeluh dan memberontak pada hal apapun yang tidak disukainya saat keluarga ini menuntutnya.


"Aku--- ukkkhh!"


Daren tersedak, dan kini kembali muntah darah. Melihat tangannya kembali ternodai oleh banyak darah, tangis Daren pecah seketika.


"Da-darah! banyak darah! tolong!!!" teriak Daren menatap Davin dengan tangisnya yang semakin tidak terbendung.


"Anak laki-laki tidak boleh menangis, Daren." kata Davin dingin.


Dirga spontan berteriak, "Ayah apa-apaan sih! cepat panggil Dokter sekarang! kalian semua, turutin perintah gue sekarang!" amuk Dirga pada semua pelayan di sekitarnya.


Ekor mata Daren melirik ke arah Amelia, Mamanya itu masih duduk santai memperhatikan mereka. Sepertinya yang sedang mengkhawatirkan keadaannya sekarang hanya satu orang, yaitu Kakaknya.


Melihat Dirga yang semakin marah, tangis Daren semakin pilu.


"AKU NGGAK SUKA MAIN PIANO! AKU BENCI MAIN PIANO!"


Dirga tidak berkedip saat mendengar Daren berteriak, untuk pertama kalinya Adiknya itu akhirnya meluapkan isi hatinya. Daren sedang mengeluh, pada semua orang yang terus-menerus mengendalikannya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan tidak bergeming, mereka cukup syok saat melihat Daren marah. Padahal biasanya, Daren sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menunjukkan emosinya.


Perlahan Daren turun dari kursi, dengan langkah sempoyongan ingin melenggang pergi dari ruangan.


Namun baru saja beberapa langkah berjalan. Tubuh Daren seketika ambruk, akhirnya anak lelaki itu pingsan setelah memuntahkan banyak darah.


BRUK!


...••••••...


Jika ada yang bertanya, mimpi buruk apa yang pernah kamu alami? maka Daren akan menjawab, ialah saat Dokter mendiagnosis penyakitnya dan mengatakan bahwa ia hanya punya waktu sampai tiga tahun lagi.


Itu adalah mimpi yang sangat buruk, sampai membuat Daren merasa takut setiap kali memejamkan matanya.


Daren merasa takut saat ia tertidur lelap, apakah ia masih bisa bangun atau tidak? Daren merasa takut jika mimpi buruk itu benar-benar akan menghampirinya.


Dan bagian yang terburuknya adalah saat kedua orang tuanya mulai meninggalkannya. Mungkin Amelia merasa kecewa karena kini anaknya sudah tidak lagi sempurna.


Bahkan setelah mengetahui penyakitnya, Dirga mulai meninggalkan rumah untuk mengejar tujuannya. Dirga ingin menjadi Dokter agar bisa menyelamatkannya, namun Daren tahu betul bahwa kini ia sudah tidak bisa diselamatkan.


Karena keputusan Dirga yang lebih memilih menjadi seorang Dokter daripada menjadi penerus keluarga, juga menjadi salah satu alasan kenapa kedua orang tua mereka meninggalkannya.


Semua itu adalah alasan kenapa selama ini Daren merasa kesepian. Bahkan saat memasuki masa SMA, Daren mengira bahwa hari-harinya akan sama.


Kesepian dan monoton sembari menjalani hari-hari yang tersisa untuknya. Daren pikir begitu, namun ada suatu kejadian yang tidak terduga menghampirinya.


Saat itu adalah hari pertamanya bersekolah di SMA Jaya.


Seorang gadis yang baru saja memperkenalkan dirinya, mengatakan sebuah kalimat yang berhasil mengubah dunianya.


"Daren, gue suka sama Lo. Ayo kita pacaran."


Awalnya Daren tidak punya perasaan apapun pada gadis bernama Dasha itu. Namun setelah memikirkannya, dan untuk menjawab pernyataan cinta dari gadis itu.


Daren akhirnya menerima gadis itu. Dan seiring berjalannya waktu Daren akhirnya menyadari bahwa meskipun terkadang hari yang ia jalani selalu sulit, mimpi yang menakutkan dan juga menyakitkan.


Ketika Daren bersama gadis itu, Daren bisa melihat bagaimana dunia yang terang dan penuh warna. Daren ingin bersama gadis itu lebih lama, apakah bisa?


Tapi sepertinya takdir tidak akan bisa merestuinya.

__ADS_1


...•••••...


"Sudah minum obat?" tanya Dirga pada Daren yang baru saja keluar dari toilet.


Daren lantas mengangguk sambil duduk dipinggir ranjang, mempersilahkan salah seorang perawat untuk memeriksa kembali keadaannya.


Setelah selesai memeriksanya, Daren perlahan mendongak menatap Dirga dengan ekspresi datarnya.


"Kak, aku mau main piano." kata Daren tiba-tiba.


"Nggak, kamu masih belum boleh pulang dari rumah sakit ini." jawab Dirga cepat.


"Kalau gitu, bawa pianonya kesini." kata Daren lagi yang semakin membuat Dirga terheran-heran.


"Ini rumah sakit! kalau mau main piano, sana di rumah!" sentak Dirga gemas.


"Kalau gitu aku mau pulang."


"Nggak bisa!"


"Aku mau main piano." kata Daren datar.


"Daren!!!" pekik Dirga tertahan, sudah sangat gemas dengan Adiknya itu.


Daren lantas mendengus sambil merebahkan dirinya, kemudian menarik selimut dan bersembunyi dibawahnya.


Cowok itu sekarang, sedang dalam mode ngambek.


"Kalau gitu, aku mau sekolah." kata Daren dari dalam selimutnya.


Mendengar perkataan Daren, Dirga spontan mengepalkan tangannya, gemas dengan sikap Daren yang mendadak keras kepala.


"Banyak tugas OSIS yang belum diselesaikan, ditambah lagi Minggu ini ada acara di sekolah." lanjut Daren menceritakan keluh kesahnya.


"Berhenti aja jadi ketua OSIS, kamu 'kan sakit."


Daren spontan mengubah posisinya menjadi duduk, menatap tajam pada Dirga setelah mendengar perkataannya barusan.


"Waktu itu Kakak nyuruh aku buat ninggalin Dasha, sekarang suruh berhenti jadi ketua OSIS. Aku tahu kok sebentar lagi aku bakal mati, tapi sebelum aku pergi emangnya aku nggak bisa ngelakuin sesuatu yang aku suka, ya?"


Dirga tidak bergeming, terdiam karena jawaban dari Daren yang benar-benar membungkamnya.


"Daren, Kakak nggak bermaksud----"


"Nggak papa kok, lagian Kakak ada benarnya juga." Daren tersenyum getir sambil mengalihkan pandangannya, "orang seperti aku harusnya cuman duduk diam aja sembari menunggu waktunya."


"DAREN!"


Daren terperangah tatkala Dirga membentaknya dengan nada suara yang meninggi, terdengar marah namun juga sedih.


"Jangan ngomong gitu," lirih Dirga menatap Daren lekat. "Kakak akan menyelamatkan kamu. Jangan putus asa, ya?"


Daren mencoba memaksakan senyumnya, "maaf Kak, entah kenapa hari ini aku agak sensitif." katanya lantas membuat Dirga balas tersenyum.


"Apa hari ini udah ketemu Dasha?" tanya Dirga, Daren terperangah.


"Belum," jawab Daren murung.


"Pantes, obat penenang nya ternyata nggak datang." gerutu Dirga geleng-geleng kepala.


Daren mendengus sambil kembali bersembunyi di bawah selimut. Rupanya cowok itu masih ngambek, lantas membuat Dirga tersenyum jahil.


"Eh, Dasha! akhirnya datang juga, itu Daren sembunyi lagi ngambek. Buka aja selimutnya."


Daren melotot kaget, spontan panik saat selimutnya ingin ditarik.


"Jangan Sha!" teriak Daren panik.


Dan rupanya yang barusan menarik selimutnya bukan Dasha, tapi Dirga. Kakaknya itu berhasil mengerjainya.


"Kena tipu." tawa Dirga meledak.


"Jangan bercanda, Kakak bodoh!" kesal Daren kembali bersembunyi dibawah selimut.


"Mau permen?" tanya Dirga tersenyum sinis.


Tiga detik, lima detik berlalu. Akhirnya salah satu tangan Daren keluar dari selimut, dan terulur ke arah Dirga. Melihat Daren yang masih menyukai permen spontan membuat Dirga gemas.


Dirga mengeluarkan sebuah permen dari sakunya kemudian memberikannya pada Daren.


"Cepat sembuh, Daren. Setelah keluar dari rumah sakit ini, Kakak akan memberikan banyak permen buat kamu."


Tidak ada sahutan dari cowok itu. Lantas membuat Dirga akhirnya melenggang pergi keluar dari ruangan.


Alasan Daren tidak ingin menyahut perkataan Dirga barusan, karena kalimat-kalimat itu hanya bertujuan untuk menghiburnya agar Daren tidak merasa putus asa.


Tapi sekarang Daren merasa putus asa, tanpa disadari air mata kini mulai mengalir membasahi pipinya. Daren akhirnya menangis dalam diam dibawah selimutnya.

__ADS_1


"Kakak Bodoh!"


...•••••...


__ADS_2