
Berulang kali Ayara dan Satya berteriak memanggil nama Daren, pasalnya setelah mereka berdua menceritakan semuanya pada Daren, cowok itu segera pergi begitu saja dengan amarahnya yang memuncak.
Bahkan Daren tidak menghiraukan mereka berdua, ia tetap kekeuh mencari keberadaan Azka sekarang. Dengan kedua tangannya yang sedari tadi terkepal kuat, mencoba menahan gejolak emosi yang ingin ia lampiaskan.
Disisi lain Daren juga merasa sedih, bagaimana bisa seorang teman malah berkhianat kepadanya. Padahal yang Daren tahu, Azka juga menyukai Dasha. Tapi kenapa cowok itu malah menyebarkan rumor buruk dan bahkan menculik Dasha?
Sebenarnya apa yang cowok itu rencanakan bersama Nasreen? perbuatan mereka berdua benar-benar tidak bisa dimaafkan.
Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor, Daren terperangah saat akhirnya mendapati sosok Azka.
Tanpa pikir panjang Daren segera berjalan menghampiri, kemudian menghajar wajah cowok itu hingga membuat Azka tersungkur ke lantai.
*BUK! **BRAK***!
Rahang Daren mengeras, spontan menarik kerah seragam Azka dengan kasar kemudian bertanya padanya dengan nada penuh penekanan.
"Dimana Dasha sekarang?" tanya Daren menggeram kesal.
Mendengar pertanyaan cowok itu, Azka lantas tersenyum miring. Rupanya Daren sudah mengetahui semuanya.
"JAWAB!" teriak Daren tidak sabaran.
Azka menghela napasnya seraya mendorong tubuh Daren menjauh darinya. Ia kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk seragamnya yang kotor.
Daren menggertakkan giginya, darahnya sudah mendidih dan ingin sekali menghajar cowok itu dengan habis-habisan.
"Nyari Dasha? ada kok, sama gue." sahut Azka cengengesan.
Melihat Azka yang terus-menerus tertawa membuat Daren kembali mencengkram kerah seragam Azka, dan menatapnya dengan tatapan tajam bak seekor elang.
"Dimana kamu sembunyikan Dasha?!" tanya Daren lagi.
"Ditengah hutan." jawab Azka santai.
Daren terhenyak menatap Azka, ia mengernyit kebingungan dengan jawaban cowok itu.
Melihat ekspresi Daren, Azka kemudian tersenyum.
"Gue sekap dia di rumah tua yang ada di tengah hutan." katanya memperjelas maksudnya.
"Lepasin Dasha," titah Daren serius.
Azka mengangkat bahunya dengan santai, "nggak mau." jawabnya.
"Kenapa?"
"Apanya?" tanya Azka heran, ia kebingungan menatap Daren yang melepaskan cengkeraman dari kerah seragamnya.
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini ke Dasha? bukannya kamu suka Dasha? tapi kenapa begini?" lirih Daren terdengar putus asa, ia sangat bingung dengan situasi sekarang.
"Nggak tuh."
Daren spontan mendongak, terperangah mendengar jawaban Azka barusan. Dengan senyum miringnya Azka menatap Daren sambil menunjukkan korek api ditangannya.
"Gue nggak suka Dasha, nggak pernah suka. Gue cuman suka sama Nasreen, dan gue bakal lakuin apapun yang dia minta dari gue. Bahkan jika itu harus melenyapkan seseorang."
"A-apa?" lidah Daren mendadak kelu, tidak tahu harus bereaksi apa untuk menjawabnya.
Perkataan yang tidak terduga itu membuat Daren tidak berkutik. Ia tidak berkedip menatap Azka. Ternyata semua perkataan cowok itu tentang perasaannya pada Dasha, semua itu kebohongan!
Azka memperlihatkan senyum sinis pada Daren yang nampak syok. Azka berkata jujur, ia tidak pernah menyukai Dasha, ia hanya berbohong pada Daren untuk merencanakan semua ini bersama Nasreen.
"Malam ini gue bakal lakuin apa yang Nasreen minta." kata Azka sambil memperlihatkan korek api ditangannya kepada Daren, "Lo paham, 'kan? apa yang gue maksud." mendengar perkataan Azka, pupil mata Daren spontan bergetar. Ia sangat paham dengan apa yang cowok itu maksud.
"Sebaiknya Lo segera pergi dan selamatkan tuan putri Lo itu, sebelum dia bakal berubah jadi abu."
Setelah mengatakannya dengan nada sinis, Azka lantas melenggang pergi meninggalkan Daren yang masih terdiam ditempatnya. Daren sangat syok dengan perkataan cowok itu, tapi ada satu hal yang membuatnya terasa janggal.
Kenapa Azka memberitahukan rencananya malam ini bersama Nasreen, kepada Daren? seakan cowok itu ingin melihat siapa yang paling cepat, Daren yang menyelamatkan Dasha atau api yang akan melahap gadis itu.
Tunggu aku, Sha!
...••••••...
Sementara itu di sisi lain. Selena merasa bingung saat melihat kamar Dasha, sudah satu hari gadis itu tidak pulang.
Bukan berarti Selena khawatir! dia hanya merasa heran dengan sikap Dasha belakangan ini, gadis itu mendadak menjadi pendiam dan sering melamun sendirian ketika Selena tidak sengaja melihatnya dari kejauhan.
"Saya nggak peduli." gumam Selena sambil menutup pintu kamar Dasha dengan setengah membanting.
BRAK!
Selena mendengus kemudian melangkahkan kakinya menuruni tangga, ia terperangah saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Jika itu Dasha, gadis itu tidak akan mengetuk pintunya karena Dasha sudah punya kunci cadangan.
Tanpa pikir panjang Selena segera melenggang pergi menuju pintu, kemudian membukakannya. Saat tahu siapa tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya itu membuat Selena terhenyak, menatap syok pria di hadapannya.
"Kamu!" sentak Selena. Bagaimana ia bisa melupakan wajah di hadapannya itu, pria yang selama ini Selena benci karena telah meninggalkannya.
Roland! ada angin apa pria itu tiba-tiba menemuinya setelah bertahun-tahun pergi dan mengakhiri semuanya.
"Selena, ada yang mau saya bicarakan." kata Roland dengan nada serius.
Selena menatap tajam pada mantan suaminya itu. Melihat ekspresi Selena membuat Roland teringat akan putrinya, mereka berdua sama-sama memiliki sorot mata yang tajam ketika sedang marah.
"Cepat katakan apa mau kamu, aku nggak punya banyak waktu buat pria brengsek kayak kamu!" desak Selena, tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Roland yang sangat ia benci itu.
Roland menatap serius pada Selena, "selama ini apa yang kamu lakukan pada Dasha? apa kamu selalu menganiayanya?!" sentak Roland tanpa basa-basi.
Mendengar tuduhan Roland padanya, Selena lantas tersenyum miring.
"Kalau iya, emangnya kenapa?"
"Kamu gila, ya!? kamu menyakiti fisik dan batinnya! kamu nggak kasihan, ya? anak seperti dia, kenapa kamu merampas kebahagiannya!"
"Kamu yang merampasnya!" balas Selena, ia melotot marah sambil menunjuk tepat di depan wajah Roland.
Roland terperangah, kemudian menghela napas panjangnya. Tidak ada gunanya memancing keributan dengan mantan istrinya itu, dan sekarang Roland akan mengatakan apa tujuannya datang kemari.
"Aku akan mengambil Dasha kembali, mulai sekarang dia akan tinggal bersamaku. Aku nggak akan membuat Dasha semakin menderita dengan membiarkan dia tetap tinggal dengan kamu." akhirnya Roland mengatakan maksudnya.
Mendengar ucapan Roland lantas membuat Selena tersenyum sinis. "Kenapa kamu harus bilang sama aku? bukannya kamu udah ngambil dia?"
"Maksud kamu?" tanya Roland tidak mengerti.
__ADS_1
"Jangan pura-pura nggak tahu, deh. Dasha sekarang ada sama kamu, 'kan? dia pasti lagi bahagia bersama keluarga barunya sekarang, meskipun dulu ayahnya meninggalkannya!"
Roland mengernyit heran, "justru aku kesini buat jemput Dasha! karena saat aku ke sekolah Dasha, semua temannya bilang Dasha nggak hadir tanpa keterangan!"
Mereka berdua sama-sama terkejut, saling berpandangan dengan raut kebingungan. Detik selanjutnya Roland berdecak kesal, sembari melonggarkan dasinya Roland menatap Selena serius.
"Sejak kapan Dasha nggak pulang?" tanyanya, Selena terdiam sesaat.
"Se-sejak kemarin." jawabnya.
Mendengar hal itu spontan membuat Roland segera melenggang pergi memasuki mobilnya dengan tergesa-gesa, ia sangat khawatir pada putrinya itu. Pasalnya tempo hari yang lalu Roland sempat berbicara dengan Dasha, dan di hari itu juga ternyata gadis itu tidak pulang ke rumah.
Apakah karena dirinya Dasha jadi tidak pulang? apakah gadis itu sangat marah kepadanya?
Sepeninggal Roland, raut wajah Selena berubah. Terlihat gelisah karena mengetahui bahwa Dasha sekarang tidak ada bersama Roland, lantas kemana gadis itu pergi?
Meskipun merasa malu untuk mengungkapkannya, tapi tidak bisa dipungkiri Selena merasa sedikit khawatir pada Dasha. Dan Roland juga pasti merasakan hal yang sama.
Karena mau bagaimanapun juga, mereka tetaplah orang tua untuk gadis itu.
...••••••...
Satya berdecak kesal sambil memukul dinding di depannya, bagaimana bisa Azka dan Nasreen merencanakan hal yang buruk kepada Dasha malam ini.
Ayara yang baru saja keluar dari kelas dengan menenteng tasnya dan tas milik Satya, lantas berjalan menghampiri Satya yang sedang menunggunya.
"Kita nggak punya banyak waktu, ayo berangkat." titah Ayara, Satya mengangguk.
Mereka berdua kompak menoleh ke arah koridor, terperangah mendapati Daren yang berlari menuju arah mereka dengan tergesa-gesa.
"Mereka berdua ternyata udah pergi! lewat gerbang belakang!" kata Daren yang berhasil membuat Ayara dan Satya terkejut.
"Gila! licik banget!" umpat Satya kesal.
"Bukan licik, tapi cerdik. Dia pasti tahu kita bakal ngikutin mereka, mending langsung masuk ke mobil cepat! masih ada kesempatan buat nyusul mereka." titah Ayara memimpin.
Daren lantas mengangguk, mereka bertiga kompak berlari menuju parkiran sekolah. Mereka akan mengejar Azka dan Nasreen menggunakan mobil Daren.
Daren memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, melajukan mobilnya untuk menyusul Azka yang sudah berada jauh di depan mereka.
Namun baru setengah perjalanan, Daren kehilangan jejak cowok itu! frustasi dengan situasinya sekarang, Daren lantas membanting setir mobilnya ke tepi jalan untuk berhenti. Daren berdecak kesal seraya memukul setir mobilnya.
"Sial! sial! sial!" umpat Daren berulang kali memukuli setirnya.
Ayara dan Satya lantas saling berpandangan, mereka sama frustasinya seperti Daren. Kalau tidak cepat untuk menolong Dasha, Azka dan Nasreen akan membuatnya dalam bahaya!
Di saat keputusasaan sesaat itu, handphone Daren lantas bergetar. Muncul sebuah notifikasi pesan masuk di layarnya, melihat siapa pengirimnya lantas membuat Daren mengernyit heran.
From: Azka
📍 LOKASI
Daren terperangah memandangi layar handphone-nya, karena penasaran Satya lantas segera merebut benda pipih itu dari tangan Daren.
"Hah?! kenapa dia ngirim lokasinya?!" sentak Satya tidak mengerti.
"Apa?" sahut Ayara mengambil handphone Daren dari Satya.
Daren meneguk salivanya kemudian menoleh ke kursi belakang, sama seperti Ayara dan Satya, Daren pun tidak mengerti maksud Azka mengirim lokasi tempat Dasha disekap itu.
Cowok itu lantas menggeleng, "nggak, dia ngelakuin itu cuman buat ngelihat siapa yang menang. Mereka atau kita." sahut Daren, dan mereka berdua cukup mengerti apa yang Daren katakan.
Satya mengangguk, "mereka meremehkan kita rupanya." geram Satya kesal.
Setelah mengembalikan handphone Daren, Ayara lantas mengangguk dan memerintahkan Daren untuk kembali menjalankan mobilnya.
"Ayo! jangan buang-buang waktu lagi, prioritas kita sekarang adalah Dasha!"
.
.
.
.
"HAH?!"
Lagi-lagi tanpa sadar Dasha tertidur, dan ia selalu saja bangun dalam keadaan kaget. Dasha lantas mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Sampai kapan Dasha harus berada di rumah ini, Dasha bahkan tidak tahu siapa yang menculiknya. Pasalnya ketika Dasha membuka mata, selalu ada nampan berisi makanan di sampingnya namun Dasha tidak tahu siapa yang menaruhnya.
Kreeeekkk.
Suara decitan pintu tua itu membuat Dasha kaget, ia langsung menoleh ke sumber suara dengan tidak berkedip saat ada seseorang yang sedang membuka pintu itu dari luar.
Saat pintu terbuka dan memperlihatkan siapa orangnya, Dasha spontan turun dari kasur namun naas ia malah tersungkur ke lantai.
BRAK!
Dasha syok, langsung menoleh dan menatap salah satu kakinya.
Sejak kapan?! pikir Dasha berkecamuk saat mengetahui bahwa rantai kangkang mengikat kaki kanannya, mereka pasti melakukan ini agar Dasha tidak melarikan diri.
Dasha lantas kembali menatap dua orang dihadapannya sekarang dengan geramnya, "kalian! sialan!" umpat Dasha dengan tatapan tajamnya.
Nasreen dan Azka lantas tersenyum miring, menatap sinis pada Dasha yang terduduk di hadapan mereka.
"Kaget, ya?" tanya Nasreen tersenyum.
Pupil mata Dasha bergetar seraya menggertakkan giginya, menatap marah mereka berdua setelah mengetahui siapa yang menculik dan membawanya kesini.
"Kenapa kalian ngelakuin semua ini? bukannya kalian teman Daren!?" sentak Dasha tersenyum kecut menatap Nasreen.
Raut wajah Nasreen berubah serius sembari melipat kedua tangannya didepan dada, Nasreen mendekati Dasha kemudian ikut berjongkok dihadapannya.
"Karena gue benci sama Lo, makanya gue ngelakuin semua ini!" kata Nasreen dengan penuh penekanan.
Nasreen kemudian tersenyum sinis, sedangkan Azka yang berdiri dibelakangnya sesekali mendengus memandangi punggung Nasreen di depannya.
"Kalau Lo berpikir kami mengkhianati Daren, Lo salah besar. Kami menolong Daren! makanya gue sama Azka nyebar rumor buruk tentang Lo di sekolah supaya Daren bisa bebas dari cewek munafik kayak Lo!" nada suara Nasreen meninggi, mendengar perkataannya Dasha spontan terhenyak menatapnya.
"Jangan mentang-mentang perasaan Lo sekarang ke Daren itu tulus, jadi Lo ngira Daren bakal maafin Lo gitu?! setelah Lo jadiin dia target permainan murahan Lo itu! jangan bercanda, Lo bikin gue muak! cewek sialan!" teriak Nasreen marah tepat di depan wajah Dasha.
__ADS_1
Kesal dengan perkataan Nasreen kepadanya, Dasha lantas mengambil segelas air yang ada di sampingnya kemudian menyiramkannya ke wajah Nasreen.
Dasha menggertakkan giginya, "Lo kira ngelakuin semua ini bakal buat Daren berterimakasih sama Lo!? Lo salah! karena Daren tahu, bahwa yang Lo lakuin ini semuanya salah!" sahut Dasha dengan senyum sinisnya.
Melihat perbuatan Dasha barusan, Azka tidak berkedip. Dan tentu saja sekarang ekspresi Nasreen terlihat sangat marah, darahnya sudah mendidih. Nasreen mengepalkan kedua tangannya, ia merampas gelas yang ada di tangan Dasha.
Selain tentang masalah Daren, Nasreen juga membenci Dasha karena dendamnya selama ini. Tanpa merasa simpati pada keadaan Dasha sekarang, Nasreen langsung memukul kepala Dasha dengan gelas ditangannya.
BUKKK!
Azka terbelalak kaget, "Nasreen!" panggilnya spontan.
Darah segar mulai mengalir di samping dahi Dasha, perbuatan Nasreen barusan berhasil membuat tubuh Dasha mematung ditempat.
Nasreen mencengkram dagu Dasha, hingga membuat gadis itu mendongak menatapnya secara paksa.
"Asal Lo tahu, sejak awal gue benci banget sama Lo! karena gara-gara Lo hidup gue menderita!" kata-kata Nasreen yang tidak Dasha mengerti itu membuat Dasha bertanya-tanya, memangnya apa kesalahannya pada gadis itu?
"Ma-maksud Lo?"
Nasreen menggeram kesal, "di antara banyak pria yang udah mama Lo goda itu, ada papa gue! gara-gara mama Lo yang pelacur itu, keluarga gue hancur! Lo dan mama Lo udah ngehancurin kebahagiaan keluarga gue! sialan! gue benci banget sama Lo!"
Rasanya dunia Dasha semakin hancur setelah mengetahui kebenaran yang Nasreen katakan. Berapa banyak lagi penderitaan yang Dasha rasakan? meskipun Dasha mengetahui sebuah fakta bahwa dunia memang selalu tidak adil bagi semua orang yang merasakan penderitaan.
Nasreen berdecak kesal, sembari berdiri dan menatap nanar pada Dasha yang terlihat terguncang.
Ia lantas membalikkan badannya, menatap Azka sebentar kemudian melenggang pergi duluan.
"Lakukan sekarang." kata Nasreen sebelum benar-benar pergi.
Sepeninggal Nasreen, Azka lantas menghela napas panjangnya. Mendengar helaan napas cowok itu lantas membuat Dasha perlahan mendongak, tidak berkedip menatap wajah Azka.
Azka kemudian tersenyum, keadaan Dasha sekarang benar-benar sangat kacau. Darah segar bahkan semakin mengalir dari kepala gadis itu, jika Daren mengetahui keadaan Dasha sekarang dapat dipastikan bahwa cowok itu pasti akan marah besar.
"Gue bakal bakar tempat ini sekarang, atas permintaan Nasreen." kata Azka dengan serius.
Pupil mata Dasha bergetar, lidahnya bahkan mendadak kelu sekedar untuk menjawab perkataan cowok itu.
Azka mendengus seraya memperlihatkan korek api serta kunci rantai yang mengikat kaki gadis itu. "Lo kalau masih mau hidup, berusahalah buat kabur sebelum api melahap semua tempat ini. Lo pasti nggak mau mati, 'kan? apalagi di tempat yang kayak gini."
Deg! Deg! Deg!
Tenggorokan Dasha seperti tercekat, setelah mendengar semua ucapan Azka. Bagaimana ia bisa kabur jika kunci rantai di kakinya sekarang ada pada cowok itu?!
"Semoga beruntung." ucap Azka datar, sebelum membalikkan badannya untuk pergi Azka sempat melempar kunci ditangannya ke lantai.
Melihat kunci itu yang berada tidak jauh di hadapannya, Dasha lantas terperangah kemudian kembali mendongak menatap wajah Azka dari samping.
Sorot mata cowok itu terlihat sedih, seperti ada yang ia pikirkan.
"Kenapa Lo kayak gini?" lirih Dasha pelan.
Azka lantas menoleh, kemudian melemparkan senyumnya.
"Jangan salah paham, selama ini gue nggak pernah suka sama Lo. Gue ngelakuin semua ini cuma buat Nasreen, karena gue suka sama dia. Tapi dia malah suka sama Daren ... dan soal kunci itu, gue sedikit berharap Lo bisa kabur dari tempat ini sebelum semua terbakar. Tapi emangnya Lo bisa menggapai kunci di depan Lo itu sementara kaki Lo terikat rantai? karena itu, selamat tinggal." setelah mengatakannya, Azka segera melenggang pergi meninggalkan Dasha yang sangat panik sambil berusaha menggapai kunci di depannya.
Namun seperti kata Azka barusan, sekeras apapun ia berusaha tetap tidak bisa juga. Padahal sedikit lagi, tapi Dasha tidak bisa menjangkau kunci itu.
Dasha mengepalkan kedua tangannya dan memukul lantai dengan frustasi, ia lantas mendongak dan terkejut saat mendapati api sudah merambat masuk ke dalam ruangan tempatnya berada.
Jantung Dasha berdebar keras, ia memekik tertahan karena berada di situasi sekarang. Apa yang harus ia lakukan? padahal kunci itu ada di depannya, tapi Dasha tidak bisa menggapainya.
"KAMU DAN PRIA ITU, SAYA BENCI KALIAN! SAYA BENCI KALIAN BERDUA! SAYA HARAP KALIAN BERDUA MENGHILANG SAJA DARI DUNIA INI! PERGI SANA!"
Tiba-tiba perkataan Selena saat itu terlintas di pikiran Dasha. Fakta bahwa keinginan Selena agar Dasha menghilang dari dunia ini, akan terjadi sekarang.
Dasha rasa tidak papa, lagipula ia sudah banyak menderita. Jika kematian membuatnya tenang dan terlepas dari semua penderitaan ini, maka Dasha dengan pasrah akan menerimanya.
"Hiks!"
Dasha terisak, ia kemudian menghela napasnya sambil meletakkan kepalanya dilantai. Dasha pasrah, lagipula api sudah mulai melahap sekelilingnya. Berharap ada seseorang yang menolongnya? memangnya orang gila mana yang akan menerobos masuk ke dalam lautan api hanya untuk menyelamatkannya?
BRAKKK!
"DASHA!"
Siapa? rasanya Dasha mendengar suara seseorang memanggilnya. Dasha tidak tahu itu siapa, karena perlahan kesadarannya mulai menghilang.
"Sha! bertahanlah!" sentak Daren, ia merangkul Dasha yang sudah terbaring lemas di lantai.
Namun yang membuat Daren kaget saat ia melihat kaki gadis itu terikat rantai, Daren lantas celingak-celinguk kemudian terperangah mendapati sebuah kunci tidak jauh berada di depannya.
Meskipun berulang kali terbatuk-batuk karena asap yang mengepul di seluruh ruangan, Daren berusaha menyelamatkan Dasha agar bisa membawanya segera pergi dari tempat ini.
Setelah selesai melepas ikatan rantai pada kaki Dasha, Daren lantas membopong tubuh Dasha dan kembali menerobos api untuk segera pergi.
Jantung Daren berdegup kencang, ia sangat khawatir dengan keadaan gadis itu sekarang.
Ayara dan Satya yang menunggu diluar sangat khawatir saat Daren masuk begitu saja ke dalam rumah yang terbakar itu, cowok itu bahkan tidak menghiraukan bahaya yang mengintainya.
"Satya!" panggil Daren setelah berhasil keluar.
Satya terperangah dan menyambut kunci mobil yang Daren lemparkan kepadanya. Ia kemudian mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.
Ayara bernapas lega melihat Daren yang berhasil menyelamatkan Dasha.
"Tolong!" kata Daren, Ayara lantas mengangguk sambil membukakan pintu mobil untuk Daren masuk bersama Dasha.
Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Satya segera melajukan mobilnya untuk membawa Dasha pergi ke rumah sakit. Gadis itu perlu pertolongan segera!
Ayara yang duduk di kursi paling depan lantas menoleh kebelakang, terlihat khawatir menatap Dasha yang berada di atas pangkuan Daren.
Cowok itu sedari tadi terus memeluk Dasha yang tidak sadarkan diri, kedua matanya bahkan memerah seakan menahan diri untuk tidak menangisi keadaan gadis itu.
"Nggak papa, mulai sekarang semua akan baik-baik aja, Sha. Karena kamu adalah orang yang sangat penting bagiku di dunia ini, yang akan aku lindungi dengan nyawaku sendiri." bisik Daren pelan ditelinga Dasha, kemudian kembali memeluk Dasha begitu erat.
Daren mengusap lembut rambut Dasha, bahkan disaat seperti ini ia sangat rindu dengan kehangatan gadis itu setiap kali Daren memeluknya.
Aku nggak akan pernah menyerah, Sha.
Aku ingin membuat kamu bahagia, walau hanya sebentar saja.
Karena itu aku mohon, Tuhan ... tolong beri aku sedikit waktu lagi.
__ADS_1
40%
...••••••...