Love, Then Lost

Love, Then Lost
9- Kesal


__ADS_3

..."Bukan dia yang mematahkan hatimu, tapi ekpektasimu."...


.......


.......


.......


Bersama dengan sahabatnya, Ayara. Dasha memasuki kantin sekolah, sesekali ia dan Ayara kompak tertawa karena candaan yang mereka lontarkan.


Sembari memesan makanan yang mereka inginkan, Dasha dan Ayara berdiri di belakang para murid yang sedang berdesakan untuk mengantre semangkuk bakso yang paling enak buatan Mang Ujang.


Samar-samar Dasha mendengar bisik-bisik segerombolan siswi yang tidak jauh darinya, para adik kelas itu sedang bergosip ria membicarakan tentang sesuatu.


"Lo udah tau belum, ketua OSIS yang baru."


"Iya njir, dia ganteng banget! udah gitu sopan lagi."


"Duh, gue jadi pengen nembak dia kali aja dia nerima perasaan gue!"


"Sebaiknya anda berkaca terlebih dahulu sebelum bertindak."


"AWOKAWOKAWOK!"


Memang ya, kalau cewek udah ngumpul tuh pembahasannya nggak pernah jauh dari ketampanan cowok. Membuat Dasha geleng-geleng kepala melihat segerombolan siswi itu, menyadari tingkah Dasha, Ayara lantas melirik ke arahnya.


"Kenapa?" tanyanya heran.


Dasha menoleh, mendekatkan wajahnya ke telinga Ayara. "Emang ketua OSIS kita siapa? kok banyak cewek yang gibah tentang dia." bisik Dasha dengan ekspresi julid.


Ayara tercengang menatap gadis itu, "Lo nggak tau? apa pura-pura nggak tau?"


"Mana gue tau, kalau gue tau gue nggak bakal nanya." cibir Dasha cemberut.


"Pacar Lo."


Dasha terperangah, kebingungan. "Pacar gue? siap----"


"Daren."


"HAH?!"


.


.


.


.


Daren menghela napas panjangnya. Ternyata menjadi ketua OSIS benar-benar tugas yang melelahkan. Untungnya sekarang para anggota OSIS mengambil alih tugasnya sebentar, sementara Daren akan pergi ke kantin untuk membeli air mineral.


"Ketua."


Cowok itu tersentak kaget dan spontan menoleh ke samping mendapati teman sekelasnya yang juga anggota OSIS. Namanya Nasreen, dan gadis itu menjabat sebagai wakil ketua OSIS.


"Mau ke kantin, 'kan?" tanya Nasreen tersenyum manis seraya mensejajarkan langkahnya dengan Daren.


Daren mengangguk singkat sambil menundukkan pandangannya, "iya." jawabnya.


"Yuk, bareng. Soalnya tadi anggota OSIS yang lain nitip air mineral juga."


Daren kembali mengangguk sebagai jawabannya. Melihat wajah cowok itu dari samping, lantas membuat Nasreen tersenyum senang.


"Ternyata jabatan OSIS memang benar-benar cocok buat kamu, ya." ungkap Nasreen basa-basi.


"Biasa aja," sahut Daren singkat.


"Menurut kamu, aku juga cocok nggak jadi wakil ketua OSIS?" mendengar pertanyaan Nasreen, Daren lantas menoleh ke arahnya.


Dengan ekspresi datarnya, Daren menatap Nasreen yang terlihat salah tingkah.


"Bukan tentang cocok atau nggak, tapi tentang tanggung jawab dalam mengemban tugas sebagai wakil ketua OSIS. Kalau bertanggung jawab, semua murid pasti akan ngerasa kamu cocok dengan jabatan itu."


Nasreen terkekeh pelan, padahal bukan itu jawaban yang gadis itu mau. Tapi yasudahlah, lagipula Nasreen juga merasa bangga karena bisa membantu cowok itu dalam mengemban tugasnya.


Jika disandingkan, bukankah dirinya sangat cocok dengan Daren? ketua OSIS dan juga wakilnya, sangat serasi!


"Eh, itu kenapa? kok rame banget." tunjuk Nasreen dengan dagunya saat mereka berdua memasuki kantin sekolah.


Daren terperangah, kebingungan kenapa para murid seperti sedang mengerumuni sesuatu sehingga menyebabkan suasana yang tidak kondusif.


Karena penasaran, ia dan Nasreen lantas berjalan menghampirinya.


"Kalau jalan, selain pakai kaki juga pakai mata buat ngelihat!" bentak salah seorang siswi dengan lantangnya.


"Jangan mentang-mentang Lo kakak kelas, terus Lo pikir kami takut gitu, hah?!" temannya yang satu lagi juga ikut menimpali, mereka berdua menatap tajam pada Dasha yang kebingungan.


Apa-apaan ini? padahal dirinya yang sudah ditabrak oleh kedua siswi itu, harusnya Dasha yang marah tapi kenapa malah mereka?


Dasha tersenyum kecut, seraya menurunkan pandangannya. Seragam dan roknya bahkan basah karena ketumpahan kuah bakso, saat kedua siswi itu menyenggolnya tatkala Dasha sedang membawa semangkuk baksonya.


"Lo lihat nih seragam gue, kotor kena kuah bakso punya Lo! ini seragam baru tahu, tanggung jawab Lo, dasar sialan!" umpat siswi itu lagi.


"Harusnya Lo yang tanggung jawab, Lo duluan yang nabrak kami." sahut Ayara dingin, dengan ekspresi datarnya.


"Kok Lo jadi nyalahin kami?!"


"Apa salahnya sih kalian minta maaf duluan, mentang-mentang kakak kelas jadi sok berkuasa."

__ADS_1


"Kurang ajar banget, dasar lon----"


PRANGGG!!!


Seisi kantin tersentak kaget begitupun dengan Ayara dan kedua siswi itu, mereka tercengang menatap Dasha saat gadis itu melempar mangkuk bakso ditangannya ke lantai hingga pecah.


Dasha menghela napasnya seraya tersenyum menatap kedua siswi itu. Mentang-mentang Dasha barusan diam saja saat di caci maki, mereka kira Dasha takut? tidak! yang tadi itu benar-benar sudah kelewatan.


"Haaah, sialan. Sudah jelek, kalian juga berisik. Mending diam aja deh, soalnya mulut kalian bau sampah." kata Dasha dengan ekspresi seriusnya, sontak saja membuat kedua siswi itu menatap kesal padanya.


"Apa Lo bil----" belum selesai siswi itu berbicara, Dasha langsung menyela dengan senyuman sinis.


"Lo tuli, ya?" tanya Dasha sarkas.


Siswi itu menggertakkan giginya, kesal.


"Jelas-jelas Lo yang udah nabrak gue duluan, harusnya gue yang marah, dan harusnya Lo yang minta maaf. Kenapa malah gue yang disalahin?" kata Dasha membalas semua perkataan kedua siswi itu kepadanya. Bahkan Ayara mengangguk setuju dengan ucapannya.


"Lo----"


"Bodoh ... ya?" tanya Dasha dengan senyuman manisnya.


Skakmat! kedua siswi itu langsung terdiam, mereka tidak berkutik menatap Dasha yang bertolak sebelah pinggang dengan arogannya.


"Ada apa?"


Deg!


Dasha spontan menoleh ke sumber suara, cukup terkejut mendapati sosok Daren yang berjalan menghampirinya. Namun ekspresi Dasha berubah serius saat cowok itu tidak datang sendiri, ada seorang gadis di belakangnya. Dasha kenal gadis itu, dia yang waktu itu sudah menunjukkan ekspresi tidak suka kepadanya.


"Ketua OSIS, cewek sialan itu dia udah keterlaluan sama gue." adu siswi itu sambil menunjuk Dasha yang mengalihkan pandangannya dari Daren.


Mendengar siswi itu berkata kasar pada Dasha, kening Daren spontan mengernyit.


"Apa masalahnya?" tanya Daren berusaha tenang untuk menyikapinya.


"Dia udah numpahin kuah bakso ke seragam gue! dia juga ngehina gue!"


Dasha menyela pembicaraannya, "kok malah playing victim? wah, wah, Lo belum pernah di hajar, ya?"


"Emang kenyatannya, Lo ngehina gue!"


"Lo yang mulai duluan, sialan! kurang ajar!" Dasha sudah naik pitam, tangan kanannya bahkan sudah bersiap untuk menjambak rambut siswi itu. Namun Dasha malah terperangah saat seseorang mencengkram tangannya.


Dasha menoleh, mengernyit kesal menatap seorang gadis yang bersama Daren barusan.


"Nasreen?" panggil Daren juga ikut kaget.


Dasha mendengus. Ternyata namanya Nasreen, batin Dasha.


"Ini cuma masalah sepele kenapa diperbesar." kata Nasreen dengan ekspresi datarnya.


Nasreen menghela napasnya, lalu menatap Dasha dengan ekspresi serius.


"Selesaikan saja dengan kepala dingin, kenapa harus pakai kekerasan? dan lagi, minta maaf nggak harus tentang siapa yang duluan salah."


"Tapi di----"


Nasreen menyela pembicaraan Dasha, tidak memberikan kesempatan untuk gadis itu berbicara.


"Kakak, 'kan harusnya bersikap lebih dewasa sebagai kakak kelas. Kenapa malah ingin melakukan kekerasan pada adik kelas?" mendengar semua ucapan gadis itu, Dasha tidak berkutik. Kenapa malah dirinya yang seperti dipojokkan?


Wah parah! cewek itu sangat terang-terangan tidak menyukainya. Memangnya apa salahnya?


"Sudah, selesaikan sekarang aja. Turuti saja kata dia, dan cepat minta maaf." tambah Nasreen lagi, ia mengatakan itu sembari menatap Dasha agar gadis itu segera melakukan seperti ucapannya barusan.


Dasha lantas tersenyum, "nggak mau." sahutnya. Lagipula bukan Dasha yang salah, kenapa harus ia yang minta maaf.


"Dasha." panggil Daren, ia menatap gadis itu dengan ekspresi datarnya.


Dasha terhenyak sesaat, kenapa Daren seakan-akan juga ikut menyalahkannya? cowok itu tidak melihat kebenarannya, ya?!


"Parah, ternyata ketua OSIS benar-benar nggak adil, ya. Nggak bisa ngelihat yang mana benar dan yang mana salah." kata Dasha sarkas.


Daren terperangah mendengar perkataan gadis itu, spontan membuat kedua tangannya mengepal kuat.


"Ayo minta maaf, supaya masalahnya cepat selesai." titah Daren, masih berusaha tenang menyikapi pacarnya itu.


Dasha lantas menggigit bibir dalamnya, entah kenapa ia menjadi kesal pada cowok itu. Padahal dirinya tidak salah, dan Daren juga tidak terlalu mengetahui kronologi kejadiannya. Kenapa semua orang seakan menyalahkannya, dan memojokkannya.


"Kami minta maaf. Soal seragam Lo, gue bakal tanggung jawab. Gue bakal beliin yang baru." akhirnya Ayara membuka suara, namun ucapannya barusan spontan membuat Dasha terkejut mendengarnya.


"Tapi, Aya---" Dasha langsung terdiam saat Ayara menatap serius ke arahnya.


"Wakil ketua OSIS kita benar, cuma masalah sepele ngapain diperbesar? udah, yang waras ngalah aja. Yang gila, percaya aja sama semua perkataan adik kelas bodoh itu." setelah mengatakannya, Ayara menarik tangan Dasha dan melenggang pergi keluar dari kantin.


Ayara tidak memberikan kesempatan pada Daren yang berusaha untuk berbicara dengan Dasha. Ayara kesal pada cowok itu yang malah tidak bersikap tegas, dan juga ikut bersikap seakan-akan Dasha memang salah.


...••••••...


"Tunggu, Aya." Dasha menghentikan langkahnya, lalu melepaskan tangannya dari Ayara.


Sahabatnya itu lantas menoleh, menatap Dasha dengan ekspresi datarnya.


"Lo nggak perlu tanggung jawab buat seragam dia," lirih Dasha menunduk murung.


Melihat ekspresi Dasha, Ayara lantas tersenyum.


"Nggak papa, gue nggak masalah. Cuma seragam doang, kalau nggak dibeliin nanti dia makin bacot kayak tetangga di sebelah rumah gue." sahut Ayara, Dasha spontan mendongak dan berekspresi haru melihat senyuman yang Ayara tunjukkan.

__ADS_1


"Aya ... gue jadi sayang sama Lo!" Dasha spontan menghamburkan pelukannya pada Ayara. Meskipun Ayara selalu berekspresi datar dan bersikap cuek, namun ia yang selalu memperdulikan Dasha lebih dari siapapun.


"Gue masih normal." sahut Ayara datar.


"Sebagai sahabat!" tegas Dasha dengan ekspresi cemberutnya.


"Bau kuah bakso! bersihin sana seragam sama rok Lo di toilet. Ayo sana." titah Ayara tegas bak seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.


Dasha mengangguk cepat, "temenin gue!" ajaknya sumringah.


Mau tidak mau Ayara lantas mengangguk. Menyusul Dasha saat gadis itu sudah melenggang pergi duluan.


Cekrek!


Langkah kaki Ayara spontan berhenti, lantas membalikkan badannya seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ekspresinya berubah serius, pasalnya ia seperti mendengar suara seseorang yang sedang mengambil foto menggunakan kamera handphone.


"Aya! Lo kenapa diam aja? cepetan! nanti bel masuk bunyi!"


Ayara tersentak kaget mendengar suara Dasha memanggilnya. Dan tentang suara kamera barusan, mungkin hanya perasaan Ayara saja.


"Oke." ia lantas mengangguk seraya melangkahkan kakinya, menyusul Dasha yang sudah berada tidak jauh di depannya.


...••••••...


"Oi! Lo nggak mau pulang?"


Ayara tersentak kaget saat Dasha mengejutkannya. Karena terlalu larut dalam pikirannya, Ayara tidak sadar bahwa bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.


"Lo kenapa? tumben ngelamun." tanya Dasha seraya merapikan isi tasnya.


Ayara menggeleng, "nggak papa." jawabnya.


Sebenarnya ada yang Ayara pikirkan, ini tentang suara kamera yang terus terdengar. Seperti ada yang mengambil foto di sekitarnya, tapi entah kenapa suara itu terus terdengar setiap kali ia bersama Dasha.


Mungkin hanya kebetulan! awalnya Ayara pikir begitu, tapi kenapa ia seperti merasa sedang diawasi?


"Haaah ..." Ayara menghela napasnya seraya bangkit, kemudian menoleh saat Dasha sudah pamit duluan untuk pulang.


"Gue duluan." pamit Dasha, melambaikan tangannya pada Ayara yang mengangguk menanggapinya.


Dasha melangkahkan kakinya keluar dari kelas, ekspresinya mendadak kesal saat menyadari seseorang sedang mengekorinya dari belakang.


Karena gemas, ia lantas menoleh dan mendapati siapa pelakunya.


"Apa?!" sentak Dasha dingin.


Nyali Daren mendadak menciut, ekspresinya berubah murung seraya berusaha menggapai tangan kanan Dasha yang menjuntai.


"Boleh pegangan tangan?" tanya Daren.


Dasha langsung menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya menghadap cowok itu.


"Ketua OSIS mending pegangan tangan sama wakil ketua OSIS aja, atau sama dua cewek yang playing victim di kantin waktu itu." kata Dasha sarkas pada Daren yang berekspresi murung.


"Kamu marah?" tanya Daren merasa bersalah.


"Nggak."


"Maaf."


"Kenapa minta maaf?" tanya Dasha buang muka.


"Aku salah." jawab Daren sedih.


"Salah apa?"


"Karena udah bersikap nggak adil sama kamu. Maaf, Dasha. Jangan marah, ya? hm?" Dasha mendengus, cowok itu bisa-bisanya menunjukkan ekspresi memelas yang menggemaskan.


Kalau sudah begitu, bagaimana Dasha bisa marah pada cowok itu? melihat ekspresi Daren sekarang, hati Dasha sudah pasti luluh!


"Oke." sahut Dasha pasrah, Daren mendadak sumringah.


"Sekarang boleh pegangan tangan?" tanya Daren antusias bak seorang anak kecil.


Dasha menghela napasnya seraya mengangguk, "iya." dan tanpa basa-basi lagi cowok itu segera menggenggam tangannya dengan erat.


"Sebenarnya aku pengen peluk kamu, boleh?" tanya Daren hati-hati dengan senyum polosnya.


Dasha spontan mendelik ke arahnya, "nggak boleh! kenapa sih suka banget meluk aku, emangnya aku guling?!" kesalnya pada cowok itu.


"Karena Dasha hangat, aku suka."


"Apaan sih! jadi geli dengarnya!"


Mendengar ucapan Dasha, Daren lantas terkekeh pelan. Membuat Dasha geleng-geleng kepala memperhatikan cowok itu.


Cekrek!


"Eh?" langkah kaki Dasha terhenti, spontan menoleh dan mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor sekolah.


Entah kenapa rasanya tadi seperti ada yang memotret dirinya diam-diam, bahkan suaranya terdengar jelas di telinga Dasha.


"Kenapa, Sha?" Tanya Daren kebingungan.


Dasha lantas menggeleng, dan berpikir mungkin yang barusan hanya perasaannya saja, atau ia cuma salah dengar. Dasha tidak ingin terlalu memikirkannya.


"Nggak papa."


...••••••...

__ADS_1


__ADS_2