Love, Then Lost

Love, Then Lost
11- Loving You


__ADS_3

..."kamu tahu, aku tidak percaya pada sebuah kisah yang berakhir bahagia. Tapi jika itu benar ada, aku harap kisah kita mendapatkan akhir yang bahagia."...


...-Dasha Adhara...


.......... ...


Lena menghela napasnya, kemudian melipat kedua tangannya didepan dada seraya menatap serius pada Dasha.


"Dasha, ada yang pengen kami bicarakan."


Dasha mengangguk singkat, ia sudah tahu apa yang akan kedua gadis itu bicarakan. Tentu saja tentang permainan cinta ini.


"Loving him, is a losing game. Ingat?" ujar Lena dengan tampang datarnya.


Menciptakan suasana tegang di antara mereka, namun Tara malah mencairkan suasana itu dengan kepolosannya.


"Kayak lirik lagu, Len." celutuk Tara spontan.


"Duh kampret! padahal gue udah keren barusan!" omel Lena, berdecak kesal seraya menyikut lengan Tara untuk diam.


Melihat tingkah Tara barusan, tawa Dasha meledak.


"Serius dong, kalian." kata Dasha masih tertawa.


Lena mendengus, "gue udah serius tadi, Tara nih nggak bisa baca situasi. Dramatis dikit kek!"


"Ya maaf!" sahut Tara, mendadak cemberut.


Melihat mereka berdua, Dasha kemudian menghela napasnya. Lalu tersenyum seraya menundukkan wajahnya, dan memainkan jari jemarinya.


"Len, gue tahu semua ini cuma permainan. Tapi, tolong jangan akhiri secepat ini." lirih Dasha, ia menggigit bibir dalamnya menunggu jawaban dari Lena.


"Hah?! apa Lo bilang? secepat ini? waktunya 'kan cuma sampai satu bulan! kita semua 'kan udah sepakat memainkan permainan cinta ini, bukannya Lo juga mau semuanya berakhir dengan cepat, 'kan?!" ujar Lena dengan suara yang meninggi, terdengar kesal dan marah pada gadis itu.


"Ini semua cuma permainan, hubungan Lo dan Daren itu cuma permainan. Lagipula Lo juga nembak dia karena terpaksa, bukan karena beneran cinta! gue benar, 'kan?" tambah Tara ikut menimpali.


Bibir Dasha bergetar, perlahan mendongak kemudian melempar senyum terpaksa.


"Iya," jawab Dasha.


"Lo nggak cinta sama Daren, 'kan? Lo masih ingat permainan ini, 'kan? lagipula beberapa hari lagi kita akan mengakhiri semuanya." Lena tersenyum, menatap lekat Dasha yang menundukkan wajahnya.


"Jujur aja, Dasha. Lo nggak baper sama Daren, 'kan? kami berdua bahkan nggak baper sama target permainan kami." kini giliran Tara bertanya, mendengarnya lantas membuat dada Dasha sesak.


Apa yang harus Dasha lakukan? Dasha tahu bahwa saat seperti ini akan tiba, dan berpikir bahwa ia bisa dengan mudah mengakhiri semuanya. Tapi sekarang semua terasa sulit.


"Permainan? maksud kalian?"


Deg!


Dasha terlonjak kaget, membuat mereka bertiga kompak menoleh ke sumber suara. Terkejut mendapati sosok Satya yang berjalan menghampirinya.


Cowok itu nampak kebingungan, ia bahkan tersenyum kecut karena tidak sengaja harus mendengarkan semua pembicaraan ketiga gadis itu.


"Lo ngupil?!" sentak Tara menunjuk Satya.


"Nguping! bukan ngupil!" koreksi Lena geleng-geleng kepala.


Satya mengangguk, "sorry, sebenarnya gue pengen nagih hutang Dasha. Eh nggak sengaja dengar kalian lagi bicara serius, gue nggak bermaksud nguping." sahut Satya menjelaskan semuanya, namun ketiga gadis itu malah menatap selidik ke arahnya.


"Hutang? sejak kapan gue ngutang sama Lo?!" sentak Dasha, bingung.


"Kemarin malam! Lo bilang bakal traktir gue bakso di kantin, itu termasuk hutang!"


Mendengar jawaban Satya, Dasha mendengus seraya memijit pelipisnya. Padahal sedang seriusnya, tapi cowok itu datang dan mengacaukan semuanya.


"Apa maksud kalian? permainan cinta?" tanya Satya, ekspresinya berubah serius menatap Dasha dan meminta penjelasan.


Dasha ternganga, "sampai mana Lo nguping pembicaraan kami?" tanyanya spontan.


Satya menundukkan wajahnya, kedua tangannya terkepal kuat. "Tara bilang Lo nggak benar-benar suka sama Daren, dan Lo nembak dia karena sebuah permainan. Terpaksa, bukan karena cinta. Maksudnya apa?"


Dasha mengalihkan pandangannya, "bukan urusan Lo." jawabnya ketus.


"Ini juga urusan gue!" teriak Satya, kemudian menghela napasnya. "Karena kita semua 'kan teman sekelas," lanjutnya lagi.


Lena meneguk salivanya kemudian mengangguk pasrah, lagipula jika hanya Satya yang tahu tentang masalah ini, toh tidak masalah bagi Lena.


Jadi ia sudah memutuskan, untuk menjelaskan semuanya kepada Satya.


"Sebulan yang lalu kami bertiga main permainan cinta. Gamenya simpel, karena kami cuma harus nyari satu cowok untuk jadi target permainan kami. Karena targetnya sudah ditentukan, kami harus nembak cowok itu dan pacaran dengannya selama satu bulan."


Dasha menggertakkan giginya, bahkan tangannya sudah terkepal kuat. Bagaimana bisa Lena semudah itu menceritakan semuanya kepada Satya.


Setelah Lena menceritakan semuanya dari awal sampai sekarang, Satya mendadak bungkam. Cowok itu terlihat syok mendengarkan cerita Lena, ia tidak habis pikir dengan permainan konyol yang ketiga gadis itu mainkan.


Satya lantas menoleh ke arah Dasha, menatap lekat gadis itu. "Jadi selama ini Lo ngejalanin hubungan sama Daren, karena terpaksa? bukan karena cinta?" tanyanya meminta penjelasan.


Dengan ragu, Dasha lantas mengangguk singkat.


"Iya," jawabnya.


Namun semua sudah berubah! karena Dasha benar-benar menyukai Daren, perasaan yang sesungguhnya! memang benar semua hanya terpaksa karena permainan, tapi sekarang tidak lagi. Dasha tidak ingin mengakhiri semua ini.


Satya terkekeh, kemudian tersenyum kecut memandangi ketiga gadis itu.


"Pasti berat ya, harus berpura-pura menyukai cowok itu? padahal dia udah bucin banget sama Lo, kalau dia tahu semua ini cuma permainan. Lo bisa bayangkan, 'kan? gimana hancurnya dia." Dasha spontan mendongak, tidak berkutik mendengar semua perkataan Satya.


Cowok itu benar, Daren pasti akan sangat hancur. Daren akan sangat kecewa kepadanya.


"Sebaiknya cepat akhiri permainan kalian sekarang, lagipula kalian semua menjalani hubungan selama satu bulan itu cuma karena permainan dan itu bukan ketulusan dari hati kalian." lanjut Satya lagi, menatap ketiga gadis itu secara bergantian.


Dasha spontan menggeleng tidak setuju. Ia tidak ingin mengakhiri semua ini! ia tidak ingin berpisah dengan Daren.

__ADS_1


"Tunggu! ja-jangan!" sentak Dasha panik.


Lena, Tara, dan Satya kompak menatap Dasha. Mereka mengernyit heran memperhatikan Dasha yang gelagapan.


"Kenapa? harusnya Lo 'kan senang, permainan cinta ini akan berakhir. Jadi Lo nggak perlu lagi akting seolah-olah Lo cinta dia." skakmat! perkataan Satya berhasil membungkam Dasha.


Lena bahkan mengangguk setuju dengan ucapan Satya, "game over." timpalnya yang berhasil membuat jantung Dasha berpacu dengan cepat.


Drap! drap!


Deg!


Ekor mata Dasha spontan melirik ke arah pintu UKS. Dan betapa terkejutnya Dasha saat menyadari kehadiran teman Daren yang tidak lain ialah wakil ketua OSIS, gadis bernama Nasreen itu melenggang pergi meninggalkan UKS.


"Hah? dia nguping?" gumam Dasha, detik selanjutnya tubuhnya menegang.


Dasha langsung turun dari ranjang UKS, membuat Satya, Lena, dan Tara terkejut bukan main. Padahal kaki gadis itu masih sakit.


"Eh, Lo mau kemana? kaki Lo 'kan masih sakit!" teriak Satya khawatir, ia mencegat tangan Dasha namun gadis itu malah menepisnya dengan kasar.


"Lepas!" bentak Dasha, menatap Satya dengan tatapan tajamnya.


Melihat tatapan gadis itu, Satya terdiam dan pasrah saat Dasha dengan berjalan tertatih-tatih melenggang pergi dari UKS. Gadis itu terlihat panik dan syok, seakan ketakutan akan sesuatu.


...••••••...


"Dia nguping! dia nguping, semua pembicaraan kami!" gumam Dasha.


Nasreen, gadis itu pasti benar-benar menguping semuanya! tentang permainan ini, dan tentang perasaannya! dari gerak-geriknya, Nasreen seperti akan mengadukan semuanya kepada Daren.


Dasha yakin! karena itu dengan memaksakan kakinya yang masih terasa sakit, Dasha menyusul Nasreen dan ingin menghentikannya!


Deg!


Dan benar saja, seperti pemikiran Dasha. Nasreen pergi ke tempat Daren berada, ia seperti membicarakan sesuatu yang serius pada Daren. Bahkan ekspresi Daren juga berubah.


Deg! Deg! Deg!


Jantung Dasha berpacu dengan cepat, perasaannya campur aduk. Ketakutan bahwa Nasreen akan menceritakan semuanya pada Daren, membuat Dasha tidak bisa berpikir jernih.


Dan saat Nasreen pergi meninggalkan Daren, Dasha segera berlari menghampiri cowok itu.


"Ren! Daren!"


Daren tersentak kaget, ia terbelalak kaget saat melihat Dasha berlari menghampirinya. Gadis itu bahkan tidak berhenti meringis karena masih merasakan sakit pada kakinya.


"Dasha!" Daren spontan berlari menghampiri Dasha, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Dasha saat tubuh gadis itu mulai kehilangan keseimbangan.


"Kamu kenapa kesini? harusnya di UKS aja." tanya Daren khawatir, seraya menuntun Dasha menuju kursi panjang untuk duduk.


Napas Dasha tersengal-sengal, ia bahkan mencengkram kuat seragam Daren kemudian perlahan mendongak dengan ekspresi paniknya.


"Nasreen!" sentak Dasha, Daren lantas mengernyit heran.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"Oh itu, dia tadi cuma ngomong soal formulir yang harus segera aku kumpulkan ke kepala sekolah. Padahal aku belum selesai ngurus formulirnya, makanya aku jadi kepikiran."


Hah? bukan tentang permainan?


Dasha mengernyit, apa-apaan dengan gadis itu? padahal Dasha yakin bahwa Nasreen sempat menguping pembicaraan mereka. Bahkan dari gerak-geriknya saat kabur barusan seakan mengatakan bahwa ia akan memberitahukan semuanya kepada Daren.


Dasha pikir begitu, makanya ia memaksakan diri untuk mengejarnya. Tapi ternyata Dasha salah? atau soal Nasreen yang menguping pembicaraan itu juga, Dasha salah?


Apa-apaan ini? kenapa Dasha seperti dipermainkan? apa Nasreen sengaja melakukan semua ini sehingga membuat Dasha salah paham?


"Sha? kamu kenapa?" tangan Daren perlahan mengelus pipi Dasha, menatap lekat wajah serius Dasha yang terlihat sedang berpikir.


Dan saat Dasha menghela napasnya, Daren kemudian tersenyum tipis karena merasa lucu dengan gadis itu.


"Ada yang kamu pikirkan, hm?" tanya Daren penasaran.


Dasha menggeleng, kemudian memaksakan senyumnya.


"Nggak kok," jawabnya.


"Terus kenapa kamu kesini? kayak panik gitu?" tanya Daren lagi.


Dasha tersenyum seraya menundukkan wajahnya, "nggak ... cuma kangen aja." jawabnya.


Dan jawaban Dasha yang tidak biasanya itu lantas membuat jantung Daren berdegup kencang, ia menjadi salah tingkah karena gadis itu.


Namun disisi lain, Daren sangat senang sampai ingin memeluk gadis itu karena merasa bahwa ekspresi Dasha sekarang sangat menggemaskan.


"Masih di sekolah, jangan coba-coba mau meluk aku." celutuk Dasha seakan tahu apa yang Daren pikirkan.


Tentu saja Dasha mengetahuinya! cowok itu jika merasa senang, pasti akan memeluk dirinya dengan gemas. Lihat saja sekarang, ekspresi Daren mendadak cemberut karena perkataannya barusan.


"Kalau gitu sebagai gantinya, malam ini kamu harus telpon aku terus bilang bahwa kamu lagi lapar. Oke?" ujar Daren yang kontan saja membuat Dasha terperangah, tidak mengerti maksudnya.


"Lah? kok gitu?"


"Soalnya supaya ada alasan aku bisa ketemu kamu malam ini."


Sepertinya butiran-butiran cinta mulai terpancar dari senyuman manis cowok itu, membuat Dasha gemas ingin segera mengacak-acak rambut cowok itu.


"Dasar modus!" sentak Dasha, dan melancarkan serangannya pada cowok itu. Dasha mulai mengacak-acak rambut Daren dengan gemas hingga membuat tawa mereka berdua meledak.


Siapapun yang melihat mereka sekarang pasti akan menyadari betapa mereka saling mencintai satu sama lain. Namun tidak dengan Satya, ia merasa kasihan pada Dasha yang harus berakting seakan benar-benar mencintai cowok polos itu.


Betapa tertekannya Dasha, pikir Satya begitu. Bahkan saat matanya dan mata Dasha bertemu, senyum gadis itu mulai memudar saat menyadari kehadirannya.


"Gue bakal bantuin Lo buat mengakhiri permainan ini, Sha."

__ADS_1


...••••••...


Setelah mandi kemudian mengenakan piyamanya, Dasha lantas berjalan menuju kasurnya untuk mengeringkan rambutnya. Setidaknya kakinya sudah dapat berjalan meskipun masih terasa sedikit sakit, semua ini berkat tukang pijat yang Ayara rekomendasikan untuknya.


Ekor mata Dasha lantas melirik jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan entah kenapa tiba-tiba perut Dasha mengeluarkan suara, ia merasa lapar.


Teringat dengan perkataan Daren saat di sekolah, Dasha tersenyum sambil mengambil handphone-nya dan mulai mengirimkan pesan pada cowok itu.


^^^**To: Daren 😺*^^^


^^^Lapar*.^^^


Setelah mengirimkan pesan pada Daren, tidak sampai semenit cowok itu sudah membalas pesannya yang masuk.


From: Daren😺


Lagi aku beliin, tunggu sebentar ya😋


Membaca balasan dari Daren membuat Dasha tidak bisa berhenti tersenyum. Bahkan saat bertukar pesan pun, Daren selalu fast respons terhadapnya.


Dan lagi, Daren kembali mengirimkannya pesan. Melihat Daren yang mengirimkan sebuah foto, membuat Dasha mengernyit heran seraya membuka isi pesannya.



Melihat foto yang dikirimkan Daren sontak saja membuat Dasha tercengang, tidak ia sangka cowok itu tidak hanya membelikannya makanan, tapi juga banyak boneka!


From: Daren😺


Nanti aku telpon pas udah nyampe rumah kamu, sabar ya^^


^^^To: Daren😺^^^


^^^Iya, sayang🤪^^^


From: Daren 😺


Pengen peluk!


^^^To: Daren 😺^^^


^^^Iya nanti! pas kamu udah nyampe 😤^^^


From: Daren😺


MELUNCUR!!!


Membaca pesan terakhir dari Daren, Dasha tetawa renyah seraya geleng-geleng kepala. Kemudian berjalan menuju cermin besar yang ada di dalam kamarnya.


Dasha mulai merenung, memandangi dirinya sekarang dari balik cermin itu.


Bahkan cermin pun menjadi teman yang paling jujur untuk mendeskripsikan dirinya sekarang.


Selang beberapa menit, handphone Dasha berdering. Dasha cukup kaget karena Daren yang menelponnya, tidak ia sangka cowok itu sangat cepat datangnya.


Segera Dasha keluar dari kamarnya, perlahan menuruni anak tangga dengan langkah kecilnya. Untungnya sekarang mamanya itu sudah tertidur pulas.


Dan saat Dasha membuka pintunya, senyumnya tidak bisa berhenti saat mendapati kehadiran Daren. Cowok itu sudah berada di depan pagar rumahnya, menunggu Dasha datang untuk membukakannya.


"Selamat malam, cantik." sapa Daren tersenyum saat Dasha membukakan pintu pagar untuknya.


"Cepat banget sampainya," kata Dasha terkekeh pelan.


Daren mengangguk kemudian merentangkan kedua tangannya, "peluknya mana?" tagih Daren.


Melihat tingkah cowok itu, Dasha lantas geleng-geleng kepala seraya mendekat pada Daren. Namun bukannya memeluknya, Daren malah memasangkan jaket ke tubuhnya.


"Udara malam itu dingin, harusnya kamu pakai jaket supaya nggak masuk angin." tegur Daren dengan tampang seriusnya.


Melihat ekspresi cowok itu, Dasha terkekeh kecil sembari mengangguk paham.


"Maaf, aku lupa." ucapnya.


Daren mengangguk seraya mendekatkan tubuhnya pada Dasha, kemudian memeluk gadis itu dengan erat.


"Hangat. Aku suka." kata Daren pelan, masih belum melepaskan pelukannya pada Dasha.


"Udah, jangan lama-lama. Nanti tetangga malah mikir macam-macam!" Dasha mendorong pelan tubuh Daren, dan mundur beberapa langkah dari cowok itu.


Hal itu lantas membuat Daren jadi cemberut, pelukannya sangat sebentar padahal ia sangat merindukan gadis itu. Setiap harinya, meskipun ia selalu bertemu dengan Dasha di sekolah, Daren akan selalu merindukannya.


Saat tersadar akan tujuannya menemui Dasha, Daren lantas berjalan menuju mobilnya kemudian membuka bagasinya. Ia mengeluarkan banyak makanan dan cake cokelat yang sudah ia beli untuk gadis itu, tidak lupa juga banyak boneka untuk Dasha.


Daren yakin, Dasha akan sangat menyukainya.


"Makasih, Daren." ucap Dasha tersenyum manis dengan kedua tangannya yang penuh dengan makanan dan boneka yang Daren berikan.


"Sama-sama. Yaudah, sana masuk. Buruan, nanti masuk angin." titah Daren sembari menutup bagasi mobilnya.


Dasha lantas mengangguk bak seorang anak kecil, yang membuat Daren tidak berkedip memandanginya.


Ini kesempatan yang bagus, pikir Daren. Ia lantas mendekati Dasha, berdiri tegak di depan gadis itu. Kemudian mencium singkat kening Dasha yang berhasil membuat tubuh gadis itu mematung.


Setelah melakukannya, Daren cengengesan dengan tampang tidak bersalahnya.


"Daren!" sentak Dasha, cowok itu curang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Anggap aja itu bayarannya." jawab Daren tersenyum puas.


"Oke, bye!"


Wajah Dasha memerah, ia sangat malu. Lantas membuatnya melenggang pergi meninggalkan cowok itu, namun Dasha sempat menoleh sebentar ke arah Daren. Cowok itu melambaikan tangannya, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bersiap pergi.


Kedua sudut bibir Dasha terangkat ke atas, ia tersenyum simpul memandangi Daren yang sudah melajukan mobilnya pergi.

__ADS_1


Pertemuan singkat barusan benar-benar membekas di hati Dasha. Haah, ia sangat menyukai cowok itu sampai tidak ingin mengakhiri semuanya.


...••••••...


__ADS_2