
Tidak bisa dipungkiri, kejadian kemarin membuat Daren masih terguncang. Cowok itu bahkan enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, sambil membenamkan wajahnya di atas meja.
Menyadari sikap Daren yang terlihat murung, Azka dan Nasreen berinisiatif untuk menghibur cowok itu.
"Dek, mau Abang beliin permen, nggak?" tanya Azka sambil mengetuk-ngetuk meja Daren, namun cowok itu tidak menghiraukannya.
Nasreen mendengus, "udah dong, jangan sedih lagi. Kamu nggak bisa terus-terusan murung kayak gitu, emangnya di dunia ini cuma ada satu cewek, ya?" sebenarnya Nasreen sudah tidak tahan dengan cowok itu, sikap Daren sekarang benar-benar mengkhawatirkan.
Daren sangat galau, bahkan terlihat tidak bersemangat di sekolah. Tidak seperti Daren yang biasanya.
"Kalau mau menghibur jangan gitu, Lo bikin dia tambah down aja." Azka memutar malas bola matanya, kemudian geleng-geleng kepala.
Tidak terima dengan perkataan cowok itu, Nasreen spontan mendelik padanya.
"Tapi omongan gue nggak salah tuh, iya 'kan Daren? kamu juga pasti mikir begitu, 'kan?" tanya Nasreen, berpikir bahwa Daren sependapat dengannya.
"Duh, nggak peka sama perasaan Daren ya Lo? dasar cewek!"
"Lah? gue salah apa?!"
Padahal suasana hatinya sedang tidak baik, tapi kedua orang itu malah ribut di hadapannya. Merasa kesal dengan pembicaraan mereka, akhirnya Daren mendongak menatap kedua temannya itu.
Melihat ekspresi Daren sekarang, Azka dan Nasreen terhenyak. Mereka tidak berkedip mendapati wajah Daren yang terlihat sedih, Daren bahkan mengusap wajah dengan punggung tangannya sambil berusaha menyembunyikan ekspresinya sekarang.
"Lo---nangis?" tanya Azka blak-blakan.
Nasreen spontan menjitak kepala Azka, "sekarang siapa yang nggak peka sama perasaan Daren?!" sentaknya gemas.
"Debu masuk." sahut Daren seraya bangkit dari duduknya, kemudian menunduk murung.
Azka mendengus, "mending keluar kelas sana, cari udara segar." usulnya, Nasreen mengangguk setuju.
Tanpa menjawab perkataan Azka, Daren melangkahkan kakinya pergi. Namun sebelum melewati pintu kelasnya, perkataan Nasreen spontan menghentikan langkahnya.
"Harusnya kamu bersyukur, karena udah dijauhkan dari cewek palsu itu."
.
.
.
.
Kalau dipikir lagi, selama satu bulan bersama Dasha, masih banyak hal yang Daren tidak ketahui tentang gadis itu. Yang mereka habiskan hanya hari-hari yang penuh bahagia, tanpa mengetahui apakah gadis itu benar-benar bahagia saat bersamanya atau cuman kebohongan saja.
Dan mungkin saja Satya juga benar, Daren sudah membuat gadis itu terbebani setiap harinya hanya untuk berpura-pura mencintainya saja.
Bodoh ... Daren seperti orang bodoh saja. Karena cinta gadis itu, benar-benar telah menghanyutkannya.
"Wah parah! ini beneran?"
"Gila! gila! ngeri banget."
"Jangan-jangan dia mau ngikutin jejak mamanya, secara 'kan mamanya----"
Saat berjalan di sepanjang koridor, Daren baru menyadari satu hal. Setiap siswa dan siswi sedang membicarakan sesuatu. Daren bahkan mengernyit heran saat mendapati banyak murid yang sedang berkerumun di depan setiap papan mading yang ada di koridor sekolah.
Karena penasaran, Daren lantas berjalan menghampirinya. Menyadari kehadiran sang ketua OSIS, semua murid kompak membuka jalan untuk cowok itu lewat dan mengetahui apa yang terjadi sekarang.
"Eh, itu si ketua OSIS!"
"Pacarnya tuh!"
"Udah jadi mantan! Lo nggak lihat ya, gimana cewek sok cantik itu mencampakkan Daren!"
Setelah berdiri tegak di depan papan mading itu, seluruh tubuh Daren menegang, ekspresinya syok setelah melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
"S-siapa?" Daren ternganga, tidak berkedip menatap semua coretan penuh hinaan, bahkan beserta foto yang tertempel pada mading itu.
CEWEK MUNAFIK! NAJIS! ANAK PELACUR!
PEMBOHONG! NGGAK MAMA NGGAK ANAK, SAMA AJA! SAMA-SAMA PELACUR!
CEWEK SIALAN! JIJIK! TERNYATA BUAH JATUH NGGAK JAUH DARI POHONNYA! WAJAR SIH, MAMANYA 'KAN SETIAP HARI JADI PELACUR. MUNGKIN KARENA ITU ANAKNYA MAU NGIKUTIN JEJAK MAMANYA!
Dan semua hinaan itu disertai foto-foto yang langsung membuat rahang Daren mengeras. Karena semua foto yang tertempel itu adalah foto-foto Dasha yang diambil secara diam-diam. Tidak hanya foto Dasha, foto mamanya yang sedang bermesraan bersama pria lain juga ada!
Apa-apaan semua ini, melihatnya saja langsung membuat Daren marah. Stalker yang diam-diam memotret Dasha, benar-benar kurang ajar.
Bahkan ada satu foto yang membuat Daren terhenyak dan langsung mengambil foto itu, yang tidak lain ialah foto Dasha bersama Satya. Seseorang memotret mereka saat Satya tengah menggendong Dasha di punggungnya. Daren tidak tahu kapan ini terjadi, karena Dasha tidak pernah memberitahukan padanya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Daren dingin, ia menoleh dan menatap selidik satu persatu murid yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Mereka semua lantas menggeleng tidak tahu, aura yang Daren tunjukkan sekarang berhasil membuat mereka semua bergidik ngeri.
Karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, Daren langsung membersihkan papan mading itu. Ia mengambil setiap foto yang ditempelkan pada mading tersebut, kemudian menghapus semua tulisan yang penuh hinaan mengenai gadis itu.
"Da----sha."
Ada dimana gadis itu sekarang? apa dia mengetahui semua rumor buruk tentangnya ini? pikiran Daren tiba-tiba penuh dengan gadis itu, namun saat tersadar bahwa ia sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengannya, lantas membuat Daren menunduk murung.
"Bodoh! bodoh! bodoh!"
Daren mulai merutuki dirinya, dan berpikir apakah semua rumor tentang Dasha itu ... karena dirinya?
...••••••...
Dasha menghela napas panjangnya, setelah dari UKS untuk meminta perban, kemudian berjalan di sepanjang koridor sekolah. Entah kenapa tatapan setiap murid mulai membebaninya. Bahkan Dasha samar-samar mendengar suara mereka yang tengah membicarakannya.
Memangnya apa yang terjadi? memangnya Dasha selebriti? kenapa semua perhatian kini tertuju pada dirinya? bahkan yang sedang menggosipkan dirinya, apa mereka sedang tidak punya kerjaan?!
"Untung aja lengan seragamnya panjang, jadi gue bisa nutupin luka gue." Dasha bergumam, kemudian tersenyum simpul sembari memasuki ruangan kelasnya.
Dan seperti di koridor barusan, bahkan suasana kelasnya juga nampak aneh. Pasalnya disaat Dasha memasuki kelas, semua teman sekelasnya kompak menatap ke arahnya. Mereka bahkan mengerumuni mejanya, lantas membuat Dasha memasang tampang kebingungannya.
"Sha? Lo nggak papa?" sambar Ayara spontan memeluk Dasha.
Menyadari tingkah Ayara yang tidak seperti biasanya, Dasha lantas mendorong pelan tubuh gadis itu menjauh darinya.
"Gue nggak papa tuh, emangnya kenapa?" tanya Dasha menaikkan sebelah alisnya.
Ayara terkekeh pelan, "eeeh, Sha, gue mau ke kantin, temenin gue!" ajakan Ayara yang tiba-tiba itu semakin membuat Dasha kebingungan.
Dan saat ekor mata Dasha melirik ke arah mejanya yang sedang dikerumuni itu, semua teman sekelasnya kompak melempar senyum pada Dasha. Alhasil membuat Dasha semakin curiga, dan menatap selidik pada mereka.
"Kalian semua kenapa?" tanya Dasha sambil berjalan menuju mejanya.
"Tunggu, Sha!" cegat Ayara, berusaha mengalihkan perhatian gadis itu.
Namun karena risih, Dasha menepis tangan Ayara. "Apaan sih? sikap Lo aneh banget, emangnya Ayara yang gue kenal tiba-tiba meluk gue gitu aja?" kening Dasha mengerut, menatap tajam pada Ayara yang tidak dapat berkata-kata.
Dasha mendengus, kemudian memerintahkan semua teman sekelasnya itu untuk bubar. Memangnya apa untungnya mengerumuni mejanya, kecuali di meja itu ada hal yang menarik perhatian mereka.
Deg!
Anak pelacur! murahan! cewek palsu! pembohong! munafik! nggak anak nggak mama sama aja, sama-sama suka mainin cowok!
atau jangan-jangan selain pacaran sama Daren, Lo juga jual diri kayak mama Lo itu 'kan?
PELACUR! MENDING MENGHILANG AJA SANA! MATI LO! ENYAH DARI DUNIA INI!
Dasha spontan membekap mulutnya, dan benar saja ternyata ada hal yang menarik perhatian di mejanya. Semua coretan hinaan yang tertuju padanya, membuat seluruh tubuh Dasha gemetar.
"Siapa yang nulis ini?" Dasha langsung mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu teman sekelasnya yang tidak berkutik.
"SIAPA YANG NULIS INI?! GUE NANYA, KENAPA KALIAN DIAM AJA!"
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memangnya siapa yang mengetahui semua rahasianya bahkan tentang mamanya? memikirkan hal itu lantas membuat Dasha tersenyum getir.
"Sha, tenangkan diri Lo dulu." Ayara membuka suara, berjalan menghampiri Dasha seraya mengeluarkan tisu dari sakunya.
Ayara berniat untuk membantu membersihkan coretan di atas meja Dasha, namun gadis itu malah menepis tangannya.
"Apa Lo yang ngelakuin ini, Ya?" Dasha tersenyum kecut menatap Ayara, lantas membuat gadis itu tidak bergeming menatapnya.
"Maksud Lo?" tanya Ayara, ekspresinya berubah serius.
"Ha-habisnya, yang tahu rahasia gue 'kan cuma Lo ...."
Dasha menggigit bibir dalamnya yang gemetar, kemudian tersenyum tipis menatap Ayara yang terlihat marah padanya.
"Lo nuduh gue?" tanya Ayara, nada suaranya terdengar dingin dan menusuk.
"Gue cuma nanya!"
"Itu sama aja Lo nuduh gue!" sentak Ayara meninggikan nada suaranya, "Lo nggak percaya gue ya, Sha?" kini nada suara Ayara terdengar gemetar, ia bahkan tersenyum kecut menatap Dasha.
Mendengar perkataan Ayara, Dasha tertawa kecil. Betapa bodohnya ia sekarang, karena tidak bisa berpikir jernih membuatnya menuduh Ayara tanpa bukti.
Dasha bahkan mulai berpikir, kenapa takdir mulai mempermainkan hidupnya? dengan mengirimkan penderitaan yang terus menerus menghampirinya tanpa jeda. Memangnya Dasha salah apa? kenapa dunia sangat kejam memperlakukannya?
"Dasha!" Ayara langsung berteriak, memanggil nama gadis itu saat Dasha tiba-tiba berlari melenggang pergi dari kelas.
Dasha ingin melarikan diri! kemana saja asal bisa sejenak menghilang dari keramaian ini! Dasha sudah tidak tahan saat semua orang mulai memperhatikannya, karena rumor itu telah tersebar dan mereka semua mulai membicarakan tentang dirinya.
"Oh? ada anak pelacur."
__ADS_1
Deg!
Kaki Dasha spontan terhenti, ia lantas menoleh, tidak berkedip menatap dua orang siswi yang berjalan menghampirinya. Dasha mengenali wajah mereka, dua orang siswi yang waktu itu pernah berdebat dengan Dasha di kantin.
"Mau kemana? mau nyari om-om buat jual diri, ya?"
Kedua tangan Dasha spontan terkepal kuat, menatap tajam kedua siswi itu yang mulai berani bersikap kurang ajar padanya. Dasha tahu, karena keadaannya sekarang mempermudah kedua siswi itu untuk balas dendam dengannya.
"Jaga omongan Lo." kata Dasha dengan menekankan nada suaranya.
Kedua siswi itu saling melempar senyum miringnya, mendekati Dasha kemudian menjambak rambutnya.
Dasha langsung memekik tertahan, tidak percaya dengan yang dilakukan siswi itu kepadanya.
"Lo nggak ngerasa bersalah sama sekali, hah? udah nipu Daren, dan pura-pura suka sama dia! murahan banget cara Lo bermain, emangnya apa untung Lo mempermainkan perasaan Daren, hah?!"
Deg!
Mendengar nama cowok itu di sebut, amarah Dasha spontan memuncak. Tidak ingin kalah, Dasha langsung balas menjambak rambut siswi itu sambil meneriakinya.
"Emangnya apa yang Lo tahu tentang gue, hah?! Lo nggak berhak ikut campur! Lo bahkan nggak tahu perasaan gue, jadi jangan sok tahu, sialan! mending urus aja hidup Lo, nggak usah ngurusin hidup gue!" Dasha sangat marah, ia bahkan berulang kali mendorong tubuh siswi itu.
Mereka saling berteriak kencang satu sama lain, tidak memberikan kesempatan untuk saling mengalah. Memangnya mereka kira Dasha adalah gadis yang lemah? yang hanya diam saja saat seseorang membully dirinya?!
"Sialan! lepasin gue! cewek munafik!" siswi itu terus memberontak, berteriak kesal saat Dasha tidak melepaskan dirinya.
Melihat perkelahian mereka, salah satu siswi yang lainnya lantas membantu temannya, dengan mendorong tubuh Dasha hingga hampir tersungkur ke lantai.
Setelah berhasil melerai mereka, siswi itu menatap tajam pada Dasha kemudian dengan ringan tangannya melayangkan tamparan keras pada wajah Dasha.
PLAAAKK!
Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuh Dasha, membuatnya menegang sambil tidak berkedip menatap kedua siswi itu. Mereka berdua tersenyum puas, sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Tidak hanya mereka yang terlihat senang, semua orang yang menonton perkelahian barusan juga terlihat puas. Mereka semua berpihak pada kedua siswi itu, dan berhasil memojokkan dirinya.
"Sadar diri, bodoh! mereka semua benci sama Lo, nggak ada yang suka sama Lo!"
"Kalau gue jadi Lo, mending gue bunuh diri aja sekarang. Semua orang juga pasti berharapnya gitu!"
Deg! Deg! Deg!
Semua perkataan mereka, berhasil membungkam Dasha. Bahkan Kalimat itu hampir sama seperti yang mamanya katakan pada dirinya. Kenapa semua orang berharap Dasha menghilang saja dari dunia ini? kenapa mereka semua menginginkan itu?
Pada akhirnya yang Dasha rasakan hanya penderitaan saja, kecuali saat bersama cowok itu. Saat ia pikir kebahagiaan akan selalu menyertainya, namun takdir kembali merampasnya.
Tidak! bukan takdir yang merampasnya! ini semua salah dirinya, karena saat kebahagiaan datang padanya melalui cowok itu, Dasha malah menolaknya.
.
.
.
.
"Gue mengacaukan semuanya. Mereka semua benci gue, semua orang, bahkan mama. Kenapa rasanya susah banget cuma buat ngerasain bahagia doang?" Dasha menunduk murung, dan mulai berbicara pada dirinya sendiri.
Ia menekan luka pada lengannya yang dibalut perban, kemudian meringis kesakitan. "Sakit ..." gumamnya pelan.
Dasha ingin kembali menangis, tapi kenapa tidak bisa? seakan air matanya yang pernah ia tumpahkan, kini sudah mengering.
Berapa lama lagi Dasha harus merasakan semua ini? kenapa semua sangat menyakitkan, bahkan membuat dadanya sesak seperti ditusuk ribuan jarum.
"Sakit ..." ia kembali bergumam, membuka perban yang membalut lengannya kemudian menekan beberapa luka sayatan itu hingga kembali berdarah.
Gadis itu menyakiti dirinya, sebagai perantara untuk melampiaskan emosi dan perasaannya.
Setetes demi setetes darah segar itu mulai menetes ke lantai, membuat Dasha semakin mencengkram luka di lengannya itu. Kuku-kuku jarinya yang panjang itu bahkan menancap tepat pada luka sayatan di tangannya, yang malah semakin membuatnya mengeluarkan banyak darah.
Dasha kemudian tersenyum, dan saat ia mendongak, air mata mulai mengalir dari mata sebelah kirinya.
Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi saat air mata keluar dari mata sebelah kanan itu berarti kebahagiaan. Namun jika air mata itu keluar dari sebelah kiri, itu berarti kesedihan.
"Hiks! sakit! sakit! sakit!"
Isak tangis Dasha mulai terdengar, ia bahkan membekap mulutnya agar tidak bersuara dan mencoba menahan tangisnya. Namun tidak bisa! tangisnya malah semakin menjadi tatkala Dasha mulai merasakan sesak yang amat dalam di dadanya, hingga membuatnya semakin terisak.
Untungnya Dasha sekarang berada di tempat yang sepi, tidak ada siapapun selain dirinya karena tempat itu jarang dilalui oleh murid-murid lainnya.
Namun Dasha tidak menyadari, bahwa selama ia berada di tempat itu, ada seseorang yang sangat betah sedang mengawasinya. Bahkan membuat hatinya juga ikut sakit saat melihat isak tangis Dasha, gadis itu sudah terlalu lama memendam emosinya.
Dasha ....
__ADS_1
...••••••...