
"Woi! gue beneran pake daster nih? biasanya 'kan Snow White itu pake gaun!"
Teriakan protes dari Satya yang marah membuat seisi kelas tertawa. Akhirnya hari perlombaan pun dimulai.
Semua kelas sibuk mempersiapkan penampilan terbaiknya masing-masing. Sementara kelas 12 IPS 4 itu, malah sibuk protes dan marah-marah.
"Gara-gara nggak ada yang bayar kas, lihat sendiri 'kan akibatnya! kita nggak punya duit buat nyewa gaun!" balas Lena dengan ekspresi kesalnya.
"Miskin banget. Kasihan." timpal Tara dengan ekspresi sedihnya.
"Mana dasternya robek-robek lagi, bukannya jadi Puteri malah jadi gembel!" delik Satya, kemudian mendengus pasrah.
Saking kocaknya ekspresi Satya, membuat mereka kembali tertawa.
"Lo masih mending, lah gue. Dikasih baju gamis." timpal Ayara datar, kemudian menunjuk marah pada Lena. "Woi, lu yang benar aja kampret! masa Pangeran pake baju gamis!?" kini Ayara dalam mode galaknya, berhasil membuat Satya tertawa terpingkal-pingkal.
"Ngakak njir!" celutuk Satya dengan gelak tawanya.
"Nggak papa sih, daripada Lo dikasih daster robek-robek. Mau mulung Lo?" skakmat! perkataan pedas dari Ayara spontan membuat Satya tersenyum kecut.
"Udah stop. Cepetan hapalin naskahnya, tuh!" titah Lena mendengus.
Namun bukannya menurut, Satya dan Ayara kompak menolak.
"Nggak mau! gue nggak mau pake daster!" ucap Satya membuang muka, berakting marah.
Ayara mengangguk setuju dengan ekspresi datarnya, "gue juga, masa pake gamis cowok. Yang bener aja." timpalnya.
"Aelah, nanti kita pikirkan lagi soal kostumnya. Untuk sekarang Lo berdua siap-siap gih, bentar lagi kita bakal disuruh ke auditorium." kata Lena serius, pasalnya sebentar lagi Ayara dan Satya akan tampil dengan membawakan sebuah lagu.
Namun yang membuat mereka penasaran, Ayara dan Satya tidak memberitahukan judul lagu yang akan mereka nyanyikan.
"Nggak usah dipikirin, nih gue udah bawain."
Mereka semua kompak menoleh ke arah pintu kelas, tersenyum lebar saat Dasha datang dengan membawa pakaian untuk penampilan drama mereka nanti.
Sang penyelamat! membuat Ayara dan Satya dengan sumringah berlari menghampiri gadis itu.
"Seriusan?! ini gaun 'kan? bukan daster?!" sentak Satya antusias.
Dasha mengangguk, "iyalah, gue udah beliin sesuai peran kalian." jawab Dasha, kemudian mendengus dengan senyuman bangganya.
"Woah! terima kasih Kurcaci Dasha!" timpal Ayara, spontan membuat Dasha terbahak.
"Kenapa nggak nyewa aja?" tanya Tara penasaran.
Dasha lantas tersenyum kecut sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, "pengennya sih gitu, tapi kata mama tiri gue beli aja. Jadi setelah lombanya selesai, kalian boleh bawa pulang pakaiannya."
Mendengar perkataan gadis itu, mereka semua tersenyum haru.
"Makasih, Sha! aduh, tapi masa gue bawa pulang gaun cewek sih? entar emak gue curiga!" kata Satya kembali frustasi.
"Anak yang meresahkan," ucap Ayara menimpali perkataan Satya.
Melihat wajah ceria dan gelak tawa dari teman-temannya lantas membuat Dasha menghela napasnya, kemudian mengulum senyumnya.
.
.
.
"Tolong, bertahanlah sebentar lagi." gumam Daren saat sedang sendirian di depan cermin besar yang ada di dalam toilet.
Namun meskipun berulang kali menyemangati diri, pada akhirnya Daren tetap merasa sedih saat meratapi wastafel-nya setelah beberapa kali memuntahkan banyak darah.
Karena sebentar lagi lomba menyanyi akan dimulai, Daren segera mencuci tangannya kemudian berjalan keluar dari toilet.
Baru saja Daren membuka pintu toilet itu, ia sudah dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba sudah berada di depan toilet.
Reza, wakil ketua OSIS sekaligus teman Daren dari kelas IPA 2. Cowok itu menatap lekat Daren, berhasil membuat Daren gugup.
"Sakit?" tanya Reza tiba-tiba.
"Hah?" Daren terperangah, cukup kaget dengan perkataan Reza.
Membuat jantung Daren berdegup kencang, tentu saja Daren merasa takut jika fakta bahwa dirinya yang sedang sakit diketahui banyak orang.
"Gue kira lo sakit, soalnya wajah lo pucat." kata Reza lagi, kemudian terkekeh pelan.
Daren meneguk salivanya, kemudian menggeleng. "Nggak," sahutnya, Reza lantas mengangguk.
"Kalau gitu, Ketua. Kita ke auditorium." ajak Reza berjalan mendahului Daren.
Beberapa saat kemudian Daren melangkahkan kakinya, setelah sempat tertegun sejenak.
Bagaimanapun juga, hari ini Daren akan menahannya. Meskipun rasa sakit ini semakin menggerogoti tubuhnya.
...•••••...
Setelah sampai di auditorium. Dasha lantas mengambil kursi yang berada dibarisan paling depan. Dasha sengaja memilih tempat duduk itu, selain untuk menyaksikan penampilan temannya, Dasha ingin melihat apa yang Daren lakukan di belakang panggung.
Dan benar saja. Dimata Dasha, Daren nampak keren saat mengatur acara itu agar berjalan dengan lancar.
"Siapa duluan yang tampil?" tanya Dasha menoleh ke arah Lena yang duduk disampingnya.
Lena balas menatap gadis itu, kemudian tersenyum. "Kelas kita!"
Akhirnya yang mereka tunggu tiba juga saat Ayara dengan anggunnya berjalan menaiki panggung, bersama Satya di belakangnya.
Melihat betapa cantiknya gadis itu, beberapa siswa spontan saja berdecak kagum. Dan Satya, ekspresinya terlihat kesal menatap Ayara.
__ADS_1
"Kenapa sih Lo cantik banget! jadi terpesona 'kan mereka!" gerutu Satya kesal.
"Terserah gue lah! emangnya masalah buat Lo!?" sahut Ayara dengan nada penekanan.
"Iya! gue 'kan jadi kesal karena mereka semua ngelihatin Lo!" jawab Satya, kemudian mendengus pasrah sambil meletakkan gitarnya di atas paha.
Saat melihat mereka berdua. Dasha dan Lena saling berpandangan kemudian tertawa, sudah dapat mereka tebak bahwa kedua orang itu tengah berdebat di atas panggung.
"Kira-kira Ayara mau nyanyi lagu apa, ya?" tanya Dasha pelan.
Satya mulai memainkan gitarnya. Setiap petikan gitar dari cowok itu berhasil membuat semua orang tertegun. Nada musik yang terdengar melow itu, berhasil membuat mereka semua merinding.
Bahkan senyum yang awalnya masih tercetak jelas di wajah Dasha, mendadak pudar saat Ayara mulai bernyanyi dengan penuh penghayatannya.
Never planned that one day I'd be losing you.
(Tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat aku akan kehilangan kamu)
In another life.
(Di kehidupan selanjutnya)
I would be your girl.
(Aku akan menjadi kekasihmu)
We keep all our promises.
(Kita akan menepati semua janji kita)
Be us against the world.
(Bersama menghadapi dunia ini)
Seluruh tubuh Dasha membeku, dan tidak berkedip saat mendengarkan lagu yang Ayara nyanyikan.
Bahkan saat ekor mata Dasha menangkap sosok Daren yang berada di belakang panggung, mata mereka saling bertemu. Baik Dasha maupun Daren, saling berpandangan satu sama lain.
In another life.
(Di kehidupan selanjutnya)
I would make you stay.
( Aku akan membuatmu bertahan disini)
So I don't have to say you were the one that got away.
(Jadi aku tidak harus berkata kau adalah satu-satunya untukku yang hilang)
The one that got away.
Dasha spontan menunduk, kemudian tersenyum getir saat menyadari bahwa air mata kembali terjun bebas di pipinya.
"Sha? lo kenapa?" tanya Lena penasaran.
Gadis itu langsung menggeleng cepat sambil berusaha menyeka air matanya. Setelah lagu yang gadis itu nyanyikan selesai, semua penonton kompak memberikan tepuk tangan.
"Terima kasih semua, jangan lupa teruntuk juri agar membuat kelas kami menang. Agar saya bisa melihat wanita cantik disamping saya ini bisa kayang kegirangan! Oke?!"
Buk!
Ayara spontan memukul lengan Satya, merasa malu dengan perkataan cowok itu barusan.
"Jangan gitu kampret! bikin malu aja!" sentak Ayara penuh penekanan, bahkan tangan kanannya sudah terkepal kuat ingin menghajar cowok itu.
Mendengar gelak tawa dari Satya, semua murid bahkan para guru yang menonton juga ikut tertawa.
Tidak lama setelah itu, suara gitar yang Satya petik kompak membuat semua murid terdiam.
Bersamaan dengan suara gitar, Satya mulai bernyanyi dengan tubuhnya yang menghadap ke arah Ayara. Bahkan menatap lekat pada gadis itu.
You know I'll do anything you ask me to.
But oh my God, I think I'm love with you.
Lirik lagu singkat yang Satya nyanyikan, berhasil membuat Ayara spontan bangkit dari duduknya.
Ayara menatap pada Satya dengan ekspresi tercengangnya, kemudian detik selanjutnya Ayara mendelik kesal pada cowok itu.
"Stress!" sambat Ayara sambil berjalan turun dari panggung.
Sepeninggal gadis itu, Satya lantas mendengus.
"Gue ditolak!" katanya kompak membuat semua murid berseru dengan keras, sangat berisik hingga menggema di seluruh ruangan.
.
.
.
.
"Cowok stres!" gerutu Ayara kesal setelah keluar dari auditorium.
Ayara berulang kali berdecak kesal, mulutnya komat-kamit mengumpat tentang perbuatan Satya barusan.
Karena tidak bisa mengendalikan ekspresinya, sampai-sampai beberapa murid terheran-heran memandangi Ayara yang sedang berjalan di koridor sekolah.
"Terima aja," Ayara spontan menoleh saat mendengar suara Dasha di belakangnya.
__ADS_1
"Apaan?!" sentak Ayara mendengus.
"Pernyataan cinta di atas panggung tadi. Tadi itu cukup romantis tahu!" goda Dasha diselingi kekehan diakhir kalimatnya.
"Apaan sih! dia tadi cuma nyanyi." elak Ayara yang semakin membuat Dasha tersenyum jahil.
"Oh ya? terus kenapa Lo turun dari panggung?"
"Gu-gue kebelet pengen ke toilet!" sahut Ayara, berusaha berdalih.
Melihat Dasha yang cekikikan, Ayara lantas mendengus kemudian berekspresi datar.
"Lo sendiri? mau kemana?" tanya Ayara.
"Oh, itu. Gue mau nyari Daren, soalnya tadi dia tiba-tiba pergi dari auditorium." sahut Dasha, sempat berekspresi murung kemudian segera tersenyum.
"Yaudah sana cari. Tapi jangan lama, soalnya kelas kita 'kan mau tampil drama." kata Ayara, gadis itu lantas mengangguk sambil melenggang pergi.
Kalau tidak salah Ayara sempat melihat Dasha dari atas panggung, saat bernyanyi Ayara yakin sekali bahwa Dasha sempat menangis.
Membuat Ayara kepikiran, apakah lagu yang ia bawakan saat itu sampai membuat Dasha terharu?
"Pasti karena suara gue bagus banget, makanya dia nangis!"
...•••••...
Selangkah demi selangkah Daren berjalan di sepanjang koridor, sambil berpegangan pada dinding.
Rasanya kaki Daren sudah tidak kuat berjalan, bahkan kepalanya juga terasa sangat berat. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti akan menyadari betapa pucat wajahnya sekarang. Namun untungnya koridor sedang sepi, jadi tidak akan ada yang menyadari.
"Padahal aku belum ... ketemu ... eh?" belum selesai Daren berbicara, ia terperangah saat dari kejauhan mendapati sosok yang sedang ia rindukan sekarang.
Dan saat Daren ingin memanggil nama gadis itu, tiba-tiba ia tersedak.
"Dash----ukhhkk!"
Daren tercengang saat menatap telapak tangan kanannya, setelah barusan memuntahkan darah lagi.
Bersamaan dengan itu, tenggorokan Daren seperti tercekat spontan membuatnya berulang kali terbatuk-batuk.
Daren perlahan mendongak dan samar-samar menatap Dasha yang berlari tergesa-gesa menghampirinya. Dan dapat Daren lihat betapa gadis itu sangat panik setelah akhirnya gelap sempurna menyambutnya.
BRUKK!
"DAREN!"
Dasha spontan berteriak saat tubuh Daren yang lemas itu terkulai di lantai. Saking paniknya seluruh tubuh Dasha gemetar saat mengangkat kepala Daren, dan meletakkannya di atas paha Dasha.
"Daren! bangun! Daren!" tangis Dasha tidak berhenti, ia berulang kali menepuk pelan pipi Daren namun cowok itu tidak kunjung membuka matanya.
Dengan pandangannya yang dipenuhi air mata, Dasha memandangi sekitarnya dan berusaha mencari bantuan. Namun saat teringat akan sesuatu, Dasha spontan merogoh sakunya dan mengambil handphone-nya.
Kedua tangan Dasha gemetar memegangi benda pipih itu, bahkan saat tidak bisa membuka layar kunci handphone-nya yang basah karena derai air matanya, Dasha menjadi sangat panik.
Dan saat terbuka, dengan cepat Dasha membuka kontak seseorang yang dikenal kemudian segera meneleponnya.
"Do-Dokter Dirga! tolong! tolong Daren!"
.
.
.
.
"Satya sini! biar gue dandanin!"
Tara berulang kali meneriaki Satya yang sedang berdebat dengan Ayara. Namun cowok itu tidak kunjung menghiraukannya.
"Jahat banget Lo! main pergi gitu aja dari panggung!" kesal Satya, namun Ayara hanya mendengus sambil merapikan pakaiannya.
"Serah gue lah," sahut Ayara datar.
"Paling nggak Lo pura-pura terharu dong! supaya gue merasa nggak terlalu miris gitu!" kata Satya lagi, namun Ayara terus menanggapinya dengan cuek.
"Bodo-amat!"
Satya menggeram kesal, ia ingin menarik kuncir rambut Ayara namun sebelum sempat melancarkan aksinya, teriakan penuh amarah dari Tara berhasil menghentikannya.
"BANGSATYA! SINI GUE BILANG!"
Satya spontan menoleh, "APAAN SI---EH?" fokus Satya buyar saat menatap ke arah pintu kelas.
Ia sangat kaget saat melihat Dasha berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah pelannya. Dan yang membuat mereka semua panik, banyak noda darah pada seragam gadis itu.
"Dasha! Lo kenapa berdarah?!"
"Lo terluka?!"
"Lo kenapa oi!?"
"Sha? lo kenapa?"
Pertanyaan-pertanyaan yang teman-temannya lontarkan seperti tidak terdengar sama sekali di telinga Dasha. Gadis itu hanya menatap ke bawah dengan tatapan kosongnya.
Kemudian tidak lama setelah itu, tangis Dasha pecah seketika. Tangisan pilu yang menggema di seluruh ruangan itu membuat semua temannya syok.
Dan yang semakin membuat mereka panik saat Dasha berulang kali menyebutkan nama Daren. Hingga suara sirene ambulans terdengar, semua teman sekelasnya kompak saling berpandangan.
...•••••...
__ADS_1