Love, Then Lost

Love, Then Lost
20- Why?


__ADS_3

..."Senyuman kamu seperti rembulan, terlihat mengagumkan dibawah langit malam. Namun kenapa terlihat kesepian?"...


.......


.......


.......


...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...


...••••...


Bel istirahat baru saja berbunyi, kini suasana kelas mendadak sepi. Hanya tersisa beberapa murid yang masih betah di dalam kelas, salah satunya adalah Dasha.


Sebenarnya Dasha merasa ragu untuk pergi ke kantin, ia masih merasa takut pada tatapan orang-orang kepadanya. Di saat seperti ini, biasanya Daren akan menjemputnya.


Namun kenapa cowok itu tidak kunjung terlihat batang hidungnya? sekedar untuk menghubunginya pun tidak ada.


"Satya, bayar duit kas!"


Dasha tersentak kaget dengan teriakan Lena yang menagih uang kas kepada Satya. Dan seperti biasa, Satya selalu memberikan seribu alasannya.


"Duh, malak gue mulu Lo, nggak ada kerjaan ya?" kata Satya sewot.


Lena mendengus, "ini kerjaan gue, nagih uang kas! cepetan bayar, utang Lo udah nunggak sebulan!"


"Entar juga gue bayar, sabar napa!" delik Satya kesal.


Selang beberapa detik, Ayara lantas berjalan menghampiri Satya dan menatap cowok itu dengan tatapan datar.


"Bayar." pinta Ayara.


"Oke!" sahut Satya langsung menyodorkan uangnya kepada Lena.


Melihat tingkah cowok itu, Lena ternganga sambil mengambil uang yang Satya berikan padanya.


"Nurut aja nih babu sama majikan," celutuk Lena geleng-geleng kepala.


"Gue majikannya, Aya babunya." jawab Satya yang kontan saja membuat Ayara menjitak kepalanya.


Buk!


"Sakit oi! kok dipukul!" kesal Satya menatap Ayara yang berjalan menjauhinya.


"Meresahkan," sahut Ayara datar.


Ayara berjalan menuju tempat duduknya, kemudian menyodorkan botol air mineral kepada Dasha. Padahal Dasha tidak memintanya, namun Ayara malah memberikannya.


"Makasih, Ya." kata Dasha cengengesan.


Ayara mengangguk sambil mengulum permennya. Tidak lama setelah ia duduk, Satya ikut nimbrung bersamanya.


"Lo kenapa, Sha?" tanya Satya penasaran.


Dasha sedikit tersentak dengan pertanyaan Satya, padahal Dasha sudah berusaha mengontrol mimik wajahnya namun seperti biasa kedua temannya itu selalu peka dengan perubahan suasana hatinya.


"Gue cuma bingung, tumben Daren nggak jemput gue."


"Sibuk kali, mungkin." sahut Ayara mengangkat bahunya.


"Tapi biasanya dia bakal hubungin gue kalau sibuk, tapi ini nggak ada sama sekali." kata Dasha gusar.


Satya terperangah karena menyadari satu hal, "tapi tadi gue ngelihat Daren kok." sahutnya.


"Dimana?" tanya Dasha spontan.


"Di perpustakaan."


.


.


.


.


Dengan berjalan menundukkan wajahnya, Dasha melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Ia sempat masuk dan menjelajahi tempat itu, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Daren.


Karena kebingungan, tidak sengaja Dasha menyenggol salah seorang siswi yang sedang membawa beberapa buku ditangannya.


Bruk!


Dasha mendadak panik sambil meminta maaf pada siswi itu kemudian langsung melenggang pergi dari perpustakaan. Sejak rumor buruk yang menyebar tentangnya di sekolah, Dasha jadi takut dan selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan para murid.


Entah kenapa badannya selalu gemetar jika mereka semua menatap ke arahnya. Makanya Dasha selalu bersama Daren di sekolah, itu membuatnya sedikit berani saat bersama cowok itu.


"Jangan-jangan ada di kelasnya?" gumam Dasha sambil meremas ujung roknya.


Dengan berat hati akhirnya Dasha melangkahkan kakinya menuju kelas 10 IPA 1. Saat sampai di depan kelas itu, Dasha lantas bertanya pada seorang siswa yang sedang berdiri di tengah pintu kelas dengan santainya.


"Mau nanya," kata Dasha gugup.


"Kenapa, Kak? nyari Daren, ya?"


Dasha spontan mendongak menatap siswa itu. Padahal Dasha belum mengatakan apapun tapi sepertinya mereka semua sudah tahu tentang hubungannya dengan Daren.


"Bukannya kalian udah putusan, ya?" celutuk siswa itu menatap Dasha dengan senyum sinisnya.


Dasha lantas berekspresi serius dan menatap tajam pada siswa itu. "Daren mana?" tanya Dasha dingin.


Siswa itu tersenyum sinis, "bisa-bisanya Daren malah balikkan lagi sama Kakak, padahal jelas-jelas udah dibohongin tapi masih aja cinta. Tolol banget emang."


Padahal Dasha hanya bertanya dimana Daren berada, bisa-bisanya siswa itu malah mencerca Daren dan juga dirinya.


"Gue tanya, Daren dimana?" tanya Dasha lagi dengan penuh penekanan. Kedua tangannya bahkan sudah terkepal kuat, dan menahan emosinya untuk tidak menghajar siswa di hadapannya sekarang.


"Di ruang OSIS." jawab siswa itu datar.

__ADS_1


Dasha menghela napasnya sambil melenggang pergi. Dapat Dasha dengar bahwa siswa itu dan juga teman-temannya sedang menertawakan dirinya. Tapi Dasha tidak peduli, dan tidak ingin menambah beban pikirannya lagi.


"Daren ada?" tanya Dasha setelah sampai di depan ruang OSIS.


"Baru aja tadi pergi, mungkin ada di kelasnya?"


HAH?! JANGAN BERCANDA! Dasha bahkan baru saja dari kelas cowok itu. Bisa-bisanya Daren seperti mempermainkan dirinya.


Terdengar helaan napas dari mulut Dasha, lantas membuat siswa yang berdiri di hadapan Dasha mendadak kebingungan.


"Kenapa nggak di chat aja, Kak?" tanya siswa itu masuk akal.


Dasha menggeleng, "nggak di balas." sahutnya.


Mendengar perkataan Dasha, siswa itu mengangguk paham.


"Hari ini Daren agak aneh, Kak."


Dasha spontan mendongak, "maksudnya?"


"Dia agak pendiam."


"Bukannya Daren emang pendiam?" kata Dasha tidak mengerti dengan perkataan cowok itu.


"Iya sih, tapi hari ini dia lebih pendiam dari biasanya. Juga jadi lebih dingin!"


Dasha melongo melihat ekspresi siswa itu. Setelah mengatakan terima kasih, Dasha kemudian melenggang pergi.


Aneh. Tidak biasanya Daren seperti ini. Cowok itu selalu menemuinya di sekolah, tapi kenapa sekarang tidak? apa terjadi sesuatu pada Daren?


"Kok gue ngerasa aneh ya ..." gumam Dasha sambil garuk-garuk kepalanya.


Membuat frustasi saja mencari Daren kesana kemari. Dasha akhirnya pasrah dan memutuskan untuk kembali ke kelasnya.


Namun tidak disangka, Dasha malah mendapati Daren sedang duduk sendirian di bangku taman. Dasha padahal sudah mencari kemana-mana, ternyata cowok itu ada disana!


Dasar Daren, membuatnya khawatir saja!


"Daren!"


Dasha memanggil cowok itu yang sedang menunduk, dan dapat Dasha sadari bahwa Daren sempat tersentak kaget saat mendengar suaranya.


"Aku tadi keliling nyariin kamu, rupanya ada disini!" celutuk Dasha sambil mengambil duduk di samping Daren.


Dasha kemudian menoleh menatap wajah Daren dari samping, melihat wajah pucat cowok itu membuat Dasha langsung panik.


"Daren, kamu sakit?" tanya Dasha spontan, ia ingin memeriksa suhu tubuh Daren namun cowok itu malah menepis tangannya.


Plak!


Dasha tercengang, "Daren?" panggilnya lantas membuat Daren perlahan menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Dasha lagi, wajahnya mendongak saat Daren mulai berdiri.


Tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali Daren langsung melangkahkan kakinya pergi begitu saja. Dasha spontan mencegat tangan Daren, meminta kejelasan kenapa cowok itu seakan mengabaikannya.


"Nggak," jawab Daren singkat.


Dasha spontan memasang tampang seriusnya, dan bertolak sebelah pinggang menatap Daren bak seorang ibu yang ingin memarahi anaknya.


"Pasti kamu sakit, 'kan? kalau sakit harusnya dirumah aja, kenapa kamu malah ke sekolah. Kamu juga kenapa nggak bisa aku hubungin dari tadi? aku khawatir tau!" celoteh Dasha panjang lebar.


Daren menggertakkan giginya kemudian menatap sinis pada Dasha, gadis itu sedari tadi terus cerocos panjang lebar.


"Berisik!"


Deg!


Dasha tidak bergeming saat mendengar perkataan Daren. Padahal cuma satu kata, tapi kenapa terasa menusuk dadanya?


"Ka-kamu kenapa? sikap kamu agak aneh, salah satu teman kamu juga bilang gitu. Kamu marah ya, sama aku?" lirih Dasha pelan, tangannya yang gemetar perlahan menarik ujung seragam Daren.


Namun cowok itu bertingkah aneh, ia bahkan kembali menepis tangan Dasha dengan kasar.


"Berisik! bukan urusan kamu!" bentak Daren dengan nada tingginya.


Selang beberapa saat, air mata mulai mengalir membasahi pipi gadis itu.


Melihat Dasha menangis, semakin membuat Daren kesal. Tanpa pikir panjang Daren segera melenggang pergi, meninggalkan Dasha yang masih terisak.


Dasha tidak tahu apa kesalahannya sampai cowok itu terlihat sangat marah kepadanya. Dasha juga tidak mengerti kenapa sekarang dirinya gampang sekali untuk menangis.


Namun saat melihat ekspresi Daren barusan, kenapa cowok itu terlihat sangat kesakitan?


...••••••...


"Sha, mata Lo kenapa sembab gitu? habis nangis?" tanya Ayara penasaran saat Dasha berjalan memasuki kelas.


Gadis itu menggeleng lemas sambil mengambil duduk di samping Ayara. Melihat Dasha sekarang, rasanya cukup aneh. Mengingat dulu gadis itu selalu terlihat bersemangat dan juga bar-bar, dan kini Dasha seperti gadis pada umumnya yang kadang mulai menunjukan kelemahannya.


Setidaknya Ayara bersyukur, Dasha sudah tidak berpura-pura lagi. Gadis itu sudah menjadi dirinya sendiri.


"Kayaknya gue ada salah, tapi gue nggak tahu salah gue apa. Atau jangan-jangan dia udah nggak suka lagi sama gue?"


"Eh?" Ayara terperangah, berkedip dua kali setelah mendengar Dasha yang sedang menggerutu.


"Kemarin baik-baik aja kok, tapi kenapa sekarang aneh." lirih Dasha sambil membenamkan wajahnya di atas meja.


Ini sangat aneh, kenapa Daren bertingkah tidak seperti biasanya? bahkan kemarin cowok itu juga sempat menangis saat memeluknya, dan Dasha tidak tahu alasannya.


Apakah Daren sedang menyembunyikan sesuatu darinya? atau cowok itu sudah berubah dan sudah tidak suka lagi kepadanya?!


"Ja-jahat ..." gumam Dasha sambil menggigit bibir dalamnya.


"Kenapa sih? gue jadi bingung." kata Ayara dengan ekspresi cengonya.


Tidak lama setelahnya, Satya berlari masuk ke dalam kelas. Cowok itu bahkan menghampiri Dasha dengan tergesa-gesa, ekspresi wajahnya juga terlihat panik.

__ADS_1


"Kenapa Sat?" tanya Ayara heran.


Setelah bersusah payah meneguk salivanya, Satya lantas memukul-mukul pelan meja Dasha sambil menunjuk ke arah pintu kelas.


"Lo kenapa?" tanya Dasha kebingungan.


Ekspresi cowok itu seperti habis melihat hantu saja. Napasnya juga bahkan tersengal-sengal, memangnya habis lari maraton?


"Keadaan darurat!!!" pekik Satya.


"Tenang dulu, BangSat!" kesal Ayara, ingin sekali ia memukul wajah cowok itu dengan buku.


"Kok kasar?!"


"Gue 'kan manggil Lo, Bang-Sat!"


"Kasar, kampret!" sentak Satya kesal.


Ayara mendengus sambil memutar malas bola matanya. Sedangkan Dasha sudah sangat penasaran dengan maksud perkataan Satya barusan.


"Kenapa?" tanya Dasha sambil berdiri.


"DAREN PINGSAN!"


.


.


.


.


Derap langkah kaki Dasha menggema di seluruh koridor. Setelah kabar dari Satya barusan, Dasha langsung berlari menuju UKS.


Pikiran Dasha sudah campur aduk, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Daren sekarang.  Jika tahu akan pingsan, seharusnya cowok itu istirahat saja di rumah!


"Dar----"


"Sssttt."


Mulut Dasha langsung bungkam saat salah seorang siswi mengisyaratkannya untuk diam. Siswi yang bertugas menjaga UKS itu mengatakan sesuatu sebelum pergi.


Dia bilang, "dia lagi tidur." katanya pada Dasha.


Dasha lantas bernapas lega sambil mengangguk. Sepeninggal siswi itu, Dasha berjalan pelan mendekati Daren yang berada di atas ranjang UKS.


Cowok itu tertidur pulas dengan posisi menghadap ke samping. Melihat wajah damainya sekarang membuat hati Dasha luluh, ia tidak bisa marah pada Daren.


Dasha memaklumi kondisi Daren yang sedang tidak sehat, mungkin karena itu Daren sempat bersikap kasar kepadanya.


Tapi apa penyebab cowok itu pingsan? mungkinkah cuma demam atau karena kecapekan saja?


"Daren ..." panggil Dasha sangat pelan.


Mata Dasha tertuju pada tangan Daren, lantas membuat Dasha perlahan menyentuh tangan itu.


Saat Dasha menyentuh tangan Daren, cowok itu tiba-tiba menggenggam tangannya. Membuat Dasha tersentak kaget sambil menatap wajah Daren.


Beberapa saat kemudian mata Daren perlahan terbuka. Cowok itu berkedip beberapa kali menatap tangan seseorang yang sedang ia genggam.


Daren tahu siapa pemilik tangan itu, lantas membuat Daren mencium tangannya. Perbuatan Daren yang tidak terduga itu sontak membuat wajah Dasha memerah, bibir Daren yang masih menempel di punggung tangannya membuat Dasha jadi geli!


Rasanya sekarang ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Padahal cowok itu masih setengah sadar dari tidurnya, tapi bisa-bisanya dia melakukan hal barusan.


"Sha, maaf ..." lirih Daren pelan, masih belum melepaskan tangan Dasha dari genggamannya.


Dasha sempat terdiam dengan ekspresi murungnya, kemudian mengangguk sambil berniat melepaskan genggaman tangannya. Namun Daren tetap kekeuh, cowok itu tidak membiarkan Dasha melepaskan genggaman tangannya.


"Sha, aku sakit." kata Daren pelan.


Dasha mengangguk paham, "apa aku bilang! harusnya kalau sakit tuh istirahat aja di rumah, kenapa malah sekolah? pingsan 'kan jadinya!" sahut Dasha gemas.


Mendengar perkataan gadis itu lantas membuat Daren tersenyum tipis, Dasha ternyata salah paham dengan ucapannya barusan.


"Dasha." panggil Daren sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


Daren menatap lekat Dasha yang berdiri tegak di depannya, melihat wajah gadis itu membuat Daren menjadi murung.


Sebenarnya Daren ingin menghindari Dasha dan mulai mengabaikannya. Seperti perkataan Dirga kemarin malam, saat Daren menemuinya di rumah sakit.


"Kamu emang ngasih dia kebahagiaan, tapi kamu juga bakal ngasih dia kesedihan. Kamu nggak bisa bersama dia, Daren. Suatu saat kamu bakal benar-benar nyakitin perasaan dia, kamu tahu sendiri 'kan mental dia itu sedang nggak baik-baik aja. Kalau dia sampai tahu penyakit kamu, dan waktu yang kamu miliki udah nggak banyak, kamu bakal buat dia lebih tersiksa dari sebelumnya!"


"Sebaiknya kamu menyerah saja untuk mempertahankannya, Daren."


Perkataan Dirga memang benar. Karena itu Daren berniat untuk menjauh dari gadis itu. Daren takut! ia takut jika suatu saat akan menyakiti gadis itu.


Bagaimana respon Dasha nanti? membayangkannya saja sudah membuat Daren semakin takut.


Saking takutnya dengan pemikirannya sekarang, seluruh tubuh Daren mulai gemetar.


Melihat cowok itu yang menunduk murung membuat Dasha menyentuh wajah Daren, dan membuat mereka akhirnya saling berpandangan.


"Kamu kenapa gemetar?" tanya Dasha serius.


"Sha, aku sakit!" sentak Daren dengan ekspresi sedihnya.


Dasha lantas mengangguk, ia sempat terkejut saat Daren menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.


"Iya aku tahu, karena itu kamu harus banyak istirahat, supaya cepat sembuh, oke?" kata Dasha tersenyum sambil mengusap rambut Daren.


Daren hanya diam sambil membenamkan wajahnya di perut Dasha. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan gadis itu.


"Cepat sembuh, ya." kata Dasha dengan nada lembutnya.


Daren kemudian menggigit bibir dalamnya, dan semakin melingkarkan tangannya di pinggang Dasha.


Mana bisa sembuh, Sha.

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2