
..."Duniamu yang penuh air mata, ijinkan aku untuk mengubahnya menjadi bahagia. Aku pikir begitu, nyatanya aku hanya penambah luka dan membuatmu semakin menderita."...
...-Daren Aldevaro...
...••••...
"Daren."
Deg!
Tubuh Daren langsung mematung saat Dirga memanggilnya. Dengan perlahan menoleh, dapat Daren lihat wajah Kakaknya itu yang terlihat sangat marah.
"Sudah tahu apa kesalahan kamu?" kata Dirga serius.
Daren tahu apa kesalahannya sehingga Dirga terlihat sangat marah. Karena kemarin Daren kabur dari rumah sakit, dan pergi ke sekolah tanpa sepengetahuan Dirga.
"Iya," sahut Daren menunduk murung.
Selain karena ingin bertemu dengan Dasha. Alasan Daren kabur dari rumah sakit juga karena ingin menghindari bertemu dengan seseorang.
"Padahal kemarin ayah mau jenguk kamu, bisa-bisanya kamu nggak ada. Kamu pasti sengaja kabur 'kan? supaya nggak ketemu ayah."
Iya. Perkataan Dirga benar, Daren tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Lagipula untuk apa Davin tiba-tiba menjenguknya yang sedang sakit? padahal selama ini mereka mengabaikan Daren dan juga Dirga.
"Buat apa? lagian kalau ayah datang, pasti dia bakal bilang kapan aku bisa sembuh. 'kan?" kata Daren, diakhir kalimatnya ia tersenyum kecut. "Nggak lucu, emangnya bisa sembuh ...."
"Daren!"
Daren spontan mendongak, tidak berkedip menatap Dirga yang sangat marah.
"Jangan putus asa kayak gitu! kamu lupa, ya? alasan Kakak jadi dokter 'kan, buat nyembuhin kamu! Jangan terus-terusan berpikir bahwa kamu akan mati!"
Dirga berkata dengan suara yang meninggi dan juga terdengar bergetar. Dapat Daren lihat raut wajah Dirga saat mengatakannya, ada keraguan didalamnya.
Detik selanjutnya Daren lantas tersenyum getir, sambil tangan kanannya perlahan menutup mulutnya.
Dan saat Daren menyodorkan tangannya yang terdapat bercak darah, Dirga langsung membeku.
"Kalau gitu cepat sembuhkan aku. Kakak 'kan dokter, penyelamat 'kan? ayo selamatkan aku."
"Daren ..." panggil Dirga lirih.
"Kenapa aku masih belum sembuh? Kakak 'kan udah janji."
"Daren!"
"Nggak bisa 'kan!? aku nggak akan sembuh! Kakak bilang jangan terus-terusan berpikir bahwa aku akan mati?! gimana bisa aku nggak kepikiran sedangkan kalian para dokter aja udah bilang bahwa waktuku udah nggak banyak lagi!"
Dirga tidak berkutik, hanya diam saat Daren mulai melampiaskan amarahnya.
"Meskipun aku selalu berusaha supaya nggak putus asa, tapi disisi lain aku juga takut! Aku takut!" sentak Daren dengan kedua tangannya yang gemetar, kemudian mendongak dan memaksakan senyumnya pada Dirga. "Aku nggak mau pergi meninggalkan semuanya ...."
Setetes air mata itu jatuh dari mata Dirga setelah mendengar semua perkataan Daren. Tidak Dirga sangka bahwa Adiknya itu sangat ketakutan, dan sudah menahannya selama ini tanpa memberitahukan kepadanya.
"Daren, aku----"
"Udah cukup, nggak papa. Aku udah nerima kenyatannya kok." lirih Daren dengan suaranya yang bergetar.
Setelah selesai mengatakan isi hatinya selama ini, Daren lantas melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
Malam ini, Daren hanya ingin pulang.
...•••••...
Dasha terperangah saat mendengar suara rintikan hujan yang sangat deras, akhirnya langit menumpahkan tangisannya setelah bersusah payah menahannya.
Tidak hanya itu, suara petir yang menyambar juga membuat Dasha kaget. Bisa-bisanya dia sendirian di rumah, sedangkan semua keluarganya sedang pergi keluar.
"Aduh! jadi takut!" gumam Dasha sambil berjalan menuju ruang tengah.
Saat berjalan menuju sofa, mata Dasha sempat tertuju pada pintu rumahnya. Dasha jadi membayangkan bagaimana jika ada hantu yang tiba-tiba mengetuk pintu, dan masuk kedalam rumahnya?! memikirkannya saja sudah membuat Dasha merinding.
Ditambah lagi, Dasha tiba-tiba teringat dengan pengalaman horor yang pernah Satya ceritakan! bisa-bisanya Dasha malah mengingatnya disaat suasana mencekam seperti ini!
"Argh! kapan pulang sih mereka?! tahu gini mending gue ikut aja!" gerutu Dasha, merutuki keputusan bodohnya yang tidak ingin ikut keluarganya jalan-jalan.
Tok! Tok! Tok!
"Eh?" tubuh Dasha spontan mematung setelah mendengar suara ketukan itu.
Padahal baru saja ia memikirkan hal menyeramkan tentang hantu yang mengetuk pintu, dan sekarang benar-benar ada yang mengetuk pintu rumahnya!?
"Si-siapa?" tanya Dasha dengan kedua tangannya yang gemetar ingin memegang gagang pintu.
Namun tidak ada sahutan dari luar sana, yang semakin membuat jantung Dasha berdegup kencang.
Dengan perasaan yang sangat takut, dan kedua tangannya yang semakin gemetar. Dasha perlahan membuka pintu itu.
Dan alangkah terkejutnya Dasha saat melihat siapa orang yang mengetuk pintunya barusan.
"Daren?" panggil Dasha dengan ekspresi yang kebingungan.
Dasha tidak berkedip menatap Daren yang berdiri dihadapannya sekarang. Seluruh pakaian cowok itu basah kuyup, dan Daren terlihat menggigil kedinginan.
"Kamu ken---" belum selesai Dasha berbicara, cowok itu langsung mendekatinya.
Daren memeluk Dasha begitu erat, berhasil membuat Dasha mematung ditempat.
"Sha ..." suara Daren terdengar bergetar ditelinga Dasha.
Tanpa cowok itu mengatakannya, Dasha dapat merasakan bahwa cowok itu sedang sedih. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Dasha lantas balas memeluk Daren untuk menenangkannya.
"Nggak papa, aku ada disini." bisik Dasha pelan.
Mendengar suara lembut gadis itu, perlahan Daren mengulum senyumnya dan semakin membenamkan wajahnya di pundak Dasha.
.
.
.
.
Sepertinya hampir 5 menit cowok itu memeluknya, tanpa mengatakan sepatah katapun.
Tidak ingin Daren masuk angin, Dasha menyuruh cowok itu berganti pakaian dengan milik ayahnya.
Saat Dasha turun tangga dan berjalan menuju ruang tengah, Dasha mendapati cowok itu sedang duduk dengan wajah yang menunduk murung.
Dan entah kenapa rasanya seperti Dejavu.
"Aku bantu keringkan rambut kamu, ya." kata Dasha sudah siap dengan handuk kecil ditangannya.
Daren tidak menyahut, ia hanya mengangguk dan membiarkan gadis itu mengeringkan rambutnya.
Terjadi keheningan diantara mereka, membuat Dasha semakin penasaran pada apa yang membuat cowok itu kepikiran.
"Kalau ada yang ngeganjal, lampiaskan aja."
Mendengar perkataan gadis itu, tubuh Daren spontan bergetar. Melihat Daren yang tiba-tiba kembali menundukkan wajahnya, lantas membuat Dasha heran.
Perlahan kedua tangan Dasha menyentuh wajah Daren, membuat mereka akhirnya saling bertatapan.
Dan Dasha cukup terkejut saat melihat bulir air mata sudah terjun bebas dari mata cowok itu.
Lagi-lagi Daren menangis di hadapannya, yang membuat hati Dasha ikut merasa sakit saat melihatnya.
"Aku ... takut ... Sha."
Suara yang terdengar lirih itu membuat Dasha membeku. Hanya kalimat itu, Dasha sudah mengerti apa maksudnya.
Sama seperti Daren, Dasha juga merasa takut. Ia juga takut memikirkan bagaimana cowok itu akan meninggalkannya.
"Hei, ada aku. Kamu nggak perlu takut, oke?" kata Dasha lembut.
Daren perlahan mengangguk, kemudian tersenyum saat Dasha mengambil duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kalau masih takut, pegang aja tangan aku."
"Boleh?" tanya Daren menoleh ke arah Dasha.
Padahal cowok itu bisa langsung memegang tangannya. Tapi seperti biasa, Daren selalu bersikap polos dengan meminta ijin terlebih dahulu padanya.
"Iya," sahut Dasha.
Daren menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan gadis itu, saking dekatnya sampai-sampai tangan mereka saling menempel.
Tanpa basa-basi lagi, Daren lantas menggenggam tangan Dasha. Menautkan jari jemari mereka hingga dapat Daren rasakan suhu tubuh gadis itu yang selalu hangat.
"Sha, aku kabur dari rumah sakit." aku Daren.
"Lagi?"
Daren lantas mengangguk, "aku nggak mau kembali kesana. Aku mau pulang."
"Kalau mau pulang, kenapa nggak langsung pulang? kenapa kamu malah nyamperin aku?" Dasha spontan menoleh, menatap Daren dengan penuh tanda tanya.
Daren balas menatap gadis itu, kemudian mengulum senyumnya.
"Tempat aku untuk pulang itu, kamu." sahut Daren dengan suara rendahnya.
Kalau seseorang berkata seperti itu, tidak mungkin reaksinya hanya biasa-biasa saja! padahal diluar sedang hujan, tapi entah kenapa Dasha malah merasa sangat kepanasan.
"Da-Daren!" Dasha spontan melepaskan genggaman tangannya.
Perasaannya sekarang tidak keruan, dapat dipastikan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus!
Melihat ekspresi malu yang Dasha tunjukkan, Daren lantas terkekeh pelan.
"Se-setelah hujan reda, kamu harus balik ke rumah sakit! paham?!" sentak Dasha mengalihkan rasa malunya.
"Iya," sahut Daren dengan raut wajahnya yang cemberut.
Beberapa saat kemudian Dasha lantas bangkit dari duduknya, membuat Daren spontan mendongak menatapnya.
"Mau kemana?" tanya Daren terlihat kecewa.
"Mau buat minuman. Tunggu sebentar, ya." sahut Dasha dengan lembut.
Saat Dasha ingin melenggang pergi menuju dapur, Daren malah mencegat tangannya. Karena bingung ia lantas menatap Daren dan berpikir bahwa cowok itu memerlukan sesuatu.
"Ini, kamu masih ingat 'kan?"
Dasha terperangah saat Daren menyodorkan sebuah liontin ke arahnya. Dasha sangat ingat, itu kalung yang pernah Dasha buang tepat di hadapan cowok itu.
"Itu ... yang pernah aku lempar. Maaf." kata Dasha pelan, ekspresinya mendadak murung.
Daren lantas menggeleng, "nggak papa. Tapi sekali lagi, kamu mau 'kan menerimanya?"
"Iya, aku mau." jawab Dasha dengan melempar senyumnya.
Daren menghela napasnya lega seraya berjalan mendekati gadis itu, dan memasangkan kembali liontin itu ke lehernya.
Dapat Dasha dengar deru napas Daren didekat telinganya, dan entah kenapa malah membuat jantung Dasha kembali berdegup kencang.
"Cantik," celutuk Daren setelah selesai memasangkannya.
Dasha mengangguk setuju, "iya, kalungnya cantik." sahutnya.
Daren lantas tersenyum, padahal yang Daren maksud cantik itu adalah Dasha, bukan kalungnya. Tapi gadis itu malah salah paham, membuat Daren semakin gemas saja.
"Iya cantik." kata Daren, dan tangan kanannya perlahan merapikan rambut Dasha dengan lembut.
Dasha mengangguk setuju dengan tersenyum lebar, dan saat akan mendongak menatap Daren, Dasha lantas tersentak karena secara mengejutkan Daren tiba-tiba mencium keningnya.
Setelah menciumnya, Daren kemudian melangkahkan kakinya pergi. Namun Daren sempat berhenti, kemudian menoleh dan melemparkan senyumnya pada Dasha yang tidak berkutik menatapnya.
"Hujannya udah reda, kalau gitu aku harus pergi." kata Daren dengan senyum lembutnya.
Saat tersadarkan dari lamunannya, Dasha terperangah menatap Daren dengan sedikit kecewa.
"Pa-padahal aku mau buatin kamu minuman cokelat panas."
Meskipun sedikit sedih, mau tak mau Dasha lantas mengiyakannya.
"Makasih untuk pakaian gantinya, nanti aku kembalikan." melihat ekspresi Dasha sekarang, Daren lantas kembali tersenyum. "Dan makasih untuk pelukan dan pegangan tangannya."
Mendengar perkataan cowok itu, Dasha terperangah kemudian melemparkan senyumnya.
"Makasih juga untuk kalung dan ciumannya." balas Dasha yang berhasil membuat Daren tersipu malu.
"Aku sayang kamu, Sha." ucap Daren dengan suara rendahnya. Namun entah kenapa ekspresi Daren terlihat sedih setelah mengatakannya.
Membuat Dasha sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya gadis itu kembali mengulum senyumnya.
"Aku juga."
...•••••...
Beberapa hari lagi sebelum lomba dimulai. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan, terutama para anggota OSIS.
Sementara Dasha bersama teman-temannya, mereka sedang berlatih sembari membaca naskah drama yang sudah Lena dan Tara tulis.
"Apaan nih! kok malah gue yang jadi Snow White!?" Satya berdecak kesal, protes pada semua teman sekelasnya.
Mendengar ucapan Satya, mereka semua kompak tertawa.
"Bukan Snow White, tapi Snow Black!" celutuk Dasha, mereka semua mengangguk setuju.
"Kampret! berarti gue harus pakai gaun gitu?" tanya Satya.
"Pake daster aja," sahut Ayara.
"Iya, soalnya kelas kita 'kan miskin buat beli gaun." timpal Lena menahan tawanya.
"Jangan lupa pakai wig juga!" tambah Tara.
Satya ternganga, tidak dapat berkata-kata. Ingin menolak perannya, tapi para gadis itu sangat mengerikan saat marah. Bisa-bisa Satya akan babak belur dikeroyok.
"Kenapa nggak Dasha aja sih?" ekor mata Satya melirik gadis itu, spontan membuat Dasha nyengir kuda.
"Gue udah jadi kurcacinya," sahut Dasha.
"Terus yang jadi pangerannya, siapa?" tanya Satya lagi, masih penasaran.
"Gue," tiba-tiba Ayara membuka suara, menjawab pertanyaan Satya barusan dengan ekspresi datarnya.
Melihat Ayara, spontan membuat Satya memijit pelipisnya.
"Nggak gitu juga, kampret! kalian kira ini dunia terbalik?!" ujar Satya sudah pasrah.
"Biar anti mainstream!" sahut salah seorang teman mereka.
Sementara mereka semua masih berbincang-bincang mengenai drama. Dasha lantas bangkit dari duduknya, kemudian melangkahkan kakinya keluar kelas.
Dipertengahan koridor tidak sengaja Dasha bertemu dengan Daren. Cowok itu berjalan menghampirinya dengan membawa paper bag ditangannya.
"Daren, kamu kabur lagi dari rumah sakit?" tanya Dasha terheran-heran.
Bukannya menyahut, cowok itu malah cengengesan dengan tampang polosnya. Lantas membuat Dasha mendengus.
"Aku kembalikan, pakaian gantinya." ucap Daren sambil menyodorkan paper bag itu ke arah Dasha.
Gadis itu sempat terhenyak sesaat, kemudian menerimanya dengan senang hati.
"Sha, pulang sekolah nanti ... ayo kita jalan-jalan." ajak Daren.
Dasha spontan mendongak, "kamu 'kan sakit, harusnya istirahat aja." sahut Dasha mendengus.
Daren menggeleng kemudian tersenyum lebar, "aku baik-baik aja!" katanya dengan semangat.
"Daren ...."
"Please, kamu mau 'kan?" dengan suara lembutnya, Daren menatap Dasha dengan lekat.
__ADS_1
Pasrah, Dasha akhirnya mengiyakan keinginan cowok itu.
"Iya deh," sahutnya cemberut.
Wajah Daren langsung sumringah, spontan meraih tangan kanan Dasha kemudian mengecup singkat punggung tangannya.
Menyadari perbuatan cowok itu, Dasha mendadak salah tingkah.
"Terima kasih, Tuan Putri!" kata Daren yang semakin membuat Dasha malu, apalagi cowok itu mengatakannya dengan senyuman manisnya.
"Bu-bukan Putri, bahkan peran aku di drama itu sebagai kurcaci!" sela Dasha sangat gugup.
Mendengar ucapan gadis itu, Daren kembali tersenyum. Meski sebagai kurcaci sekalipun, bagi Daren, Dasha tetaplah seorang Putri.
Dan Daren akan menjadi Pangerannya, meskipun pada akhirnya Sang Pangeran itu tidak akan bisa bersama dengan Sang Putri. Untuk tetap di sampingnya.
.
.
.
.
Sesuai rencana mereka. Sepulang sekolah Daren mengajak Dasha untuk jalan-jalan. Dan tempat pertama yang mereka ingin kunjungi adalah sebuah rumah makan yang berada dipinggir jalan.
Padahal Daren ingin mengajak Dasha untuk makan di restoran, tapi Dasha lebih memilih tempat yang sederhana saja.
Lagipula, seorang pelajar itu tidak seharusnya membawa banyak uang.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Daren pada Dasha yang senyam-senyum memandangi sekitarnya.
Saat sadar, gadis itu lantas terperangah kemudian menyebutkan menu makanan kesukaannya dengan antusias.
"Ayam lalapan!" sahut Dasha, Daren langsung tersenyum manis.
"Aku kira kamu bakal jawab terserah!" canda Daren.
"Nggak kok!" delik Dasha tidak terima.
"Minumnya mau apa?" tanya Daren lagi.
"Es teh manis."
Daren lantas mengangguk. Kemudian memesan makanannya. Dan setelah lama menunggu, akhirnya makanan mereka sampai juga.
"Daren, kamu nggak pesan yang sama kayak aku?" tanya Dasha merasa heran karena Daren hanya memesan sate ayam saja.
"Nggak, aku masih kenyang."
"Waduh, kalau aku sih meskipun masih kenyang kalau ada makanan didepan mata, sikat aja! masalah kekenyangan atau nggak, itu urusannya nanti. Yang penting makanan itu harus masuk ke mulut aku!"
Mendengar cerita gadis itu, Daren terbahak.
"Dasar rakus!" ucapnya gemas sambil mengacak rambut Dasha.
Daren kembali mengulum senyumnya memperhatikan Dasha yang mulai memakan makanannya. Gadis itu tidak bersikap malu-malu saat di depannya, yang semakin membuat Daren gemas dengan tingkahnya.
Namun tidak sengaja ekor mata Daren menatap seorang anak kecil yang sedang duduk di lantai, tidak jauh dari mereka berada.
Anak lelaki itu terlihat kelelahan sambil membawa beberapa bungkus tisu yang dijualnya. Dan menunggu seseorang yang berbaik hati untuk membeli dagangannya.
"Dek," panggil Daren. Anak kecil itu lantas menoleh dan berjalan menghampiri Daren.
"Iya Kak? mau beli tisunya?"
Daren lantas mengangguk, karena tisu itu tinggal lima bungkus, Daren berinisiatif untuk membeli semuanya.
"Aku beli semuanya."
Mendengar perkataan Daren, senyum sumringah tercetak dengan jelas di wajah anak itu.
"Ma-makasih Kak!"
Daren ikut tersenyum sambil memberikan selembar uang seratusan pada anak itu.
"Kembaliannya ambil aja buat kamu."
Lagi-lagi perkataan Daren semakin membuat anak kecil itu bahagia. Dan saat melihat mereka berdua, ikut membuat Dasha tersenyum.
"Sekali lagi makasih Kak, semoga Kakak sehat selalu!" ucap anak kecil itu dengan senangnya.
Daren mengangguk sambil balas tersenyum dan mengusap lembut rambut anak itu. "Kamu lapar? mau makan juga nggak?"
"Eh? ta-tapi---"
"Nggak papa, pesan aja. Kamu mau makan apa?" tanya Daren, anak itu sempat ragu karena malu.
Namun Daren dengan lembut berulang kali meyakinkannya. Lagipula anak kecil itu pasti sangat kelelahan dan juga lapar setelah seharian berjualan.
"A-aku ...."
"Nggak papa, jangan malu. Ayo makan sama kita disini!" ucap Dasha dengan senyuman manisnya.
Melihat kebaikan hati mereka berdua, anak kecil itu akhirnya mengangguk.
"Sini duduk," titah Daren menunjuk disampingnya. "Mbak, ayam lalapannya satu lagi." kata Daren kembali memesan makanannya.
...•••••...
"Daren, ini enak. Mau coba?" tanya Dasha menyodorkan minuman boba ditangannya kepada Daren.
Cowok itu lantas menggeleng, "nggak, Sha." tolak Daren lembut.
Mendengar jawaban cowok itu, ekspresi Dasha berubah. Gadis itu langsung murung sambil mengalihkan pandangannya, menuju ke arah danau yang berada di samping mereka.
Setelah makan, Daren kembali mengajak Dasha pergi ke danau yang ada di taman kota. Sebuah danau yang sangat indah menemani sore ini bahkan dengan senja yang mulai menampakkan dirinya.
"Sha?" panggil Daren lantas menatap wajah Dasha dari samping.
Menyadari perubahan suasana hati gadis itu, Daren langsung terkekeh kecil sambil merebut minuman itu dari tangan Dasha.
"Katanya tadi nggak mau!" sentak Dasha cemberut.
"Itu 'kan tadi! sekarang mau." sahut Daren cengengesan.
Dasha mendengus sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap lekat Daren yang sedang minum.
Namun tiba-tiba tubuh Dasha mematung, tidak berkedip menatap bibir Daren yang minum dari sedotan miliknya.
Itu artinya, ciuman secara tidak langsung!
"Hah!" Dasha spontan membalikkan badannya, membelakangi Daren.
Gilak! harusnya tadi gue minta satu sedotan lagi! ta-tapi nggak papa 'kan?! ci-ciuman secara nggak langsung! tu-tunggu, gue mikir apaan sih! dasar mesum!
"Sha?"
Dasha tersentak kaget, saat ingin menoleh kearah Daren, tiba-tiba cowok itu menempelkan minuman boba yang dingin itu di pipi Dasha. Kontan saja membuat Dasha terhenyak.
"Hayoo, mikirin apa?" goda Daren senyam-senyum menatap Dasha.
"La-langitnya indah! lihat deh!" sahut Dasha tersenyum paksa sambil menunjuk ke arah langit.
Daren kemudian mengangguk sambil mendongak, sama-sama menatap senja yang sangat indah di hadapan mereka.
"Iya. Indah." gumam Daren yang masih dapat Dasha dengar.
Senja sore itu mulai memancarkan warnanya. Perlahan membuat Dasha menunduk murung kemudian menoleh ke arah Daren.
Dasha tidak berkedip menatap wajah cowok itu dari samping. Tatapan mata Daren yang tidak berpaling dari senja, membuat suatu desiran aneh menjalar di sekujur tubuh Dasha.
Hari itu ... sore itu. Dasha mengakui bahwa ia kembali jatuh cinta lagi pada cowok yang memandang langit kemerahan itu.
"I love you, Daren."
Tolong jangan tinggalkan aku ....
__ADS_1
...•••••...