Love, Then Lost

Love, Then Lost
19- Sadness


__ADS_3

..."Tentang cerita kita, biarkan takdir menulis skenarionya sehingga kita bisa melihat bagaimana akhirnya."...


.......


.......


.......


...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...


...••••••...


Lantunan musik yang menggema di seluruh ruangan, dentingan tuts piano yang terdengar pilu namun juga bertenaga. Sangat lembut dan juga berperasaan.


Seakan-akan cowok itu melampiaskan emosi dan perasaannya dalam tuts piano yang ia mainkan.


Musik dari piano itu semakin terdengar bertenaga hingga membuat beberapa pelayan termenung memandangi sang tuan rumahnya dari kejauhan, dengan sorot mata simpati dan ekspresi wajah yang sedih.


Selang beberapa saat, musik berhenti terdengar. Cowok itu lalu tersedak sambil membekap mulutnya, kemudian mendengus karena menyadari seluruh telapak tangannya kini berdarah.


Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu cowok itu muntah darah. Ia lantas berdiri sambil melepaskan bajunya yang juga ikut ternoda darah.


"Daren."


Pemilik nama itu lantas menoleh dengan ekspresi datarnya, melirik sang Kakak yang sudah berada di belakangnya.


"Kenapa buka bajunya disini, harusnya di kamar aja." Dirga mendengus, kebiasaan Daren saat di rumah yang setiap kali muntah darah cowok itu selalu melepaskan bajunya tanpa menghiraukan sekitar.


Padahal ada banyak pelayan dan pengasuh yang melihatnya, tapi seperti biasa Daren selalu tidak memperdulikannya.


Sikap cowok itu mulai berubah saat ia menginjak masa remajanya, tidak seperti Daren sewaktu kecil yang sangat ceria dan juga hiperaktif. Kini cowok itu mulai jarang tersenyum setiap kali di rumah, ia bahkan selalu memasang ekspresi datarnya yang seakan penuh kesedihan.


Daren bahkan mulai menjaga jarak dari para pengasuhnya, padahal sewaktu kecil Daren sangat dekat kepada pengasuhnya ketimbang orang tuanya sendiri.


"Kenapa kesini?" tanya Daren menatap Dirga lekat.


"Suka-suka Kakak lah, lagian ini juga rumah Kakak." sahut Dirga sambil cengengesan.


"Hm."


Padahal Kakaknya itu sudah memutuskan untuk keluar dari rumah ini sejak beberapa tahun yang lalu, tapi setiap kali orang tua mereka tidak ada di rumah, Dirga selalu datang untuk memeriksa keadaan Daren meskipun berulang kali adiknya itu menyuruh untuk medical check up saat di rumah sakit saja.


"Kakak pergi aja."


Dirga terperangah dan spontan menoleh ke arah Daren, ekspresi murungnya itu membuat Dirga tidak berkutik.


"Kamu ngusir Kakak?"


"Nggak, Kakak pergi aja duluan ke rumah sakit. Nanti malam aku bakal ke sana." kata Daren memperjelas maksudnya.


Dirga mengangguk sambil ber-oh singkat, "kenapa datangnya malam? memangnya siang ini kamu mau kemana?" tanya Dirga penasaran.


Mendengar pertanyaan Dirga yang sangat penasaran dengan jadwalnya hari ini membuat Daren terlihat malu-malu, ia lantas mengalihkan pandangannya dari Dirga hingga membuat Kakaknya itu semakin penasaran.


"A-aku mau ketemu dia ..." jawab Daren pelan.


"Oh, pacar kamu itu? Dasha, 'kan?"


Daren tersentak, kemudian buang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Perasaan tiap hari juga ketemu, emangnya kamu nggak mau istirahat di hari libur begini?" Dirga heran kenapa adiknya ini sangat suka bertemu dengan pacarnya itu setiap hari, padahal Daren harus banyak berisitirahat agar tubuhnya tidak kelelahan.


Selang beberapa saat terdiam, Daren akhirnya menghela napasnya kemudian melempar senyum pada Dirga.


"Selagi aku masih punya waktu buat bisa ketemu sama dia, aku nggak mau tiba-tiba pergi tanpa ngelihat dia."


Perkataan yang tidak terduga dari mulut cowok itu membuat Dirga tidak berkedip, ia tercengang menatap wajah Daren yang kembali berekspresi murung.


"Tsk!" Dirga berdecak kesal sambil mengalihkan pandangannya dari Daren.


Dirga merasa putus asa, karena meskipun Dirga seorang Dokter, ia tetap tidak bisa untuk menyelamatkan adiknya itu. Padahal alasannya untuk menjadi seorang Dokter hingga pergi dari rumah ini, semua ia lakukan hanya untuk Daren.


"Kakak nangis?" tanya Daren kebingungan melihat mata Dirga yang memerah.


Dirga spontan mendelik, "bodoh! dasar adik bodoh!" kesalnya sambil melenggang pergi meninggalkan Daren yang terheran-heran.


Memangnya apa salahnya? namun Daren cukup mengerti bagaimana perasaan Dirga yang selalu mengkhawatirkan keadaannya. Dirga sangat menyayanginya dan selalu melindunginya, sejak dulu bahkan sampai sekarang.


"Dasar cengeng," gumam Daren sambil menyunggingkan senyumnya.


...••••••...


Sudah seminggu sejak Dasha tinggal bersama Roland dan ibu sambungnya, Sonya.


Hari-hari yang Dasha lalui sangat menyenangkan seakan-akan semesta sudah berbaik hati untuk memberikannya kebahagiaan. Karena tinggal bersama mereka, sangat menghangatkan.


Meskipun begitu, Dasha berharap Selena menghubunginya bahkan sekedar untuk menanyakan kabarnya. Namun seperti biasanya, Selena tidak memperdulikannya sama sekali.

__ADS_1


Bahkan ketika tahu Roland membawa Dasha untuk tinggal bersamanya, Selena hanya bersikap acuh tak acuh. Bahkan sampai detik ini, Dasha masih tidak bisa mendapatkan sedikitpun cinta dari Selena.


"Sayang, kamu mau kemana? dandan cantik kayak gitu."


Wajah Sonya berubah sumringah saat melihat Dasha berjalan menuju pintu, gadis itu kemudian tersentak kaget saat menyadari kehadirannya.


"A-aku mau jalan-jalan," jawab Dasha, ia masih merasa kikuk ketika berbicara berduaan saja dengan Sonya.


"Sama siapa?" tanya Sonya tersenyum jahil.


"Sama----" ucapan Dasha tepotong saat Emma berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Kak Sha!!! ada Kakak ganteng di depan lumah, dia bilang dia pacalnya Kakak!!!" gadis kecil itu terlihat antusias sambil menunjuk-nunjuk ke halaman luar.


Sonya kembali tersenyum, "rupanya udah punya pacar, ya." goda Sonya hingga membuat Dasha salah tingkah.


"Ka-kalau gitu aku pergi dulu, Mama Sonya!" sentak Dasha buru-buru pergi keluar, "dadah Emma!" Dasha sempat melambaikan tangannya pada Emma yang juga balas melambaikan tangan kepadanya.


"Dadah Kak Sha!!! nanti kabalin Emma, ya! kalau kakak dah nggak suka lagi sama kakak ganteng! bial Emma yang gantian suka sama kakak ganteng itu!!!"


Mendengar celotehan anaknya spontan membuat Sonya tercengang, lantas mencubit pipi chubby Emma.


"Emma! kakak ganteng itu punya kak Dasha, kamu nggak boleh ambil, ya!"


Emma mengangguk paham sambil melempar senyum lebarnya, "iya!"


.


.


.


.


"Gimana perasaan kamu? senang?" tanya Daren tidak melepaskan tatapannya dari Dasha yang duduk berhadapan dengannya.


"Senang," jawab Dasha, ekspresinya sangat serius sambil memasangkan banyak jepit berbentuk kupu-kupu ke rambut Daren.


Cowok itu lantas tersenyum sambil mengusap lembut wajah Dasha, Daren bahkan tidak protes saat Dasha tidak berhenti menghias rambutnya dengan jepit kupu-kupu yang sempat mereka beli.


"Kepalanya jangan gerak, Daren."


"Iya, sayang."


Mendengar kalimat dari cowok itu spontan membuat Dasha tercengang, detik selanjutnya tawa mereka meledak.


Karena perkataannya itu berhasil membuat Daren sangat senang dan menurutinya. Dan sekarang, Daren menjadi anak yang baik selagi Dasha sibuk menghias rambutnya.


"Di sekolah baik-baik aja, 'kan?" tanya Daren, kini giliran Daren yang menghias rambut Dasha dengan jepit rambut ditangannya.


Dasha mengangguk singkat, "mereka semua baik, cuman masih ada yang ngomongin aku." sahutnya.


"Setidaknya dua orang yang udah ganggu kamu, mereka udah dikeluarkan dari sekolah." kata Daren pelan.


Dasha lantas terdiam, berhenti memasangkan jepitan ke rambut Daren. Dasha sangat berterima kasih kepada Daren, cowok itu sudah melakukan banyak hal untuk melindunginya.


"Daren," panggil Dasha saat cowok itu sibuk memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Hm?" dehem Daren tanpa menatap gadis itu, Daren masih sibuk merogoh isi tas Dasha untuk mencari lebih banyak jepitannya.


"Makasih," kata Dasha melempar senyumnya.


Saat Daren berniat untuk menoleh ke arah Dasha, cowok itu tercengang saat Dasha tiba-tiba mencium singkat pipinya.


Cup!


Daren tidak berkedip bahkan tubuhnya mematung ditempat. Bisa-bisanya Dasha malah menyerangnya duluan, rasanya tidak hanya rambutnya saja yang penuh kupu-kupu, sepertinya perutnya juga.


"Curang!" sentak Daren langsung mencubit kedua pipi Dasha dengan gemas.


"Hah? kenapa curang! itu 'kan sebagai tanda terima kasih karena udah melakukan banyak hal buat aku!" rengek Dasha dengan memanyunkan bibirnya.


Saking gemasnya Daren saat gadis itu memanyunkan bibirnya sontak saja membuat Daren membekap mulut Dasha, berhasil membuat gadis itu berkedip dua kali karena kebingungan.


"Jangan gitu, nanti bahaya." kata Daren serius.


"Bahaya kenapa?" tanya Dasha memiringkan kepalanya dan berekspresi kebingungan.


"Nggak, bukan apa-apa." Daren geleng-geleng kepala, tidak heran sih pasalnya Dasha itu sangat tidak peka.


Menyadari raut wajah Daren yang cemberut, Dasha kemudian menyunggingkan senyumnya. 


"Daren, kalau kamu nggak hadir di hidup aku, pasti aku nggak akan pernah ngerasain bahagia. Karena kamu udah tahu bagaimana penderitaan yang aku rasain dari dulu, bahkan kamu udah ngelihat bagaimana aku terpuruk." Dasha mulai berbicara dengan menundukkan wajahnya dan memainkan jari jemarinya.


Membuat Daren tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dasha. Daren bahkan bersyukur gadis itu mulai terbuka tentang perasaannya.


"Di antara seribu penderitaan yang aku rasain, setidaknya semesta masih berbaik hati memberikan satu kebahagiaan. Yaitu kamu, aku bahagia bersama kamu. Jangan tinggalin aku, ya?" Dasha perlahan mendongak kemudian melempar senyumnya pada Daren.

__ADS_1


Mendengar perkataan gadis itu, raut wajah Daren berubah datar. Daren tidak bisa berjanji tetap bersama gadis itu untuk waktu yang lama, dan Daren kini merasa putus asa.


Menyadari ekspresi Daren yang terlihat murung, sebelah alis Dasha lantas terangkat. Bingung menatap Daren yang hanya diam dan tidak menyahut perkataannya barusan.


Memangnya ucapannya tadi ada yang salah, ya? kenapa Daren terlihat sedih.


"Dar---eh?"


Deg!


Dasha tidak bergeming saat Daren tiba-tiba memeluknya. Cowok itu bahkan membenamkan wajahnya di bahu Dasha. Ia bahkan dapat merasakan tangan Daren yang mencengkram kuat pakaiannya, sikap Daren sekarang membuat Dasha kebingungan.


"Kamu kenapa?" tanya Dasha pelan.


Tidak ada sahutan dari cowok itu, Dasha bahkan tidak bisa mendesaknya. Daren hanya diam saja dengan terus membenamkan wajahnya.


Deg!


Apakah Dasha tidak salah duga saat mendengar suara cowok itu terisak? tidak! Daren benar-benar terisak, cowok itu menangis! tapi Dasha tidak tahu apa yang membuat Daren menangis, apakah karena kata-katanya barusan yang sangat menyentuh hati cowok itu?


"Daren, kamu kenapa?"


Dasha spontan melepaskan pelukan Daren, hingga akhirnya membuat mereka saling bertatapan. Dan untuk pertama kalinya Dasha melihat wajah Daren yang terlihat sangat sedih, bahkan air mata mengalir dari mata sebelah kiri cowok itu.


Saat itu Dasha tidak mengerti, apa yang ada dipikirkan remaja pria berumur 17 tahun itu sampai ekspresinya terlihat sangat putus asa seperti itu.


...••••••...


Dasha melirik arloji ditangannya saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Akhirnya Daren mengantarkannya ke rumah setelah mereka cukup bersenang-senang sepanjang hari, menikmati waktu santai mereka saat bersama.


Daren membanting setir-nya ke sisi kiri jalan, dan memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Dasha.


Setelah melihat Daren menangis saat itu, Dasha hanya menenangkannya saja tanpa bertanya apapun. Dasha tidak mengerti kenapa Daren tiba-tiba menangis, rasanya ambigu jika Daren menangis hanya karena mendengar kata-katanya saat itu.


"Haaah ...."


Dasha terperangah saat melihat Daren mulai membenamkan wajahnya di atas setir mobilnya, kemudian cowok itu menoleh ke samping menatap wajah Dasha dengan lekat.


"I love you, Sha."


DEG!


Daren benar-benar tidak baik untuk jantungnya, cowok itu selalu melakukan hal yang berhasil membuat jantung Dasha berdegup kencang.


Melihat bagaimana cara Daren tersenyum, dan menatap lekat kepadanya membuat perasaan Dasha tidak keruan.


Selang beberapa detik Dasha lantas tersenyum sambil mengusap lembut rambut Daren, yang berhasil membuat tubuh Daren mematung.


"Aku juga," sahut Dasha.


Lagi-lagi setiap kali melihat senyuman gadis itu, Daren semakin merasa tidak keruan.


"Sha, ada yang pengen aku bicarakan sama kamu." mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada gadis itu?


"Hm? kamu kamu bicara apa?" tanya Dasha masih menyunggingkan senyumnya, menatap Daren lekat.


Tapi setiap kali melihat senyuman gadis itu, membuat Daren jadi ragu dan tidak keruan.


"Aku belum siap mengatakannya. Tapi aku nggak akan pernah menyerah, Sha."


Perkataan Daren yang membingungkan itu membuat Dasha tidak bisa berkata-kata, Dasha hanya tersenyum dan berkedip beberapa kali menatap cowok itu.


"Hm? maksudnya?" tanya Dasha heran.


Daren tersenyum sambil membalikkan tubuhnya menghadap Dasha, tangannya perlahan mengusap lembut pipi Dasha dan memberikan ciuman singkat di pipi gadis itu.


"Selamat malam," kata Daren dengan senyuman hangatnya.


Melihat wajah cowok itu membuat Dasha termenung sesaat. Kenapa Dasha merasa seakan tidak ingin berpisah dengan cowok itu untuk malam ini?


"Daren, aku----"


"Kamu nggak mau masuk ke dalam ke rumah?" tanya Daren memotong pembicaraan gadis itu.


Dasha langsung tersadarkan karena perkataan Daren barusan, ia lantas segera turun dari mobil dan sempat melambaikan tangannya sebelum Daren menaikkan kaca jendela mobilnya.


Sepeninggal gadis itu, Daren akhirnya bisa bernapas lega setelah bersusah payah menahan sakit yang dirasakannya.


"Ukhk!"


Daren tersedak sambil mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, kini sorot mata Daren kembali sendu memandangi tangannya yang ternodai banyak darah.


Detik selanjutnya Daren segera menyalakan mesin mobilnya, dan memacunya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan sesuai janjinya, ia akan menemui kakaknya di rumah sakit.


Bahkan ekspresi Daren sekarang berubah datar, tidak seperti saat ia bersama Dasha barusan.


Daren menyadari bahwa setiap bersama gadis itu membuat Daren lebih banyak tersenyum dari biasanya, gadis itu seolah memberikan harapan baru di kehidupannya yang penuh dengan kesepian dan keputusasaan saat mengetahui bahwa waktunya sudah tidak lama lagi.

__ADS_1


...••••••...


__ADS_2