Love, Then Lost

Love, Then Lost
17- Happiness


__ADS_3

..."If there is a story that has happy ending,...


...I hope it's our story."...


...-Daren Aldevaro...


.......


.......


.......


...BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!...


...••••••...


Daren, Ayara, dan Satya. Mereka bertiga saling melirik satu sama lain, karena terdiam di depan seorang Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Dasha.


Dokter bernama Dirga itu membawa mereka untuk membicarakan tentang keadaan Dasha di ruangannya, sementara Dasha masih belum kunjung siuman juga.


"Haruskah saya memberitahukan pada kalian tentang gadis itu? tanpa memberitahukan keluarganya terlebih dahulu?" tanya Dokter Dirga tersenyum manis.


Mereka bertiga kompak mengangguk, setelah itu Ayara lantas membuka suara.


"Setelah ini saya bakal ke rumahnya buat ngasih tahu mamanya." kata Ayara, Dokter muda itu manggut-manggut.


"Kenapa nggak langsung telepon aja?" tanya Satya heran.


Ayara lantas menoleh, "gue nggak punya nomor teleponnya." sahutnya, Satya kemudian mengangguk paham.


"Seperti yang kalian lihat, kondisi pasien perlahan membaik. Dia juga mengalami trauma atas kejadian yang menimpanya. Selain itu ..." Dokter Dirga menggantungkan ucapannya, ekor matanya lantas melirik ke arah Daren. "Seluruh tubuhnya penuh luka dan memar-memar, apa dari pihak keluarga ada yang melakukan kekerasan kepadanya?"


Mendengar pertanyaan Dokter itu, mereka bertiga kompak saling berpandangan. Sedikit Ayara tahu tentang keluarga Dasha, Karena gadis itu pernah bercerita kepadanya bahwa mamanya sering melampiaskan amarahnya dengan selalu memukuli bahkan melemparkan benda-benda tumpul ke arahnya.


Hanya itu yang Ayara tahu, tapi Ayara tidak menyangka bahwa Dasha sudah menahannya selama ini.


"Di salah satu tangannya juga terdapat banyak luka sayatan, sepertinya pasien melukai dirinya sendiri karena tekanan batin." lanjut Dokter Dirga lagi.


Daren terhenyak dan spontan mendongak, tidak berkedip menatap Dokter Dirga yang menatap serius padanya.


"Apa itu artinya ..." kata Daren, Dokter Dirga lantas mengangguk.


"Masalah dalam hidup dapat menyebabkan guncangan pada psikis dan kejiwaannya, karena kesehatan psikis sama pentingnya dengan kesehatan fisik makanya tidak bisa disepelekan. Adanya keinginan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri, itu merupakan tanda dari depresi berat. Karena sudah begitu, nanti saya akan melakukan psikoterapi dan juga beberapa obat yang diperlukan untuknya." setelah selesai membicarakan tentang keadaan gadis itu, Dokter Dirga lantas menghela napasnya kemudian tersenyum.


Ia memandangi ketiga murid SMA itu, hingga membuat mereka merasa terbebani dengan tatapan Dokter muda itu.


"Dia sudah mengalami hal yang sangat berat sepanjang hidupnya, dan dia sudah berusaha bertahan selama ini. Saya harap kalian bisa memberikan ruang yang aman untuknya." lanjutnya lagi.


"Terima kasih, Dokter." ungkap Ayara melempar senyum manisnya.


Dokter Dirga mengangguk, kemudian mempersilahkan mereka untuk pergi.


"Tolong segera hubungi pihak keluarganya, ya. Saya juga ingin membicarakan hal serius ini kepada orang tuanya." pesan Dokter Dirga, Ayara kembali mengangguk sambil membuka pintu ruangannya.


Saat Daren juga ingin ikut pergi bersama Ayara dan Satya, Dokter Dirga berdehem hingga membuat langkah Daren berhenti. Ia lantas membalikkan badannya, menatap Dokter Dirga dengan serius.


Sepeninggal Ayara dan Satya, Daren kemudian mendengus saat Dokter Dirga tersenyum sambil berjalan menghampirinya.


"Apa dia sangat berharga bagi kamu, Ren?"


Pertanyaan itu spontan membuat Daren menunduk murung, kemudian mengangguk.


"Iya, Kak."


Dirga lantas tersenyum seraya mengusap lembut rambut Daren. Adiknya itu baru bisa memanggilnya Kakak setelah kedua temannya pergi, seperti biasa Daren hanya tidak ingin siapapun mengetahui bahwa Kakaknya adalah seorang Dokter sekaligus pemilik rumah sakit ini.


"Kamu yakin? padahal bisa aja kamu bakal buat kesehatan mentalnya semakin memburuk kalau dia sampai tahu bahwa waktu kamu nggak banyak." ekor mata Dirga melirik wajah Daren dari samping, Adiknya itu kembali terlihat murung.


"Aku selalu berdoa supaya Tuhan memberikan aku sedikit waktu lagi, supaya aku bisa buat dia bahagia sebelum pergi."


Ucapan yang terdengar pasrah itu, tapi Dirga yakin bahwa Daren sedang berusaha dan dia tidak ingin menyerah lagi. Karena itulah Dirga memutuskan untuk menjadi Dokter, hanya untuk adik satu-satunya itu.


"Kamu mau kemana?" Dirga terperangah saat Daren ingin membuka pintu, cowok itu berniat pergi.


Daren lantas menggigit bibir dalamnya, padahal ia ingin segera bertemu dengan Dasha namun Kakaknya itu pasti akan menahannya terlebih dahulu untuk membicarakan sesuatu.


"Ayo kita membicarakan tentang kesehatan kamu, Daren."


.


.


.


.


Setelah selesai berbicara dengan kakaknya, Daren segera melenggang pergi ke ruang inap tempat Dasha di rawat. Daren bahkan sengaja menempatkan gadis itu di kelas VIP.


Namun saat sampai Daren malah terhenyak mendapati Ayara bersama Satya sedang berada di luar ruangan, apa yang mereka berdua lakukan.


"Nggak masuk?" tanya Daren heran.


"Udah tadi, sekarang kami mau pulang dulu." jawab Satya, Ayara mengangguk setuju.


"Besok gue bakal ke rumah Dasha, buat ngasih tahu mamanya." timpal Ayara memberitahu.


Daren mengangguk, kemudian tersenyum tipis. "Terima kasih, Kak." katanya.


"Tolong jaga Dasha bentar, ya. Besok kami bakal kesini lagi." ujar Ayara balas tersenyum pada cowok itu.


Satya mengangguk setuju, "dia dari tadi ngelamun terus, padahal udah gue suruh tiduran aja. Coba Lo bujuk dia, kasih dia ruang yang aman." timpal Satya.


Mendengar perkataan Satya, Daren baru sadar dan segera melirik arloji di tangannya. Ternyata sudah larut malam, saking sangat khawatirnya dengan kondisi gadis itu sampai Daren tidak menyadari bahwa waktu berlalu dengan cepat.


"Kami pergi dulu, bye." pamit Ayara bersama Satya.


Sepeninggal mereka berdua, Daren segera berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia terperangah mendapati Dasha yang terduduk di atas ranjangnya sambil melamun, seperti yang Satya katakan barusan.


Sorot mata yang kosong dan juga terlihat kesepian, membuat hati Daren jadi sakit karena melihatnya.


"Ha-harusnya kamu nggak usah nolongin aku, dengan begitu aku bisa bebas dari semua penderitaan ini." kata Dasha berkata lirih saat Daren duduk di samping ranjangnya.

__ADS_1


Tentu saja perkataan gadis itu membuat Daren syok, bisa-bisanya gadis itu berpikiran seperti itu.


"Kamu benci aku, 'kan? kamu juga pasti ingin aku menghilang dari dunia ini, mama juga, dan semua orang juga 'kan?"


Pupil mata Daren bergetar, spontan menggertakkan giginya kesal sambil mencengkram kedua pundak Dasha. Membuat kedua manik mereka akhirnya saling bertatapan.


"Kamu kenapa ngomong gitu sih?! kamu nggak bisa menghargai hidup kamu, ya!? masa bodoh dengan semua orang yang benci sama kamu, aku nggak pernah benci sama kamu. karena aku suka sama kamu, Sha!" sentak Daren mengutarakan perasaannya.


Gadis itu salah, Daren tidak pernah membencinya meskipun Dasha pernah membohonginya. Karena Daren yakin, bahwa perasaan gadis itu sekarang bukan lagi sebuah kebohongan.


"Hiks!"


Daren terperangah melihat Dasha yang mulai terisak, air mata sudah berlinang membasahi pipi gadis itu.


"Aku bodoh ... aku salah ... aku udah nyakitin kamu! tapi kenapa kamu masih suka sama aku?" isak tangis Dasha semakin terdengar, ia bahkan mencengkram kuat lengan Daren seakan menahan gejolak emosinya.


Melihatnya lantas membuat Daren tersenyum, kedua tangannya kemudian menyentuh wajah Dasha hingga membuatnya mendongak menatap wajah Daren yang masih tersenyum.


"Aku juga salah, Sha. Banyak yang aku belum tahu tentang kamu, apa yang kamu sukai, apa yang kamu benci, rahasia kamu, semuanya tentang kamu. Aku ingin tahu, Sha." Dasha tidak berkedip, ia menatap lekat wajah Daren.


"Ayo mainkan permainannya dari awal lagi. Aku suka kamu, ayo jadi pacarku." ucap Daren dengan senyum lebarnya.


Daren bahkan menempelkan dahinya ke dahi Dasha, hingga membuatnya dapat merasakan suhu tubuh gadis itu yang selalu hangat.


Meskipun Dasha pernah mendorong cowok itu menjauh darinya, tapi Daren tetap bertahan dengan perasaannya. Setidaknya seribu penderitaan yang Dasha rasakan, cowok itu akan mengisi ruang kosong di hatinya dengan satu kebahagiaan.


Dan kebahagiaan itu, Dasha akan menerimanya dengan senang hati. Dan berharap semoga semesta tidak mengambilnya kembali.


"Aku suka Daren! karena itu jangan pernah pergi." lirih Dasha dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


Daren kembali tersenyum lebar sambil mengangguk, "iya, Sha."


...••••••...


"Kok sepi?" tanya Satya melirik Ayara disampingnya.


"Mereka 'kan cuma tinggal berdua doang." sahutnya mendengus.


Sebelum berangkat ke sekolah, Ayara meminta Satya untuk menemaninya ke rumah Dasha. Mereka berdua ingin memberitahukan tentang keadaan Dasha kepada mamanya.


Meskipun Ayara tahu bahwa mama Dasha itu tidak pernah memperdulikan anaknya sedikitpun, dan Dasha juga tidak terlalu berharap banyak untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.


"Ketuk gih!" titah Ayara menunjuk pintu rumah mewah itu dengan dagunya.


Satya mendelik, "kok gue?! kenapa harus diketuk pula? emangnya rumah sebesar ini nggak punya bel?" cerocos Satya tidak terima.


Ayara kembali mendengus dan tidak ingin membuang banyak waktu lagi, ia lantas segera menekan bel rumah itu beberapa kali. Selang beberapa saat, akhirnya pintu rumah itu terbuka dan memperlihatkan sosok Selena yang berhasil membuat Satya tercengang kagum.


Ternyata wajah rupawan Dasha adalah turunan dari emaknya! bibit unggul emang beda, begitulah pikir Satya sekarang.


Melihat Satya yang malah terpesona dengan wajah mama Dasha, Ayara spontan menyikut perutnya kemudian berbisik dengan nada kesal.


"Nggak dapat anaknya, Lo mau embat emaknya?!"


Satya langsung menoleh ke arah Ayara, menatap gadis itu dengan mulutnya yang masih ternganga.


"Iler Lo netes tuh, kampret!" gemas Ayara melotot pada Satya.


Satya kaget spontan mengusap mulutnya dengan punggung tangannya, bisa-bisanya ia malah terpesona dengan seorang wanita yang sudah berumur----berapa?!


Selena mengernyit heran, bisa-bisanya anak SMA malah menanyakan tentang umurnya.


"Ada urusan apa?" tanya Selena akhirnya membuka suara.


"Ah, kami temannya Dasha." sahut Ayara tersenyum ramah.


"Oh. Terus?" tanya Selena lagi, nada suaranya yang terdengar cuek membuat Satya dan Ayara saling berpandangan.


Ternyata memang benar, dari nada bicaranya sekarang bahkan terdengar tidak peduli sedikitpun mengenai Dasha.


"Anak Tante sekarang ada di rumah sakit," ucap Satya blak-blakan.


Mendengar perkataan cowok itu, kening Selena mengerut.


"Terus apa hubungannya dengan saya?"


Mereka berdua langsung tercengang mendengar perkataan Selena, bukannya khawatir dengan kondisi Dasha sekarang, Selena malah berkata seperti itu.


Kesal dengan ucapan Selena, Ayara menatap serius padanya.


"Kami cuma mau bilang, Dasha habis di culik. Dia udah ngalamin hal yang buruk selama ini dan sebagai seorang Ibu, Anda tidak punya rasa kekhawatiran sedikitpun kepada anak Anda, ya?" skakmat! ucapan Ayara yang tepat sasaran itu langsung membuat Selena tidak berkutik.


"Memangnya apa urusannya dengan saya, hah?! saya nggak peduli, jadi mending sekarang kalian silahkan pergi." usir Selena menatap tajam Ayara.


Satya berdecak kesal, "pantas aja Dasha mengalami depresi berat, ternyata semua itu karena Anda penyebabnya." ucapnya, mereka berdua berhasil memojokkan Selena yang terkejut dengan perkataannya.


"Tahu apa kalian tentang keluarga saya, hah?!"


"Keluarga? siapa? bahkan Anda nggak pernah memperdulikan Dasha!" sela Ayara menggeram kesal.


**PLAKK!


Satya melotot kaget saat tangan Selena dengan ringannya melayangkan tamparan pada pipi Ayara, spontan membuatnya mencengkram lengan Selena.


"Apa yang Anda lakukan!?" bentak Satya tegas.


Selena spontan menepis kasar lengan Satya yang memeganginya, "jangan kurang ajar sama Saya, ya. Lihat 'kan akibatnya?" melihat senyum sinis yang Selena tunjukkan membuat Ayara spontan mengepalkan tangannya.


"Seperti ini ya? Anda selalu melakukannya pada Dasha? melakukan kekerasan seperti ini, dimana hati nurani Anda? apa Anda nggak pernah kasihan sama Dasha? memangnya Dasha salah apa? kenapa Anda tega banget!" sentak Ayara pada Selena dengan nada marah.


Melihat mata Ayara yang memerah, membuat Satya langsung menarik tangan Ayara dan membawanya pergi.


"Udah, Ya. Nggak ada gunanya memancing keributan, ayo pergi nanti kita telat ke sekolah." kata Satya, ia sempat melirik tajam pada Selena.


Mereka berdua melenggang pergi meninggalkan Selena yang tidak berkutik, dan berharap semoga saja setelah mendengar perkataan Ayara barusan membuat hatinya terketuk.


"Sialan!" umpat Ayara tiba-tiba, Satya spontan melepaskan genggaman tangannya dari Ayara.


Satya tidak berkedip memandangi Ayara yang menangis, gadis itu bukannya menangis karena kesakitan sehabis ditampar tapi menangis karena akhirnya ia bisa mengerti penderitaan yang Dasha rasakan.


"Sakit, Ya?" tanya Satya meringis.

__ADS_1


Ayara spontan mendongak dan meneriakinya, "SAKIT LAH, KAMPRET!"


PLAK!


"GILA! KOK GUE MALAH DITAMPAR?!" teriak Satya, padahal dia tidak salah apa-apa.


"Biar adil! masa gue doang yang ditampar sedangkan Lo enggak?!" Ayara mendengus sambil melenggang pergi duluan meninggalkan Satya.


Sepertinya otak Satya juga kena tamparan barusan, pasalnya bukannya meringis kesakitan Satya malah senyam senyum sambil berjalan mengekori Ayara yang masih kesal.


.


.


.


.


Daren baru saja keluar dari ruang OSIS sambil menenteng beberapa buku ditangannya, langkahnya kemudian terhenti saat mendapati Nasreen sedang bercanda ria bersama beberapa orang siswi lainnya.


Melihat gadis itu lantas membuat Daren tersenyum miring sambil berjalan menghampirinya. Menyadari kehadiran sang ketua OSIS, beberapa siswi itu spontan mencolek lengan Nasreen dan memberitahukan bahwa Daren menghampirinya dengan senyuman.


"Nasreen."


Sang pemilik nama itu lantas menoleh, melempar senyum manisnya pada Daren. Melihat wajah sumringah gadis itu membuat Daren muak, bagaimana bisa ia seakan bersikap biasa-biasa saja setelah melakukan hal buruk kepada Dasha.


"Kenapa, Daren?" tanya Nasreen menatap Daren lekat.


Dengan senyum palsu yang masih Daren pertahankan, Daren spontan menarik tangan Nasreen dan membawa gadis itu pergi.


Perbuatan Daren sekarang berhasil membuat Nasreen salah tingkah. Kenapa tiba-tiba cowok itu malah membawanya pergi? apakah keinginan Nasreen selama ini akan segera terwujud? apakah Daren akan menyatakan perasaan kepadanya?!


Namun angan-angan itu hancur seketika saat dari kejauhan Nasreen melihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jas, tidak lain itu adalah Ayahnya. Kenapa Ayahnya tiba-tiba datang ke sekolah? bahkan bersama beberapa orang polisi yang menemaninya!


"Daren tunggu!" sentak Nasreen menepis tangan Daren darinya.


Nasreen menatap lekat Daren dan meminta penjelasan kenapa ada banyak orang di depan ruang kepala sekolah, bahkan orang-orang itu terlihat seperti sedang menunggu kehadiran seseorang.


"Kenapa? mereka semua udah nunggu kamu." tanya Daren masih dengan senyuman ramahnya.


"Hah? maksud kamu apaan?" tanya Nasreen syok, ia tidak mengerti dengan perkataan Daren.


"Harusnya aku yang tanya gitu, maksud kamu apa?" kini ekspresi Daren berubah serius, ia menatap tajam pada Nasreen yang sedang ketakutan dihadapannya.


"A-apa?"


"Setelah melakukan semua hal buruk pada Dasha, kamu kira aku bakal tersenyum manis ke arah kamu, huh?"


Pupil mata Nasreen bergetar, raut wajahnya yang terlihat syok tidak berkedip menatap Daren sekarang. Detik selanjutnya ia langsung memegang tangan Daren, dan mendesak cowok itu untuk mempercayainya.


"Aku ngelakuin semua ini buat kamu, Daren! harusnya kamu berterimakasih sama aku, karena aku udah membongkar permainan busuk cewek munafik itu! dia itu cuma manfaatin perasaan kamu doang, dia bahkan nembak kamu cuman karena sebuah permainan! harusnya kamu bersyukur karena udah terbebas dari cewek itu!" tubuh Nasreen gemetar, berharap semua ucapannya itu membuat Daren senang dan kembali mempercayainya.


Mendengar semua celotehan Nasreen, Daren lantas mendengus. Ia sebenarnya ingin marah, tapi Daren berusaha untuk tetap tenang. Biar bagaimanapun Nasreen tetaplah seorang cewek, dan Daren tidak ingin berlaku kasar kepadanya.


"Tapi aku nggak pernah minta kamu buat ngelakuin semua ini. Aku nggak masalah kalau hubunganku dan Dasha cuman sebuah permainan, karena aku suka sama Dasha dan kalau permainan ini buat kami selalu bersama, kenapa enggak?" ujar Daren dengan senyum tipisnya.


Nasreen yang mendengar tidak berkutik, bagaimana bisa cowok itu masih menyukai Dasha setelah tahu bahwa semua cuman sebuah permainan?


"Kalau aja sedari awal kamu nggak pernah ikut campur sama urusan kami, aku nggak akan ngelakuin ini, Nas."


"Apa?" tanya Nasreen menoleh, ia sempat tidak mengerti dengan perkataan Daren barusan.


Namun saat Ayahnya berjalan menghampirinya, barulah Nasreen mengerti balasan apa yang datang kepadanya karena telah mengusik hidup gadis itu.


**PLAKK**!


"Kamu berhutang penjelasan pada kami semua, Nasreen."


Tangis Nasreen pecah, ia memegangi pipinya yang terasa panas saat Ayahnya itu menamparnya. Nasreen menatap ketakutan pada sosok Ayahnya yang terlihat sangat marah kepadanya.


"Nasreen nggak salah! Nasreen ngelakuin ini juga buat mama! karena Ayah juga salah!!!"


"Nasreen!"


PLAKK!


Daren langsung mengalihkan pandangannya saat Ayah Nasreen kembali menampar Nasreen, kemudian menarik tangan Nasreen dengan paksa dan membawanya ke ruangan kepala sekolah untuk di interogasi.


Tidak lama setelah itu, Azka datang menghampiri. Ia ingin berbicara sebentar dengan Daren sebelum dirinya juga ikut di interogasi oleh polisi yang Ayah Nasreen panggil.


"Yo! baguslah Lo udah berhasil nyelamatin Dasha."


Ekor mata Daren lantas melirik Azka, kemudian menoleh ke arah cowok itu dengan ekspresi datarnya.


"Aku nggak bakal maafin kamu," ucap Daren pelan dengan penuh penekanan.


Azka mengangguk, "nggak masalah, lagipula gue bakal tanggung jawab atas semua perbuatan gue." katanya sambil membalikkan badannya bersiap pergi.


Sebelum melangkahkan kakinya, Azka sempat melemparkan sesuatu yang spontan Daren tangkap. Cowok itu terperangah karena benda yang Azka berikan itu tidak lain ialah handphone milik Dasha, ternyata ada padanya.


"Gue kembalikan," kata Azka cengengesan.


"Sebenarnya kamu itu baik atau jahat?"


Pertanyaan Daren yang tidak terduga itu spontan membuat langkah Azka terhenti, ia lantas menoleh dan tersenyum sinis pada Daren yang menunduk murung.


"Entahlah. Tapi kalau boleh jujur, berteman dengan Lo ternyata seru juga." sahut Azka spontan membuat Daren tercengang menatap ke arahnya.


"Hah?"


Azka kembali melemparkan senyumnya, bukan senyum palsu lagi melainkan ini senyum sesungguhnya.


"Lagipula gue masih belum ngajarin banyak hal yang dilakukan orang miskin kayak gue. Ingat, 'kan?"


Daren tidak berkedip mendengarkan perkataan Azka, lidahnya mendadak kelu saat cowok itu kembali mengatakan candaan yang pernah ia lontarkan kepada Daren waktu dulu.


Sepeninggal Azka, Daren akhirnya menghela napas panjangnya. Dan membalikkan badannya ingin pergi, namun malah terperangah saat mendapati seorang pria paruh baya yang sedang menggandeng seorang anak, dan berjalan ke arahnya. Daren kenal orang itu, dia adalah donatur tetap untuk sekolah ini.


"Selamat siang. Saya Roland Adhara, dan ini anak saya Emma."


Nama belakang pria itu sama seperti nama Dasha, spontan membuat Daren tidak berkedip menatapnya.

__ADS_1


"Apa Anda ... Ayahnya Dasha?"


...••••••...


__ADS_2