Love, Then Lost

Love, Then Lost
29- Losing You


__ADS_3

...Kamu mengukir semua kenangan ini dengan sangat indah, sampai saat kamu pergi. Aku merasakan sakit hati yang teramat dalam karena menyadari bahwa kamu tidak akan pernah kembali....


...•••••...


"Cantik," kata Sonya setelah selesai merapikan rambut Dasha.


Sonya tidak melepaskan pandangannya yang mengarah pada cermin rias di depannya, lebih tepatnya menatap wajah Dasha dari cermin itu.


"Apa sudah cukup?" tanya Sonya, ia sempat membantu merias wajah Dasha karena permintaan anaknya itu.


Dasha lantas mengangguk sambil tersenyum simpul, "iya." sahutnya singkat.


Sejak kejadian hari itu, Dasha tidak lagi mengurung diri di dalam kamar. Dan hari ini, Dasha memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Sudah lama Dasha tidak bertemu dengan Daren, meskipun hati kecilnya masih merasa takut.


"Hati-hati dijalan, ya." pesan Sonya memperhatikan Dasha yang mulai melenggang pergi keluar kamar.


Dasha tidak menyahut, ia hanya menanggapi perkataan Sonya dengan anggukan kecil. Melihat perubahan sikap yang dialami Dasha membuat Sonya merasa sedih.


.


.


.


Saat kakinya melangkah memasuki gedung rumah sakit, tiba-tiba jantung Dasha berdebar-debar. Tidak hanya itu, kedua tangannya juga ikut gemetar.


Dasha lantas menghela napasnya kemudian menggigit bibir dalamnya. Rasanya Dasha seperti orang yang tidak tahu malu, setelah mengabaikan Daren selama beberapa hari ini, Dasha yakin bahwa cowok itu pasti merasa kecewa kepadanya.


Apa yang harus ia lakukan saat menatap wajah itu? kata-kata apa yang harus ia katakan kepada Daren? mendadak kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih karena saking gugupnya.


"Dasha?"


******Deg******!


Tubuh Dasha spontan mematung ketika seseorang memanggil namanya, perlahan Dasha menoleh dan tidak berkutik menatap Dirga yang berjalan menghampirinya.


Dirga melempar senyumnya, lantas membuat Dasha menunduk murung.


"Akhirnya kamu datang, Daren pasti senang." kata Dirga berhasil membuat dada Dasha berdenyut.


Padahal Dasha ingin menanggapi perkataan Dirga, namun entah kenapa lidahnya mendadak kelu. Dasha kemudian mendongak mencoba menatap wajah Dirga, lalu tersenyum.


Melihat senyum gadis itu, membuat kening Dirga mengernyit.


"Jangan takut," ucap Dirga spontan membuat Dasha tersentak menatapnya, "oke?"


Detik selanjutnya Dasha balas tersenyum pada Dirga, kemudian melenggang pergi menuju ruangan Daren dirawat.


Sepeninggal gadis itu, Dirga lantas mendengus. Wajahnya berubah serius sambil memikirkan gadis itu yang kesedihannya sangat terlihat meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.


...•••••...


Baik Ayara maupun Dirga, mereka semua benar. Dasha tidak perlu takut untuk menghadapinya, Dasha tidak perlu lari lagi dari kenyataan yang selalu menyakitinya.


Namun saat Dasha memegang handle pintu ruangan itu, ia sempat terdiam sesaat. Samar-samar Dasha dapat mendengar suara gelak tawa dari dalam sana, itu suara Ayara dan juga Satya. Mereka berdua sudah datang duluan untuk menemui Daren.


Setelah mengambil napas panjangnya, Dasha lantas membuka pintu itu hingga membuat mereka semua tidak berkutik menyadari kedatangannya.


Setelah beberapa saat terdiam, Ayara lantas bangkit dari duduknya, ia menarik tangan Satya untuk membawanya keluar. Ayara cukup paham situasi itu, kedua sejoli itu membutuhkan ruang untuk saling berbicara.


"Akhirnya Lo datang juga," kata Ayara pelan saat berjalan melewati Dasha.


Dasha lantas menundukkan wajahnya, tangannya bahkan mencengkram kuat ujung roknya. Dasha tidak berani untuk menghampiri Daren yang sedang duduk di atas kasur, lebih tepatnya Dasha takut untuk melihat reaksi yang cowok itu tunjukkan kepadanya.


Namun semua pemikiran yang berkecamuk itu seketika menghilang saat suara yang membuat Dasha rindu itu, dengan lembut terdengar di telinganya.


"Sha ...."


Dasha spontan mendongak, tidak berkedip menatap wajah Daren. Cowok itu tersenyum sangat manis hingga rasanya membuat Dasha ingin menangis.


"Da ... ren."


Perlahan Dasha berjalan menghampiri Daren, kemudian duduk di sampingnya.


"Aku senang kamu datang, aku kangen kamu. Sha."


Daren kembali melempar senyumnya setelah mengatakan perasaannya. Padahal harusnya cowok itu merasa marah dan juga kecewa kepadanya, tapi kenapa Daren masih bisa tersenyum seperti biasanya?


"Kenapa tersenyum?" lirih Dasha menatap lekat pada Daren yang terlihat kebingungan.


"Kenapa? karena aku senang kamu datang, akhirnya aku bisa lihat kamu lagi."


"Harusnya kamu marah," Dasha lantas menunduk murung, sambil meremas jari jemarinya.


"Nggak, Sha."


"Aku jahat, 'kan?"


"Sha."


Daren tersentak saat isak tangis Dasha terdengar. Gadis itu menangis sambil menunduk, membuat ekspresi Daren berubah murung.


Dasha jahat? padahal bagi Daren, yang paling jahat itu adalah dirinya sendiri karena sudah berani hadir di hidup gadis itu dan membuatnya menderita seperti ini.


"Maaf, Dasha." kata Daren tiba-tiba yang spontan membuat Dasha mendongak menatapnya.


Mendengar permintaan maaf dari cowok itu membuat Dasha merasa heran, kenapa malah Daren yang minta maaf? harusnya 'kan dirinya.


"Seharusnya masa seperti ini menjadi masa yang paling indah buat kamu, Sha. Tapi karena aku, semua menjadi menyedihkan bagi kamu. Aku yang jahat, bukan kamu, Sha."


Dasha spontan bangkit dari duduknya, ia menggeleng cepat lantas membuat Daren tercengang.


"Nggak! jangan minta maaf! kamu nggak salah!" sentak Dasha.


"Kalau aja aku nggak pernah hadir di hidup kamu, karena bersamaku kamu akan menderita ... aku nggak mau membuat kamu semakin tersakiti, Sha." diakhir kalimatnya, Daren mengepalkan kedua tangannya karena merasa marah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Cowok itu lantas mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke arah jendela yang terbuka.


Melihat ekspresi Daren setelah perkataan barusan, spontan membuat Dasha menggeleng cepat sambil menyeka air matanya.


"Daren," panggil Dasha, Daren perlahan menoleh dan menatap lekat padanya.


"Saat ini, detik ini. Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" pertanyaan Dasha yang tiba-tiba membuat Daren terdiam.


Apa yang ia pikirkan tentang gadis itu? saat melihat wajah Dasha, dan senyuman gadis itu. Membuat Daren seakan-akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


Tapi karena cinta ini, Daren telah menyakiti hati gadis itu.


"Aku ... suka kamu." lirih Daren perlahan menunduk murung.


"Aku juga, jadi jangan bilang bahwa kehadiran kamu di hidup aku itu hanya membuat aku semakin menderita. Kamu salah, Daren." ucap Dasha perlahan menyunggingkan senyumnya, "justru karena kamu udah hadir di hidup aku, aku merasa bahagia. Sangat bahagia! aku senang karena kamu adalah orang yang mencintai aku."


Bibir Daren sedikit terbuka, merasa tidak percaya setelah mendengar semua perkataan gadis itu. Namun melihat bagaimana Dasha tersenyum ke arahnya, membuat Daren juga ikut tersenyum.


"Aku nggak peduli digaris dunia manapun dan kapanpun kamu berada, aku akan selalu suka sama kamu. Aku suka kamu, Daren. Dan cinta ini nggak akan pernah hilang." kata Dasha diakhiri dengan senyuman manisnya.


Setelah terdiam sesaat dengan pengakuan gadis itu, Daren kemudian menyunggingkan senyumnya sambil perlahan tangannya meraih tangan Dasha.


"Kita ... ayo bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Sebagai dua orang yang ditakdirkan bersama." ucap Daren menatap Dasha lekat dan tanpa sadar, bulir air mata mengalir dari mata sebelah kirinya.


...•••••...


"Woi! Lo mau bawa gue kemana?" tanya Satya kebingungan karena Ayara masih belum kunjung melepaskan tangannya.


Meskipun ini juga kesempatan bagus untuk Satya, jarang-jarang gadis itu mau memegang tangannya. Karena biasanya, Ayara selalu bertingkah jijik kepadanya. emangnya ia kotoran!?


"Mwehehehe!"


Melihat Satya yang cengengesan dengan tampang menyebalkan itu spontan membuat Ayara melotot, saat sadar ia segera menepis kasar tangan Satya.


"Tangan gue jadi kotor!" decak Ayara kesal.


"Jahat banget! emangnya gue kotoran!?"


"Iya, tai." sahut Ayara cuek.


"Heh! kampret!" sentak Satya spontan menarik rambut Ayara.


"Sakit woi!" teriak Ayara refleks.


Satya mendadak panik, langsung membekap mulut Ayara. Bisa-bisanya gadis  itu malah berteriak di dalam rumah sakit.


"Jangan teriak, ini rumah sakit! emangnya Lo mau diusir dari sini, hah!?" omel Satya, Ayara malah mendengus sambil menepis tangannya.


"Iya gue tau, bawel!"


Ayara menghela napas panjangnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya kembali serius lantas membuat Satya geleng-geleng kepala.


"Jangan khawatir, mereka pasti bakal baik-baik aja." kata Satya seakan sudah tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.


Saat mereka ingin kembali ke ruangan Daren setelah berkeliling rumah sakit selama setengah jam untuk memberikan kedua sejoli itu ruang untuk saling berbicara, Ayara dan Satya terlonjak kaget ketika mendapati Dasha sudah berdiri di belakang mereka.


"Ayam kaget!" teriak Satya dengan suara cemprengnya.


Mendengar teriakan Satya yang seperti seorang perempuan, membuat tawa Ayara meledak.


"Akhirnya jati diri Satya selama ini terungkap!" ledek Ayara membuat Satya gemas.


"Gue kaget kampret! lagian Dasha tiba-tiba nongol udah kayak hantu aja! apalagi ini 'kan di rumah sakit!" celoteh Satya panjang lebar dengan ekspresi kesalnya.


Dasha sempat terkekeh kecil kemudian menatap Ayara dan tersenyum. "Makasih dan maaf, Aya."


Sempat tercengang dengan perkataan Dasha, Ayara segera berdehem kemudian mengangguk sambil balas tersenyum.


"Gue juga, maaf karena waktu itu gue udah berlaku kasar sama Lo." ucap Ayara sempat murung sebentar karena teringat perbuatannya saat itu.


"Makanya, jadi cewek tuh jangan kasar! nanti nggak ada yang suka sama Lo, mampus Lo!" sambat Satya dengan ekspresi meledeknya.


Dasha kembali terkekeh kecil melihat reaksi yang Ayara tunjukkan, gadis itu sudah siap dengan kepalan tangannya untuk meninju lengan Satya.


"Kalian berdua cocok," celutuk Dasha spontan membuat mereka berdua kompak menatapnya.


"Makasih! kami emang pasangan yang sangat romantis." sahut Satya refleks.


"Ogah!" sedangkan Ayara terlihat jengkel sambil buang muka.


Beberapa saat kemudian terjadi keheningan diantara mereka. Ekor mata Ayara diam-diam melirik ke arah Dasha, menyadari raut wajah gadis itu yang sangat tenang namun sorot matanya terlihat sedih.


"Lo nggak nemenin Daren?" tanya Satya heran.


"Gue mau beli makanan di luar, kalian juga mau? gue beliin." sahut Dasha menyunggingkan senyum tipisnya.


Ayara lantas menggeleng, namun berbeda dengan Satya yang malah mengangguk.


"Boleh, gue lapar." sahut Satya meskipun sempat mendapatkan tatapan tajam dari Ayara.


"Mau gue temenin beli makanannya?" kata Ayara namun Dasha menggeleng.


"Gue bisa sendiri kok, kalian berdua temenin Daren aja." ucap Dasha sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi.


Ayara lantas menoleh kemudian mendongak ke atas langit, "cepat kembali ya, nanti kehujanan di jalan." pesan Ayara saat menyadari awan pekat mulai menyelimuti langit.


"Awannya ngeri, mana tuh anak nggak bawa payung." celutuk Satya merasa khawatir kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Ayara dari belakang.


"Iya," sahut Ayara singkat.


Satya sempat berdecak, merasa kesal karena sampai sekarang ia belum bisa menarik perhatian gadis itu.


"Hujan-hujanan gini enaknya diselimuti kasih sayang, iya 'kan?" perkataan Satya yang tiba-tiba sontak membuat Ayara geleng-geleng kepala.


"Stres."

__ADS_1


.


.


.


Tidak jauh dari gedung rumah sakit itu ada sebuah rumah makan yang menyediakan banyak menu makanan, terutama menu kesukaan Dasha dan juga Daren.


Biasanya jika mereka sedang jalan-jalan, Daren selalu mengajak Dasha untuk makan. Dan mereka selalu memesan menu makanan yang sama, seakan tidak ada bosannya.


Karena tiba-tiba mengingat itu membuat Dasha mengulum senyumnya, dan tanpa sadar ia sudah sampai di rumah makan itu.


Belum sempat Dasha memesan makanannya, ia tersentak saat hujan mengguyur dengan derasnya. Dasha tidak berkedip menatap langit yang seakan-akan menangisi sesuatu sampai tidak peduli seberapa banyak air mata yang keluar hingga mengguyur kota dengan derasnya.


"Pesan apa, Dek?" tanya penjual itu, Dasha lantas menyebutkan apa saja pesanannya.


"Dibungkus aja ya, Mbak."


"Siap, Dek."


Karena masih menunggu pesanannya, Dasha memilih untuk duduk sambil memperhatikan rintik hujan yang memantul di setiap jalanan.


"Kita ... ayo bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Sebagai dua orang yang ditakdirkan bersama."


Dasha spontan menggigit bibir dalamnya, merasa sesak mendengar perkataan Daren saat itu. Kenapa harus di kehidupan selanjutnya? kenapa tidak di kehidupan saat ini saja? sebagai dua orang yang ditakdirkan bersama. Pikir Dasha.


Karena terlalu larut dalam pikirannya, Dasha sempat tidak sadar saat handphone-nya bergetar beberapa kali. Saat memeriksanya, Dasha mengernyit heran karena mendapatkan beberapa panggilan tidak terjawab dari Ayara.


"Kenapa nelpon?" gumam Dasha heran.


Dasha sedikit tersentak saat handphone-nya kembali bergetar, panggilan kembali masuk dari kontak Ayara. Segera Dasha mengangkat telepon itu, dan heran saat mendengar nada suara Ayara yang terdengar panik di seberang sana.


"DASHA! DAREN TIBA-TIBA KRITIS!"


Deg!


Rasanya jantung Dasha seakan berhenti berdetak sesaat ketika mendengar kabarnya. Tanpa pikir panjang Dasha segera berlari pergi, bahkan tidak menghiraukan panggilan dari penjual makanan itu yang kebingungan.


Dan tanpa memperdulikan dirinya yang basah kuyup, Dasha semakin berlari kencang menerobos guyuran hujan.


Setelah sampai di rumah sakit, Dasha segera berjalan memasuki bangunan itu. Dasha terus berlari di sepanjang lorong, dan tidak menghiraukan semua orang yang keheranan menatapnya.


Yang ada dipikiran Dasha sekarang hanya Daren, bagaimana keadaan cowok itu!


"Dasha!" panggil Ayara panik.


Dasha tercengang saat melihat beberapa perawat berjalan tergesa-gesa sambil mendorong peralatan medisnya, juga Dokter Dirga yang terlihat panik saat memasuki ruangan meskipun Dirga berusaha untuk tetap profesional menjalankan tugasnya.


"Daren!" panggil Dasha ketika ingin ikut masuk ke ruangan itu, namun Ayara dan Satya malah mencegatnya.


"Tenang, Sha." ucap Ayara.


Dasha tidak berkedip menatap pintu ruangan itu yang sudah tertutup, dan mendadak semua suara yang ada di sekitar Dasha seperti meredam.


"Daren pasti bakal baik-baik aja, Sha. Lo harus percaya itu!" ucap Satya berusaha menenangkan Dasha.


Ketika Ayara ingin menarik tangan Dasha untuk membawa gadis itu duduk, Dasha malah menepis tangannya. Gadis itu lantas menggeleng, dan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pintu di hadapannya.


Saat ini dan detik ini, Dasha tidak akan melepaskan pandangannya dari pintu itu. Dasha berharap, ketika Dirga keluar dari pintu itu, Dirga tersenyum dan mengatakan bahwa Daren baik-baik saja. Seperti kata kedua temannya, Dasha harus percaya bahwa cowok itu akan baik-baik saja.


Dasha pikir begitu. Namun saat Dirga akhirnya keluar dari pintu itu, Dirga tidak tersenyum. Dirga menatap Dasha, dengan kedua matanya yang memerah.


"Dokter! Daren baik-baik aja, 'kan?" tanya Satya khawatir.


"Gimana keadaan Daren?" Ayara juga ikut menimpali.


Dirga sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan, "maaf! maafin Kakak, Daren! Kakak nggak bisa nyelamatin kamu!" kata Dirga dengan sangat frustasi.


Bersamaan dengan perkataan Dirga yang diselingi isak tangisnya, rasanya pertahanan Dasha seketika runtuh saat mendengarnya.


Dasha spontan membekap mulutnya dengan tangan kanannya yang gemetar, merasa tidak percaya dengan perkataan Dirga barusan. Dadanya kini naik turun, tidak kuasa menahan isak tangisnya.


Bohong 'kan? Dasha menganggapnya seperti itu, namun saat kakinya perlahan memasuki ruangan itu seketika tangis Dasha pecah seketika saat memandangi wajah Daren yang sangat pucat.


Dasha spontan meluruhkan tubuhnya ke lantai, rasanya kedua lututnya menjadi tidak bertenaga bahkan sekedar untuk berdiri saja.


"Sha!" Ayara langsung meraih tubuh Dasha.


"Bohong ... 'kan? pa-padahal baru aja tadi kami bicara! ng-nggak mungkin Daren tiba-tiba pergi aja 'kan!" tangis Dasha semakin pecah, spontan membuat Ayara langsung memeluknya.


Gadis itu kini menangis dalam pelukan Ayara, dan berharap semoga semua ini hanya mimpi buruk yang menghampirinya. Namun saat Dasha kembali membuka matanya, mimpi buruk ini tidak kunjung menghilang.


Yang Dasha lihat, hanya tubuh Daren yang sudah tidak bernyawa. Cowok itu kini benar-benar meninggalkannya, seperti ketakutan Dasha selama ini.


"Aku punya permintaan, Sha. Aku mohon saat waktunya tiba, aku mohon tersenyumlah."


Tiba-tiba perkataan Daren saat itu terlintas dipikiran Dasha. Perlahan Dasha menyeka air matanya, kemudian berusaha bangkit dan melangkahkan kakinya untuk mendekati Daren.


Bagaimana Dasha bisa melakukannya ataupun menerima kehilangan cowok itu. Namun melihat bagaimana wajah Daren saat ini yang terlihat tenang, membuat Dasha berusaha menahan isak tangisnya dan memaksakan senyumnya.


Dasha mencoba untuk tetap tersenyum manis menatap Daren yang tidak akan pernah membuka kembali matanya itu, "aku senang bisa ketemu kamu, dan bersama dengan kamu meskipun takdir nggak berpihak sama kita, Daren. Aku sangat bersyukur, terimakasih dan selamat tinggal."


Mendengar perkataan Dasha dengan suaranya yang bergetar membuat Ayara langsung membekap mulutnya, dan berusaha menahan tangisnya. Ayara berniat untuk mengikuti Dasha ketika gadis itu perlahan melangkah pergi keluar ruangan, namun Satya mencegatnya dengan memberikan isyarat agar Ayara membiarkan gadis itu pergi.


Kini sorot mata Dasha menjadi kosong, seakan-akan kebahagiaan juga ikut menghilang bersamaan dengan kepergian cowok itu. Dasha lantas menyandarkan punggungnya di dinding, dan kembali meluruhkan tubuhnya ke lantai.


Dasha menekuk kedua kakinya, kemudian memeluknya. Ia tidak berkedip dan masih menatap kosong dengan sorot mata sendunya itu.


Kini Dasha kembali menangis dalam diamnya, dan memikirkan tentang bagaimana hari-hari bahagia bersama cowok itu yang sudah berubah menjadi kenangan untuknya.


Daren tidak akan kembali lagi ... dan Dasha tidak akan pernah bisa lagi untuk bertemu dengannya. Jika tahu bahwa ini adalah terakhir kalinya bertemu dengan cowok itu, Dasha menyesali waktu kenapa saat itu ia malah takut untuk bertemu Daren.


Daren yang kini menjadi kebahagiannya, kini telah menghilang selamanya.


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2