
"Kampret banget, gue nggak bisa tidur gara-gara takut!" aku Satya setelah menceritakan pengalaman menyeramkan yang baru saja dialaminya, kemarin malam.
Ayara yang fokus mendengarkan kisah horor cowok itu lantas manggut-manggut sambil memakan popcorn, bersama Lena dan Tara yang juga ikut nimbrung.
"Jangan-jangan mbak Kunti masih ada di depan rumah Lo?" timpal Dasha spontan membuat Ayara, Lena, dan Tara tercengang kaget.
"Bisa jadi! Lo 'kan jomblo!" sentak Lena menunjuk Satya.
"Apa hubungannya kalau gue jomblo!?" decak Satya kesal.
"Karena Lo jomblo makanya hantu ngikutin Lo!" kata Ayara mengangguk setuju dengan perkataan Lena.
"Selamat Sat, akhirnya ada yang suka sama Lo." timpal Tara melempar senyumnya.
Satya spontan mendelik, "TOLONG! TOLONG! JANGAN HANTU JUGA KALI!" sahutnya dengan nada meninggi.
Mendengar reaksi panik yang Satya tunjukkan, kompak membuat gelak tawa yang menggelegar. Mendengar tawa para gadis itu, sebagian teman sekelas mereka yang lain nampak kebingungan.
"Gue takut njir, kalau dia nongol lagi gimana?!" sentak Satya, menatap satu persatu gadis dihadapannya.
Dari tatapannya, Satya sedang meminta saran. Lantas membuat Dasha membuka suara.
"Saran gue sih, kalau ketemu hantu jangan lari. Tapi kalau gue sih kabur." mendengar kalimat terakhir dari perkataan Dasha, kompak membuat tawa mereka meledak.
"Sama aja bohong!" sahut Satya mendengus kesal.
"Lo tantang aja hantunya!" ujar Ayara akhirnya membuka suara, Satya langsung diam dan memperhatikan gadis itu dengan seksama.
"Gimana?" tanya Satya.
Ayara lantas berdiri, kemudian mengepalkan kedua tangannya dan mulai memperagakannya.
"MAJU LO SINI HANTU ATAU SIAPAPUN ITU! GUE NGGAK TAKUT, GUE PUNYA BPJS! MAU APA LO HAH!?"
Mendengar teriakan Ayara, tawa mereka kembali meledak. Begitupun dengan Satya, merasa lucu dengan ekspresi Ayara barusan.
Detik selanjutnya Satya berekspresi sedih, bersikap sok dramatis.
"Nggak gitu juga, cantik." kata Satya menatap Ayara gemas.
Mendengar kata itu keluar dari mulut Satya. Dasha, Lena, dan Tara kompak meledek mereka.
"Cieee!!!"
"Cantik? uhuk! cantik!"
"Aduh, cantik, nggak gitu juga!"
Ayara spontan mendelik, "apa sih!" kesalnya dengan ancang-ancang ingin menghajar Satya namun cowok itu malah tertawa.
Sementara itu, beberapa anggota OSIS datang dan memasuki kelas mereka. Spontan membuat semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Salah satu dari mereka lantas memperkenalkan diri. "Sebelumnya perkenalkan nama saya, Reza. Saya wakil ketua OSIS yang baru." cowok bernama Reza itu lantas melemparkan senyumnya, membuat sebagian siswi berdecak kagum dengan pesonanya.
Dasha terperangah, cowok itu yang sempat ia temui di depan ruang OSIS saat menanyakan keberadaan Daren. Tidak Dasha sangka cowok itu yang menggantikan posisi Nasreen sebagai wakil ketua OSIS.
"Ketua OSIS-nya mana?" celutuk salah seorang siswa.
Mendengar pertanyaan salah satu temannya itu, tubuh Dasha spontan mematung. Dasha baru menyadari bahwa di sekolah ini tidak ada yang mengetahui bahwa Daren sedang ada di rumah sakit.
"Oh, Daren. Dia lagi nunggu diluar." jawab Reza tersenyum ramah.
"Hah?" Dasha terperangah, sempat tidak percaya dengan perkataan Reza barusan.
Daren menunggu diluar? itu artinya Daren ada di sekolah ini? ekor mata Dasha spontan melirik ke arah pintu kelas, kedua matanya menatap selidik mencari keberadaan cowok itu.
BRAK!
Seisi kelas kaget saat Dasha tiba-tiba menggebrak meja. Gadis itu lantas bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu kelas dengan terburu-buru. Melihat gelagat Dasha yang aneh, Ayara lantas membuka suara.
"Lo mau kemana, Sha?" tanya Ayara heran.
Sebelum keluar dari kelas, Dasha sempat menoleh sebentar ke arah Ayara. "Ya, gue mau ke toilet dulu." jawabnya kemudian melenggang pergi keluar kelas.
Sepeninggal Dasha. Reza yang sempat kebingungan lantas berdehem dan mulai menyampaikan tujuannya.
"Karena sebentar lagi ada lomba. Maka setiap kelas diwajibkan mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba."
...•••••...
"Daren!"
Sang pemilik nama itu sempat kaget saat Dasha memanggilnya. Gadis itu berhasil menyusulnya, padahal Daren sudah berusaha agar tidak ketahuan oleh Dasha.
Ke-kejutan!"
Kening Dasha mengernyit menatap Daren yang melempar senyum ke arahnya, bahkan menyodorkan sebuket Camelia putih.
Detik selanjutnya Dasha lantas tersenyum sambil menerima bunganya, membuat Daren menghela napasnya lega.
"Sha, aku kangen kamu! ayo peluk aku!" ujar Daren dengan wajah sumringahnya.
"Oh, karena itu kamu kabur dari rumah sakit?"
Deg!
Bagaikan petir disiang bolong, ucapan Dasha barusan membuat Daren sangat panik. Bisa-bisanya gadis itu mengetahuinya, tapi memang benar sih, Daren kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Dirga. Dan mungkin sekarang, seisi rumah sakit sedang ribut mencari keberadaannya.
"Ng-nggak!!!" sentak Daren menatap lekat Dasha.
Dasha mendengus kemudian mengeluarkan handphone-nya, "kalau gitu, aku bilangin ke Dokter Dirga dulu. Mereka pasti lagi kebingungan nyari kamu." kata Dasha berniat ingin menelepon Dirga.
__ADS_1
Namun dengan gesit Daren merampas handphone-nya, dan memohon-mohon pada Dasha dengan ekspresi memelas.
"Jangan Sha! jangan bilang sama Kak Dirga." pinta Daren menatap lekat Dasha, berusaha membuat hati gadis itu luluh.
"Kalau gitu jujur," titah Dasha tegas.
"A-aku nggak kabur dari rumah sakit!"
"Masih bohong, ya?" Dasha mulai melipat kedua tangannya didepan dada, menatap Daren dengan ekspresi datarnya.
Melihat bagaimana Dasha yang terlihat sangat kesal, Daren lantas menghela napasnya sambil menunduk murung.
"Iya aku kabur dari rumah sakit, supaya bisa ketemu kamu. Habisnya akhir-akhir ini kamu nggak datang, aku jadi kangen." lirih Daren akhirnya jujur.
Haaahh, lagi-lagi hati Dasha luluh. Melihat tingkah Daren sekarang yang seperti anak kecil saat mengatakannya, membuat Dasha merasa bersalah. Daren benar, akhir-akhir ini Dasha tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguknya karena banyak tugas sekolah menumpuk yang harus Dasha selesaikan.
Tidak hanya itu, ujian sekolah juga sebentar lagi. Dan mama Sonya selalu mengingatkan Dasha untuk belajar, agar nilainya saat lulus nanti memuaskan.
"Maaf, Daren. Aku nggak sempat hubungin kamu, soalnya ujian sebentar lagi jadi mama Sonya nyuruh aku buat belajar." sahut Dasha, perlahan tangan kanannya meraih tangan Daren.
Daren sempat tertegun sejenak, Daren baru ingat bahwa ada ujian. Namun yang membuat Daren sedih, Daren tidak tahu apakah ia bisa mengikuti ujian itu atau tidak.
Detik selanjutnya Daren balas menggenggam erat tangan Dasha, dan memaksakan senyumnya.
"Nggak papa, karena sekarang aku udah ketemu kamu." kata Daren menatap Dasha lekat.
Mereka saling berpandangan cukup lama, lantas membuat Dasha balas melempar senyumnya pada Daren.
"Sha, kamu ingat 'kan? saat aku bilang bahwa aku ingin main piano buat kamu." Dasha mengangguk setelah mendengar perkataan Daren barusan.
"Apa cuman itu aja yang kamu mau?" tanya Dasha heran.
Daren mengangguk, "untuk saat ini, cuma itu." jawabnya.
"Tapi nanti kalau ada yang kamu mau lagi, bilang aja sama aku, oke?" kata Dasha, Daren kembali mengangguk.
Cowok itu lantas menarik tangannya, membawanya pergi. Karena tidak tahu mau kemana, Dasha lantas bertanya.
"Mau kemana?"
"Main piano buat kamu." jawab Daren.
"Lho, emang ada?"
"Ada, diruang musik."
"Aku baru tahu, tapi emangnya boleh?"
"Boleh, aku udah minta izin sama guru." setelah mendengar jawaban Daren, Dasha lantas mengangguk paham.
Dengan tangan kanannya yang masih Daren genggam, Dasha berjalan mengikuti Daren menuju ruang musik.
Dan saat sampai di ruangan itu, Dasha sempat tertegun melihat sebuah grand piano yang berada di dekat jendela.
"Waktu kecil, aku pernah bilang bahwa aku benci main piano. Aku bilang begitu karena aku ngerasa marah dan benci saat semua orang cuman bisa memperlakukan aku kayak boneka."
Eh? Dasha perlahan mendongak, menatap wajah Daren dari samping.
"Tapi sekarang, aku mulai suka main piano. Karena kamu, Sha." kata Daren menoleh ke arah Dasha, kemudian tersenyum.
Daren semakin berjalan mendahului Dasha, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Dasha. Saat menyadari tangan cowok itu mulai melepaskannya, jantung Dasha berdegup kencang.
Dasha ingin meraih tangan Daren, tidak ingin melepaskannya. Namun karena Daren terus berjalan mendahuluinya, lantas membuat Dasha tidak bisa menggapainya.
Langkah kaki Dasha berhenti, ia tidak berkedip menatap punggung Daren yang berada di depannya.
Dan saat Daren membalikkan badan menghadapnya, cowok itu melemparkan senyum pada Dasha yang entah kenapa malah menciptakan suatu desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Memikirkan jika suatu saat Dasha akan kehilangannya, Dasha tidak akan kuat untuk menerimanya.
"Sini duduk," titah Daren memberi isyarat agar Dasha duduk disampingnya.
Dasha lantas menurut, dan sekarang mereka berdua sedang duduk di depan piano. Rasanya gugup saat melihat jari jemari cowok itu mulai menyentuh tuts piano.
Beberapa saat kemudian, suara dari piano yang Daren mainkan seketika membuat Dasha tertegun. Lantunan musik yang menggema itu terdengar lembut dan juga berperasaan, seketika membuat Dasha ingin menangis saat mendengarnya.
Dasha lantas menoleh, menatap wajah Daren dari samping. Cowok itu terlihat sangat menikmati permainan pianonya.
"Aku juga bisa nyanyi, Sha." celutuk Daren disela permainan pianonya.
"Eh? serius?" tanya Dasha tidak percaya.
Daren perlahan menoleh dan menatap dengan Dasha lekat, kemudian mengangguk dan tersenyum.
Kini musik pianonya berubah, jari jemari Daren dengan lihainya menari di atas tuts piano hingga kini menciptakan musik yang terdengar sedih dan juga lembut.
Dan cowok itu mulai bernyanyi, dengan suara lembutnya.
When you're looking at me, I've never felt so alive and free.
(Saat kau menatapku, aku tidak pernah merasa begitu hidup dan bebas)
When you're looking at me, I've never felt so happy.
(Saat kau menatapku, aku tidak pernah merasa begitu bahagia)
And I've heard of a love that comes once in a lifetime.
(Dan aku pernah mendengar tentang cinta yang datang sekali seumur hidup)
And I'm pretty sure that you are that love of mine.
__ADS_1
(Dan aku cukup yakin bahwa untukku cinta itu adalah kau)
'Cause I'm in a field of Dandelions.
(Karena aku berada di ladang bunga Dandelion)
Wishing on everyone that you'll be mine, mine.
(Berharap pada semuanya bahwa kau akan menjadi milikku, milikku)
And I see forever in your eyes.
(Dan aku melihat selamanya di matamu)
I feel okay when I see you smile, smile.
(Aku merasa baik-baik saja saat aku melihatmu tersenyum, tersenyum)
Dasha tidak berkedip, menatap lekat Daren yang sedang bernyanyi untuknya. Dan saat nyanyian itu selesai, Daren kembali menatapnya dengan senyuman.
"Aku baik-baik aja kalau kamu selalu senyum, Sha." kata Daren dengan nada suara yang lembut.
Saking lembutnya suara itu, sampai-sampai membuat bulir air mata jatuh dan mengalir di pipi Dasha.
Dasha spontan membalikkan badannya membelakangi Daren, ia tidak ingin cowok itu melihatnya menangis.
Namun Daren menyadarinya setelah melihat tubuh gadis itu gemetar, lantas membuat Daren melingkarkan tangannya di leher Dasha.
Daren memeluk gadis itu dari belakang dengan erat, yang semakin membuat Dasha menangis.
"Aku punya permintaan, Sha. Aku mohon saat waktunya tiba, aku mohon tersenyumlah."
...•••••...
"Sha!"
Dasha terperangah saat baru saja memasuki kelasnya, ia malah disambut dengan teriakan teman-temannya yang sangat heboh saat menyambutnya.
"Sha, ada lomba!" kata Lena memberitahu, Tara lantas mengangguk setuju.
Satya yang baru saja nimbrung lantas menyela, "gue mau ikut lomba panjat pinang." katanya yang spontan membuat Lena mendelik kesal.
"Mana ada, kampret!" kesalnya.
"Kalau gitu, lomba karung aja."
"Apalagi itu!" timpal Tara yang ikut gregetan dengan sikap yang Satya yang semakin hari semakin random.
"Terus lombanya ada apa aja?" tanya Satya heran.
Sementara Lena menjelaskan pada Satya. Ayara menyadari satu hal saat melihat gelagat Dasha sekarang. Padahal saat itu Dasha masih tersenyum dan baik-baik saja, tapi sekarang Dasha terlihat pendiam dan juga matanya sedikit sembab seperti habis menangis.
"Lo nggak papa?" tanya Ayara pelan, ia meraih tangan Dasha kemudian memegangnya dengan lembut.
Dasha mendongak menatap Ayara lekat, kemudian melempar senyumnya. Ayara selalu bisa mengetahui suasana hatinya, dan selalu tulus mengkhawatirkannya.
"Nggak papa, kok." bohong kalau Dasha bilang bahwa dia baik-baik saja, karena saat ini Dasha sangat sedih.
Ia terus kepikiran tentang perkataan Daren saat itu. Cowok itu memintanya melakukan hal yang sudah jelas pasti Dasha tidak akan bisa menerimanya.
"HAH!? kelas kita wajib ikut lomba drama!?" teriak Satya yang berhasil mengejutkan seisi kelas.
Lena mengangguk, "santai aja, soalnya gue udah dapat ide buat dramanya."
"Gimana-gimana?" tanya Ayara penasaran.
"Biar gue aja yang nulis naskahnya, ya?" Lena mengajukan dirinya, lagipula untuk urusan seperti ini Lena sangat suka.
"Serah, tapi yang bagus! supaya kelas kita menang." sahut Satya mendengus.
"Oh iya, terus untuk lomba nyanyi. Siapa yang mau mewakilkan?" tanya Tara kompak membuat mereka saling berpandangan.
"Berapa orang?" tanya Ayara.
"Bebas," jawab Lena.
"Gue sih nggak mau, nanti gue demam panggung." celutuk Satya dengan santainya.
Ayara lantas melirik Dasha, raut wajah gadis itu masih murung. Ternyata pemikiran Ayara benar, gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Pasalnya waktu dulu, setiap kali ada lomba menyanyi Dasha selalu paling depan untuk mencalonkan diri.
"Kalau gitu, gue aja." kata Ayara akhirnya mengajukan dirinya.
"Gue juga, gue yang main gitarnya." sela Satya tiba-tiba.
Padahal cowok itu berkata tidak ingin berpartisipasi pada lomba menyanyi, namun pemikirannya malah berubah saat Ayara mengajukan diri.
Benar-benar pendekatan yang sangat kentara agar bisa berada di samping Ayara.
"Oke sip, kalian mau bawain lagu apa?" tanya Lena sambil mengisi formulir yang wakil ketua OSIS berikan.
"Nanti gue pikirin," sahut Ayara.
"Bawain lagu potong bebek angsa aja!" sentak Satya memberi usul.
Ayara spontan mendelik, "ngelawak Lo?!" sambil menarik tangan Dasha dan membawanya untuk duduk.
Sepertinya suasana hati Satya sedang baik, ia lantas berjoget-joget sambil menyanyikan lagu anak-anak itu.
"Potong bebek angsa---"
"Mati nanti angsanya," potong Tara.
__ADS_1
Spontan membuat mereka berdua saling berpandangan, "iya juga ya, kasihan." sahut Satya sedih.
...•••••...