
Hening.
Ada dua hati yang sama-sama masih ada rasa tapi terhalang oleh restu. Ada satu hati yang tidak tahu apa-apa, tapi hanya ingin bebas saja dari perjodohan ini.
"Ada apa ya?" Cassandra memecahkan keheningan dengan menoleh ke arah Mayasa.
Wajah Mayasa menegang. Pras menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Jangan usik anak itu, May. Aku yakin dia juga tidak menginginkan perjodohan ini. Anak itu pasti sudah cukup tertekan mengetahui kondisi kesehatan papanya. Biar dia jadi urusanku. Kita cukup sampai di sini saja ya. Kita nggak usah bertemu atau bicara lagi mulai sekarang, kecuali untuk urusan kantor."
Pras masih ingat betul pertemuan terakhir mereka waktu itu. Tentu dengan diam-diam. Bisa gawat kalau Arik Gudono tahu mereka masih bertemu walau sudah diperingatkan dengan keras.
Waktu itu Mayasa diam saja dan hanya mengangguk. Tapi sekarang kenapa Mayasa sepertinya berusaha mendekati Cassandra? Apa maksudnya?
Pras menatap Mayasa dengan mulut membisu, tapi matanya berbicara seolah ia berkata, "Kamu udah janji, May. Aku bilang jangan usik Cassandra."
Cassandra masih menatap Mayasa dengan tatapan penuh tanya.
Mayasa makin tergagap.
"Ng--nggak, kok. Nggak papa." Mayasa berusaha tersenyum.
"Tadi Bu Mayasa manggil-manggil nama saya. Saya pikir kenapa." Cassandra menyahut lagi dengan polosnya.
Mayasa langsung mematung. Bibirnya yang tadi masih ia usahakan untuk bisa tersenyum lebar perlahan menutup.
Bu...
Bu Mayasa...
Ya, Cassandra menyebutnya dengan panggilan itu. Bu mungkin bisa juga diartikan sebagai panggilan formal, tapi Mayasa yang terlalu sensitif dari awal merasa Cassandra menganggapnya tua.
"Ya, Mayasa. Kamu tua. 37 tahun itu tua. Kamu hampir 40. Anak itu 20 tahun saja belum. Umur kamu hampir dua kali lipat umur Cassandra.
Udahlah, Pras jelas meninggalkan kamu. Dia nggak mau memperjuangkan kamu dan menunggu hati papanya luluh. Pras pria biasa. Ia pasti memilih yang lebih muda dan cantik.
Mayasa, Pras sudah mencampakan kamu. Punya malu lah sedikit. Tahu dirilah sedikit. Lihat tangannya menggandeng tangan gadis itu. Pras bahkan tidak melihat ke arahmu. Pras tidak melirik gaun dan riasan yang kamu siapkan berjam-jam sebelum datang ke sini.
Lihatlah, Mayasa. Buka matamu. Pras menggandeng tangan gadis itu pergi. Dia bahkan tidak menegur atau berpamitan. Kamu sudah dilupakan..."
__ADS_1
Mayasa masih berdiri di depan pintu kamar mandi, dengan monolog jeritan hatinya sendiri memenuhi isi kepalanya.
Ia pandangi punggung pria kesayangan yang pernah ia harapkan dipanggil papa oleh anak-anaknya itu dengan tatapan nestapa.
Punggung kekar dengan pundak nyaman yang dulu menjadi tempatnya bersandar itu kini menempel mesra di pundak gadis cantik nan muda itu.
Mata Mayasa lalu menangkap kesamaan warna dari celana Pras dan tuxedo di pundak Cassandra...
"Oh, Mayasa. Bahkan lihatlah. Pras merelakan atasan tuxedonya untuk dipakai gadis itu. Kamu tidak lihat betapa terbukanya bagian atas gaun Cassandra? Pasti Pras yang berinisiatif memberikan tuxedo-nya untuk Cassandra. Ya, pasti. Mayasa, Pras bukan milikmu lagi. Pras milik gadis itu..."
Dan Mayasa tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia masuk lagi ke toilet dan berdiri termenung di depan cermin lebar itu.
Untung ia hanya sendirian di sana.
Mayasa menangis tanpa suara.
"Mas Rendi, aku menemukan pria baik sepertimu yang sayang padaku dan anak-anak. Kupikir dulu begitu. Tapi kurasa, dia memang baik pada semua orang. Dan kemarin itu mungkin dia tidak jatuh cinta. Tapi dia hanya kasihan karena aku janda dengan tiga anak. Dia hanya terlalu baik. Aku menyalah artikan semua kebaikannya itu..."
Dan riasan wajah Mayasa jangan ditanya lagi bagaimana kondisinya sekarang. Hancur berantakan, seperti kondisi hatinya juga...
Samar-samar suara gegap gempita dan riuh itu terdengar ketika Mayasa keluar dari pintu toilet.
Mayasa menyelinap keluar dari toilet ke arah jalan lain yang lebih memutar. Ia tak sanggup mendengar, apalagi menyaksikan sendiri.
Mayasa tahu kemana ia harus menuju. Ya, ke tempat parkir mobilnya. Ia tahu ia akan menangis sepanjang perjalanan pulang.
***
Cassandra melepas tuxedo Pras dan melipatnya, lalu menaruhnya di kursi belakang mobil Pras.
"Kenapa dilepas?" Pras bertanya sambil menyalakan mesin mobilnya.
Ya, mereka memutuskan pulang duluan sebelum acara selesai. Yang penting acara pengumuman pertunangan mereka sudah beres. Pras tahu Cassandra tidak betah berlama-lama di tempat itu, maka ia minta izin papanya dan papa Cassandra untuk pulang duluan.
"Gerah. Ayo, antar aku pulang." Cassandra memakai sabuk pengamannya.
Pras tertawa kecil. Ia melirik pundak Cassandra yang mulus serta rambutnya yang jatuh sempurna di punggung gaun terbukanya itu.
Sungguh, Pras berharap Cassandra tidak akan pernah berpenampilan begini di depan orang lain, apalagi di depan Hugo.
__ADS_1
"Cassandra, kamu wanita berharga. Tapi para lelaki gila di luar sana akan menganggap kamu murahan kalau penampilan kamu begini. Please jangan lagi berpakaian seperti ini." Rasanya ingin sekali Pras berkata seperti itu di depan Cassandra.
Cassandra melirik Pras dengan tatapan mata yang lebih ramah dibandingkan kemarin-kemarin. Mungkin ia sedikit tahu diri juga karena Pras habis membantunya merasa nyaman di sepanjang pesta ini.
"Aku pikir mumpung cuma ada kita berdua, kamu mau godain aku." Pras mulai memundurkan mobilnya keluar dari area parkir. Entah kenapa ia bilang begitu.
Cassandra menoleh ke arah Pras lalu melotot. Secepat kilat ia mengambil lagi tuxedo Pras dan menyelimutkannya seadanya menutupi bagian atas gaunnya.
"Jangan kurang ajar, ya!" Cassandra yang tadinya jinak sepanjang pesta berubah menjadi galak lagi.
Pras langsung nyengir.
"Sorry, cuma bercanda. Kamu berubah lagi jadi galak." Pras berkomentar.
Cassandra diam saja. Ya, ia tadi bak merpati yang jinak alias penurut. Di sepanjang pesta, Pras menggandengnya seolah mereka pasangan sungguhan. Sewaktu pertunangan diumumkan, Cassandra juga nurut saja sewaktu Pras memintanya tersenyum pada semua orang.
Mana ada wajah galak seperti yang ia tunjukkan sekarang.
"Tadi kan cuma akting." Cassandra menyahut setelah beberapa detik terdiam.
Pras tertawa sambil membawa mobilnya keluar dari area hotel menuju jalan raya.
"Iya iya. Akting kamu bagus." Pras menyahut pelan sambil tersenyum.
Hening.
Tidak ada musik menyala. Jalanan yang biasanya ramai kini juga lancar. Dua sosok di mobil itu larut dengan pikirannya masing-masing.
Cassandra mengingat bagaimana bahagianya wajah papanya tadi sewaktu mengumumkan pertunangannya. Seolah ada kelegaan tersendiri dari beban yang selama ini mengganjal.
Cassandra melihat sendiri bagaimana papanya menepuk pundak Pras dengan lega sambil bilang, "Jagain Cassandra, ya." Seolah ia hendak pergi ke tempat yang jauh.
Sedangkan yang ada di pikiran Pras justru Mayasa. Setelah bertemu di toilet, Pras tidak melihat lagi sosok itu di tengah hingar-bingar ballroom. Mayasa menghilang.
Pras ingat betul tatapan mata Mayasa tadi. Entah apa artinya. Cemburukah ia? Sedihkah ia? Kecewakah ia? Marahkah ia?
Bukankah mereka sepakat soal berakhirnya hubungan terlarang itu?
"Mmm, Cassandra. Tadi waktu di toilet, Mayasa bilang apa ke kamu?" Pras memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...