
Bukan hanya Mayasa yang terkejut melihat Pras, tapi Pras pun sama. Ia tak menyangka mantan pacar yang ia cemaskan seharian kemarin itu datang ke rumah duka.
Diam-diam Pras bertanya pada staff Mayasa di kantor dan menanyakan kondisinya. Sejauh yang Pras tahu, Mayasa seharusnya masih dirawat di rumah sakit karena luka ringan dan juga pemulihan traumanya. Kok bisa-bisanya sekarang Mayasa di sini?
Arik Gudono menatap Pras dengan tatapan sedikit tidak nyaman. Pria itu seolah tak rela putranya kini berjalan mendekati Mayasa. Padahal Pras kan menuju ke arahnya. Namanya saja juga sudah antipati, jadi Arik selalu kesal jika melihat Pras dan Mayasa berdekatan, walau itu bersimpangan jalan saja.
"Pa, aku pulang duluan ya. Cassandra merasa nggak kuat datang ke pemakaman dan ikut prosesi. Jadi aku akan antar dia pulang dan temani dia," ucap Pras begitu jaraknya sudah dekat dengan tempat papanya dan juga Mayasa berdiri.
Arik Gudono mengangguk-angguk. "Oh, oke. Jagain dia, ya. Pastikan Cassandra tidak sendirian. Dia butuh kamu di sampingnya."
Dan Pras hanya mengangguk lagi sambil mencoba menguatkan pertahanannya agar tidak menatap Mayasa. Pokoknya ia bertekad akan menganggap Mayasa tak ada. Ia tak mau goyah lagi. Ia sudah bertekad penuh ingin membuang masa lalunya itu jauh-jauh.
"Aku pergi dulu, Pa." Dan Pras berlalu pergi tanpa menoleh satu detik pun ke arah Mayasa.
Terlukakah hati Mayasa karena diperlakukan seperti itu oleh Pras? Jelas iya.
Mayasa tertunduk dan mecoba untuk tidak menangis. Oh, kemana Pras yang dulu perhatian padanya padahal ia hanya bersin-bersin karena flu? Kemana sosok itu pergi?
__ADS_1
"Apa dia tidak melihat bekas luka di pipiku? Di tanganku? Di lenganku? Aku tidak berharap banyak. Aku cukup tahu diri. Tapi setidaknya tidak adakah sapaan basa-basi darinya untuk menanyakan keadaanku? Apa aku baik-baik saja? Apa lukaku parah?" Hati Mayasa menjerit sedih.
Keadaan ini jelas sangat kontras dengan suasana hati Arik Gudono. Tatapan sinisnya tadi berubah menjadi senyum tipis disertai kata-kata singkat yang menyayat hati.
"Kamu lihat sendiri, Mayasa. Pras sudah tidak peduli denganmu. Jadi jangan coba mengusiknya atau mengusik Cassandra. Persetan aku sama pengakuan palsumu itu soal pesan terakhir Prambodo. Cassandra tidak butuh kamu. Dia punya Pras. Dia punya saya!" Lalu Arik Gudono berlalu pergi, memanggil petugas rumah duka untuk mengurus pemakaman.
Sementara Arik sibuk memberi instruksi panjang lebar, Mayasa hanya bisa menatap peti Prambodo ditutup lalu ia menyingkir ke pinggir.
Mayasa hanya asal menyingkir saja. Ia berdiri di sudut berjendela kaca lebar di dekat tempat para keluarga korban yang lain berdiri sambil menangis menyaksikan anggota keluarganya yang terbujur kaku kini petinya ditutup dan siap dibawa pergi.
Mayasa menatap ke arah lain dan matanya tak sengaja menangkap sosok dari balik jendela kaca itu. Dari kejauhan tampak Pras sedang membukakan pintu mobil untuk Cassandra.
Oh, betapa dari gerak-geriknya Pras sangat menjaga Cassandra. Ia memperlakukan gadis cantik itu penuh kehati-hatian. Ia bahkan menutupkan pintu setelah menunggu gadis itu nyaman duduknya. Sempat-sempatnya juga ia mengusapkan air matanya dulu.
Mayasa tak tahan. Ia langsung membuang muka. Ia menatap lagi peti jenazah Prambodo yang kini diangkut menuju mobil khusus menuju pemakaman.
"Pak, saya tak peduli Pak Arik menghalangi. Janji tetap janji. Enam digit tanggal lahir Cassandra dieja terbalik, itu kode kunci brankas-nya. Saya ingat dan saya janji akan pegang rahasia. Brankas itu hanya saya dan Cassandra yang boleh tahu isinya. Saya akan jaga untuk Cassandra.
__ADS_1
Saya tahu walau bersahabat lama, tapi Pak Arik tetap tidak bisa Anda percaya 100%. Anda tetap takut kan kalau Cassandra dibuang, dibelakang, dan harta warisannya direbut? Tidak akan saya biarkan." Mayasa berbisik dalam hati.
Dilihatnya dari seberang sana Arik Gudono masih mengawasinya sesekali. Ia tampak peduli. Mayasa memutuskan untuk menyelinap pergi.
Bukankah ini waktu yang tepat untuk mengamankan semuanya? Kotak brankas itu ada di ruangan pribadi Arik di kantor. Sedangkan sekarang kantor tutup. Semua karyawan diliburkan. Paling hanya ada beberapa security saja.
"Oke, ini waktunya," bisik Mayasa yang tak menghiraukan lagi lukanya yang masih terasa perih.
Dari halaman rumah duka, Mayasa meyeberang jalan menyetop taksi.
"Pak, gedung pusat Pragu ya. Nanti bisa saya sewa? Saya ingin Bapak nungguin saya dan parkir di dekat lobby. Nanti saya bilang security. Saya harus mengambil beberapa dokumen di kantor," ucap Mayasa setelah duduk.
"Bisa, Bu." Sopir taksi menyahut.
Mayasa benar-benar tak mau larut lagi dalam perasaannya mencemburui Pras. Ia ingin fokus dulu pada pesan rahasia Prambodo untuknya.
Kata-kata pria tua itu di antara reruntuhan bangunan terngiang-ngiag lagi di telinganya.
__ADS_1
"Mayasa, saya percaya sama kamu. Pastikan hanya kamu yang tahu. Kamu bisa mematikan CCTV saat mengambil brankas itu agar Arik tidak curiga. Ingat, ya. Caranya..."
BERSAMBUNG ...