
Mobil berbelok menuju lokasi proyek yang dituju. Tampak alat-alat berat dimana-mana.
Jalanan yang tak halus lagi membuat mobil bergerak agak melonjak-lonjak. Medan menuju tempat ini memang masih kasar. Dan mobil hanya bisa sampai ujung jalan. Mereka harus berjalan kaki untuk mengecek langsung nantinya.
Prambodo tampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang yang nyaman itu sambil menggeleng pelan, mencoba menikmati perjalanan yang nggak ada nikmat-nikmatnya.
Ya, percakapannya dengan Mayasa tadi kan memang belum selesai. Prambodo memberi jeda beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Mayasa karena tiba-tiba kepalanya merasa pusing.
Akhir-akhir ini serangan pusing di kepala Prambodo memang muncul lebih sering daripada biasanya. Dan kondisi itu membuat dokter cemas, tapi herannya Prambodo merasa santai saja.
Percakapan pun berlanjut.
"Aku ingin mereka tinggal berdua, May. Toh Pras sudah cukup matang untuk berumah tangga. Dia sudah 27 tahun, kan? Saya dulu bahkan menikah ketika umur 25. Menurut kamu apa keputusan saya tepat soal ini?" Prambodo yang terbiasa membagi pikiran alias berdiskusi dengan Mayasa bertanya.
Mayasa lagi-lagi harus menahan diri, walau isi kepalanya sudah memberontak ingin mengamuk-amuk.
"Ya ampun mereka akan tinggal serumah! Satu atap! Dan berdua saja? Apa? Buang pikiranmu itu Mayasa! Pras pasti belum bisa melupakan kamu dan tidak akan menyentuh Cassandra. Iya, kan? Pras mencintaimu dulu. Dulu...
Arghhh! Apa bisa? Pras laki-laki biasa! Dan Cassandra cantik juga sempurna bagaikan vinalis Miss Universe. Kamu nggak ingat waktu dia lepas tuxedo-nya di toilet saat pesta? Kamu nggak lihat bagaimana sempurna dam mulusnya leher, pundak, lengan, dan setiap inci tubuhnya?
Bukalah matamu, Mayasa! Ingat drama Korea romantis yang sering kamu tonton waktu kamu kesepian itu. Ingat bagaimana romantisnya jalan cerita tokoh utama pria dan wanita yang dijodohkan tinggal dalam satu rumah?
Oh! Sangat romantis lalu akan berakhir dengan happy ending karena mereka akan jatuh cinta sungguhan pada akhirnya. Pras dan Cassandra juga akan begitu. Mereka akan punya anak-anak yang lucu dan hidup bahagia selamanya.
Lalu kamu apa? Kamu akan menjadi makin tua. Kamu akan makin keriput dan jadi nenek-nenek. Kamu cuma akan jadi Bu Mayasa- karyawan senior di kantor yang posisinya masih dipertahankan karena belas kasihan Pak Prambodo."
Mayasa merasa matanya makin berkaca-kaca ketika teriakan suara hatinya itu memenuhi rongga dadanya.
"May? Gimana menurut kamu?" Prambodo akhirnya bertanya lagi ketika Mayasa tak kunjung merespon pertanyaannya.
__ADS_1
"Mmm, m--maaf, Pak. Saya bingung. Tapi yang saya tahu Bapak adalah seorang ayah yang baik. Apapun keputusan Pak Pram, saya yakin Bapak sudah memikirkannya matang-matang lalu memilih opsi itu karena itulah keputusan itu yang paling baik dari yang terbaik." Mayasa menyahut cepat.
Mobil berhenti. Mereka telah sampai. Prambodo tak kunjung turun tapi ia mengangguk-angguk senang karena ucapan Mayasa membuatnya semakin yakin atas keputusannya.
Mayasa membalas dengan ikut tersenyum. Ia bukannya menjilat, tapi barusan ia sungguhan mengatakannya dengan tulus.
Sungguh, Mayasa berharap ketiga anaknya yang kehilangan kasih sayang seorang ayah itu bisa merasa dicintai sedemikian besar olehnya seperti Prambodo yang begitu mencintai Cassandra.
"Pras akan jadi guru musik di sekolah Cassandra sampai anak itu lulus, May. Pras sudah berjanji sama saya akan mengawal Cassandra sampai lulus. Walau setelanya nanti dia menolak melanjutkan kuliah, tak apalah. Setidaknya dia lulus SMA dengan normal.
Ketika saya sudah nggak ada nanti, dia pasti akan mengurus Cassandra. Kalau saya mengharapkan Arik sebagai sahabat untuk mendampingi Cassandra dan menjadi ayah pengganti, saya yakin saya bisa bangkit lagi dari kubur karena tidak tenang.
Membiarkan Cassandra diurus Arik membuat bulu kuduk saya merinding. Terbayang Arik akan mendukung mimpi konyol Cassandra untuk jadi rockstar. Oh, kadang aku merasa Pras lebih cocok jadi anakku dan Cassandra lebih cocok jadi anaknya Arik. Oh, itu mengerikan. Haha."
Akhirnya tawa itu keluar dari bibir pucat Prambodo yang tampak kelelahan. Mayasa pura-pura ikut tertawa lalu keluar dari mobil.
Sepanjang langkah menuju lokasi tujuan, Mayasa terus bertanya apa boss-nya itu baik-baik saja karena wajah Prambodo agak kepayahan. Tapi Prambodo menjawab ia tak apa.
Dokter menjadwalkan aku untuk sesi terapi tambahan mulai pekan depan. Cassandra nggak tahu soal ini. Aku akan pura-pura ngantor padahal nanti ke dokter. Toh gampang lah. Cassandra kan sudah kuusir halus agar tinggal terpisah diriku. Akan kupastikan Pras untuk mengalihkan perhatiannya biar dia nggak curiga."
Di balik ngos-ngosan suara napasnya, Prambodo sempat-sempatnya tertawa.
Mayasa mengangguk dan tersenyum tipis saja. Ia menjaga langkahnya agar satu langkah di belakang boss-nya itu.
Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan kepala proyek dan Prambodo langsung duduk di sofa dengan badan lemas.
Oh, bagi orang sakit, jalan beberapa meter saja bisa terasa semelelahkan ini.
Mayasa langsung tanggap. Ia mengambilkan minum Prambodo lalu duduk di sampingnya dengan tatapan cemas. Mayasa bahkan menawarkan untuk menelponkan dokter.
__ADS_1
"Saya nggak papa, May. Saya belum mau meninggal, kok. Memang begini kalau saya kelelahan." Prambodo berkelakar setelah meneguk air minum.
Mayasa yang sejujurnya tadi sempat panik melihat bibir pucat boss-nya itu hanya bisa pura-pura menggerutu.
"Pak! Saya panik beneran, loh." Mayasa menyahut sambil menatap sang kepala proyek yang berdiri di depannya dengan canggung.
Ya, tadi mereka langsung masuk ruangan ini saja karena mengira pria itu sedang mengawasi anak buahnya di atas. Eh, tak tahunya ia malah enak-enakan tidur di kursi kerjanya.
"May, serius. Saya nggak papa, loh. Ayo naik ke atas. Saya mau lihat perkembangan project yang kita meeting-in kemarin. Ayo, Gun? Beres, kan? Kamu sakit ya? Tadi kok bisa ketiduran? Periksalah atau minum obat, Gun." Prambodo sudah bangkit dari duduk dan membuat Gunadi sang kepala proyek gelagapan.
Mayasa ikut berdiri. Ia melihat dengan tatapan curiga ke arah pria itu. Sebenarnya sudah sejak awal penunjukan Gunadi sebagai penanggung jawab lapangan ditentang Mayasa. Tapi Arik lah yang menunjuknya. Mayasa bisa apa?
Posisi Arik Gudono di perusahaan memang sama besarnya seperti posisi Prambodo. Porsinya dalam mengambil keputusan adalah 11-12. Sedangkan Mayasa tak berani mendebat Arik lagi setelah pria tua itu sempat mengajaknya bicara 4 mata dan menyuruhnya menjauhi putranya.
Gunadi sempat-sempatnya mencuri pandang ke arah Mayasa lalu mengedipkan sebelah mata.
Mayasa merasa mual. Ia benci pria genit bermulut kotor dan bau alkohol itu. Tapi demi profesionalitasnya, ia mencoba tahan dan mengabaikan.
Bisa-bisanya ketika Prambodo sedang bicara dan memandangi maket, Gunadi berdiri merapat ke dekat Mayasa dan menyentuh lengannya.
Oh! Betapa kurang ajar!
"Tolong aku, Pras. Lelaki di luar sana begitu merendahkan aku. Cuma kamu yang tidak! Beri tahu mereka bahwa walau aku janda tapi aku bukan perempuan murahan..."
"Pras tolong..." Mayasa tak sadar kalau gumaman terakhirnya bukan dalam hati, tapi lewat mulutnya.
Gunadi dam Prambodo langsung menoleh padanya dengan terkejut...
Mayasa pucat seketika.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...