Loving Cassandra

Loving Cassandra
Interogasi Calon Menantu


__ADS_3

Prambodo bukan sosok pria berwajah menyeramkan seperti Arik Gudono yang berwajah garang. Ia tampak kebapakan dan bersahaja. Ya seperti tipe-tipe bapak baik hati di peran protagonis sinetron yang wajahnya ramah, murah senyum, dan bersahabat.


Tapi malam ini, wajah bersahaja itu berubah menjadi wajah menyeramkan. Ya setidaknya bagi Pras yang sudah panas dingin.


"Nyalain mobil kamu, Pras. Om pengin lihat." Prambodo berkata sekali lagi dengan nada yang lebih dingin.


Pras melirik ke arah Cassandra yang menunduk tanpa bisa membelanya lalu mengangguk.


Prambodo berdiri di sisi pintu yang terbuka itu sementara Pras duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobil.


Mata Prambodo melotot dan rahangnya mendadak mengeras. Diamatinya indikator bahan bakar yang bergaris dua alias menunjukkan kalau bahan bakar mobil itu tinggal sedikit. Prambodo membongkar kebohongan pertama.


"Kamu ngapain antri beli bensin lama-lama kalau bensin kamu aja tinggal segitu. Kamu bohong, kan? Setidaknya yang rapi kalau bohong. Om juga nggak bodoh-bodoh amat soal mobil." Prambodo makin terdengar menyeramkan.


Memergoki calon menantu berbohong dan kebohongannya didukung anak sendiri adalah hal menyeramkan bagi seorang bapak.


Cassandra mulai mengangkat wajahanya yang dari tadi menuduk untuk menatap Pras yang sudah pucat macam mayat. Tapi ketika melihat ke depan, mata Cassandra malah bertemu dengan mata papanya yang menatapnya dengan tajam.


"AC mobil juga dingin-dingin aja. Nggak rusak tuh. Ngapain kamu lepas baju kamu tadi. Kalian bohong lagi? Saya benar-benar nggak ngerti.


Dan kamu Cassandra, Papa emang kurang dekat dengan kamu dan menemani masa puber kamu karena sibuk kerja. Tapi Papa percaya kalau mama kamu pasti mengingatkan kamu bagaimana cara menjaga diri di depan seorang laki-laki.


Lalu untuk, Pras. Kita harus ngomong serius. Tapi berdua aja. Kamu masuk aja Cassandra. Papa cuma mau ngomong sama Pras." Prambodo berkata dengan tegas.


Cassandra terlihat hendak protes. Mana ia menyangka kalau sikap konyolnya untuk mengerjai Pras akan berujung pada kesalahpahaman yang panjang macam ini.


Oh, terlebih yang menjadi korban paling parah dalam situasi ini adalah Pras.


Cassandra tiba-tiba merasa kasihan pada calon suaminya itu. Calon suami hasil perjodohan yang sebelumnya ia benci.


Pras menunduk dengan wajah makin pasrah seperti maling yang baru tertangkap basah. Ia pun mematikan mesin mobil.


"Tapi, Pa. Cassandra mau ikut ngomong. Sandra mau jelasin semua kesalahpahaman ini. Pras nggak salah. Pras nggak..."


"Nggak apa? Papa bingung loh kemarin kamu menolak mentah-mentah ketemu sama Pras sampai kita akal-akalan nyuruh Pras nyamar jadi guru musik di sekolah kamu. Eh, sekarang kamu belain dia terus dari tadi.

__ADS_1


Ya Papa senang sih kalian dekat betulan dan dengan cepat bisa seakrab ini. Tapi Papa jadi cemas. Kayaknya pernikahan kalian harus... Mmm, kamu masuk rumah sana. Papa mau bicara sama Pras aja." Prambodo sekali lagi menyuruh Cassandra masuk rumah.


Tadinya Prambodo ingin menyebut soal mempercepat hari pernikahan tapi ia mengurungkan niatnya. Bagaimana pun terlalu cepat juga tak baik. Apalagi Cassandra masih sekolah. Tapi mau bagaimana, kesalahpahaman ini membuat Prambodo cemas.


"Pa, please. Papa cuma salah paham..."


"Cassandra, masuk!"


Dan kata-kata itu tak bisa dibantah. Cassandra menatap Pras sekilas. Pras tampak mengangguk, entah apa artinya.


Ya setidaknya soal bemper mobil yang penyok alias bobrok itu tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, matilah mereka. Soal kesalah pahaman ini saja masih belum bisa mereka luruskan.


"Pa..."


"Sandra..."


Pasangan ayah dan anak itu saling tatap. Lalu akhirnya Cassandra mengalah karena tahu tak ada gunanya mendebat papanya. Menang argumen melawan orang tua itu bukan sebuah kemenangan yang ia inginkan. Ia hanya ingin membuat papanya paham tapi ternyata cukup sulit dilakukan.


"Oke..."


"Kita perlu ngomong, Pras." Prambodo berkata dengan suara berat.


Pras mengangguk.


"Duduk di sana." Prambodo lalu menunjuk ke arah taman dengan air mancur indah dan kursi santai di dekat rumpun mawar.


Pras mengangguk lalu mengikuti langkah calon ayah mertuanya itu.


***


Cassandra buru-buru naik tangga menuju kamarnya lalu menyalakan lampu.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mengintip dari jendela kamarnya ke lantai halaman bawah. Ia penasaran sekaligus mencemaskan Pras yang akan diinterogasi papanya.


"Ya ampun bodohnya! Papa pasti nyangka aku sama Pras yang nggak-nggak! Bisa-bisanya sih Papa kepikiran ke arah sana. Pras juga pasrah aja nggak ngebantah. Tapi memang papanya yang nggak kamu dengar penjelasan kita, sih." Cassandra mengintip tapi hanya kelihatan sedikit dan itu membuatnya kesal.

__ADS_1


***


"Pras, saya tahu papa kamu orangnya nggak sekolot dan sekuno saya dalam membesarkan anak. Kamu juga sempat beberapa tahun kuliah di luar negeri, kan? Om tahu betapa bebasnya pergaulan di luar sana.


Cassandra juga sudah bukan anak kecil lagi. Sebentar lagi dia 20. Dia lebih dekat dengan mendiang mamanya, dan ini yang saya sesalkan. Seharusnya saya dekat juga sama dia. Tapi saya mikirin kerja, kerja, kerja terus.


Saya nggak tahu dia pernah dekat dengan lelaki mana saja. Saya nggak tahu apa dia pernah punya pacar. Saya nggak tahu apa-apa dan menjadi canggung saat membahasnya. Mamanya yang mengenal dia luar dalam. Tapi sayang dia sudah nggak ada.


Saya bingung Pras. Saya dan kamu beda jauh dari segi umur dan pandangan hidup. Kita besar di era dan budaya yang berbeda. Saya nggak tahu gimana pergaulan anak sekarang.


Tapi yang jelas sebagai seorang ayah dari seorang gadis, saya cemas sama kedekatan kalian. Jadi karena sepertinya kalian akrab dengan cepat dan cocok, maka kita percepat saja ya tanggal pernikahan kalian."


Pras hanya bisa melongo.


Oh, lebih baik ia dimaki atau diomeli. Daripada dinasehati baik-baik begini tapi ujungnya : tanggal nikah dipercepat.


"T--tapi, Om. Bu--bukannya lebih baik nunggu Cassandra lulus SMA dulu, ya?" Pras tiba-tiba tergagap.


Prambodo menggeleng.


"Cassandra sudah cukup umur dan legal untuk menikah. Kalian menikah diam-diam saja. Yang penting perjanjian antara saya sama papamu sudah clear soal hak waris. Nanti kalau Cassandra sudah lulus sekolah, baru dokumen pernikahan resmi, perubahan status dan yang lain diurus oleh pengacara. Yang penting sekarang kalian sah menikah saja dulu sebagai suami istri."


Deg!


"T--tapi, Om. Cassandra pasti akan..."


"Sudah! Sudah! Kamu nurut aja sama Om. Tolong, Pras. Jangan bikin saya cemas. Lagian lebih cepat lebih baik, kan. Saya takut umur saya nggak akan sampai. Saya takut..."


Hening.


Pras menunduk. Jangan bicara soal umur. Ia paling lemah untuk membantah.


"Kemarin waktu saya nelpon Cassandra dan minta kamu antar dia ke rumah sakit, sebenarnya saya bohong. Dokternya nggak sibuk jadi Cassandra gagal ketemu. Saya nggak mau dokter berkata terlalu jujur soal kondisi saya, makannya saya buat skenario dadakan dengan berbohong.


Jujur aja Pras, sakit saya ternyata makin parah. Jadi tolong..."

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2