
Prambodo menjatuhkan topinya karena sibuk berpegangan pada sebuah tiang. Sekarang kepala polosnya yang botak itu terlihat berkeringat.
Mayasa menatap boss yang amat ia hormati itu dengan tatapan cemas.
"I'm okay, May. Untungnya meleset tadi. Kita harus segera pergi dan turun. Kita ada di lantai 3. Sepertinya bangunan ini tidak safety," ucap Prambodo sambil menatap ke arah Gunadi yang pucat.
Gunadi tahu ini akhir dari karirnya. Mayasa menatapnya dengan tajam dan penuh amarah.
Para pekerja proyek yang tadi sibuk bermalas-malasan tampak lari turun ke bawah dari sisi tangga yang lain. Mayasa makin geram.
"Habislah mereka semua terutama Gunadi kalau sudah kuminta pihak kantor untuk audit!" Mayasa membatin dengan geram.
Gunadi menunduk lalu dengan secepat kilat ia kabur lewat tangga setengah jadi yang tadi mereka pakai untuk naik.
Brug! Brug! Brug!
Suara hentakan safety shoes Gunadi membuat tangga bergetar dan brughhhh...
Tangga itu runtuh beserta Gunadi yang tersungkur. Sebelah kakinya terkena runtuhan.
Mayasa menjerit. Prambodo sudah memerah mukanya. Ia antara terkejut, marah karena merasa ditipu, sekaligus di sisi lain ingin tetap kelihatan tenang untuk membuatĀ Mayasa tidak panik.
"Tenang May! Kita bisa turun dari anak tangga sebelah sana, tempat para tukang tadi turun dan..."
BRUG!
Lantai berguncang dan Mayasa kembali menjerit. Bangunan ini tiba-tiba berguncang.
Mayasa melirik ke bawah dan melihat para pekerja lain yang hendak menolong Gunadi dari reruntuhan menyingkir karena takut terkena robohan.
"Minta bantuan. Telepon kontak darurat. Kita terjebak di sini dengan satu lantai di atas yang mengkhawatirkan kondisinya. Akses turun juga tidak ada. Cepat!" Prambodo memerintahkan seorang pegawai yang kembali hendak mengurus Gunadi.
__ADS_1
Pegawai itu mengangguk dan segera mengambil handphone-nya.
"Nanti saja telponnya! Tolong saya dulu! Kaki saya terkena reruntuhan!" Gunadi berteriak menahan kesakitan.
"Gila kamu ya, Gun! Kita juga butuh bantuan!" Mayasa berteriak kesal lalu tiba-tiba suara gemuruh membuat sebuah serpihan atap menimpa tempat Prambodo berpijak.
Mayasa segera menarik boss-nya itu dengan cepat tapi sayang sedikit terlambat.
Mayasa menangis dengan lantai retak yang ia pijak membuatnya ketakutan. Debu dimana-mana. Dadanya sesak.
"Pak, pegang tangan saya! Cari pijakan reruntuhan yang lain di bawah kaki Bapak!" Mayasa menangis. Rambutnya penuh debu dan tangannya mulai gemetar. Satu nyawa juga nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan.
Mayasa makin menangis karena panik. Ia takut mati. Terbayang tiga wajah anaknya dan ibu mertuanya yang sudah tua. Ia berjongkok untuk menahan tangan Prambodo yang bergantung padanya. Matanya sudah basah dan kelilipan tapi ia masih berusaha melihat sekeliling untuk mencari bantuan.
"Jangan nangis, May! Kita akan selamat. Ya, saya akan pegang tangan kamu. Ketemu! Agak lepasakan tangan saya nggak papa! Saya ngga akan jatuh. Saya menemukan pijakan!" Prambodo berseru. Keadaannya tak kalah kacau juga. Debu menempel di kulit kepalanya yang robek dan berdarah.
"Nggak, Pak! Nggak akan saya lepaskan. Di bawah masih ada dua lantai lagi dan saya bisa melihat sangat curam dari sini. Kalau pijakan Bapak runtuh, Bapak akan jatuh!" Mayasa masih menangis.
"Halo? Halo?" Sebuah suara dari telepon terdengar.
Mayasa langsung menghentikan tangisnya dan melihat ke arah bawah. Dilihatnya handphone pegawai tadi tersambung ke nomor darurat. Sayangnya pria itu terkapar berdarah karena runtuhan tadi.
"Halo? Gun! Gunadi? Kamu bisa ambil handphone-nya? GUN!" Mayasa berteriak.
Gunadi batuk-batuk. Saat debu reruntuhan perlahan menyingkir, Prambodo dan Mayasa bisa melihat Gunadi terluka di bagian perut dan kepala sementara sebelah kakinya masih terjebak reruntuhan tangga.
"Bisa! Halo? Kami butuh bantuan. Lokasi konstruksi di Jalan Banda runtuh. Gedung B! Ya, saya nggak tahu ada berapa pegawai yang terluka. Apa pegawai kami yang selamat belum ada yang melapor? Kamu butuh bantuan secepatnya! Uhuk uhuk!"
Mayasa berusaha mengintip ke bawah dan melihat Gunadi terbaring tak berdaya. Ia diam saja tak menjawab lagi. Handphone itu menyala dengan tak berguna di tangannya yang terluka.
"GUN! GUNADI!" Mayasa berteriak histeris.
__ADS_1
"Masih nafas, May. Dia mungkin hanya pingsan." Prambodo menenangkan.
Mayasa menangis lagi. "Ya! Gunadi harus hidup untuk mempertanggungjawabkan ini semua. Kita seharusnya nggak ke sini, Pak. Kita seharusnya nggak usah datang ke sini!" Mayasa makin menangis.
Gunadi diam saja. Tangannya masih mengenggam tangan Mayasa. Ia rasakan pijakan di kakinya perlahan bergeser, tapi ia tak mau bilang karena takut Mayasa makin panik.
"Jangan nangis, May. Kita akan selamat. Pegawai di bawah pasti melihat kecelakaan ini dan menelpon Arik. Dia akan kirim bantuan. Kontak darurat juga sudah merespon, kan? Jangan nangis." Prambodo berusaha menenangkan padahal ia sendiri saja sebenarnya tidak tenang.
"Saya takut mati, Pak! Anak-anak saya bagaimana?" Mayasa terisak makin dramatis.
Prambodo diam saja tapi isi kepalanya langsung berkelana. Ya, ia jelas teringat Cassandra.
"Cassandra sedang bersama Pras. Saya bisa mengambil handphone saya dengan sebelah tangan dan menelponnya tapi saya takut dia panik. Saya nggak mau bikin dia khawatir..." Prambodo berkata lirih.
Mayasa langsung diam. Tangisnya berubah menjadi keheningan.
"Saya juga nggak mau nelpon anak-anak. Mereka pasti lagi sama mamanya Mas Rendi. Saya takut mereka khawatir juga. Kita nggak tahu kan Pak kita akan selamat atau tidak? Kalau ada goncangan susulan dan gedung ini runtuh seutuhnya, kita akan mati tertimbun di sini." Mayasa kembali menangis.
Prambodo diam lagi. Ia tak mau menenangkan Mayasa dengan harapan-harapan palsu untuk selamat. Terlalu omong kosong mengatakan hal itu di situasi segenting ini.
Prambodo memang sudah siap mati karena kanker stadium akhirnya. Tapi ketika kematian di ujung tanduk begini, rasanya tetap mengerikan baginya.
"Leo, Lena, Luna... Mama takut nggak akan bisa ketemu kalian lagi setelah ini..."
Prambodo menahan tangisnya mendengar lolongan putus asa Mayasa. Ia pun sebenarnya ingin menerikakan nama Cassandra juga. Ia takut juga tak akan lagi bertemu putri tercintanya lagi itu...
"Cassandra, kamu sedang apa? Apa kamu suka melihat rumah kejutan yang Papa rancang untukmu? Apa Pras menyetir dengan hati-hati tadi?" Prambodo berbisik dalam hati dengan nestapa...
Akankah ia selamat?
BERSAMBUNG...
__ADS_1