Loving Cassandra

Loving Cassandra
Luluh


__ADS_3

Cassandra yang bersandar dengan santai sambil menyelimuti tubuhnya dengan tuxedo menoleh. Alisnya mengernyit.


Pras tiba-tiba merasa menyesal menanyakan pertanyaan ini. Tapi mulutnya gatal oleh rasa penasaran.


"Mayasa? Oh Ibu-ibu tadi," sahut Cassandra santai.


Pras mengangguk.


"Dia nggak bilang apa-apa, sih. Cuma agak aneh aja kurasa. Tahu-tahu masuk ke toilet. Aku pikir ya orang kantor papa aja yang kebetulan mau sama-sama ke toilet. Tapi dia tiba-tiba manggil namaku. Agak kaget juga, sih.


Dia bilang papaku sering cerita banyak ke dia soal aku. Itu aja, sih. Dia ngelihatin aku dengan tatapan aneh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamu kenal Bu Mayasa?" tanya Cassandra.


Pras diam sejenak lalu mengangguk.


"Ya, Mayasa itu salah satu orang kepercayaan papa kamu. Makannya dia ngenalin kamu. Dia baik kok orangnya." Pras menjawab pelan sambil fokus menyetir.


"Mayasa? Kamu manggil dia Mayasa doang? Nggak pakai Bu gitu? Bukannya dia lebih tua dari kamu?" Cassandra bertanya dengan penasaran.


Agak heran juga Cassandra. Pras biasanya kan cowok paling sopan yang pernah ia kenal. Bahkan ia selalu menggunakan sapaan formal saya-anda atau saya-kamu pada orang yang baru dikenal.


Kok bisa-bisanya Pras memanggil Mayasa dengan hanya nama saja padahal perempuan itu lebih tua. Begitu pikir Cassandra.


Pras tampak sedikit gugup.


"I--iya. Maksudku tadi Bu Mayasa," sahutnya agak terbata.


Cassandra hanya manggut-manggut percaya saja lalu kembali asyik dengan lamunannya melihat jalanan.


Hening lagi.


"Jadi sekarang bukan saya-kamu lagi manggilnya? Tapi aku-kamu?" Cassandra tertawa semi meledek ke arah Pras.


Rupanya acara malam ini membuat mereka menjadi lebih cair satu sama lain.


Pras kemudian tertawa.


"Kayaknya kita memang harus terlihat lebih akrab begini, terlebih di depan papa kamu. Apalagi nanti kita akan sering bertemu di sekolah.


Cassandra, kita damai, ya. Jangan ngerjain aku di depan papa kamu lagi kayak kemarin. Sumpah itu nggak lucu!" Pras berusaha lebih mencairkan suasana lagi.


Entah kenapa Pras merasa berinteraksi dengan Cassandra membuatnya lebih mudah melupakan Mayasa dan mengenyahkan wanita itu dari pikirannya, setidaknya sejenak saja.


Cassandra tertawa. Ya, ia tahu Pras bukan pria bodoh. Ia tahu dan bisa membaca segala kelakuannya.


"Apa jaminannya kalau kita damai?" Cassandra menatap Pras dengan berani.


Pras tampak berpikir sambil menyetir. "Jaminan?"

__ADS_1


"Iya. Jaminan. Kalau kamu minta aku damai dan nggak ngerjain kamu atau fitnah kamu di depan papa lagi kamu mau kasih jaminan apa? Ya misalnya kamu janji nanti mau batalin pertunangan ketika papa udah agak membaik kondisi kesehatannya. Atau apalah itu..."


Pras diam saja.


"Cassandra, kamu mungkin masih punya harapan besar soal kesembuhan papa kamu. Tapi aku kenal ibu kandung temanku yang punya penyakit sama dengan Om Prambodo. Harapan hidupnya kecil..."


Pras sungguh ingin mengatakan hal itu tapi mulutnya bungkam. Ia tak mau mengecilkan harapan gadis itu.


'Kalau kondisi kesehatan papa membaik' seolah hanya kata-kata dalam dongeng bagi Pras. Ia tahu betul bagaimana pria tua itu menanggung begitu banyak kesakitan yang tentu tidak ditunjukkan secara persis di depan Cassandra. Pras tahu itu.


"Jawab Pras. Ayo bilang 'iya.' Akan sulit kalau cuma aku aja yang nolak perjodohan ini. Kamu bukannya menolak malah mengiyakan. Ayolah, Pras. Kamu nggak mau sungguhan nikah sama aku, kan? Kamu tahu aku begini. Aku bukan tipe kamu." Cassandra merasa gemas. Ia pikir ini kesempatan baik untuk membujuk Pras.


Yang dibujuk hanya diam.


Cassandra mulai mengeluh dan agak mengomel.


"Kamu salah. Kamu tipeku banget. Jadi aku mengiyakan perjodohan ini karena optimis kita akan cocok nantinya. Udahlah. Kita coba, ya." Pras berkata dengan lemah lembut.


Cassandra tampak kesal. Tuxedo Pras yang tadinya ia pakai untuk menyelimuti tubuhnya ia banting ke pangkuannya.


"Jangan konyol, Pras. Pertama usia kita beda jauh. Aku nggak suka cowok yang lebih tua..." Cassandra langsung cerewet lagi. Tapi kemudian kata-katanya terhenti begitu ingat kalau Hugo yang ia gilai setengah mati itu juga seumuran Pras.


Pras diam saja. Ia menunggu Cassandra terus bicara.


"Aku nggak suka cowok yang terlalu rapi kayak kamu. Aku nggak suka kamu karena..." Dan Cassandra kehilangan kata-katanya lagi di tengah omelannya.


"Aku bisa berubah. Aku, mmm a--aku bisa mencoba berpenampilan lebih berantakan lagi nanti. Kalau soal umur, bukannya itu nggak penting? Kita cuma selisih 7 tahun. Iya, kan?" Pras tampak agak bingung juga menimpali.


Cassandra lalu tertawa. Ya, 7 tahun. Cuma 7 tahun. Sama seperti selisih umurnya umurnya Hugo, kekasih impiannya.


"Kamu suka sama yang lebih muda?" Cassandra menanggapi. Tapi ia tak mengomel lagi. Nada suaranya terdengar lebih bersahabat.


Pras tersenyum dengan hati tertampar. Ah, baginya umur tak masalah, bukan? Lihat saja perbedaan umurnya dengan Mayasa. 10 tahun. Wanita itu bahkan lebih tua.


"Y--ya, aku suka pasangan yang lebih muda dariku. Jadi kamu tipeku, seperti yang kubilang tadi." Pras menyahut sekenanya.


Cassandra diam saja.


Hening lagi.


Pras sibuk menyetir dan Cassandra meliriknya sambil bersandar pada kursi penumpang.


Ya, Pras bisa dibilang ganteng, sih. Tapi ya kalah jauh jika dibandingkan dengan Hugo. Cassandra menarik nafas panjang.


"Kamu tahu aku mengiyakan perjodohan ini karena terpaksa. Karena papa. Karena ini permintaan terakhir dan satu-satunya papaku setelah tahu dia divonis dokter karena kankernya.


Kalau kamu, karena apa? Karena papa kamu juga? Kurasa Om Arik cukup berbeda, tidak seperti orang tua kolot yang suka memaksakan kehedaknya terhadap anak. Aku pengin tahu alasan kamu." Cassandra membuka pembicaraan lagi.

__ADS_1


Pras tersenyum simpul. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan lampu merah lalu menoleh ke arah Cassandra.


"Entahlah. Aku cuma pengin seperti papaku. Jadi anak yang berbakti. Papa sangat berbakti sama papa kandungnya alias kakekku, padahal waktu kecil papa ditinggal di panti asuhan karena nenek meninggal dan kondisi ekonomi kakek memburuk. Waktu papa umur 20 tahun baru dicari lagi.


Papa nggak pernah dendam. Walau pas ketemu papa, kakek yang nggak pernah urus dia membebankan utang banyak ,tapi papa nggak masalah. Dia justru bantu.


Kamu tahu namaku, kan? Prastyo Hakka Gudono. Hakka nama pemberian mamaku, Gudono jelas nama keluarga. Lalu Prastyo, coba tebak asal usul nama itu." Pras menatap Cassandra.


Cassandra mengernyitkan alisnya. Iya sih nama Pras baginya terlalu tua. Untuk generasi yang lahir belum ada 30 tahun yang lalu, nama itu Cassandra rasa terlalu ketuaan.


"Prastyo nama pemberian kakekmu?" Cassandra mencoba menebak.


Pras menggeleng lalu tertawa. "Prastyo itu nama kakekku. Papa ngasih nama aku dengan nama papanya."


Cassandra mengangguk-angguk. Ah, pantas saja.


"Papa menikah dengan mama tanpa restu. Pernikahan itu satu-satunya yang papa langgar dari semua kata-kata kakek. Kakek bilang mama bukan perempuan baik-baik. Tapi papa nekat karena cinta buta.


Nyatanya apa. Kakek benar. Waktu umurku 3 tahun, Mama kabur ninggalin aku sama papa ke luar negeri. Mama balikan sama mantannya tanpa menunggu cerai dari papa.


Jadi, kamu mungkin berpikir selama ini mamaku sudah meninggal, kan? Nggak. Dia masih hidup. Bahkan sedang hidup berbahagia dengan keluarga barunya di luar negeri sana." Pras menceritakan semua hal sedih itu dengan wajah tertawa, tanda kalau ia sudah berdamai dengan keadaan.


Cassandra tampak melongo. Matanya bertemu dengan mata bening Pras.


"Papa ingin aku menikahi kamu. Dia tidak memaksa. Aku boleh menolak. Tapi dia tahu aku pasti akan menuruti apa kata-katanya. Aku jelas mengiyakan.


Cassandra, kita punya latar belakang berbeda hingga bertemu di titik ini. Tapi percayalah, orang tua punya firasat yang kuat. Kamu boleh bilang aku cowok kuno, aku nggak peduli. Aku tahu Papa cuma berusaha memilihkan yang terbaik. Apalagi kamu anak sahabatnya sendiri. Jadi please..."


PIM! PIIIMMM! PIMMMMMM!


Kata-kata Pras terpotong suara klakson dari mobil belakang. Cassandra yang tadi terkesima dengan kata-kata Pras akhirnya sadar dengan keadaan juga. Ia menoleh dengan agak panik.


"Pras, jalan. Lampu hijau udah nyala dari tadi. Kita terlalu asyik mengobrol sampai tidak sadar." Cassandra menoleh ke belakang dan mendapati pengemudi belakang mengklakson ke arah mereka.


Pras panik dan langsung tancap gas. Suasana mendadak tegang. Pengendara mobil di belakang mereka rupanya punya temeperamen tinggi. Begitu mobil Pras melaju, ia membuntuti dengan ugal-ugalan.


Pras menoleh ke arah spion dengan gelisah. "Aku minggir dulu kali, ya. Dia maunya apa sih..."


BRAK!


Mobil hitam di belakangnya tiba-tiba seperti dengan disengaja menabrak bemper belakang mobil Pras.


Cassandra agak terpelanting ke depan tapi sabuk pengaman menahannya.


Pras panik.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2