Loving Cassandra

Loving Cassandra
Mendadak Kompak


__ADS_3

Satu detik... Dua detik... Tiga detik ...


Cassandra masih memejamkan mata dan menunggu. Tapi yang ditunggu tak kunjung terjadi. Alias Pras yang ia duga akan marah dan mengamuk padanya itu diam saja.


Cassandra lalu memberanikan diri membuka matanya.


Yang terbayang waktu ia memejamkan mata tadi adalah wajah Pras yang penuh emosi dan siap meledak. Tapi yang ia lihat begitu matanya terbuka justru hal lain.


Pras menatapnya dengan tatapan teduhnya. Oh, betapa wajah yang seumuran dengan Hugo itu terlihat begitu dewasa. Tanpa sadar Cassandra menatapnya tanpa berkedip. Ini rekor waktu terlama ia menatap pria yang kemarin-kemarin ia musuhi itu.


Tangan Pras bergerak maju untuk membenarkan tuxedo di pundak Cassandra yang sedikit melorot.


Cassandra terpaku.


Oh, begitu sopannya pria yang sebelumnya ia anggap menyebalkan itu.


"Cassandra, dengarkan. Sekarang di mata papa kamu, aku jadi terkesan kayak cowok m*sum yang mau gangguin anaknya. Kalau aku bukan Pras, mungkin papa kamu udah bikin aku babak belur kemarin. Cassandra, kam..."


Drttt! Drttt!


Dan kata-kata Pras kembali terpotong begitu ia melihat ke arah layar handphone-nya yang bergetar.


"Papaku nelpon lagi." Pras menunjukkan layar handphone-nya yang sedang menyala ke arah Cassandra dengan pasrah.


"Angkat aja," sahut Cassandra karena ia juga tidak tahu harus bilang apa.


Pras menarik nafas panjang yang terdengar begitu berat lalu ia mengangkat panggilan dari papanya itu.


"Halo, Pa? Apa? Ya nggak lah, Pa. Aku nggak mungkin ngapa-ngapain Cassandra. Papa apa-apaan, sih. Papa kenal aku dari lahir. Aku nggak mungkin begitu sama perempuan.


Y--ya Cassandra mmm dia, mmm dia gerah di mobil. AC-nya rusak jadi dia bukan baju. Hah? Om Prambodo udah pulang? Dia kelihatan marah banget nggak? Ah, matilah aku..."


Tut!


Pras mengakhiri panggilan telepon lalu menyandarkan kepalanya yang berdenyut pusing itu ke sandaran jok kemudi.


"Gimana, Pras? Aku nanti seriusan bilang kalau AC mobil kamu mati aja deh biar papaku nggak curiga. Masuk akal kan alasan ini?" Cassandra bicara dengan nada sok antusias karena mungkin terlalu bersalah melihat Pras yang kena getah dari semua kelakuannya.


Pras hanya mengangguk pasrah.


"Ya, cukup masuk akal. Bilang aja begitu. Nggak mungkin akan papa kamu ngecek AC mobil dan... Cassandra! Bemper belakang mobilku kan remuk!" Pras langsung berseru panik ketika menyadari perkara yang lebih penting.


Cassandra langsung melongo.

__ADS_1


Ah, iya...


Astaga! Bagaimana ini!


"Tukar mobil? Ada waktu nggak buat kamu pulang dan... Eh, nggak mungkin, sih. Waktu kita datang tadi bahkan papa lihat kamu parkir naik mobil ini." Cassandra langsung ikutan lemas.


Hening!


Mesin mobil menyala tapi mereka diam seperti patung.


"Sumpah! Ini malam paling horor seumur hidupku! Sebelumnya papa kamu percaya banget sama aku. Kamu harus lihat wajahanya saat memohon padaku buat jagain kamu karena dia sangat takut penyakitnya akan membuatnya tak berumur panjang.


Terus sekarang apa? Di mata papa kamu aku jadi cowok m**sum. Di mata papa kamu aku cowok nggak bertanggung jawab yang bawa kamu naik motor ugal-ugalan, yang bawa kamu naik mobil serampangan sampai bemper mobilku penyok parah.


Papa kamu pasti ngira aku nggak serius. Dia nunjuk aku jadi CEO perusahaan nanti buat gantiin dia dan papaku kalau sudah pensiun karena percaya aku bisa tanggung jawab.


Sekarang apa yang ada di pikirannya? Gimana aku bisa mimpin perusahaan dan bertanggung jawab sama ribuan karyawan kalau buat jagain kamu aja aku nggak becus."


Suara Pras terdengar makin serak.


Cassandra menunduk. Ya, seorang Pras yang ia benci ternyata punya banyak sisi lain yang  membuatnya merasa buruk karena telah bertingkah konyol dan menyusahkannya.


"Sorry... . Mmm, a--aku akan bilang kalau aku maksa kamu buat diajarin nyetir, deh. Terus aku mundurin mobilnya dan nabrak tiang atau apa gitu sampai bempernya rusak parah.


Pras yang sudah lemas hanya mengangguk pasrah lalu mulai menyetir ke arah rumah Cassandra. Mobil kembali melaju dengan dua penumpangnya yang hening, larut dengan pikiran masing-masing.


***


"Aman?" Pras menatap Cassandra yang mengacungkan dua jempolnya.


Ya, mobil dengan bemper remuk itu diparkirkan di depan rumah megah itu dengan posisi menghadap depan sehingga bagian bempernya mepet ke tembok.


Mereka pikir itu bisa menghilang barang bukti.


"Itu mobil Papa!" Cassandra berseru lalu ia mengambil posisi berdiri di samping Pras.


Keduanya menunggu dengan tegang. Pras bahkan merasa ini lebih menegangkan dibandingkan saat ia sidang skripsi.


Prambodo turun dari mobilnya lalu berjalan bergegas menuju ke arah Cassandra dan Pras.


Prambodo langsung menatap tajam ke arah putrinya begitu jarak mereka sudah dekat, hanya tinggal selangkah saja.


Cassandra langsung menunduk.

__ADS_1


"Pras, kamu berhenti di pom bensin mana?" Prambodo langsung menginterogasi Pras tapi matanya tertuju ke arah putrinya.


Pras dibuat berkeringat dingin. Aduh dimana ya? Mendadak ia tak bisa berpikir.


"Di..., mmm di dekat hotel juga kok, Om. Belum jauh." Pras berbohong. Padahal ia lewat jalur itu setiap hari saat ngantor, tapi bisa-bisanya ia lupa dimana letak pom bensin.


Prambodo menatap Pras lalu mengangguk-angguk kemudian ia berbalik menatap putrinya lagi.


"Cassandra, Papa perlu bicara berdua soal baju kam..."


"Pa, aku bisa jelasin." Cassandra mendahului memotong.


Prambodo mengernyitkan alisnya. Pras menyimak dengan ikut tegang.


"Gini, aku jujur. Aku mau ngaku. Aku nggak suka datang di acara tadi. Apalagi ada pengumuman pertunangan segala. Aku cari cara biar nggak usah datang. Tapi aku nggak mau buat papa kecewa. Jadi aku cari cara lain.


Ya, aku pakai gaun ini. Keterlaluan sih karena terlalu terbuka dan pasti Papa akan menjewerku kalau tahu dari awal." Cassandra nyengir lalu sedikit menurunkan tuxedo Pras untuk menunjukkan sedikit detail asli gaun malamnya ini.


Prambodo langsung memijit-mijit kepalanya. Cassandra nyengir.


"Aku pikir kalau Pras kesal karena aku salah kostum bengini maka dia sendiri yang nyerah dan nolak bawa aku ke acara itu. Tapi ternyata Pras nekat bawa aku. Aku mohon-mohon karena panik sewaktu mau sampai di acara bajuku begini. Jelas aku nggak mau bikin Papa malu di antara semua tamu penting Papa.


Terus akhirnya Pras merelakan atasan tuxedo-nya buat kupakai. Lihat dia pakai kemeja putih aja, kan? Ya karena tuxeo-nya aku pakai."


Cassandra menjelaskan.


Prambodo masih menyimak. Baru kali ini ia melihat putrinya membela orang lain sebegitunya. Dan orang yang dibela itu adalah Pras.


"Bukan salah, Pras. Pras justru yang bantu aku. Dia melindungi aku dengan pinjamin bajunya. Terus pas di mobil aku lepas tadi itu karena gerah, Pa. AC mobil Pras rusak. Iya, kan Pras? Mana mungkin kita macam-macam. Papa kayaknya terlalu berpikiran buruk soal kita." Cassandra nyengir.


Prambodo diam saja. Ia menghembuskan napas panjang lalu melirik ke arah Pras. "Buka mobil kamu, Pras. Nyalain mesinnya!"


Pras pucat di tempat.


Matilah! Jangan bilang papa Cassandra ingin mengecek sendiri kebenaran cerita itu. Pria itu sulit dibohongi.


"M--mau ngapain, Om?" Pras yang panik hanya bisa memyenggol pelan pinggang Cassandra yang juga tertunduk macam patung.


Prambodo menyeriangi lalu tangannya menunjuk lagi ke arah pintu mobil Pras.


"Buka!"


Matilah...

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2