Loving Cassandra

Loving Cassandra
Reruntuhan Bangunan


__ADS_3

Mayasa merasa keringat dingin langsung turun ke sela-sela bajunya.


Sial! Barusan ia menyebut nama itu. Nama yang terlarang baginya. Nama seorang pria yang tak boleh ia cintai lagi.


"Kamu ngomong apa barusan, May?" Prambodo yang tadi bertanya soal kondisi Gunadi jadi teralih perhatiannya.


"Eng--enggak, Pak. Tadi kesebut nama Pras soalnya sebelum dia nonaktif di kantor, kita pernah diskusi soal proyek ini." Mayasa ngeles alias mencari-cari alasan.


Prambodo mengangguk-angguk percaya. Sebaliknya, Gunadi melirik Mayasa dengan senyuman tertahan seolah menyimpan suatu rahasia.


Prambodo berjalan dengan tangan berkacak pinggang. Ia berpindah ke sisi yang lain untuk mengecek. Mayasa ingin cepat mengikutinya tapi tangan Gunadi duluan menariknya.


"Apa-apaan sih kamu!" Mayasa berbisik dengan nada geram.


Gunadi menaik-turunkan alisnya penuh arti. Wajahnya makin terlihat menyebalkan di mata Mayasa.


Gunadi menarik tubuh Mayasa makin dekat ke arahnya lalu membisikkan sesuatu yang membuat hati Mayasa mendidih.


"Aku datang ke pesta malam itu. Dan aku lihat kamu menatap Cassandra dan Pras dengan tatapan patah hati sebelum kamu pulang duluan. Aku tahu sesuatu May soal kamu sama Pras. Kamu pikir aku bodoh?


Mayasa, tak usah sok suci saat kugoda. Aku pernah lihat kamu gandengan tangan dengan Pras dan mengobrol mesra di ruangan teknisi waktu berduaan. Kupikir aku mabuk dan salah lihat. Tapi kurasa penglihatanku benar.


Jadi alasanmu menolakku itu karena kamu mengincar lelaki yang lebih kaya? Kamu langsung mengincar calon pewaris perusahaan tempatmu bekerja? Wow!


Tapi sayang Pras yang kurasa kamu rayu dan kamu peralat itu dijodohkan sama anaknya Pak Prambodo. Kasihan kamu. Kamu pikir gampang dapat berondong kaya. Kurasa kalau Pak Arik tahu, kamu akan dipecat karena pernah menggoda anaknya. Makannya jangan belagu dan..."


Bugh! Plak!


Mayasa mendorong tubuh besar Gunadi hingga pria itu menabrak tembok setengah jadi.


Tak cukup sampai sana, dalam hitungan detik Mayasa menampar pipi Gunadi. Kesabarannya selama ini ia rasa sudah habis.


"Aku memang janda tapi aku nggak semurahan itu. Aku nggak pernah menggoda siapapun! Camkan itu! Aku sama Pras tidak ada hubungan apa-apa!


Dan satu lagi, jangan coba menyentuhku lagi! Walau aku janda, tapi aku tidak lebih rendah dari kamu yang tukang selingkuh, main perempuan, tukang korupsi, dan tak tahu tata krama!"


Semua amarah yang keluar dari mulut Mayasa bernada bisikan. Tentu ia tak mau suara kerasnya terdengar oleh Prambodo yang sedang berada di ruangan sebelah.


Gunadi yang tadinya menatap Mayasa dengan tatapan meledek, jadi panik mendadak saat mendengar Mayasa menyebut kata 'korupsi.'

__ADS_1


Mayasa menyeriangi dengan puas. Sudah cukup selama ini ia tahan. Dengan sepatu hak tingginya, Mayasa menengok Prambodo yang rupanya masih sibuk mengecek sisi bangunan lain lalu ia kembali lagi berjalan ke arah Gunadi yang masih berdiri dengan wajah kaku.


"Aku bisa nyuruh tim kantor untuk audit proyek ini! Sayang Pras sudah nggak aktif di kantor. Tapi ingat ya, Gunadi! Kamu nggak akan aman! Jangan main-main denganku!


Aku tahu pembangunan gedung ini sudah banyak kamu akali. Penggunaan bahan bangunan yang tak sesuai standar, dan yang lainnya akan aku selidiki nanti. Tunggu saja!" Mayasa mengacam.


Gunadi yang wajahnya memerah ingin balas mengumpat ke arah Mayasa, tapi Prambodo yang datang tiba-tiba membuatnya mengatupkan kembali bibirnya.


"Saya mau naik lagi apa bisa lewat tangga? Apa sudah aman jalurnya? Saya mau mengecek sendiri." Prambodo menatap Gunadi.


Gunadi mengangguk cepat.


Sudah aman apanya. Project ini berantakan karena ia tak becus menghandle.


Mayasa memasang wajah penuh senyum ketika ia berjalan beriringan dengan Gunadi. Padahal aslinya ia benci pria itu dan ingin meludahinya saking kesalnya.


Gunadi memang bermasalah sejak awal di kantor. Mayasa dan Pras tahu itu tapi Gunadi pintar menjilat atasan, jadi posisinya selalu aman.


Selain karena kinerja Gunadi yang dirasa kurang, Mayasa juga membenci Gunadi karena kelakuannya di luar hubungan kerja.


Gunadi amat meremehkan statusnya yang merupakan janda itu. Mayasa sering digoda dengan kata-kata tak pantas.


Andai ia masih sedekat dulu dengan Pras, pasti Mayasa akan mengadu pada mantan pacarnya itu untuk membereskan Gunadi. Sudah kerja nggak benar, terindikasi korupsi lagi. Mayasa pernah tak sengaja menemukan kejanggalan laporan lapangan tapi segera diubah esok paginya.


Gunadi yang mukanya tampak seperti belum mandi itu mengangguk dengan gugup ketika Prambodo menanya-nanyainya soal proyek. Mayasa melirik dengan ekor matanya yang memberikan kode ancaman padanya.


Ya, mungkin dia memang betulan belum mandi karena sibuk mabuk semalaman sambil main perempuan. Rumor ia selingkuh dari istrinya yang sedang meninggalkannya studi S3 di Australia itu menyebar diam-diam. Mayasa tak suka menggosip tapi kabar burung itu tetap sampai ke telinganya.


"Gun, kamu kok agak pucat ya kayaknya. Kamu nggak papa?" Prambodo bertanya lagi sambil berjalan. Ia ingat kalau pertanyaannya tadi belum sempat terjawab karena Mayasa keceplosan menyebut nama Pras.


Prambodo menatap Gunadi penuh perhatian. Ia memang amat peduli pada semua karyawannya, terutama kalau berhubungan soal pekerjaan.


"Sa--saya agak nggak enak badan, Pak. T--tapi semua kerjaan beres, kok. Saya pastikan akhir bulan nanti sudah 70 persen selesai." Gunadi langsung sok bersikap profesional dan rajin. Padahal aslinya...


Mayasa diam saja. Ia bahkan tak mau menatap mata Gunadi.


"Ini aman, Gun?" Prambodo menunjuk ke arah konstruksi yang tampaknya abnormal di dekat tangga.


Gunadi panik lalu seperti pemain bulu tangkis ahli, ia kemudian mengelak dari smash mendadak itu.

__ADS_1


Dengan mulut manisnya Gunadi bilang itu memang kesalahan tim vendor tapi ia sudah mengomel kemarin dan meminta mereka membereskan.


Prambodo mengangguk-angguk percaya tapi tidak dengan Mayasa.


Mayasa punya kepekaan yang tinggi karena dia sering turun ke lapangan sejak awal karirnya. Sungguh di balik sikap santainya yang terus mengikuti langkah Prambodo di belakang itu Mayasa sebenarnya menyimpan kekhawatiran.


Apa pekerja dan hasil kerja atas tanggung jawab Gunadi ini benar? Apa sesuai standar? Apa aman?


Mayasa bukan orang lapangan yang tahu seluk beluk bangunan, tapi dia bisa meraba kejanggalan.


Mereka pun naik ke lantai atas dan mengecek perkembangan pembangunan gedung ini.


Sampai atas, para pekerja yang ternyata hanya ada beberapa itu sedang bersantai, merokok, dan bersendau gurau.


Mayasa saling bertatapan dengan Prambodo. Mereka begitu dekat hingga tanpa bersuara pun seolah mereka bisa berkomunikasi. Prambodo seolah ingin bilang pada Mayasa kalau sepertinya pembangunan gedung ini sedikit janggal.


Mayasa mengangguk seolah sedang mengirimkan sinyal kalau ia setuju dengan pendapat itu.


Oke, saatnya menyerang! Mayasa menatap Gunadi dengan tatapan menyudutkan.


"Gun, ini oke? Kok material yang dipakai ini ya? Saya sempat baca laporannya harusnya bukan ini, loh. Besi yang dipakai ukurannya lebih besar dari ini. Kamu gimana sih nggak ngecek tukangnya? Ini aman? Kamu yakin?" Mayasa rupanya tak tahan juga karna boss-nya tak bicara atau mengomeli Gunadi. Ia berceloteh dengan nada yang sengaja ia buat agar Gunadi kesal padanya.


Gunadi tampak kesal karena serangan mendadak dari Mayasa membuatnya gelagapan mencari alasan. 


Prambodo mengangguk-angguk, seolah setuju dengan kejanggalan yang mulai Mayasa beberkan.


Mayasa merasa belum puas. Ia lalu siap menambahkan.


"Ah, ya. Baru ingat saya. Kamu kan yang memenangkan vendor ini buat naruh pekerjaannya di proyek ini? Pada nggak benar gini kerjanya. Kamu gimana, sih? Jangan-jangan kamu disuap sama mereka lalu..."


"Jaga mulut kamu ya, Mayasa! Mentang-mentang jadi orang kepercayaannya Pak Prambodo, terus di depan dia kamu cari muka dengan jelek-jelekin saya dan nuduh-nuduh saya begini? Enak aja! Saya kerja serius dan..."


Brak!


Sebuah runtuhan puing dengan besi mencuat turun dari atap. Jarak antara Prambodo dan bongkahan semen itu banya beberapa mili...


"PAK PRAMBODO!" Mayasa langsung berteriak panik.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2