
Pras dan Cassandra saling menatap satu sama lain dengan wajah panik.
"Papa nelpon lagi." Pras menunjukkan layar handphone-nya ke arah Cassandra.
Cassandra nyengir. Ia pun melakukan hal yang sama. Ia tunjukkan layar handphone-nya yang menyala dengan latar belakang bertuliskan : 'Papa memanggil.'
"Sama. Papaku juga nelpon terus. Kamu deh Pras yang angkat. Bilang apa kek. Bilang ban mobilnya bocor jadi belum sampai rumah." Cassandra tampak bingung.
Pras menggigit bibirnya sambil tampak berpikir. Alasan apa yang kira-kira masuk akal.
Saat Pras sedang sibuk berpikir, Cassandra justru menurunkan tuxedo Pras sehingga gaun minimnya kembali membuat kulit lengan dan lehernya terekspos jelas tepat di hadapan Pras.
Pras lelaki biasa. Handphone-nya ia biarkan terus bergetar karena panggilan dari papanya tak ia angkat, tapi matanya tertuju ke arah Cassandra.
Cassandra justru mengikat rambutnya ke belakang sekenanya sehingga mata Pras makin melotot karena makin banyak bagian tubuh indah gadis itu terpapar di depan matanya.
"Gerah tau, Pras. Bisa nggak sih kamu nyalain mesin mobilnya biar AC-nya nyala." Cassandra malah bersikap santai padahal Pras sudah panas dingin menghadapi situasi ini.
Tak mau makin terlena, Pras lalu menyalakan mesin mobil dan menghidupkan pendingin mobil. Cassandra tampak lega lalu kembali mengurai rambutnya.
"Buruan angkat, Pras. Tuh kan papaku nelpon lagi." Cassandra yang belum memakai atasan tuxedo kembali itu menatap pasrah ke arah handphone-nya yang terus diteror papanya.
"Aku harus bilang apa kalau ditanya kenapa belum sampai?" Pras menatap layar handphone-nya sendiri dengan frustasi.
"Bilang, mmm bilang aja tadi kamu kehabisan bensin terus antri pas beli. Iya gitu aja. Buruan Pras." Cassandra kini tampak memohon. Bagaimanapun ia terbayang wajah panik papanya yang kebingungan karena ia tak bisa dihubungi.
Pras mencoba mengatur nafasnya agar lancar mengarang cerita bohong ini. Cassandra hanya duduk di kursi penumpang tanpa membantu apa-apa. Masalahnya ia malas berdebat dengan papanya.
"Halo? Iya, Pa?" Pras menjawab panggilan.
"Kenapa baru diangkat?" Prambodo terdengar lega sekaligus kesal.
"Kan Pras nyetir. T--tadi lagi isi bensin. Kan nggak boleh pakai handphone waktu isi bensin. Bisa kena denda aku. Kenapa, sih?" Pras berpura-pura sok tak tahu apa-apa.
Cassandra menatapnya lalu mendekat karena penasaran ingin menguping. Setelah Pras menjawab panggilan telepon itu, Cassandra melihat layar handphone-nya kembali mati alias papanya tidak lagi mencoba menghubunginya.
"Iya Cassandra sama aku. Ini bentar lagi nyampai tapi aku berhenti karena Papa nelpon. Eh, i--ini Om Pram? Oh, maaf Om. Iya, kenapa? Mmm, Cassandra ada. Oh, t--tadi kita asyik ngobrol makannya Cassandra mungkin nggak ngecek handphone-nya dan nggak tahu kalau Om nelpon." Pras melirik Cassandra yang tersenyum lega.
Pras sendiri kaget karena ia begitu lancar mengarang cerita ini. Padahal ia tipe pria jujur yang tidak suka berbohong. Masalahnya ini perihal lain. Dan sepertinya ke depannya ia harus banyak berbohong lagi demi menutupi kepura-puraan hubungannya dengan Cassandra.
__ADS_1
"Mau ngomong? Oh, iya. Aku kasih handphone-nya ke Cassandra ya, Om. Sebentar." Pras lalu menyodorkan handphone-nya ke arah Cassandra.
Cassandra menerimanya dengan senyum lebar.
"Iya, Papa. Handphone-nya aku taruh tas. Kenapa, sih? Iya ini lagi di pinggir jalan. Pras bisa sebenarnya angkat telepon sambil nyetir, tapi dia pasti keingat pesan Papa untuk hati-hati nyetir makannya dia berhenti. Iya aku baik-baik saja." Cassandra terus menimpali kecemasan papanya dengan santai.
Pras menghembuskan napas lega. Ia pun menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kemudi itu lalu memjamkan mata.
Suara manis Cassandra saat mengobrol dengan papanya membuatnya tersenyum tanpa sadar.
Ah, gadis galak dan garang itu ternyata bisa berubah menjadi anak kucing manis di hadapan papanya.
"Sandra nggak papa, Pa. Nggak percaya? Mau video call? Yaudah. Sandra alihkan panggilannya, nih." Cassandra dengan santainya menekan tombol alih dari panggilan telepon biasa ke panggilan video.
Pras yang sejak tadi menyimak awalnya biasa saja, namun ketika menyadari satu hal itu wajahnya berubah menjadi panik.
"Cassandra, baju kamu!" Pras berbisik panik sambil menatap tuxedo-nya yang ia relakan untuk Cassandra itu teronggok di pangkuan.
Cassandra rupanya tidak mendengar.
"Halo, Pa?" sapanya dengan santai sambil mengarahkan layar handphone Pras ke arah depan. Jelas bagian kepala hingga dada Cassandra kelihatan.
Dan jelas pula ia lupa kalau gaun minim bahan yang ia tutupi dengan tuxedo Pras tadi jadi terekspos.
Pras menepuk dahinya sendiri dengan wajah memelas. Ia tahu papa Cassandra pasti akan langsung menuduhnya menjadi tersangka.
"Aduh, Om. Andai Om tahu kelakuan anak Om. Malah saya yang menyelamatkan dia dari gaun terkutuk itu di sepanjang pesta," batin Pras.
Cassandra langsung panik begitu papanya histeris. Dengan segera ia mengambil lagi tuxedo Pras di pangkuannya dan menyelimutkannya di tubuhnya untuk menutupi semua keterbukaan yang tak pantas itu.
"Pa, i--ini cuma..."
"Cuma apa? Mana Pras? Papa mau ngomong!" Suara Prambodo mekin terdengar menyeramkan.
Pras memejamkan matanya dengan pasrah. Cassandra menatapnya dengan tatapan bersalah saat ia mengulurkan handphone itu ke arahnya.
"Ha--halo, Om?" sapa Pras yang mendadak panas dingin saat kelihatan wajah marah Papa Cassandra dari layar handphone-nya sendiri.
"Saya nyusul pulang. Kamu tunggu di rumah dan jangan kabur. Tunggu sampai saya datang. Kita perlu ngomong!"
__ADS_1
Tut!
Panggilan telepon dimatikan sepihak.
Cassandra nyengir lalu menggigit bibirnya. "Sorry," ujarnya lirih.
Pras diam saja. Ia hanya menunduk memandangi setir mobilnya. AC mobil sudah menyala tapi badannya mendadak panas dingin dan berkeringat.
"Pras, nanti aku bantu jelasin ke Papa kalau..."
"Kalau apa?" Pras memotong ucapan Cassandra dengan nada agak meninggi.
Cassandra terdiam.
"Sorry," ucap Cassandra sekali lagi dengan nada serius yang penuh penyesalan.
Pras melirik malu dan jadi merasa bersalah karena barusan nada suaranya seolah semi membentak Cassandra. Sungguh ia tak bermaksud begitu.
"Cassandra, kamu tahu kan selisih umurnya kita 7 tahun lebih. Aku lebih tua, lebih dewasa, dan kesannya lebih dominan dibandingkan kamu yang baru mau 20 tahun.
Fitnah kamu soal kedekatan fisik waktu naik motor kemarin itu kurasa sudah cukup membuat papa kamu berpikiran yang aneh-aneh ke aku. Ini lagi ditambah..."
Pras menghembuskan nafas panjang karena kehilangan kata-kata lalu ia melanjutkan lagi.
"Cassandra, papa kamu akan menyangka soal aku yang nggak-nggak. Serius, cara kamu yang konyol begini nggak akan bikin perjodohan ini batal. Malah mungkin akan dipercepat karena papa kamu takut aku macam-macam sama kamu. Kamu tahu maksud aku, kan?" Pras menatap Cassandra dengan serius.
Cassandra mengangguk lemah. "Tapi Pras, aku nggak ada maksud. Tadi aku lupa kalau aku pakai gaun itu terus spontan asal angkat video call papaku. Sumpah ya aku juga malu! Menurut kamu aku suka pakai baju begini? Nggak! Apalagi di depan papaku! Aku kan cuma mau ngerjain kam..."
Kata-kata Cassandra terhenti. Pras menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ah, sudah Pras duga Cassandra seniat ini mengerjainya dan berusaha membuatnya kesal. Mungkin di pikiran gadis itu kalau Pras menyerah padanya, maka ia akan memohon agar perjodohan ini dibatalkan.
"Sorry," ucap Cassandra lagi karena keceplosan dengan kelakuannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Cassandra begitu takut Pras yang penyabar itu akan marah padanya.
Wajah Pras yang biasanya teduh mendadak berkecamuk.
Sungguh, seandainya pun Pras akan mengamuk padanya, Cassandra siap. Gadis itu kemudian memejamkan mata.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...
_____