
[[ Hai, Cassandra yang cantik. Ini Hugo. Tahu kan siapa aku? Aku nggak sengaja nemu akun ini nih aku waktu cek DM-DM fans. Setelah kulihat fotonya ternyata ini kamu. Kamu Cassandra-nya Pras temanku yang jelek itu kan yang waktu itu video call?" ]]
Cassandra membungkam mulutnya sendiri karena takut kelepasan berteriak kencang saking senangnya ia.
"Sumpah! Hugo ingat aku! Dari ratusan ribu fans dia, dan akhirnya dia nemu akun ini. Hugoooo!" Cassandra berbisik pelan tapi nadanya berteriak.
Tangan Cassandra mendadak panik. Jari-jemari lentik yang biasanya lincah sekali mengetik pesan balasan itu mendadak kaku. Ia menulis beberapa huruf lalu menghapusnya lagi. Begitu terus sampai berkali-kali.
"Aduh! Mumpung dia online juga aku seharusnya cepat balas tapi aku bingung. Gimana nih! Dia pasti lagi after party habis konser. Mood-nya pasti bagus habis manggung. Aku balas apa ini..." Cassandra mendadak panik.
Posisinya yang tadinya santai di kasur empuknya yang nyaman kini berubah. Ia berdiri dan mondar-mandir di balkon kamarnya.
Tring!
Sebuah notifikasi pesan masuk membuat Cassandra kaget. Ia sangka Hugo menghubunginya lagi, tapi ternyata bukan. Kali ini adalah notifikasi pesan balasan dari Pras.
[[ "I'm okay, Cassandra. Tapi Papa kamu kelihatan kecewa, marah, dan menekan. Dia nggak percaya begitu saja setelah semua kesalahpahaman ini berusaha kita luruskan. So, apapun keputusan papa kamu besok waktu dia nyuruh aku nemuin dia di kantor, mohon kamu bantu aku ya." ]]
Cassandra membaca pesan itu sekilas dan merasakan euphoria kebahagiaannya barusan setelah menerima DM dari Hugo sirna seketika.
Dari pesan balasan Pras, Cassandra seperti bisa meraba kalau mungkin perjodohan di antara mereka bisa saja dibatalkan papa Cassandra setelah pria itu merasa Pras bukan pria yang tepat.
Entah kenapa hawa sedih langsung masuk ke dalam hati Cassandra.
Kenapa ia sedih? Bukannya ini maunya? Ibaratnya keputusan sudah di ujung tanduk. Tinggal bantu mendorong sedikit saja dan semua keinginannya terkabul, kan? Ia batal dijodohkan.
Tangan Cassandra yang tadinya panik mengirimkan pernah balasan untuk Hugo langsung lincah mengetikkan pesan balasan untuk Pras.
[[ "Sorry, Pras. Kabari aku ya besok. Papa kadang memang nggak ketebak kelakuannya. Tapi kamu tahu kan apapun permintaan Papa akan aku lakukan karena aku ingin membahagiakan dia." ]]
Setelah mengirim pesan balasan itu, Cassandra jadi tak berminat membalas pesan Hugo. Ia melihat kembali chat yang membuatnya kegirangan beberapa menit yang lalu itu dengan wajah sendu.
Kenapa hatinya bergejolak dengan aneh begini? Seharusnya tidak ada rasa yang bisa mengalahkan kegirangannya barusan mendapat DM langsung dari Hugo. Tapi pesan tulus dari Pras membuat ekspresi girang itu hilang seketika dari wajahnya.
Oh, andai Cassandra tahu semua perasaan galaunya ini karena sandiwara dan akal-akalan papanya dan Pras, ia pasti akan sangat marah.
Dipandanginya lagi chat DM dari Hugo hingga notifikasi online-nya hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
"Oh, dia pasti sibuk dan sedang party dengan teman band-nya. Makannya dia nggak online lagi. Besok saja kubalas," bisik Cassandra.
Cassandra lalu menatap kasur empuknya lagi dan menjatuhkan dirinya dengan lemas.
Tring!
Sebuah pesan balasan muncul lagi dari Pras tepat ketika Cassandra mendaratkan pipi mulusnya di bantal.
[[ "Thanks, Cassandra. Sejak awal aku tahu walau kamu dingin padaku dan banyak tingkah untuk menyusahkan aku, tapi hati kamu tulus. Kita hanya sama-sama ingin membahagiakan orang tua kita dengan perjodohan ini. Good night. Jangan tidur malam-malam, ya." ]]
Dan Cassandra tersenyum membaca kalimat terakhir pesan balasan Pras.
'Jangan tidur malam-malam ya' adalah kata-kata andalan mendiang mamanya yang rutin diucapkan ketika wanita kesayangannya itu mengeceknya ke kamar sebelum tidur.
Ah, rasanya sudah lama ia tak menerima ucapan semanis itu.
Sambil berbaring, Cassandra mengetikkan pesan balasan lagi.
[[ "Sorry ya Pras atas tingkah kekanakanku yang kemarin-kemarin. Besok aku akan bilang Papa biar nggak terlalu keras nekan kamu. Good night." ]]
Entah kenapa bisa-bisanya DM manis dari Hugo terlupakan begitu saja. Padahal ia dulu sampai star struck dan kegirangan berhari-hari ketika Hugo memberikan 'like' pada salah satu postingan sosial medianya.
Hanya satu 'like' saja dan mungkin itu juga bisa karena tak sengaja terpencet. Namanya saja juga nge-fans. Jadi hal seremeh itu saja bisa membuat Cassandra gila mendadak.
"Ngapain sih kamu nge-fans berlebihan sama cowok kayak gitu. San, Sandra. Kalau pun akhirnya kamu bisa sungguhan dekat dengannya, mata kamu pasti akan terbuka. Cowok di dunia hiburan rata-rata nggak benar pergaulannya.
Soal idola yang memanfaatkan fans-nya untuk ditiduri itu banyak, loh. Kamu aja yang tutup mata dari berita kayak..."
"Pa! Apaan, sih! Hugo nggak kayak gitu! Dia sayang sama semua fans-nya. Papa itu nggak ngerti karena kita beda generasi, beda selera musik. Lagu-lagu Hugo yang nemenin aku waktu aku depresi, Pa. Lagu-lagunya membuat aku bangkit. Papa berlebihan banget nuduh-nuduh dia yang nggak-nggak. Papa itu nggak kenal Hugo!"
Dan percakapan beberapa bulan lalu dengan papanya itu terputar kembali di kepala Cassandra lewat mimpinya.
Cassandra ingat betul setelahnya papanya bilang begini, "Nah, itu. Kamu suka lagunya, kan? Bukan wajah gantengnya, kan? Ya makannya suka karyanya aja. Kamu harus bisa misahin antara karya sama senimannya."
"Ah, Papa nggak ngerti. Kalau nggak mau izinin aku datang ke konser dia, yaudah. Nggak usah jelek-jelekin Hugo atau The BigHigh."
"Kan Papa bilang kamu boleh datang ke konser kalau Papa ikut! Biar Papa suruh sekretaris Papa beliin tiketnya."
__ADS_1
"Nggak ada Bapak-Bapak di sana, Pa. Papa malah bakal bikin aku malu nanti! Mendingan aku nggak jadi nonton."
Dan mimpi itu berakhir dengan Cassandra yang mengubah posisi tidurnya jadi miring ke kanan lalu ia kembali lelap walau wajahnya jadi sedikit muram.
***
Paginya...
Cassandra bangun lebih pagi dan mendapati nama Hugo masuk di berbagai kanal berita online karena ia menabrak seseorang saat menyetir dalam keadaan mabuk.
Cassandra menarik nafas panjang. Ia menaruh handphone-nya di kasur lagi. Berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu membuatnya makin pusing.
Oh, berarti mungkin Hugo juga sudah agak mabuk sewaktu pria itu mengirimnya DM semalam.
Ia baca sekali lagi DM itu sambil menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk. Biasanya ia masih tidur jan segini, tapi semenjak tahu papanya sakit, Cassandra akan bangun lebih pagi lalu mengecek kondisi papanya di kamar lantai bawah.
[[ "Hai Cassandra yang cantik... ... Pras temanku yang jelek ... ..." ]]
Mata menyipit Cassandra yang baru bangun itu menangkap dua kata berlawanan yang diketik Hugo semalam.
"Dia mabuk nggak sih semalam waktu ngetik ini? Aku senang sih dipuji cantik. Tapi bisa-bisanya dia menyebut Pras jelek padahal mereka berteman.
Arghhh! Cassandra, fokus sama Papa dan Pras dulu. Hugo nanti aja kamu pikirin. Lagian kamu hanya sekedar fans bagi dia."
Cassandra lalu turun dari tempat tidur dan mulai meregangkan ototnya. Ia meninggalkan handphone-nya di mejanya setelah menghubungkannya ke kotak pengisi daya.
Ia lalu turun menuju lantai satu dan berniat hendak mengetuk pintu kamar papanya. Tapi setelah lima kali ketukan tanpa jawaban, Cassandra tiba-tiba panik.
Ia tahu benar papanya biasanya sudah bangun jam segini karena harus minum obat.
"Papa?" Cassandra membuka pintu kamar yang tak terkunci itu lalu pucat seketika.
Papanya tidak ada. Ia dengan bergegas mengecek ke toilet dan segala sudut tapi tak menemukannya.
Cassandra makin panik...
BERSAMBUNG ...
__ADS_1