Loving Cassandra

Loving Cassandra
Akting Mumpuni


__ADS_3

Cassandra terlihat serius membela Pras sampai-sampai ia menahan cerita soal insiden mobil penyok itu.


Lama-lama Pras merasa bersalah juga. Aduh bagaimana ini! Tapi sudah terlanjur. Dan papa Cassandra sepertinya menikmati peran marah-marahnya.


Mungkin Prambodo senang akhirnya putrinya yang susah diatur punya sedikit rasa tanggung jawab. Terlebih ia berusaha melindungi orang lain dan mengorbankan diri. Prambodo seperti bisa melihat sisi kedewasaan putrinya yang selama ini memang belum kelihatan.


Prambodo merasa bangga. Ia makin merasa tidak salah pilih telah menjodohkan Cassandra dengan Pras. Ia ketularan dewasa dengan cepat.


"Pa, udah, ya. Pras nggak salah. Biarin dia pulang. Dia sudah banyak bantu buat aku nyaman sepanjang pesta. Kalau nggak ada dia dan berpikir semua ini demi Papa, aku pasti sudah kabur pulang.


Please, biarin Pras pulang. Dia pasti capek." Cassandra terdengar memohon. Tidak biasanya ia bersikap begini. Bahkan mungkin ini baru pertama kalinya ia membela orang lain sampai mengorbankan dirinya sendiri.


Prambodo tak peduli kode mata dari Pras untuk menyudahi sandiwara ini. Ia justru kelihatan ingin membuat Cassandra makin yakin kalau ia benar-benar marah.


"Ya nggak bisa gitu dong, San. Pras ini tetap ceroboh dan tidak menepati janji dengan Papa. Kamu tahu kan Papa paling benci sama orang yang..."


"Papa, please." Cassandra kini sampai memeluk papanya karena Prambodo mulai menunjuk-nunjuk Pras dengan tangannya.


Karena posisi Cassandra di pelukan papanya membuatnya memunggungi Pras, maka Pras menggunakan kesempatan ini untuk bicara tanpa suara pada Prambodo.


"Om, udah, Om. Kasihan Cassandra." Kata-kata utu terucap dengan gerakan mulut tanpa suara.


Prambodo yang masih dipeluk putrinya mengangguk sambil teresnyum penuh arti.


"Oke. Kamu pulang sana. Tapi ingat, ya. Besok kamu ke kantor! Kita harus bicara lagi." Prambodo mulai akting lagi melunakkan suaranya agar tak terdengar semarah tadi.


Cassandra langsung melepaskan pelukannya pada papanya dan menatap Pras dengan tatapan masih merasa bersalah.


Duh, kenapa jadi begini. Perasaannya jadi aneh melihat Pras menderita karenanya. Padahal kemarin ia yang berusaha mencari ide dan cara agar Pras dan papanya berselisih. Tujuannya jelas : biar perjodohan konyol ini dibatalkan.


"Saya pamit, Om. Besok saya temui Om di kantor. Mmmm, Cassandra... A--aku pulang dulu, ya. Bye." Pras langsung menyalakan mobilnya dan berjalan membuka pintu kemudi.


Cassandra dan Prambodo berdiri mengawasi hingga mobil dengan bemper belakang rusak parah itu melaju pergi meninggalkan gerbang rumah mereka.


Hening.


Prambodo sampai lupa kalau ia harus berakting marah. Untungnya ia ingat dan langsung mengatupkan mulutnya lagi.


Cassandra lalu menatap papanya. Rupanya ia sudah berganti pakaian dengan setelan piyama kotak-kotak sejak tadi.


"Pa, aku yang salah. Dari kemarin aku yang..."

__ADS_1


"Udahlah, San. Pras salah, kok. Dia nggak bisa pegang janjinya pada Papa untuk menjaga kamu dengan benar. Ini Papa masih hidup, loh. Gimana coba kalau Papa nggak ada. Apa jaminan dia bisa gantiin posisi Papa untuk melindungi dan sayang sama kamu!" Prambodo mulai berkacak pinggang.


Cassandra diam saja. Entah kenapa akting Prambodo sangat meyakinkan hingga Cassandra tidak sadar kalau papanya hanya bersandiwara saja.


Hening lagi. Mereka berdua masih berdiri di jalan setapak taman indah rumah mereka.


Kalau dipikir terakhir kali mereka berdua berdiri berdampingan seperti ini di halaman rumah ini adalah ketika Cassandra masih dalam proses pemulihan dan belajar berjalan setelah cedera kakinya perlahan pulih.


Ternyata waktu berjalan begitu cepat.


Rumah hanyalah tempat. Kenangan hanyalah soal perpindahan waktu. Dan Prambodo ingat lagi soal rencananya untuk membuat daftar kenangan buruk Cassandra soal rumah ini sedikit berkurang.


Ya, percepat pernikahan agar Cassandra bisa ia suruh pindah dari rumah ini.


Jujur saja, Prambodo takut meninggal di rumah ini. Ia memikirkan hal ini hingga susah tidur dan dokter memberinya resep tambahan untuk problem barunya ini.


"Pa..."


"San..."


Pasangan ayah dan anak ini seolah punya ikatan batin kuat hingga bicara secara bersamaan.


Prambodo menarik nafas panjang lalu menepuk pundak putrinya.


"Pras adalah pria terbaik yang bisa Papa temukan untuk menjadi suami kamu. Ini terlepas dari dia anak Om Arik yang nantinya meneruskan bisnis keluarga kita. Pras sempurna. Dewasa, mapan, matang, pendidikan bagus, attitude bagus.


Tapi nggak tahu kenapa kok Papa mendadak kurang yakin. Apa Papa cari calon lain. Kamu ingat kan Papa dulu sering kenalin kamu sama anak kolega Papa. Misalnya Bisma, Edo, atau Martin..."


Cassandra langsung menggeleng cepat. Ia ingat dan tahu betul kalau mereka parah sekali kelakuannya. Ada yang pemabuk, punya riwayat kriminal karena penyalahgunaan obat terlarang. Ada yang sok kaya, ada yang sok ganteng, pokoknya Cassandra tahu betul siapa mereka.


Ya kalau dipikir Pras paling mending, bahkan terbaik dari lelaki manapun yang pernah Cassandra tahu.


Tiba-tiba saja kegigihan dan kesabaran Pras mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit tanpa ia sadari.


"Kenapa nggak mau? Kamu akhirnya ngerti kan kenapa Papa milih Pras? Ya, dia yang paling Papa bisa percayai. Cuma akhir-akhir ini Papa banyak pikiran karena kalian sudah sedekat ini. Bagaimana pun Papa pernah muda dan Papa..."


"Papa!" Cassandra langsung sewot.


Cassandra tahu percakapan ini akan mengarah kemana. Ia juga sendiri sih yang memulai memfitnah Pras di depan papanya. Pantas kan papanya mengira Pras betulan cowok m*sum.


"Kenapa? Ini kecemasan normal Papa sebagai seorang ayah. Kamu sudah dewasa, Sandra. Pras apalagi. Dia sudah sangat dewasa. Kalian..."

__ADS_1


"Pa! Stop, ya! Pras nggak kayak gitu. Dan aku pun nggak kayak gitu juga. Arghhh! Udahlah Papa tetap salah paham walau aku sudah jelaskan!" Cassandra bersungut kesal sekaligus menahan malu lalu berjalan cepat masuk kembali ke dalam rumah.


Prambodo menahan senyum dan baru tertawa lepas saat melihat putrinya menutup pintu dengan gerakan kesal seperti anak kecil yang sedang mengambek.


"Anak kita sudah dewasa, Rumi. Kalau marah dan malu, wajahnya mirip sekali denganmu. Kita juga dijodohkan kan pada awalnya? Tapi cinta tumbuh karena waktu. Aku yakin Pras dan Cassandra juga bisa seperti kita.


Bisa ya, Rum? Aku ingin pergi dengan tenang menyusul kamu. Aku ingin dia berada di tangan pria yang tepat karena dia tak punya siapa-siapa selain kita. Pras calon suami yang cocok untuknya..."


Prambodo berkata dalam hati sambil masuk ke dalam rumah. Hingga ketika ia sampai di kamarnya, ia ambil pigura foto istrinya itu dan ia kembali bicara sendiri.


"Datanglah ke mimpiku, Rumi. Aku rindu dan ketakutan sendirian. Datang di mimpiku dan katakan keputusanku menjodohkan Pras dengan Cassandra itu adalah keputusan yang tepat," bisik Prambodo sebelum akhirnya ia mendekap pigura itu di dadanya.


***


Sementara itu tepat di atas kamar Prambodo alias lantai dua rumahnya, Cassandra juga sedang mendekap benda di dadanya. Ia duduk di tepi ranjang kamarnya.


Benda itu bukan pigura foto mendiang mamanya, melainkan sebuah handphone yang tak lain dan tak bukan adalah miliknya sendiri.


"Duh, aneh nggak sih aku chat dia duluan? Pertanyaan 'Are you okay' itu nggak berlebihan atau mengesakan kalau aku sangat mencemaskan dia, kan?


Arghhh! Ngapain sih aku chat Pras! Bukannya seharusnya kamu senang Pras dapat masalah? Ayolah Cassandra kamu ini kenapa, sih? Jangan-jangan kamu mulai tertarik sama dia!


Oh, no! Ingat, Cassandra. Kamu tetap mau dekat dengan Pras ini karena Hugo! Karena dia temannya Hugo! Karena lewat Pras kamu bisa ketemu Hugo, bahkan punya kesempatan untuk ikut project band-nya!


So, jangan baper dan..."


Drttt! Drttt!


Monolog di kepala Cassandra mendadak buyar begitu ia merasakan handphone di dekapannya bergetar.


Tangan Cassandra mendadak tremor mengecek notifikasi yang ia sangka dari Pras itu.


Hah! Bukan Pras! I--ini...


"Hugo! Ini real akun Hugo! Ya ampun dia kirim DM! Ini direct message dari akun asli sosial media milik Hugo!"


Cassandra berseru bagai orang kesetanan. Tanganya makin gemetar saat mengetuk notifikasi itu. Ia tak sabar ingin tahu apa isi pesan dari Hugo!


Apa isi pesan Hugo yang sudah diancam Pras untuk menjauhi Cassandra itu?


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2