Loving Cassandra

Loving Cassandra
Selamat dan Tidak Selamat


__ADS_3

Pras sudah membuka pintu mobilnya tapi ia tak tega untuk keluar dan membiarkan Cassandra menangis sendirian di mobil.


Oleh karena itu, begitu papanya sampai di hadapannya, Pras hanya menatap seolah minta waktu. Arik menatap Cassandra dengan iba lalu tertunduk.


"Everything will be okay. I'm here," ucap Pras lalu mencoba menyodorkan sekotak tisu untuk Cassandra.


Cassandra mengambil satu lembar tisu dan mengusap air matanya. Lalu ketika sudah agak tenang dan membuka matanya, barulah ia menyadari kalau Arik Gudono sudah berdiri di samping mobil, tepatnya di samping Pras duduk.


Melalui pintu mobil yang setengah terbuka itu Cassandra akhirnya bertanya, "Papa saya gimana, Om?"


Arik tertunduk. Ia sepertinya butuh waktu untuk menjawab. Pembawaannya yang biasanya ceria dan penuh tawa itu kini memancarkan duka.


"Papa kamu sudah ketemu," ucap Arik Gudono tapi dengan wajah tampak tak senang.


Baik Cassandra maupun Pras langsung sama-sama mengangkat wajah mereka. Seperti terlihat adanya harapan besar yang terpancar dari mata mereka berdua. Sudah ketemu, kan? Bukannya ini hal bagus?


Tapi ekspresi wajah Arik Gudono selanjutnya yang masih tampak murung membuat Pras langsung peka.


Ketemu itu dalam keadaan seperti apa? Selamat kah? Terluka kah? Meninggal kah?


"Pa...?" Pras tidak berkata apa-apa. Ia tahu papanya mengerti maksudnya. Ia butuh penjelasan lebih lengkap.


Dengan firasat buruk yang tiba-tiba memenuhi isi kepalanya, Pras langsung menggenggam erat tangan Cassandra.


"Papa kamu jatuh ke bawah. Tadinya ada pijakan dan tangannya berhasil ditahan Mayasa. Tapi waktunya tim penyelamat datang, ditambah kondisi kesehatan papamu dan kondisi lapangan yang rawan runtuh, maka dia tak bisa selamat." Arik berkata sambil menahan napas.


Jangan ditanya bagaimana Cassandra merespon berita ini. Ia hanya mengenggam erat tangan Pras dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Anehnya, ia tak menangis.


Arik Gudono melihat respon Cassandra yang ia kira akan histeris dengan wajah prihatin. Kemudian ia melanjutkan bicara lagi.


"Sekarang sedang dicari caranya untuk membawa jenazahnya keluar dari gedung agar tidak membahayakan tim yang mengevakuasi. Karena bangunan tak bisa diprediksi apakah aman. Goncangan susulan dan reruntuhan yang mungkin terjadi tak bisa ditebak." Arik melanjutkan.


Pras juga diam tanpa sepatah kata. Tangannya memegang tangan Cassandra yang dirasakannya basah karena keringat tapi anehnya terasa dingin di saat yang bersamaan.

__ADS_1


Dilihatnya bibir Cassandra rapat tapi seperti menahan untuk menggigil. Matanya perlahan berkedip-kedip dengan cepat seperti lampu rusak.


Dan adegan selanjutnya adalah mata itu meneteskan air mata tanpa suara. Cassandra menggigit lidahnya kuat-kuat dengan napas tertahan.


"Menangis saja. Aku di sini." Pras langsung memeluk. Dan pecahlah tangis itu.


Arik Gudono langsung pergi karena sebuah suara memanggilnya untuk datang. Sepertinya panggilan dari kepala tim penyelamat.


Pria berambut gondrong dan berpenampilan nyentrik itu pun berlalu pergi. Pras hanya bisa memandangi punggungnya menjauh dari balik kaca depan mobilnya.


Kalau bukan tertahan karena merasa wajib mendampingi Cassandra, pasti Pras sudah mengejar papanya dan bertanya dengan sekuat tenaga. "Pa, tapi Mayasa selamat, kan?"


Sayangnya pertanyaan itu tidak kuasa ia tanyakan, terlebih di depan Cassandra yang sedang berduka.


Sejujurnya Pras cemas. Cemas beribu cemas. Ia ingin tahu apakah Mayasa selamat? Apa Mayasa ikut jatuh? Cerita dari papanya tadi kurang lengkap.


Cassandra makin menangis dan Pras makin memeluk erat sambil mengelus punggungnya. Tak sengaja lututnya menyentuh tombol radio ketika kakinya bergerak menyamankan duduk karena sambil memeluk Cassandra.


Ah, kenapa lagu Hugo selalu menjadi soundtrack cerita sedihnya?


Lagi ini adalah lagu lama BigHigh yang Cassandra dengarkan setiap hari setelah mamanya meninggal. Dan sekarang papanya alias satu-satunya keluarga yang ia punya juga meninggalkannya.


"I'm here..." Suara Pras yang galau mencemaskan Mayasa terdengar menenangkan Cassandra.


Entah pria macam apa Pras ini. Ia sanggup menenangakan orang lain di saat hatinya sendiri saja sedang tidak tenang.


Pras bisa berusaha mati-matian untuk membuat Cassandra nyaman menikmati duka ini di saat hatinya sendiri sebenarnya tak kalah berduka.


Apa ini cinta? Bukan.


Ini adalah bentuk tanggung jawab dan bukti janji seorang pria dewasa di hadapan seorang ayah yang sekarat. "Jika Cassandra membenci saya sebagai seorang suami pun dan suatu saat memaksa minta cerai setelah Om tiada, saya akan tetap menyayangi dan menjaga dia sebagai seorang adik."


Dan ia pria yang memegang janji, sekalipun sambil memeluk Cassandra matanya tak lepas-lepas menatap ke arah tim penyelamat yang sibuk jauh di depan sana. Pras tentu berharap melihat Mayasa dibawa tandu itu, entah dalam keadaan selamat ataupun tidak.

__ADS_1


"Kalau kamu kesulitan apapun, aku akan bantu diam-diam di belakang papaku. Tiga anak kamu akan kuanggap seperti anakku juga. Buat asuransi pendidikan, kesehatan, dan semua hal yang bisa kamu lakukan untuk masa depan mereka sementara kamu masih menjadi karyawan Pragu Group.


Aturan kantor akan membuat kamu pensiun 13 tahun lagi. Luna masih harus sekolah dan kuliah saat kamu 50 tahun. May, jangan kebanyakan pikiran. Kita memang nggak akan hidup selamanya. Tapi anak-anak masih punya masa depan yang panjang.


Jangan pernah menyerah lagi, ya? Aku bantu lunasi utang kamu dulu yang kamu pakai untuk biaya pengobatan mendiang suami kamu. Kalau kamu sungkan, anggap itu utang..."


Percakapan itu kembali teringat di kepala Pras yang kini campur aduk tak karuan isinya.


Ya, Pras memang dekat dengan Mayasa di saat masa-masa sulit janda anak 3 itu. Di saat wanita itu ingin menyerah, Pras yang ia mentori tahu-tahu masuk ke dalam hidupnya dan menjadi malaikat penyelamat. Pras membuang seganggam obat yang hendak Mayasa tenggak ke tong sampah dan memeluknya sambil menangis.


"Kamu sebegitunya membantu aku karena apa, Pras? Bukan karena suka, kan? Tapi karena kasihan, kan?"


Dan pertanyaan yang sama kini Pras dengar dari wanita yang berbeda. Di antara tangisnya, Cassandra menanyakan pertanyaan yang isinya kurang lebih sama.


"Kamu begini hanya karena kasihan sama aku kan, Pras? Sebenarnya kamu tidak peduli-peduli amat? Kamu cuma kasihan karena sekarang aku sendirian dan nggak punya siapa-siapa, kan?" tanya Cassandra sambil terisak.


Dan si bodoh Pras menjawab dengan jawaban yang sama seperti ia dulu menjawab pertanyaan Mayasa. Jawaban yang membuatnya terikat pada perasaan lebih mendalam pada Mayasa.


"Nggak! Aku peduli karena itu kamu. Karena kamu wanita berharga di mataku. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian setelah ini. Kamu punya aku," jawab Pras ketika tepat di detik yang sama sosok itu tertangkap oleh pandangan matanya.


Ya, nun jauh beberapa meter di depan sana, terlihat sosok Mayasa yang kacau dan sedikit terluka sedang berjalan pincang sambil dipapah tim medis.


"Dia selamat...," bisik Pras dalam hati dengan lega. Matanya terpejam dan kembali ia pendam di antara tumpukan rambut wangi Cassandra di pelukannya.


Tak terasa air mata Pras menetes.


Cassandra merasakan tetes air mata itu. Ia mengira Pras ikut menangis karenanya. Cassandra terlalu polos untuk tahu kalau calon suaminya itu pernah punya hubungan mendalam dengan Mayasa yang membuatnya menangis sekarang.


Sayangnya air mata itu untuk Mayasa, bukan untuknya...


Entah kapan Cassandra akan tahu...


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2