
"Cassandra? Kamu nggak papa? S--sorry. Kamu kaget, ya? Ada yang lecet? Ada yang luka?" Pras langsung menatap Cassandra dengan panik.
Cassandra masih bengong sambil mencoba mengatur nafasnya yang mendadak ngos-ngosan. Jelas ia kaget.
Tuxedo Pras yang tadinya dipakai Cassandra untuk menyelimuti gaun mininya itu sampai terjatuh menutupi paha. Jelas saja, mobil itu terguncang dengan agak keras tadi.
"Cassandra?" Pras kini mulai meraba lengan Cassandra.
Bukan! Ini bukan meraba dalam artian yang negatif. Pras meraba lengan dan bahu gadis itu karena cemas. Ia ingin mengecek apakah ada luka atau benturan atau apalah itu. Yang jelas Pras yang masih panik karena mobilnya ditabrak tiba-tiba dari belakang itu bahkan tidak ada niat untuk mengecek mobilnya. Ia hanya mempedulikan Cassandra.
"Cassandra pernah kecelakaan mobil sama mamanya. Mamanya sampai koma tiga hari lalu tidak tertolong hingga meninggal. Lalu Cassandra cedera kaki hingga perlu setahun lebih untuk pulih. Dia bahkan tidak bisa menjadi normal lagi dan leluasa beraktifitas dengan kakinya.
Jadi tolong ya, Pras. Di masa depan nanti, kalau kamu sudah jadi suaminya, jaga dia baik-baik. Kalau nyetir harus fokus. Kalau cari driver jangan sembarangan. Dan yang paling penting kalau Cassandra merayu-rayu kamu bilang ingin belajar nyetir, jangan dibolehkan.
Ingat, ya! Jangan! Om trauma. Larang anak itu nyetir walau Om sudah meninggal sekalipun. Jalanan itu gila, Pras. Kamu nggak hati-hati bisa celaka. Kamu hati-hatipun bisa jadi celaka juga karena ketidak hati-hatian orang lain seperti mamanya Cassandra."
Lalu kata-kata Om Prambodo alias papa Cassandra yang terdengar seperti ceramah itu kembali terngiang-ngiag di kepala Pras.
Bughhh!
Sebuah benturan membuat mereka agak terpelanting maju lagi.
"Ya ampun! Apa sih maunya orang itu!" Pras yang sedang menggengam tangan Cassandra yang masih bengong tampak sedikit tersulut emosi juga lama-lama.
Ditolehnya ke arah belakang dan Pras bisa melihat jelas pengendara mobil gila itu akhirnya maju lagi dan berusaha sejajar dengan mobil Pras yang sudah minggir dari tadi.
Pras membuka jendelanya dan siap berdebat atau bahkan marah kalau perlu walau sebenarnya ia tipe orang yang sangat menghindari konflik.
Cittt!
Rem mobil gila tadi berdecit. Pras sudah membuka sabuk pengamannya dan siap turun saat pengendara mobil gila itu juga membuka jendelanya dan meneriakinya.
"G**blok! Kalau nggak ngerti lampu merah nggak usah nyetir!" teriaknya lalu mobil gila itu meluncur pergi.
Pras dibuat melongo. Astaga! Pantas saja dia mengamuk.
Ditolehnya lagi ke arah Cassandra yang kini terlihat sedikit lebih tenang. Pras langsung menggenggam tangannya lagi.
__ADS_1
"Sorry tadi aku nggak fokus waktu di lampu merah. Mobil belakang tadi mengamuk karena pengendaranya sedikit mabuk. Waktu aku mau turun, jarak dia dekat karena mobilnya dipepetin dan aku bisa mencium bau alkohol dari mulut pria gila yang menabrakkan mobilnya ke bemper belakang tadi.
Cassandra, are you okay?" Pras masih menggenggam tangan Cassandra dan kini menatap mata bening gadis itu dengan tatapan cemas.
"I'm okay." Cassandra menjawab lirih. Ia biarkan saja tangannya berada di genggaman Pras.
Entah mengapa tanpa sadar Cassandra merasa genggaman tangan Pras membuatnya tenang dan nyaman. Kalau di situasi normal ada pria yang mencoba mengenggam tangan atau menyentuhnya, mungkin Cassandra akan menamparnya. Tapi kali ini tidak. Ia membiarkan Pras menyentuhnya.
"Aku nggak papa. Serius." Cassandra meyakinkan Pras sekali lagi begitu melihat pria itu masih menatapnya dengan wajah cemas.
Pras menarik nafas lega. Ia lalu mengundurkan genggaman tangannya dan melepaskannya perlahan. Pras pun kembali menyelimuti bahu terbuka Cassandra dengan tuxedo-nya yang tadi terjatuh.
Cassandra tampak makin tenang. Pras menatapnya dengan tatapan masih merasa bersalah.
"Im okay, Pras. Bukan salah kamu. Aku yang ngajak kamu ngobrol tadi di lampu merah. Mobil belakang tadi aja yang emang rese orangnya.
Hey, Im okay. Serius. Kecelakaan itu sudah beberapa tahun kemarin terjadi. Aku sudah berdamai. Ada rasa trauma sedikit tapi itu ngak papa. Nanti akan hilang. Aku cuma butuh waktu.
Kamu kelihatan cemas banget pasti karena papaku pernah cerita soal kecelakaan itu, kan? Hey, aku nggak papa. Papa yang lebih trauma dan aku maklum kalau dia jadi posesif soal aku begini. Tapi serius, aku nggak papa sekarang."
"Serius nggak papa?" Pras masih menatap Cassandra dengan tatapan bersalah.
Cassandra mengangguk.
"Turun aja dulu. Cek mobil kamu. Parah nggak bekas tabrakannya." Cassandra berusaha tersenyum di depan Pras.
Sungguh perubahan emosi dan atmosfer obrolan mereka dalam beberapa menit ini berubah drastis. Anehnya mereka belum sadar kalau saling perhatian satu sama lain. Saling mencemaskan satu sama lain.
Perasaan itu perlahan mulai makin tumbuh tanpa disadari oleh mereka berdua.
"Oke, aku turun sebentar ya. Biar kucek dulu bemper belakang mobil ini." Pras lalu keluar dan tampak berjongkok di belakang.
Cassandra meliriknya dari kaca spion setelah sebelumnya ia membuka kaca jendela mobil. Tangannya memeluk lengannya sendiri yang diselimuti tuxedo Pras. Rasanya tiba-tiba dingin.
Cassandra terus mencuri pandang. Dilihatnya Pras memegangi keningnya dengan wajah serius. Lalu tangan pria itu mulai meraba saku celananya dan mengambil handphone-nya.
Entah apa yang ia lakukan, tapi sepertinya sedang memeotret. Beberapa menit kemudian Pras kembali lagi ke dalam mobil.
__ADS_1
"Coba lihat. Parah, kan?" Pras tiba-tiba menyodorkan handphone-nya ke arah Cassandra untuk menunjukkan kondisi bemper belakang mobil mewahnya yang hancur ini.
Cassandra hanya nyengir. Entah kenapa ia merasa turut andil dalam insiden ini.
"Sorry, Pras. Mahal ya biaya bengkelnya?" Cassandra malah berkomentar dengan polos.
Pras yang tadinya memasang wajah cemas dan serius langsung tertawa.
"Ya ampun, Cassandra! Bukan masalah itu. Aku cuma cemas kalau sampai papa kamu tahu mobilku kayak gini waktu antar kamu pulang. Bayangin deh semarah apa dia. Dia pasti mikir aku nggak hati-hati dan hampir celakain kamu.
Duh, gimana dong. Mending aku buru-buru antar kamu terus pulang cepat-cepat, deh. Jangan sampai papa kamu lihat kondisi mobilku," ucap Pras menjelaskan.
Cassandra tertawa kecil lalu manggut-manggut.
"Oh, iya sih. Papa bakal jantungan kalau lihat mobil kamu. Ayo antar aku pulang dan kamu bawa jauh-jauh mobilnya. Kita hilangkan barang bukti. Lagian Papa kan masih di hotel. Dia kayaknya sangat menikmati acara malam ini. Jadi mungkin dia masih asyik memgobr...
Hah! Papa! Papa Pras! Papa nelpon! Eh, enggak! Video call!" Kata-kata Cassandra terputus lalu ia menatap Pras yang ikut panik tiba-tiba.
"Angkat, Cassandra. Angkat aja," sahut Pras menyakinkan.
Cassandra menggeleng. "Kita seharusnya udah sampai rumah. Kalau aku angkat Papa akan tahu kalau kita masih di mobil."
Pras memucat.
***
"Nggak diangkat, Rik. Coba telpon Pras. Tanya apa Cassandra sudah diantar sampai rumah belum. Seharusnya mereka sudah sampai, loh. Tapi Cassandra nggak ngabarin. Terus nomornya juga nggak bisa dihubungi."
Prambodo tampak sibuk dengan handphone-nya. Wajahnya tampak cemas.
Arik Gudono langsung meraih handphone-nya untuk menelpon Pras-putra semata wayangnya itu. Ia tahu sahabatnya tidak akan tenang sebelum mendapat kabar dari putrinya.
"Gimana, Rik?" Prambodo menatap Arik Gudono dengan tatapan penuh harap.
"Belum diangkat. Coba kutelpon sekali lagi...
BERSAMBUNG ...
__ADS_1