
Mobil terus melaju menuju lokasi proyek. Mayasa sibuk dengan pikirannya dan hatinya yang patah. Prambodo sibuk memikirkan rencananya juga.
Bagi Prambodo, fokusnya sekarang adalah mengejar waktu. Penyakitnya tak bisa menunggu. Pernikahan Cassandra dan Pras harus secepatnya dilangsungkan, baru ia bisa tenang.
"Pengacara bilang kalau lancar pekan ini juga siap dokumen dan segala macamnya. Lagi pula ini pernikahan yang normal. Maksud saya Cassandra sudah cukup umur walau dia masih SMA.
Perundang-undangan pernikahan di negeri ini mengatakan bahwa batas umur minimal pernikahan yang diakui negara adalah 18 tahun. Cassandra hampir 20. Dia matang secara fisik dan pikiran.
Saya ingin secepatnya, Mayasa. Secepat mungkin. Kadang saya takut umur saya mendahului rencana saya..."
Mayasa menunduk mendengar jawaban itu.
Oh, pekan ini...
Betapa cepatnya.
Bukannya Mayasa tak berempati pada penyakit atasannya itu, tapi hatinya sendiri butuh diobati.
"Oh, Pak Prambodo. Andai Bapak tahu calon menantu pilihan Bapak itu masih menangis bersama-sama dengan saya beberapa pekan yang lalu. Kami menangisi hubungan kami yang harus putus dengan paksa. Berakhir karena keadaan." Mayasa membatin dengan hati yang berusaha ia tegar-tegarkan.
"May, kamu kenal Pras sejak lama, kan? Kalau nggak salah sejak dia belum lulus kuliah kan dia sudah masuk perusahaan ini. Arik menyuruh kamu jadi mentornya kan kalau nggak salah?" Prambodo menatap Mayasa sambil bertanya. Wajahanya terlihat serius.
__ADS_1
Mayasa lalu mengangkat kepalanya dan mengangguk. Sumpah! Ia tak ingin wajahnya terlalu kentara menampakkan kesedihan sekarang. Setidaknya biar ia tahan saja sampai ia sendirian di mobil dan barulah ia boleh meluapkan semuanya sampai ia lelah menangis.
"Ya, saya yang jadi mentor Pras, Pak." Dan bahkan memacarinya, tambah Mayasa dalam hati.
"Tentunya kalian dekat. Menurut kamu, dia pria yang bagaimana, sih? Jujur saja dari sekian banyak nama yang muncul di kepala saya, Pras lah yang saya rasa paling bisa bersanding dengan putri saya. Dia penyabar, dewasa, pekerja keras, patuh pada orang tua. Gimana menurut kamu?" Prambodo menatap Mayasa dengan tatapan percaya.
Entah ekspresi apa yang akan muncul di wajah tua itu andia ia tahu Mayasa dan Pras pernah menjalin hubungan.
Mayasa menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berusaha merangkai kata-kata soal Pras di kepalanya tapi yang keluar dari mulutnya justru jawaban singkat nan klise.
"Pras anak anak baik kok, Pak," jawab Mayasa singkat.
"Kamu mungkin agak nggak enak ya ngomong uang jelek-jelek soal dia di depan saya. Tapi jujurlah, May. Bantu saya merasa lebih yakin lagi. Sebutkan kekurangan Pras! Pasti kamu tahu.
Apa dia suka main perempuan? Maksudku kalian kam sering berdua saja, mungkin kamu pernah nggak sengaja dengar dia nelpon pacarnya atau apa. Arik sih selalu bilang dia nggak pernah tahu kalau Pras punya pacar. Tapi Pras mungkin saja punya, kan? Cuma dia nggak jujur sama papanya.
Atau sebutkan apalah satu hal dari dia yang kayaknya nggak saya tahu. Ayolah, May. Saya ingin tahu dari ti prespektif orang lain soal calon menantu saya." Prambodo tampak bersikeras mendesak Mayasa.
Mayasa menggigit bibirnya sendiri lalu memalingkan wajahnya menatap jendela mobol. Aduh, harus bilang apa ini. Mayasa tampaknya sedang berpikir kerasa.
"Mmm, Pras itu... Mmm, di--dia perfectionist. Ya mungkin itu bisa dibilang sebuah kelebihan, bukan kekurangan. Tapi sekilas saya melihat Cassandra, saya seperti bisa menebak kalau kepribadiannya dengan Pras sangat bertolak belakang.
__ADS_1
Cassandra kelihatan cuek, apa adanya, spontan, tanpa terlalu banyak berpikir dalam melakukan setiap hal. Pras kebalikannya. Itu mungkin akan menyulitkan ke depannya." Mayasa menjelaskan.
Prambodo manggut-manggut. Oh, kalau soal ini sih ia tahu. Arik Gudono alias ayah kandung Pras kan sering bercerita dulunya. Pras punya gaya hidup yang tertib, serba rapi, bersih, disiplin, serba teratur.
"Aku hampir bawa anak itu ke psikolog, Pram. Tingkahnya benar-benar aneh. Seperti pengidap OCD. Tapi tiap kau kubujuk dia menolak. Oh, aku ingin anak laki-lakiku suka berpetualang di alam liar, main kotor-kotoran, dan hal semacamnya, lah. Pras sama sekali nggak suka. Heran aku!" Itulah keluhan Arik padanya bertahun-tahun silam saat Pras pun masih belum sekolah.
Ternyata anak itu memang tumbuh dengan sifat dan kebiasaan yang dulu. Pras si rapi, Cassandra si berantakan.
Prambodo pun tertawa. "Soal itu sih saya angkat tangan. Tapi saya yakin kok mereka bisa saling mengimbangi nantinya.
Pras akan menjadi lebih santai dan normal, maksudnya tidak terlalu rapi di kehidupan sehari-hari. Lalu Cassandra akan ketularan sedikit lebih rapi. Pasti akan bisa kok. Apalagi mereka akan tinggal serumah." Prambodo lalu tertawa lagi. Ia kelihatan senang.
Mayasa ikut tertawa. Setidaknya ia ingin berusaha tetap kelihatan baik-baik saja. Padahal hatinya kaget. Hah? Tinggal serumah?
"Rumah yang tadi kamu tanyakan itu, May. Nah, itu rumah untuk mereka tempati setelah menikah nanti. Saya sengaja mempersiapkan rumah itu sejak lama karena saya nggak ingin Cassandra punya banyak memori sedih soal rumah lama yang kami tempati sekarang. Saya takut meninggal di rumah." Prambodo menambahkan.
Mayasa merasa dadanya sesak. "Pras-ku akan tinggal serumah dengan gadis lain. Oh..." Mayasa membatin.
"Se--serumah? Mereke berdua saja? Nggak sama Bapak? Saya pikir pernikahan ini hanya soal administrasi dokumen saja sambil menunggu Cassandra lulus SMA..." Mayasa merasa semakin patah...
BERSAMBUNG ...
__ADS_1